Sayup-sayup azan terdengar memecahkan keheningan subuh. Naina bangkit dari tempat tidur sambil menguap. Masih dalam keadaan samar-samar Naina melihat Lian sedang terduduk di atas sajadah sambil memutarkan zikirnya. Antara percaya dan tidak. Jika lelaki dingin itu, bisa setabah itu. Berdecak kagum dalam hatinya. Tiba-tiba dia sadar, kalau mengharapkan dicintai oleh lelaki seperti Lian sebuah kemustahilan. Sudah sepuluh malam, mereka sekamar. Tapi Lian tidak pernah menatapnya dengan cinta. Dengan pelan-pelan melangkah kaki ke kamar mandi untuk berwudu. Saat dia keluar dari kamar mandi, Lian sudah tidak ada. Dari jendela kamar dia melihat Lian keluar dengan sepeda motor lengkap dengan peci di kepala.
Saat matahari perlahan muncul, Naina mulai mengerjakan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Memasak, mengepel, menyuci dan menyiram bunga. Hari rabu dia tidak punya jadwal bimbingan. Jadi, bisa agak kesiangan ke kampus. Sedingin apapun sikap Lian padanya, dia tetap menikmati sarapan yang telah dihidangkan. Lelaki itu juga tidak berkomentar apa-apa.
“Itu di luar ada motor, kamu bisa pakai motor kalau mau pergi-pergi,” ujar Lian setelah menyelesaikan sarapannya.
“Terima kasih,” ucap Naina sambil menyalami suaminya.
Andai laki-laki itu menyayangiku, betapa beruntungnya hidupku? Naina membatin seorang diri.
Dia cepat-cepat mengontrol diri dalam lamunan yang menurutnya sama sekali tidak pantas. Karena Lian memang sama sekali tidak menyukainya. Cepat-cepat dia menyelesaikan pekerjaan rumah, agar bisa ke perpustakaan untuk mencari literatur skripsinya.
Skripsi Naina sudah sampai di bab isi. Dia bertekad akan menyelesaikan kuliahnya dalam tahun ajaran ini. Dia ingin siap tepat waktu. Sambil menggosok jendela rumah dengan kain lap. Dia teringat biografi ayahnya Lian. Projek mereka sebelum menikah. Tapi, kenapa Lian sama sekali tidak membicarakan itu lagi? Bukankah Lian ingin memberi hadiah itu tepat dihari ultah ayahnya. Segera dia mencari telepon seluler untuk mengabari Lian.
“Ada apa?” tanya Lian tanpa basa-basi.
“Bagaimana dengan biografi ayah? Bukankah ini sudah menjelang bulan Agustus?” tanya Naina.
“Ya ampun, segera kamu selesaikan, nanti malam aku baca!” perintah Lian.
“Baik,” ucap Naina.
Tut, panggilan berakhir. Akhirnya Naina tetap di rumah menyelesaikan biografi ayah mertuanya. Semenjak semester empat, Naina yang dari dulu hobi menulis sudah mulai menggarap naskah-naskah bayaran. Atau istilah lain penulis bayangan, atau Ghost Writer. Baginya, mendapatkan uang dari menulis sangat istimewa. Karena kini, hobinya sudah dibayar jutaan oleh orang. Kadang-kadang satu naskah dibayar sampai lima juta. Cukuplah dia mengirim untuk orang tuanya di kampung.
Naina kembali teringat saat pertama kali Randi mengajaknya ke ruang Lian. Laki-laki itu berbicara cukup sopan. Apalagi saat menanyakan banyak hal tentang ayahnya.
“Bagaimana pandangan anda terhadap sosok Bapak Teuku Faisal?” tanya Naina pada hari itu.
“Teuku Faisal adalah seorang ayah, seorang guru juga partner kerja. Dia multitalenta. Dia akan melakukan apa saja untuk keluarganya. Saya bersyukur dan sangat bangga menjadi anaknya. Hanya saja, saya belum bisa menjadi lelaki bijak sepertinya,” ungkap Lian dengan mata berbinar-binar.
Selama menggarap naskah biografi Teuku Faisal. Mereka sering bertemu, dan berbincang meskipun ada Randi asisten Lian. Bahkan, Naina sempat mengungkapkan kalau hidupnya sangat melarat. Karena keluarganya memilki utang yang sangat banyak. Tidak pernah dia terpikir kalau Lian akan memanfaatkan situasi itu untuk menyukseskan pernikahannya yang sudah di ambang kegagalan.
***
Setelah seharian berkutik dengan naskah yang belum sempat dia swasunting. Naina tertidur pulas di atas sofa sambil menonton televisi. Tiba-tiba dia mendengar seruan salam. Dia sengaja menunci pintu dari dalam. Dengan tergesa-gesa Naina bangkit menuju pintu. Betapa terkejut dia melihat, mertua, ibunya dan Dewi di sana. Mereka datang berbarengan untuk melihat rumah mereka.
“Wah, rapi sekali rumahnya,” puji mertuanya. “Naina pasti lelah membersihkan sendiri, kan?”
“Nggak apa, Ma. Sudah biasa, inikan pekerjaan perempuan,” sahut Naina.
Dia segera ke dapur membuat minuman.
“Kak, rumahnya besar sekali,” ujar Dewi yang masih kelas enam SD itu. Dewi akan segera didaftarkan di SD terdekat dengan ruko tempat mereka tinggal.
“Ini rumah Abang, Dek,” sahut Naina sambil tersenyum. “Besok Kakak akan mengantarmu ke sekolah baru ya,” tawar Naina.
“Iya, Kak, Aku senang sekali Tante Yuni sudah membelikan aku baju sekolah, tas, dan sepatu yang cantik,” Dewi bercerita.
“Wah, ada bilang terima kasih?” tanya Naina.
“Ada dong, Kak.”
Mereka semua duduk di ruang tamu sambil bercerita. Yuni banyak bercerita tentang kehidupan mereka yang dulu. Dia mengatakan kalau dulu, waktu Lian kecil mereka hanya tinggal di rumah warisan orang tuanya. Dia harus mengantar anaknya ke sekolah dengan sepeda. Faisal ke kantor naik becak. Utang dimana-mana.
“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa membuat Lian sukses. Tidak membuat dia terkatung-katung seperti dulu,” jelas Yuni. Sedangkan Fatimah hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun menaggapi cerita Yuni.
“Alhamdulillah, ya, Ma,” tanggap Naina.
“Alhamdulillah, sayang. Kalian bisa hidup berkecukupan. Mama berharap kalian bahagia dunia akhirat,” tambah Yuni lagi.
“Aamiin,” sahut mereka bersamaan.
***
Fatimah tercenung, menatap rinai hujan yang memainkan kelopak bunga di taman. Yang lain sedang memasang gorden di ruang kerja Lian. Dia tercenung, menatap bangunan yang ada di depan rumah Lian. Itulah rumahnya dulu. Meskipun sudah direnovasi. Fatimah masih bisa mengenali rumah yang dulu diambil alih bank. Karena utang suaminya sebesar dua miliar rupiah. Banyak kenangan di rumah itu, kehidupan yang damai dan penuh cinta. Tapi, dia tegoda dengan cinta lama. Herman, lelaki yang sejak pertama pacaran sudah dilarang oleh ayahnya.
“Lelaki itu tidak baik untukmu, Fatimah,” tegas ayahnya pada suatu pagi. Setelah semalam, Herman datang ke rumahnya.
Fatimah akhirnya terpaksa menikah dengan Yusuf lelaki pilihan ayahnya. Yusuf yang tampan, yang baik dan kaya raya. Hidupnya begitu mapan, bahkan laki-laki itu juga sangat mencintainya. Tapi, ketika Herman kembali hadir di tengah-tengah rumah tangga mereka. Dia tergoda untuk selingkuh dengan laki-laki itu. Lalu mereka sepakat, akan mengambil semua harta Yusuf dan melenyapkannya agar bisa hidup bersama. Faisal adalah orang yang paling memanfaatkan kesempatan itu. Dia yang melakukan semuanya untuk melenyapkan Yusuf, ayahnya Naina. Dia yang merusak rem mobil Yusuf, dia yang menyebkan Yusuf tewas. Lalu, tujuh hari setelah Yusuf meninggal. Dia menikah dengan Herman. Ayahnya masih melarangnya bersama Herman, tapi, karena dia sudah kaya raya. Dia punya segalanya. Dia mengabaikan perintah orang tuanya. Ayah dan ibunya tidak mau menganggap dia sebagai anaknya lagi. Saat itu Naina masih berusia satu tahun. Sehingga, Naina tidak mengenali ayahnya. Naina tumbuh tanpa tahu, kalau Herman itu bukan ayahnya.
Saat itu, dia mengelola perusahaan sedangkan suaminya, Herman hanya menjadi staf biasa. Datang ke kantor sesuka hati, tanpa peduli terhadap pekerjaannya. Fatimah tetap mengelola perusahaan hingga tetap menjadi kaya. Saat itu pula, Faisal pindah ke Jakarta memulai usaha baru di sana.
Akhirnya pada saat Mila masih kelas I SD, usahnya mulai lepas landas. Fataimah mulai bingung, keuangan perusahaan mulai bermasalah. Dia makin sering melihat suaminya pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Sempat juga dia memergok suaminya ke hotel-hotel atau ke klub malam di Medan untuk menikmati wanita bayaran di luar sana. Fatimah makin linglung. Perusahaan semakin tidak stabil. Akhirnya, dia harus gulung tikar. Tidak tahu harus menghubungi siapa. Usahanya jatuh terpuruk dan tutup. Di saat itu pula, satu dua penagih utang datang ke rumah. Bermacam-macam rentenir datang. Fatimah merelakan satu dua barang berharganya diambil. Lalu yang terakhir dia harus merelakan rumah peninggalan ayahnya Naina pun ikut diambil oleh bank. Dia tahu, semua itu ulah dari suaminya yang sering main judi.
Perlahan, mereka benar-benar jatuh miskin. Lalu Herman mengajak mereka pindah ke Aceh Tamiang. Katanya, di sana dia punya pekerjaan sekadar untuk bertahan hidup. Tidak ada pilihan lain, selain menurut. Saat itu, dia hanya memegang uang dua juta rupiah. Sesampainya di sana, pekerjaan yang dikatakan Herman sama sekali tidak ada. Fatimah terpaksa menjadi tukang cuci, bekerja serabutan apa saja untuk bisa menyekolahkan anak-anak, membayar kontrakan, dan membeli makanan. Drama kehidupan semakin suram. Mereka sering tidak makan, karena uang hasil kerja Fatimah dirampas oleh Herman untuk kepentingannya main judi, beli rokok dan minuman keras. Herman sama sekali tidak peduli terhadap anak-anaknya.
Saat itu, dia hanya punya Naina yang sudah tumbuh menjadi anak yang pintar dan pekerja keras. Dia benar-benar anak yang peka dan mandiri. Pulang sekolah bekerja kesana kemari untuk membantu keuangan keluarga. Saat SMA dia terus bekerja cuci piring di rumah makan. Kala itu, Fatimah mulai menyesali perbuatannya. Mungkin itulah balasan atas perbuatannya yang telah menyingkirkan Yusuf. Saat itu dia berpikir, untuk mengabari Faisal. Tapi, dia tidak tahu dimana sahabatnya itu. Sahabat dalam menjatuhkan ayahnya Naina.
Kini, saat melihat Naina memiliki suami yang kaya raya memberikan apa saja untuknya. Fatimah merasa inilah kebahagiaan yang sempat hilang dalam hidupnya.
Entah Naina akan tetap menganggapku ibu, andai dia tahu apa yang pernah terjadi di masa silam? Fatimah membatin sendiri.
“Bu, ada apa?” tiba-tiba Lian menyapa. “Kapan sampai ke sini, Bu?” tanya Lian sambil mencium tangan mertuanya.
“Eh, Nak Lian, baru pulang?” sahut Fatimah gelagapan.
“Iya, Bu. Yang lain kemana?” Lian memperhatikan mata ibunya yang memerah.
“Ada di atas. Lagi pasang gorden,” jelas Fataimah.
Lian naik ke atas meninggalkan mertuanya yang seperti habis menangis. Di ruang kerjanya dia menemukan Naina, ibunya dan Dewi baru siap memasang gorden. Diam-diam Lian memperhatikan kebersamaan ibunya dengan Naina. Meskipun menikah mendadak, ibunya dengan mudah menerima Naina. Dia tidak mengingkari bahwa Naina gadis yang baik.