Pada tanggal lima belas bulan Agustus, bertepatan dengan hari ulang tahun Teuku Faisal pemilik Perusahaan Adi Cipta Group. Tidak lain ayah dari Teuku Herliansyah dan mertua dari Naina Salsabila. Lian sudah mempersiapkan surprise ulang tahun ayahnya jauh-jauh hari. Sebagai bentuk kebanggaannya pada sang ayah. Menulis perjalanan hidup ayahnya yang cukup berkesan penuh liku-liku hingga mencapai kesuksesan. Menurut Lian, semua itu akan sirna seiring perputaran waktu. Dia ingin ayahnya terus dikenang, dengan menulis berarti terus menghidupkan ayahnya dari benak banyak orang. Maka Lian memutuskan untuk menulis biografi ayahnya.
Naina sebagai penulis bayangan Lian mempersiapakan naskah itu semaksimal mungkin untuk memuaskan kliennya, yaitu suaminya sendiri. Yang sudah menjadi klien sebelum mereka menikah. Tidak hanya karena naskah suaminya. Siapapun kliennya, dia selalu berusaha memaksimalkan kualitas setiap naskah yang menjadi tanggung jawabnya.
Sebenarnya, Naina tidak bercita-cita menjadi penulis bayangan. Justru dia ingin menjadi penulis sesungguhnya. Dia sudah mengagumi beberapa penulis sejak kecil, seperti JK. Rowling, Stepen King, Kahlil Gibran. Kalau penulis Indonesia Naina menggemari Sapardi Djoko Damono, Budi Dharma, Ikka Natasya, Dee Lestari. Dia berusaha melahap smeua buku-buku para penulis hebat itu. Sudah sejak kecil Naina menulis diary untuk mengungkapkan perasaannya setiap hari. Sejak pertama dibentak ayahnya, saat itu dia masih SD. Naina mengulum dalam hati seribu petanyaan. Hanya diary yang mengetahui kebimbangan itu.
“Dia bukan darah dagingku, makanya aku tidak suka!” Pernyataan itu dia dengar sendiri saat ibu dan ayahnya berantem di kamar. Fatimah marah, lantaran Herman memarahi Naina. Saat itu, Naina masih kecil, masih kelas IV SD. Keesokan pagi, Naina bertanya kepada ibunya.
“Bu, apa aku bukan anak Ayah?”
Hening, Fatimah terus menyisir rambut putrinya.
“Bu?”
“Sayang, kamu anak Ayah dan Ibu. Bukan anak orang lain,” ujar Fatimah sambil tersenyum sumringah. “Kemarin Ayah hanya sedang marah, makanya dia membentak Naina. Sebenarnya Ayah sangat menyayangi Naina.”
Sejak saat itu, Naina memilih diam terhadap kebimbangan itu. Apalagi sikap ayahnya bertolak belakang dari pernyataan ibunya. Dia seakan-akan membenarkan pernyataan ayahnya dulu. Lalu Naina memilih menulis di diary.
Dairy, kata ayah aku bukan darah dagingnya? Tapi, kata ibu aku memang anak mereka. Namun, kenapa ayah tidak suka padaku?
Waktu sudah besar, ayahnya sering mengancam menjual dirinya kepada rentenir untuk menjadi istri simpanan mereka. Saat itu Naina lagi-lagi terpikir kalau Herman bukan ayahnya. Tapi, ketika hal yang sama terulang pada Mila dan Dewi. Dia baru bisa menyimpulkan kalau ayahnya memang begitu. Tidak memiliki rasa sayang seperti ayah pada umumnya.
Semua perjalanan hidupnya ditulis dalam diarynya. Entah sudah berapa banyak binder penuh untuk menulis perjanan hidupnya. Suatu saat dia ingin kisah hidupnya menjadi sebuah novel. Tapi, sebagai orang yang harus berburu rupiah demi melangsungkan hidup dan melanjutkan pendidikan. Hampir setengah waktunya digunakan untuk bekerja. Naina tidak memiliki waktu, untuk benar-benar serius menulis. Ketika kelas XI, guru bahasa indonesianya meminta Naina mengirim cerpen ke koran yang cukup terkenal di provinsinya itu. Siapa sangka tulisannya pun terbit di sana. Naina sangat bahagia, ternyata jika punya bakat, segampang itu punya uang. Honor yang dia dapat dari hasil tulisannya, hampir setara dengan gajinya bekerja sebagai tukang cuci piring di rumah makan. Naina terus melatih menulis, dan mencoba lagi mengirim puisi dan cerpen ke koran yang sama. Tidak sia-sia dari tiga tulisan yang dikirim minimal satu ditolak.
Saat mulai kuliah, Naina mulai yakin dengan bakatnya. Apalagi dia memilih jurusan sastra Indonesia. Meskipun jurusan guru setidaknya, dia bisa mendalami bakatnya. Naina terus mengirim tulisan-tulisannya ke surat kabar. Nyatanya uang segitu mana cukup untuk bertahan hidup dan melanjutkan kuliah. Naina kembali bekerja, dia diterima di sebuah toko kue sebagai pelayan paruh waktu. Setelah tiga bulan bekerja, produktivitas toko tersebut meningkat. Ownernya, mulai memasangkan iklan dimana-mana, Membuat website dan media sosial, diantara para karyawan mereka, Nainalah yang punya bakat mereview produk dengan bagus. Naina akhirnya ditarik sebagai pengelola website dan akun sosial media toko.
Setelah hampir setahun, Naina makin sering dikirim oleh si bos untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang mendukung bakatnya. Kadang juga dibawa untuk berjumpa klien mereka, sehingga Naina pun banyak bertemu dnegan para pengusaha. Para pengusaha tersebut sering meminta tolong Naina untuk menulis artikel atau review produk. Tanpa sengaja Naina sudah membranding diri sebagai penulis.
Pada tahun kedua, salah satu pengusaha ternama meminta Naina menulis biografinya untuk dijadikan buku. Naina merasa pekerjaan itu berat. Tapi, bosnya Heriadi dan Salmira mendesaknya agar menerima tawaran tersebut. Karena mereka yakin, Naina mampu. Kesepakatan antara Naina dan pengusaha itupun terjadi. Naina hanya sebagai penulis bayangan. Kontrak kerjanya hanya dua bulan. Naina akan dibayar lima juta rupiah. Harga yang cukup besar dan fantatis untuk Naina. Salmira terus mendukung dan mensuport untuk Naina mengerjakan kontrak tersebut dengan serius. Dia berhasil mengerjakan naskah yang berjudul Jejak Langkah Dari Ujung Sumatra dengan maksimal. Pemilik naskah itu sangat puas. Bahkan menambah honor dari lima juta menjadi sepuluh juta.
Setelah kejadian itu, Naina semakin sering menerima naskah-naskah buku lain. Hingga dia benar-benar menjadi penulis bayangan. Karena tidak sempat lagi mengirim cerpen atau puisi ke surat kabar. Dia fokus mengerjakan naskah-naskah milik kliennya. Cita-cita untuk menjadi penulis yang dikenal sebagai dirinya sendiri tetap tertanam hingga hari ini, di saat dia sudah memilki suami. Karena sebanyak apapun buku yang terjual, para pembaca tidak tahu kalau itu tulisannya.
***
Buku setebal dua ratus halaman sudah tercetak ratusan ekspemplar, sebagai hadiah Lian untuk ayahnya. Acara ulang tahun tersebut dibuat dengan gaya berbeda. Yaitu acara bedah buku. Sedangkan Faisal menjadi tamu. Tamu-tamu di sana masing-masing dihadiahkan satu buku biografi Teuku Faisal.
Di depan para tamu yang hadir, Lian memberikan buku tersebut kepada ayahnya. Faisal terharu untuk semua itu. Di depan semua orang Lian mengatakan, “Ini ayahku, guruku, temanku dan juga partner kerja. Dia telah melakukan apa saja untuk keluarganya. Demi kami tidak merasakan melarat seperti kehidupannya dulu. Ayahku, adalah ayah yang hebat.” Ungkap Lian sambil merangkul bahu ayahnya.
Suara tepuk tangan bergemuruh. Buku biografi tersebut mendapat sambutan hangat dari semua pihak. Lian sangat senang, dia berhasil memberikan hadiah paling berkesan untuk ayahnya di usianya yang ke-50 tahun. Di sisi lain, Naina juga puas bisa membuat suaminya bahagia. Meskpun tidak satu orangpun yang tahu, kalau dia yang menulis itu semua. Dari atas podium, Lian tersenyum sumringah pada Naina yang terduduk rapi di samping ibunya. Lalu memberi kode agar Naina dan ibunya bergabung dengan mereka.
“Dan juga kini, aku dan Papa memiliki perempuan yang hebat, yang memilki peran penting dalam mendukung apa yang kami lakukan di luar rumah. Dua perempuan inilah tempat kami pulang untuk mengeluh dan memanjakan diri setelah lelah bekerja,” ungkap Lian lagi sambil menggemgam tangan Naina dan ibunya.
Naina tidak menyangka Lian bisa mengungkap seperti itu untuknya. Rasanya dia ingin menjawab, ‘itu bohong’ tapi jujur dia juga terharu. Terhadap sikap Lian yang rasa-rasanya bukan Lian yang dingin tapi orang lain yang memperlakukan dengannya dengan baik dimanapun berada.
“Please, Nai. Dia hanya sedang berbual agar semua oang tahu kalau kamu dan dia pasangan yang seperti pada umumnya,” ucap Naina dalam hati.
“Sayang, kamu tahu kenapa Papa bisa sehebat ini?” tanya Lian pada Naina sambil memegang pipi istrinya.
Naina gugup karena mata mereka bertemu. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.
“Karena ada Mama dibelakangnya yang hebat,” tambah Lian lagi. “Kamu harus banyak belajar dari Mama, ya, sayang.”
Cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Naina. Membuat mata Naina membola, degup jantungnya semakin kencang. Dia tidak bisa mengontrol diri agar tidak salah tingkah. Suara tepuk tangan kian bergemuruh, suit-suit pun terdengar. Para wartawan tidak mengabaikan moment beberapa detik itu, secepat kilat memotret untuk mengabadikan sikap romantis sosok redaktur muda itu.
MC kembali menguasai panggung.
“Tuan Faisal dan Nyonya Yuni apa yang kalian harapkan setelah ini dari anak dan menantu anda?” tanya MC.
Keduanya sambil tersenyum-senyum, “Kami ingin segera memilki cucu,” sahut mereka bersamaan.
Membuat suasana semakain riuh, Naina masih salah tingkah. Perasaan aneh, rasanya dia sedang berada di suatu tempat dan suaminya bukan Lian yang menjaga jarak saat berdua dengannya. Lian tahu, Naina gugup. Di gemgam kuat-kuat tangan istrinya. Dia tahu, semua yang dia lakukan baru saja dan saat itu adalah dorongan perasaannya bukan sandiwara belaka. Dia sangat bangga pada Naina yang mampu menyelesaikan naskah biografi ayahnya dengan bagus. Lian tidak peduli Naina mau berpikir bagaimana.
“Jangan gugup!” bisik Lian.
Naina tidak peduli, namun kehangatan seakan menjalar ke seluruh tubuhnya. Lian menggemgam tangannya dengan erat hingga beberapa menit.
“Andai ini semua adalah benar. Andai ini bukanlah bohong. Betapa bahagianya menjadi aku?” ucap Naina dalam hati.
Setelah acara selesai semuanya pulang. Lian dan Naina mendekati orang tuanya, berpamitan.
“Lian, Naina jangan lupa pesan Mama tadi. Segera beri kami cucu!” Yuni mengingatkan lagi.
“Iya, Ma.” Sahut mereka bersamaan. Tanpa paham bagaimana caranya.
“Kalau perlu ikutan promil, nanti Mama antar ke dokter!” tambah Yuni lagi.
Deg. Lian takut ketahuan kalau mereka belum berusaha sama sekali untuk menghasilkan anak.
“Iya, Ma. Naina dan Lian sehat kok. Nggak ada masalah. Insya allah Mama danPapa segera punya cucu,” tegas Lian. “Iya, kan, sayang.” Lian menarik tangan Naina lagi.
“I-iya, Ma,” sahut Naina kembali di dera oleh rasa gugup.
“Mama benar-benar tidak sabar ingin mengadakan tujuh bulanan kalian, Nak,” mata yuni berkaca-kaca entah apa yang sedang dirasakan wanita empat puluh sembilan tahun itu.
“Insya Allah, Ma. Mohon doanya.” Lian mencium tangan ibunya lalu diikut Naina. Setelah itu merekapun berpisah.