Edric muncul di ambang pintu sambil menyisir rambut hitamnya yang berantakan dengan jarinya. "Kalau aku pribadi, sih, aku suka perempuan yang punya sedikit sentuhan dunia kriminal."
Angeline pun meringis. "Jelas kamu suka sama yang begitu. Sana, pergi! Ruang ganti cowok ada di ujung lorong kalau kamu lupa!"
"Tapi aku ngerasa kesepian kalau sendirian." Edric tersenyum pongah sebelum melepas kausnya dan melemparkannya ke bahu.
Tubuh Edric sangat berotot, dan beberapa tato berada di tempat-tempat yang strategis. Ditambah kulit khas sawo matang. Edric berjalan ke sebuah loker lalu membukanya sebelum berbalik dan mengedip kepada Angeline.
"Asal kalian tahu, aku memang menyimpan loker kedua di sini untuk barang-barangku. Dan santai saja, bukan berarti salah satu dari kalian itu tipeku."
Edric mulai melepas stoking baletnya. Ya, itu tanda bagi Flore untuk berbalik dan mengalihkan pandangan. Tubuh seseksi itu atau bukan, hubungan Flore dengan Edric hanyalah seperti saudara.
Angeline mendengus sambil melepas stoking dan leotard, lalu menggantinya dengan pakaian dalam dan celana yoga. "Aku kira tipe kamu itu, yang penting punya lubang."
"Oh my gasss!" jawab Edric sambil tersenyum menggoda.
"Ya ampun, pakai celanamu sialan!" Angeline meringis dan menggelengkan kepala.
Edric pun tertawa terbahak-bahak sambil berbalik. Setidaknya sekarang dia sudah mengenakan celana boxer. "Memangnya kamu gak mau sama aku, Humm?"
Angeline mengernyit jijik sambil mengenakan hoodie. "Ishhh ... Jijik!"
Edric pun mengangkat bahu. "Udah jangan jual mahal. Kamu mau yang ini, kan?"
Mereka bertiga pun langsung memutar mata ketika Edric mengusap jari di sepanjang otot perutnya yang sangat terbentuk, lalu menutupi bagian intimnya dengan tangan dari luar boxernya.
"Bilang aja kalau kamu mau."
"Enggak, makasih!" jawab Angeline datar.
"Ahh masa, sih?" goda Edric.
Flore terkekeh pelan lalu berbalik untuk mengambil tas baletnya dari loker. Dia melepas leotard, membungkus tubuhnya dengan handuk, lalu bersiap mandi.
Setelah itu, dia mengobrak-abrik tasnya untuk mencari kartu kereta KRL. Namun, yang ditemukan hanya beberapa recehan dan selembar uang sepuluh ribu yang sudah kusut. Uang itu bahkan tidak cukup untuk membayar ongkos KRL untuk dia pulang.
Flore mengatupkan bibir dan menahan rasa frustrasi yang mulai mengganjal. Dia mengambil botol air lalu melihat pantulan dirinya di cermin yang tergantung di bagian dalam pintu loker. Dahinya berkerut saat pandangannya tertahan pada tulang selangkanya yang sekarang jauh lebih menonjol dibandingkan beberapa bulan lalu.
"Ini."
Flore tersentak dan berbalik ketika mendengar suara Cindy. Gadis itu tidak membuat keributan, hanya menyodorkan sebatang Silver Queen kepadanya.
"Aku baik-baik saja," balas Flore.
Temannya langsung mengangkat sebelah alis. "Heleh ... Aku enggak percaya. So ... ambil!" Tatapannya tetap tertuju pada Flore. "Makan!"
Flore pun tersenyum miring sambil membuka bungkusnya, lalu menggigit sedikit. Cindy memang tidak tahu seluruh masalah dalam hidup Flore, tetapi temanya itu tahu kalau Flore sedang tidak baik-baik saja.
Sama seperti Flore, Cindy juga seseorang yang berhasil bertahan hidup hanya dengan gaji sebagai penari. Bedanya, Cindy masih punya backingan kalau ia benar-benar membutuhkannya. Sedangkan Flore, tidak ada pilihan seperti itu. Backingannya sudah menghilang jauh sebelum ayahnya tewas bersimbah darah di dalam sel penjara.
Di sudut lain, Angeline dan Edric sedang berbicara keras tentang Erlang Bajo, salah satu Big Boss misterius Kartel Dominors yang memiliki dan mendanai Montclair Opera Balet.
Rasa lelah sedikit mereda ketika air hangat mengguyur tubuh Flore.
"Hei ... Kamu baik-baik saja, kan?"
Flore berbalik untuk melihat Cindy yang sedang membilas tubuh di pancuran sebelah. Flore tahu maksud pertanyaannya.
"Ya, aku ... baik-baik saja."
Cindy menyingkirkan rambut panjang dari wajahnya lalu menatap Flore dengan tajam. "Serius?"
Flore pun menghela napas. "Ya, cuma .... " Dia menggelengkan kepala. "Aku cuma mulai bertanya-tanya apakah melanjutkan kuliah, ditambah dengan semua ini, bukan sesuatu yang terlalu berat."
Flore sudah menempuh sekitar dua pertiga perjalanan untuk meraih gelar di bidang Psikologi. Rencana ambisiusnya adalah dia akan mencoba mengikuti MCAT dan masuk sekolah kedokteran untuk menjadi psikiater klinis. Ya, dia sangat ambisius.
Cindy menghela napas sambil berbalik untuk membilas punggungnya. "Ya, kuliah kedokteran kedengarannya berat banget kalau harus ditambah semua ini, bahkan kalau cuma paruh waktu." Dia melirik Flore, sebelah alisnya masih terangkat. "Cuma itu?"
Gadis ini selalu berhasil membongkar kebohongan Flore.
"Melani mulai berjudi lagi," jawab Flore.
Cindy pun mengerang kesal. "Serius? Aku pikir nama Mamamu sudah diblacklist dari semua kasino dan club di negara ini."
"Ya, mungkin saja dia menemukan seseorang yang mau membiarkannya memasang taruhan melalui mereka."
"Sial." Cindy pun mengernyit. "Dengar, aku tahu kamu benci—"
"Aku bakal baik-baik saja." Flore tersenyum sambil mematikan keran. "Tapi terima kasih kamu sudah menawarkan bantuan."
Cindy hanya mengangguk tanpa memaksa. Edric dan Angeline sudah berpakaian dan entah bagaimana masih membicarakan pesona Erlang Bajo ketika Flore dan Cindy kembali dari kamar mandi. Flore mengenakan celana yoga dan hoodie sebelum kembali mengingat bahwa dia tidak punya cukup uang untuk pulang malam ini.
Dia meringis lalu menatap Cindy. "Hei, kamu punya kartu KRL cadangan, enggak?"
Tatapan Cindy beralih ke tas Flore, tempat beberapa keping recehan tadi masih berada di kantong depan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengambil kartu KRL dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Flore.
"Ambil saja. Aku bisa naik taksi sama Edric."
"Kamu yakin?"
Cindy pun mendengus. "Iya, santai aja." Dia menyampirkan tas balet ke bahu lalu menatap Flore dengan penuh arti. "Chat aku kalau sudah sampai rumah, ya."
Edric meregangkan tubuh sambil merangkul bahu Cindy dan membawanya menuju pintu.
"Kereta kencana kita sudah menunggu, Nona," goda Edric. Dia menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya, membuat Cindy menyipitkan mata.
"Kalau kamu hidupin benda itu di dekat aku, aku bakal kasih lutut di selangkanganmu!"
"Jangan ngancam aku dengan kenikmatan begitu dong, Gadis Manis!"
Pintu pun tertutup, menyisakan keheningan. Angeline masih duduk di bangku dengan satu kaki terlipat, jarinya mengusap ujung pita sepatu pointe tanpa sadar. Ketegangan akibat latihan yang melelahkan sudah berganti menjadi sesuatu yang lain.
Dia tidak menatap Flore ketika akhirnya berbicara. "Kamu pernah mikir gak, berapa besar sebenarnya harga yang harus kita bayar untuk semua ini?"
Flore mengernyit sambil mengikat rambut merahnya, "Untuk apa? Balet maksudmu?"
Angeline pun mengembuskan napas panjang dan menggeleng. "Bukan cuma balet. Kehidupan ini. Pekerjaannya, semua latihannya, gaji yang menyedihkan, huft."
Dia melirik Flore sambil mengangkat sebelah alis. "Kita menyiksa diri setiap hari buat apa? Demi mendapat bayaran kecil dan karier yang belum tentu jelas?"
Angeline sama seperti Flore. Dia sedang mengejar mimpinya untuk menjadi penari solo tanpa backingan.
Flore tidak langsung punya jawaban. Sebenarnya, dia sudah sering memikirkannya. Setiap kali dia berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membayar sewa, dia malah tidak punya cukup uang untuk membeli kebutuhan selama sebulan. Setiap kali ia sakit, dia tetap harus kembali berdiri di barre.
Angeline berdeham. "Dengar, aku paham soal harga diri, Flore. Dan aku enggak akan menghina kamu dengan bertanya apakah kamu butuh pinjaman atau semacamnya. Tapi ...." Sudut bibirnya terangkat saat tangannya masuk ke dalam tas.
Flore ternganga ketika Angeline mengeluarkan setumpuk uang yang jumlahnya tidak sedikit.