Setelah dua hari dari acara ulang tahun Teuku Faisal yang sangat mengheboh jagad dumai. Lian mendapat kabar kalau buku biografi ayahnya sudah terjual banyak. Dan sudah dibuka pre-order lagi, sudah dipesan ribuan orang. Buru-buru Lian menghampiri Naina yang sedang memasak di dapur. Dengan tawa sumringah, Lian berujar.
“Buku Ayah sudah dipesan ribuan orang.”
“Keren sekali,” sahut Naina dengan ceria.
“Semua ini karena kamu. Thanks, ya,” tambah Lian .
Naina mengangguk pelan, sambil memamerkan tawa sumringahnya.
“Sudah masak?” tanya Lian sambil mengelus perutnya sendiri.
“Belum sebentar lagi ya,” sahut Naina.
“Oke, aku siap-siap dulu kalau gitu,” ucap Lian sambil beranjak meninggalkan istrinya.
Lian kembali ke kamarnya. dia sangat bangga kepada istrinya itu. Tidak sia-sia dia memperistrikan Naina.
Di kamar Lian melihat hp Naina berdering. Tanpa menjawab, dia melihat kontak yang tertera di sana, Rahmat. Lalu menggulir layar sentuh itu ke beberapa tempat, ke whatsaap dan pesan.
Naina, kamu ke kampus? Nanti jumpa di kantin ya?
Pesan lain, yang dikirim beberapa hari yang lalu.
Nai, aku tahu kamu terpaksa menikah dengan suamimu itu. Dan pernikahanmu itu, aku yakin tidak akan bertahan lama. Tapi, aku tetap setia menunggu hari perceraian itu.
Deg. Tiba-tiba Lian merasakan sakit sekali di ulu hati. Ternyata istrinya itu digemari oleh laki-laki lain di luar sana. Yang paling menyakitkan dia menunggu perpisahan mereka. Dia merasa ini keterlaluan. Naina istrinya, dia merasa kalau Naina membeberkan tentang pernikahan dan keadaan rumah tangga mereka pada orang luar. Perasaan berkecamuk dengan rasa tidak menentu.
“Abang sarapannya sudah siap,” ujar Naina tiba-tiba nongol di depan pintu.
Lian menghujam Naina dengan tatapan tajam yang cukup menusuk, mmebuat Naina ciut seketika. Dia melihat Naina yang membuat matanya sejuk, kita membuat bola matanya dipenuhi bara api cemburu.
“Kamu makan sendiri aja, tidak perlu ajak-ajak aku,” sahut Lian dengan suara melengking.
Naina terkejut, ada apa dengan lian? Baru saja dia tertawa sumringah beberapa menit lalu. Kenapa tiba-tiba jadi naik angin? Pikir naina.
Tanpa menjawab apa-apa, Naina meninggalkan Lian di kamar. Dia kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian Lian turun sudah dengan pakaian rapi, sebelah tangan menjinjing koper. Dengan tenang dia berjalan menuju pintu.
“Abang nggak sarapan dulu,” panggil Naina sambil mendekati Lian.
“Aku lebih selera makan di luar,” sahutnya sambil menghunus Naina tatapan membunuh.
Naina tercekat di tempat. Setelah menjelang dua bulan pernikahan mereka. Lian tidak pernah menyakiti Naina hanya saja dia bersikap dingin. Lian juga selalu sarapan dan makan malam di rumah. Bahkan, Naina sudah tahu kapan dia pulang, makan dan tidur. Naina sudah bisa mengetahui lingkaran aktivitas yang dilakukan Lian setiap hari. Tanpa diberitahu Naina juga sudah tahu kalau dia suka nasi goreng, sup ayam, pecel lele, sayur tumis dan tempe goreng. Naina selalu berusaha masak untuk menyenangkan hati suaminya. Meskipun dia hanya ada dalam daftar pernikahan dan surat nikah sebagai istrinya tapi, tidak dihatinya. Bagi Naina sikap Lian selama ini, sudah sangat bisa dihormati. Dan pagi ini, adalah pertama kalinya Lian bersikap lebih sumringah padanya. Hanya dalam hitungan menit, sikap itu hilang berganti dengan kata-kata yang menyakitkan. “Aku lebih selera makan di luar,” pernyataan itu sangat menyakitkan bagi Naina.
Tapi siapa Naina yang berani protes terhadap sikap Lian. Bukankah di rumah itu Lian pemiliknya sedangkan Naina hanya pengurus. Naina menyelesaikan pekerjaannya dengan perasaan gundah gulana.
Kenapa sih laki-laki itu tiba-tiba naik angin?
***
Jam sepuluh Naina tiba di kampus. Dia segera ke ruang dosen untuk bimbingan. Meskipun agak kurang mood dia tetap berusaha untuk konsul, karena skripsinya sudah hampir selesai. Dosen pembimbing memperhatikan Naina yang sama sekali tidak bersemangat.
“Naina sehat?” tanya ibu professor tersebut.
”Se-sehat, Bu,” jawab Naina agak terkejut.
“Ini ada beberapa yang harus Naina perbaiki,” ujar perempuan berkepala lima itu. Sambil mengulur skripsinya.
Naina hanya menatap kertas itu dengan tatapan kosong. Sebelum dia beranjak.
“Naina sudah telat?” tanya Bu Nur tanpa bertele-tele lagi.
“Telat? Telat maksudnya Bu, skripsi saya nggak bisa kejar wisuda bulan dua belas?” tanya dia dengan lebih nyaring.
“Eh, bukan. Bukan itu maksud ibu. Apa Naina sudah telat datang bulan?” Bu Nur tergelak melihat kepolosan mahasiswanya.
“Be-belum, Bu.” Naina baru paham kemana arah pembivaraan dosennya.
”Naina, banyak konsumsi buah zurriat dan kurma muda. Biar cepat dapat momongan,” saran Bu Nur. Bu Nur salah satu yang merasa sangat bangga karena mahasiswanya dinikahi oleh Lian.
“Iya, Bu. Terima kasih, Bu. Saya permisi ya, Bu,” Naina segera pamit.
Naina berjalan gontai menuruni tangga kampus. Sudah tiga orang yang menanyakan kehamilannya. Dia bingung mau mengelak bagaimana tentang keadaannya. Belum lagi, mertuanya selalu mengharapkan kalau dia untuk segera hamil.
Bagaimana aku mau hamil? Disentuh aja aku nggak?
Kepala Naina terasa berat dengan sikap Lian tadi pagi. Juga keadaan yang seakan memaksa dia untuk menjadi istri pada umumnya. Yaitu mengandung.
“Hai, Nai, kamu sakit?” Tiba-tiba Rahmat menghampirinya.
“Eh, Mat, aku nggak apa-apa,” sahut Naina. Buru-buru dia mengatur diri agar terlihat biasa aja. Apalagi di depan Rahmat yang sangat tergila-gila padanya.
“Nai, kita ke rumah sakit yok?” tawar Rahmat lagi. “Kamu seperti kekurangan darah,” Rahmat menarik tangan Naina.
“Tolong, Mat. Aku nggak apa-apa, aku mau buru-buru pulang,” Naina berusaha menarik tangan.
“Naina, kamu nggak boleh pulang dalam keadaan seperti ini. Aku antar ya!” Rahmat semakin memaksa.
“Naina ayo pulang!” terdengar suara bariton dari belakang mereka.
Naina dan Rahmat menoleh ke belakang. Sedangkan tangan mereka masih berpegangan.
“A-abang,” ucap Naina hampir tak terdengar. Naina segera melepaskan tangan Rahmat. Dia terkejut bagaimana Lian ada di kampus.
“Ayo Pulang!” teriak Lian lagi lebih keras.
Naina segera mendekat dengan suaminya. Sedangkan Rahmat masih tercengang di tempat.
“Kamu tidak perlu harus khawatir dengan kondisi istriku,” ujar Lian dengan datar.
Rahmat hanya terdiam, dia merasa seperti orang kehilangan darah, ketakutan melihat orang paling disegani di kotanya memandangnya dengan penuh amarah..
“Ayo,” ajak Lian sambil menarik tangan Naina sambil mencengkram kuat.
“Kemana?” tanya Naina yang ketakutan. “Motor gimana?”
“Aku sanggup beli sepuluh motor lagi jika motor itu hilang.
Naina hanya bisa terdiam, dengan perasaan bercampur baur. Dia masuk ke dalam mobil, lalu Lian menancap gas dengan ugal-ugalan. Naina semakin ketakutan dengan sikap Lian.
“Abang, hati-hati,” teriak Naina saat hampir tersenggol dengan sebuah truk.
Lian terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Naina hanya mampu menahan diri sambil sesekali menutup mata. Hingga mobil itupun memasuki perkarangan rumah mereka yang sepi. Naina berjalan pelan ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah Lian berteriak. Lalu mendekati istrinya dengan penuh amarah.
“Kamu, memang tidak tahu malu,” bentak Lian. “Kamu sekarang istri Teuku Herliansyah, Nai. Bukan Naina yang dulu, kalau dulu kamu bebas mau kemana aja, kawan sama siapa aja, curhat sama siapa saja. Sekarang kamu itu istriku, permasalahan kita hanya kita yang tahu. Tidak perlu seluruh teman-temanmu tahu. Jangan sampai gara-gara kamu imageku rusak!” Lian mendekatkan wajahnya ke arah Naina yang berjarak beberapa senti.
Naina tercegak, tidak paham apa inti masalah mengamuknya Lian. Apapun yang dia katakan sama sekali tidak merasa dia lakukan.
“Sa-saya tidak per-pernah cerita ke siapa-siapa tentang kita ..…”
“Apa kamu pikir aku bego! Mudah saja percaya sama kamu?” bentak Lian lagi. “Kamu itu nggak tahu diri! Dasar matre!”
Naina tergugu di tempat, dia tidak bisa lagi membendung air matanya. Rasanya sakit sekali ketika kata-kata yang keluar dari mulut Lian secara spontan. Dia juga tidak menyangka Lian bisa menghinanya dengan kata ‘matre’ dan ‘tidak tahu diri’. Naina cukup menjaga rahasia rumah tangga mereka yang sudah jalan dua bulan. Dia tidak pernah cerita ke siapapun kalau Lian dengannya tidak pernah berhubungan layaknya pasangan suami istri. Dia hanya menjadi tukang masak, tukang cuci dan beres-beres rumah. Lalu kenapa Lian? Apa yang sudah dia dengar dari luar?
“Mulai sekarang aku tidak mau lagi melihat kamu berhubungan dengan laki-laki manapun di luar sana!” tegas Lian. “Kalau sampai aku melihatnya lagi, maka kamu tanggung sendri akibatnya!” Lian segera pergi meninggalkan Naina yang masih tergugu seorang diri. Naina terus menangis, dia tidak bisa membendung air mata. Rasa kecewa atas sikap Lian, lebih sakit dibandingkan dijadikan istri pajangan selama ini. Dia sama sekali tidak mengerti apa punca masalah Lian sehingga dia berubah suhu begitu meledak-ledak.
“Kuat, Nai! Kamu kuat!” Naina terus menumpahkan tangisnya.
Tiba-tiba hpnya bordering.
Rahmat. Panggilan dari rahmat, Naina mematikan seketika, lalu mengambil kartu seluler yang baru dibeli setelah hari pernikahannya, kartu itu melayang ke tong sampah. Meskipun tidak tahu kejelasannya. Tapi, Rahmat bisa menjadi salah satu alasan Lian mengamuk.
“Maafkan aku, Mat,” ucap Naina seorang diri.
Pintu depan masih terbuka lebar, Lian pergi tanpa memperhatikan semua itu. Sebuah mobil crv memasuki perkarangan rumah Lian. Dengan mudah dia menjangkau si tuan rumah.
“Rupanya kamu yang merampas kekasihku,” seru seorang perempuan dari arah pintu membuat Naina terperanjat. Dia segera menghapus air mata, dan mencari sumber suara.
“Kamu siapa?” tanya Naina .
“Aku, akulah calon istri Lian,” Mei tertawa sinis.
Deg. Naina tertegun melihat perempuan yang tinggi semampai seperti model di tabloib kecantikan. Dia jadi ingat cerita mertuanya tentang sosok tunangan Lian yang kabur itu.
“Tapi Lian sekarang suami saya!” tegas Naina sambil ikut melipat tangan. “Maumu apa?”