Setelah seharian menjelajahi keindahan bawah laut. Malamnya, mereka semua hanya menghabiskan waktu di kamar. Lian seperti tidak ingin beranjak dari tempat tidur sambil menikmati bacaannya. Lian memang kutu buku, dia selalu menghabiskan beberapa jam untuk membaca buku, majalan dan media. Bahkan di kamarnya ada rak besar tempat buku-buku favoritnya dipajang. Naina sempat menelan liur saat masuk ke kamar Lian, ketika melihat rak buku yang dipenuhi bacaan berkualitas di sana. Ketika liburan pun Lian tetap membawa beberapa buku untuk dibaca sebelum tidur.
Malam keempat mereka liburan ke Pulau Weh. Naina beranjak dari meja tamu yang selalu dikuasinya untuk menulis. Lian tidak pernah duduk di sana. Laki-laki itu juga cenderung tidak mau peduli apa yang dikerjakan Naina di depan laptop. Dengan penuh keberaniaan Naina mendekati Lian.
“Boleh, saya bicarakan sesuatu?” tanya Naina setelah berdiri di samping Lian.
“Apa?” tanya Lian dengan ketus, wajahnya sama sekali tidak berpaling dari buku yang dia baca.
“Ini tentang ibu dan adik-adikku,” ujar Naina sambil meremas ujung piyamanya.
“Duduk,” perintah Lian.
Naina duduk di ujung tempat tidur.
“Katakan!” tanya Lian sambil menutup bukunya.
“Mila dan Dewi sudah lama berhenti sekolah, kontrakan di sana juga sudah habis. Kalau …..” ucapan Naina langsung terpotong.
“Aku akan mendaftarkan Mila di pesantren terpadu, Ibu dan Dewi bisa tinggal di salah satu ruko kosong di Ule Kareng,” sambung Lian.
“Benarkah?” tanya Naina kegirangan. Dia tahu ibunya yang ingin memulai karirnya lagi. Seperti membuka toko kue. Tentu dia ingin mengandalkan statusnya sebagai istri Lian untuk mendukung harapan ibunya.
“Aku tidak pernah berbohong,” ujar Lian sambil memandang Naina dengan tatapan tajam. “Aku sudah janji akan memberikan kehidupan yang layak untukmu dan keluargamu.”
Naina tertunduk dalam, dia ketakutan melihat Lian yang menatapnya dengan beringas.
Hening. Lian kembali dengan bukunya.
“Terima kasih,” ucap Naina setelah lama terdiam. Lian hanya mengangguk tanpa menoleh kepadanya.
Dengan perasaan lega, Naina kembali ke depan laptopnya. Kini Lian dalam pandangannya tidak lagi menakutkan seperti sejak beberapa hari menikah. Kini laki-laki yang bernama Teuku Herliansyah itu terlihat bak pahlawan di matanya. Meskipun menurut Naina dia yang bekorban paling besar untuk hidupnya. Setidaknya, Lian telah memenuhi permintaannya tempo hari, untuk merubah hidup keluarganya. Terlunas utang dari rentenir dan adik-adiknya bisa sekolah kembali, adalah impian Naina selama ini. Sambil kembali mengetik satu dua kata di laptop, Naina mencuri pandang, memperhatikan Lian yang tenggelam dalam bacaannya. Sesekali juga, Naina tersenyum seorang diri.
Tidak dapat dilukiskan betapa berharganya kedua adiknya. Betapa besar cintanya pada kedua gadis kecil itu, yang kerap ingin dijual oleh ayahnya. Dia tidak mampu membayang bagaimana nasib mereka seandainya keduanya benar-benar dijual. Namun, dengan cara yang tidak penah terpikir olehnya. Dia kembali bisa membuat ibu dan kedua adiknya terlepas dari jeratan sang ayah yang kejam itu.
Pikiran Naina teringat malam pertama pernikahannya. Dia sudah membuang kartu telepon seluler yang dipakai selama ini. Karena dia tidak mau ayahnya itu akan menemukan mereka lagi. Setelah puluhan panggilan tak terjawab. Dan puluhan sms yang dikirimnya sejak pagi. Barangkali, ayahnya sudah pulang ke rumah dan tidak menemukan siapa-siapa di rumah. Karena berdasarkan pernyataan ibunya, tidak ada yang tahu kepergian mereka. Karena bodyguard Lian tiba tengah malam ke rumah mereka.
“Saat itu ayah kemana, Bu?” tanya Naina.
“Dia pergi setelah kamu menstranfer uang, mungkin dia ke rumah Si Jack. Lalu ke tempat biasa mabuk bersama teman-temanyya,” jelas Fatimah sambil meremas jemarinya.
“Aku takut, ayah akan sampai ke sini mengacaukan semua keadaan,” ujar Naina lagi dengan penuh khawatir.
Naina cukup tahu, kalau ayahnya itu licik. Dia bisa menjadi apapun selama itu menjadikan targetnya kesampaian. Dia tidak pernah peduli harus bersikap munafik ataupun kasar selama itu jalan menuju harapannya. Barangkali, jurus munafik yang dia pakai untuk menaklukkan ibunya. Begitulah pikir Naina. Karena, setahu dia kekayaan yang pernah dia rasakan waktu masih SD merupakan harta sang ibu. Untuk ayahnya bahkan dia tidak tahu kejelasan asal usul laki-laki yang diapnggilnya ayah itu. Karena sejak dulu ayahnya tidak pernah bersikap manis padanya. Dia juga tidak pernah melihat saudara-saudara dari sebelah ayah. Pernah dia bertanya pada ibunya tentang keluarga ayah, misalkan kakek nenek, paman bibi, keponakan. Tapi, kata ibunya mengatakan kalau mereka semua sudah meninggal saat tsunami. Jadi, ayahnya hanya hidup sebatang kara.
Saat memasuki SMP, pelan-pelan satu dua mobil di rumah raib. Ke sekolah diantar pakai sepeda motor. Bahkan motor itupun raib. TV juga raib lagi, kulkas. Bahkan, yang paling membuat Naina sedih. Suatu hari, saat pulang ke sekolah. Dia melihat ibunya sudah mengemasi barang mereka semua ke dalam koper.
“Kita pindah ke luar kota,” ucap ibunya dengan mata sembab. Naina tahu ibunya habis menangis. Hari itu, kala hujan deras mengguyur kota Bnada, mereka semua naik mobil sewa menuju suatu tempat yang tidak tahu dimana. Sepanjang perjalanan ayah dan ibu tidak ada yang berbicara.
Jam delapan pagi mereka tiba di sebuah kota yang asing. Kotanya tidak terlalu ramai. Mereka juga tinggal di sebuah rumah yang sangat jauh berbanding terbalik dengan rumah di kota Banda Aceh. Rumah itu hanya dua kamar, dapur dan kamar mandi. Naina masih ingat mereka tidur di atas tikar plastik seadaanya. Ibunya membuat bantal dari baju-baju mereka lalu dibalut dengan handuk. Malam itu, Naina tidak bisa tidur karena kedinginan.
Setiap hari, Naina bertanya dan mengeluh tentang tempat tidur, tentang sekolah dan kawan bermain. Ibunya hanya memeluknya dengan erat, “Sabar, Nak, kita lagi tidak punya uang.” Beberapa hari berikutnya dia dan adiknya Mila didaftarkan di sekolah setempat. Naina ke sekolah harus berjalan kaki. Saat itu, dia sering melihat ibunya menyuci dan menggosok baju dari pagi sampai malam. Sedangkan ayahnya sering tidak ada di rumah. Saat pulang ke rumah, ayahnya hanya marah-marah. Membanting apa saja, kadang-kadang juga memukul ibunya. Keadaan itu, membuat Naina remaja semakin sesak di d**a. Saat itu dia rindu kehidupan yang tentram seperti sebelumnya.
Setelah Naina naik kelas dua SMP, adiknya naik Mila naik kelas II SD. Mereka kembali mengemaskan barang, pergi dari rumah yang jauh lebih baik dari rumah berikutnya. Naina semakin terkejut saat harus tinggal di rumah yang sangat sempit. Berlantai semen kasar, setengah dindingnya hanya triplek yang dicat warna hijau. Kemudian dia tahu, kalau ibunya tidak sanggup lagi membayar kontrakan rumah sebelumnya. Naina tetap bertanya tentang rumah besarnya di kota Banda.
“Rumah itu bukan punya kita lagi, Nak. Kita sekarang tidak punya apa-apa. Kita sekarang miskin. Kita harus saling menguatkan dan rajin bekerja agar bisa makan,” ucap ibunya sambil mendekap dirinya. Entah saat itu, ibunya sudah merasa dia dijadikan teman untuk saling menguatkan. Naina bertekad akan membantu ibunya mencari uang.
Setiap malam, ibunya membuat kue, lalu Naina membawanya ke sekolah. Pulang sekolah Naina membantu ibnya menggosok dan menyuci pakaian. Naina makin dewasa, semakin peka terhadap keadaan hidupnya yang melarat. Setelah selesai ujian ebtanas SMP. Dia bekerja di sebuah rumah makan sebagai tukang cuci piring. Semua itu dia lakukan untuk membeli baju sekolah dan biaya masuk sekolah SMA.
Naina mulai menempuh perjalanan hidup yang keras. Dia pun mulai menantang nasib yang terasa begitu melarat. Apalagi ayahnya yang pulang ke rumah selalu dalam keadaan mabuk. Dan yang lebih menakutan, ayahnya selalau memaksanya untuk menikah dengan om-om yang tidak dia kenal. Itu benar-benar menyakitkan bagi Naina. Itu semua lebih menyakitkan dari pada uang hasil keringatnya diambil secara paksa oleh sang ayah.
Sering dia mengumpat seorang diri, “Ayah macam apa, yang ingin menjual anaknya? Ayah macam apa yang selalu menyiksa anak-anaknya?” Dia mulai menancap niat dengan kuat, agar suatu hari dia akan membawa ibu dan adik-adiknya jauh dari kehidupan sang ayah. Karena penyakit main judi, main perempuan, mabuk. Sudah melekat dalam diri ayahnya. Dia tetap main judi, tetap main perempuan dan mabuk. Sekalipun tidak ada uang.
***
Naina menatap gedung megah di depannya, baginya ini cukup megah. Rumah dengan nuansa putih dengan halaman yang luas. Lama dia tercenung memperhatikan rumah yang ada di depan matanya. Di hari ke kesepuluh pernikahannya. Lian sudah mengajaknya pindah dari rumah orang tua suaminya itu. Kata Lian, ingin mandiri. Mertuanya sangat keberatan. Apalagi Lian satu-satunya anak mereka. Apalagi mengingat Naina yang masih kuliah. Yuni khawatir mereka kerepotan. Dia menawarkan untuk mengajak salah satu pembantu di rumahnya, untuk membantu mengurus rumah.
“Nggak apa, Ma. Biar kami mandiri,” sahut Lian sambil menatap Naina.
“Tapi ….”
“Nggak apa, Ma. Naina akan mengurus rumah dengan baik,” potong Naina dengan penuh semangat.
“Kalau nggak, ajak ibu mertuamu tinggal di sana!” tambah Yuni.
“Ma, ibu mau jualan di Ule Kareng, sekalian biar dekat sama pesantren Mila,” jelas Niana lagi.
‘Iya, Ma. Benar seperti kata Naina, ibu mau berkarir lagi, buka usaha cake di sana,” sahut Lian.
Suasana sarapan pagi itu terasa sendu bagi Yuni dan Faisal. Mereka berat melepaskan putra dan menantunya untuk pindah dari rumah mereka. Apalagi usia pernikahan mereka belum sampai sebulan. Naina juga merasa deg degan karena harus hidup serumah dengan laki-laki dingin seperti Lian. Entah drama apa lagi setelah ini. Pikir Naina.
“Nanti kalau mau beli barang ajak Mama ya, Nai. Ibu akan rekomendasikan tokonya,” pinta Yuni.
“Iya, Ma.” Naina bingung mau jawab apa, dia tidak tahu mau beli apa. Karena dia tidak punya uang.
“Nggak perlu Ma, rumahnya sudah terisi penuh dengan perabotnya, Randi yang bantu,” sahut Lian.
‘Lho, gimana sih. Kamu punya istri sekarang, biar istri yang menyelesaikan itu semua. Jangan pelit,” Yuni menghunus pandangan jengkel pada putranya.
‘Biar simple, Ma. Eh, mana Lian pelit, Ma. Itu semua Lian lakukan biar nggak ngerepotin Naina juga,” jelas Lian dengan tenang.
“Besok-besok apa-apa yang perlu kamu ceritan dulu sama istrimu, tanya pendapat dia warna apa maunya.” Yuni masih mendongkol pada putra.
‘Iya, Ma,” sahut mereka bersamaan.
Tanpa berani berkomentar apa-apa, Naina hanya mengedarkan seluruh pandangan pada seisi rumah yang dipenuhi furniture mewah. Tak jauh-jauh dari kemewahan rumah mertuanya. Naina tidak bisa memperkirakan ukurannya. Yang jelas rumah itu lebih kecil dari rumah orang tua Lian.
“Ini rumah kita,” ujar Lian. “Aku pemiliknya, kamu pengurusnya,” tambahnya dibarengi dengan tatapan tajam yang menakutkan.
“Iya, Bos,” jawab Naina.
“Bos?” tanggap Lian sambil menautkan alisnya. “Abang, mulai sekarang panggil aku ‘Abang’, paham!” Lian meninggikan suaranya.
“Iya,” sahut Naina dengan ragu-ragu.
“Tugas kamu mengurus rumah ini, aku tidak mau melihat kacanya berdebu, lantainya kusam semuanya serba berantakan,” ujar Lian lagi sambil melempar tubuhnya ke sofa. Sedang Naina masih brediri kebingungan di tempat.