"Kalau kamu butuh uang ...."
Flore berkedip melihat tumpukan tebal lembaran seratus ribu yang diikat rapi. Jumlahnya lebih banyak daripada uang yang pernah dia dapatkan dalam seumur hidupnya.
"Uang apaan itu, Angeline?"
Angeline pun tersenyum angkuh. "Tenang aja. Aku enggak ngerampok bank, kok."
Flore mengalihkan pandangan dari uang itu dan memaksa suaranya tetap tegas. "Kalau begitu, dari mana???"
Angeline menarik napas panjang dengan perlahan. "Ingat acara amal tempat kita tampil bulan lalu?"
Acara seperti itu selalu berpotensi menghasilkan donatur baru yang punya banyak uang.
Angeline berdeham. "Begitu kami selesai, ada cowok yang menghampiriku dan bilang kalau dia punya lowongan pekerjaan untuk penari. Katanya dia enggak bisa memberitahuku banyak hal, tapi bayarannya sangat besar. Dan ... aku menerimanya. Uang ini dari sana."
Sensasi aneh menjalar di sepanjang tulang belakang Flore. Angeline pasti menyadari perubahan ekspresi Flore karena dia cepat-cepat menggeleng.
"Dengar, ini bukan pertunjukan tari telanjang atau semacamnya. Enggak ada yang menyentuhmu ... bahkan enggak ada yang bicara denganmu. Dan kamu tetap berpakaian. Tapi bayarannya jauh lebih besar daripada ini." Angeline menggerakkan tangan ke sekeliling mereka, menunjuk ruang ganti. "Dan semuanya rahasia."
Kata itu membuat d**a Flore terasa sesak. Rahasia tidak pernah berarti baik. Rahasia selalu punya konsekuensi.
"Maksudmu apa dengan 'rahasia'?"
Angeline langsung melilit ujung tali hoodie di jarinya. "Semacam klub privat atau apa begitu. Mereka menjemputmu di tempat yang sudah disepakati, menutup matamu, lalu membawamu ke sana."
Flore pun ternganga. "Kamu serius? Angeline, itu mencurigakan lho!"
Angeline pun tertawa kecil. "Iya, aku juga berpikir begitu awalnya."
Flore menyipitkan mata. "Awalnya?"
Angeline lalu mengangkat bahu. "Ternyata enggak seburuk yang kupikirkan. Aku ganti pakaian di ruang ganti, lalu penutup mataku dilepas. Ada enam gadis lain, semuanya penari."
"Terus?"
Angeline mengembuskan napas, suaranya kini lebih pelan. "Mereka memberi kami penutup mata baru, masker, dan earphone yang disinkronkan dengan suara yang memberi kami instruksi. Terus ada seseorang yang membawa kami ke sebuah ruang pertunjukan dan ... kami menari."
Flore tidak menyukai sensasi geli yang muncul di kulitnya. "Untuk berapa banyak orang?"
Angeline pun menggeleng. "Aku enggak tahu. Aku enggak pernah melihat mereka. Enggak pernah mendengar suara mereka. Tapi mereka ada di sana. Aku bisa merasakannya."
Flore menelan ludah perlahan. Angeline mengangkat setumpuk uang itu sambil mengangkat sebelah alis dengan penuh arti.
"Flore, mereka bayar 90 juta untuk empat jam."
Perut Flore tiba-tiba terasa sakit.
Sembilan puluh juta?
Jumlah itu cukup untuk membayar sewa, makanan, dan kebutuhan lain. Ini bisa menjadi jalan keluar bagi Flore.
Angeline memperhatikan Flore dengan saksama. "Dengar ... sekali lagi, aku paham soal harga diri, Flore. Tapi aku tadi lihat kamu lagi hitung koin ...." Dia mengangkat bahu. "Katanya, mereka mungkin lagi mencari lebih banyak penari. Jadi, kalau kamu tertarik ...."
Flore bergidik, merasakan tawaran itu. Dia menelan ludah sambil menatap uang di tangan Angeline.
"Dengar, untuk sekarang ...." Angeline menyerahkan dua puluh lembar uang seratus ribu kepadanya. "Kamu bisa kan naik taksi pulangnya? Serius, naik KRL berbahaya di jam segini. Tolong? Dan kalau kamu tertarik dengan pekerjaannya ... Ini nomor kontaknya."
Angeline lalu mencari kontak di ponselnya lalu mengirimkan nomor tersebut lewat pesan.
"Makasih," kata Flore pelan sambil menerima uang itu. "Serius, makasih banyak. Nanti aku kembalikan."
Udara malam terasa sejuk dan menusuk kulit Flore saat dia merapatkan hoodie ke tubuh.
"Mau ikut patungan sama Grab-ku?" Angeline mengangguk ke arah mobil yang menunggu di ujung gang belakang teater.
Flore pun menghela napas. "Kayaknya boleh. Makasih ya udah manjain aku."
Angeline langsung tertawa kecil. "Kamu temanku. Ayo!"
Flore mulai mengikutinya. Saat tangannya masuk ke saku hoodie, dia langsung mengerang. "Ahh, sial."
Angeline pun menoleh. "Kenapa?"
Wajah Flore langsung berubah. "Ponselku ketinggalan di ruang ganti."
Flore menggeleng tidak menyangka. "Ohh, sial. Kamu pergi saja duluan. Kamu udah kasih aku uang untuk naik taksi. Jangan khawatir."
Angeline pun mengernyit. "Jangan bodoh. Aku bisa tunggu kamu."
"Enggak, kamu pergi saja. Jemputanmu sudah nunggu tuh. Sudah malam. Tapi terima kasih, ya!"
"Ya udah deh. Sampai jumpa besok!"
"Oke," gumam Flore.
Flore memperhatikannya saat Angeline berlari menyusuri gang, lalu masuk ke mobil yang sudah menunggu. Lampu belakang mobil itu menghilang ke dalam malam.
Flore kembali masuk ke dalam teater balet yang kini gelap dan sunyi. Langkahnya cepat saat menuju ruang ganti. Hanya butuh satu menit untuk menemukan ponselnya. Dia memasukkannya ke saku hoodie, menggelengkan kepala, lalu berlari keluar.
Jalanan sekarang hampir kosong. Satu-satunya suara adalah klakson dari mobil yang melintas jauh di sana. Gang di belakang Montclair Opera Balet bercabang di tengah jalan menuju jalan utama. Jika terus lurus, Flore akan sampai di SCBD. Namun, jika mengambil jalan pintas ke kiri untuk keluar dari gang, Flore akan sampai di tempat yang lebih mudah untuk mendapatkan taksi menuju pusat kota.
Flore mengabaikan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali berada di tempat ini padah tengah malam. Ia terus berlari menyusuri gang. Dia hampir berbelok untuk keluar menuju jalan besar ketika mendengar suara orang saling berbisik.
Rasa merinding menjalar di sepanjang tulang Flore saat dia mendengarkan percakapan itu.
"Apa yang kamu lakuin di sini? Neagley sudah meninggalkan latihan sejak berjam-jam lalu." Suara pertama terdengar serak, berat, dan sedikit menyeramkan.
Begitu mendengar nama Neagley, perut Flore langsung terasa mulas. Neagley sudah meninggalkan tempat latihan sejak berjam-jam lalu.
Neagley Dazel, atau sekarang yang kerap di sapa Neagley Musielak setelah menikah, adalah penari yang berlatih di Montclair Opera Balet bersama Flore. Dia penari yang luar biasa, sangat manis, dan merupakan putri bungsu keluarga mafia.
Flore menarik napas dalam-dalam, menekan punggungnya ke dinding sambil memaksa dirinya bersembunyi semakin dalam.
"Jelas aku di sini bukan karena dia," geram pria kedua. "Apa yang kamu lakuin di sini, psikopat?"
Suaranya juga berat dan gelap, tetapi ada sesuatu yang liar dan menggoda di dalamnya. Suara itu membuat bulu kuduk Flore meremang.
Pria pertama mengembuskan napas keras dengan kesal. "Jonas bodoh dan ceroboh karena mempekerjakannya."
Denyut nadi Flore semakin cepat.
"Dia menari di sini," geram pria pertama. "Dia berteman dengan orang-orang seperti adikmu. Dia bisa saja bicara—"
"Dia ditutup matanya, bodoh," potong pria kedua dengan tajam. "Dan sebenarnya apa rencanamu?"
Pria pertama lalu mengembuskan napas. "Aku cuma mau menakut-nakutinya," gumamnya. "Mengingatkannya kalau uang yang dia terima menjamin dia untuk tutup mulut."
Sesuatu di dalam diri Flore merinding ketika semuanya mulai masuk akal. Hampir pasti mereka sedang membicarakan Angeline.
Suara pria kedua berubah semakin keras. "Jauhi tempat adikku menari. Paham?"
Hening dan tegang berlangsung cukup lama.
"Oke."
Pria itu mengembuskan napas perlahan. "Itu berarti apa, hah? Atau kamu cuma mengulur waktu?"
"Ya, oke. Tenang saja," geram pria pertama. "Bagaimanapun juga, di sisi lain, Joel tidak membalas surat panggilan kita."