Pria kedua, pria dengan suara penuh otoritas yang sejak tadi mengendalikan percakapan, dia tertawa sinis. "Orang jarang membalas surat panggilan dari Pengadilan Hitam."
Flore semakin merapatkan tubuhnya ke dinding.
"Setidaknya kita bisa melihat reaksi mereka dari perilakunya," gumam pria pertama. "Joel tidak menambah pengawal, tidak melarikan diri, tidak memindahkan uang. Tidak ada satu pun dari itu. Tapi jadwalnya tetap kosong untuk malam persidangan."
"Kamu tahu sendiri bagaimana mereka," ujar pria kedua, kali ini dengan suara lebih lembut. "Kadang mereka terlalu percaya diri sampai berani datang semaunya sendiri."
Pria pertama tertawa pelan.
"Kalau tidak..." Dia berhenti sejenak, nada geli terdengar jelas dalam suaranya. "Kita bisa bersenang-senang untuk memburu mereka bahkan sebelum penangkapan resminya dimulai."
Rasa dingin perlahan menjalar di sepanjang tulang belakang Flore.
"Hubungi Royale Wolf dan Black Lotus," perintah pria kedua. "Beri tahu mereka soal situasi Joel. Pengadilan Hitam akan tetap digelar sesuai rencana."
Royale Wolf?
Black Lotus?
Pengadilan Hitam?
Tidak ada satu pun bagian dari percakapan itu yang masuk akal bagi Flore.
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Flore panik dan semakin meringkuk di balik bayangan, berharap tubuhnya bisa menyatu dengan dinding.
Lalu dia tersentak. Tubuhnya langsung kaku ketika seseorang berbelok di sudut dan tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. Tinggi, mengancam dan berkuasa. Flore mendapati dirinya menatap langsung sepasang mata biru milik Daniall Dazel.
Perutnya langsung terasa sakit. Flore pernah melihat pria itu sebelumnya, saat dia mengantar atau menjemput Neagley, atau terkadang ketika menghadiri pertunjukan dan beberapa acara amal.
Namun, kali ini berbeda. Dari jarak sedekat ini, Niall jauh lebih intens daripada ketika dilihat dari kejauhan. Pria itu mengenakan setelan gelap dengan jaket terbuka, bahkan jaket itu pas di bahu lebarnya seperti zirah.
Sebelum Flore sempat berkedip, tangan Niall tiba-tiba sudah mencengkeram lehernya, jari-jarinya melingkar di sana dan menekan urat nadinya. Itu bukan cekikan, hanya peringatan. Agar menunjukan kekuatan, kekuasaan dan kendalinya.
Flore pun menahan napas. "Aku ... aku gak mendengar apa-apa," bisiknya. Kata-kata itu keluar begitu putus asa.
Cengkeramannya sedikit menguat, tetapi Niall tetap diam selama beberapa saat. Mata birunya yang sedingin es menatap Flore dengan tajam. Ibu jarinya bergerak di sepanjang denyut nadi Flore.
"Gak ada yang tanya apakah kamu mendengar sesuatu atau gak!"
Tubuh Flore langsung gemetar dan matanya semakin melebar.
"Siapa kamu?" Akhirnya pria itu bertanya dengan suara rendah dan hembusannya menyentuh kulit Flore.
Jantung Flore berpacu kencang dan tenggorokannya menegang di bawah tangan pria itu.
"G—gak ada siapa-siapa," bisiknya lagi. "Aku bukan siapa-siapa."
Bibir Niall melengkung, "Gak ada siapa-siapa?"
Ibu jari Niall bergerak sedikit, mengusap pangkal leher Flore seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Kulit Flore pun terasa panas di tempat yang disentuhnya. Tubuhnya kaku, seluruh otot menegang. Dia tidak bergerak. Tidak berani berbuat apa apa.
Niall memiringkan kepala dan mengamatinya. "Apa yang tadi kamu dengar?"
Flore menggeleng sebisanya dalam cengkeraman pria itu.
"Gak ada," hembusnya.
"Gak ada?"
Flore pun menelan ludah. "Aku lagi keluar dari teater. Aku gak ... aku gak memperhatikan kalian."
Cengkeraman Niall tetap kuat selama sesaat, cukup untuk membuat denyut nadi Flore berpacu lebih kencang di telapak tangannya sebelum akhirnya pria itu kembali mengendurkannya.
"Lucu," gumam Niall. "Orang yang gak mendengar apa-apa biasanya gak terlihat setakut ini."
Flore membuka mulut, lalu menutupnya lagi, memaksa napasnya tetap teratur. Pria itu sedang mengujinya, menunggu apakah Flore akan menyerah. Dia tidak boleh melakukannya. Pria seperti Niall akan memanfaatkan kelemahan tanpa ampun.
Jari-jari Flore mengepal di sisi tubuhnya. "K—kamu bikin aku takut. Itu saja."
"Kalau itu saja sudah bikin kamu takut, aku malah pingin sekali melihat seperti apa dirimu waktu benar-benar ketakutan."
Niall mengamatinya selama beberapa saat lagi. Kemudian, akhirnya, dia melepaskan tangannya dari leher Flore. Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Kulitnya masih terasa geli di tempat tangan pria itu tadi berada.
Niall mundur satu langkah dengan perlahan. Tatapan birunya yang tajam tidak pernah lepas dari Flore.
"Baiklah, Nona. Gak ada siapa-siapa dan gak ada yang mendengar apa-apa," gumamnya dengan bibir melengkung dan membentuk senyum geli. "Semoga saja tetap begitu."
Lalu, secepat kemunculannya, secepat itu pula Niall menghilang, dan Gang itu kembali sunyi.
Setelah berada di dalam taksi, tubuh Flore gemetar saat menatap ke luar jendela, memperhatikan gedung-gedung gelap yang berlalu dengan cepat. Napasnya masih tidak teratur, dan jemarinya mencengkeram erat tali tasnya.
Mereka belum pernah bertemu. Namun, Flore tahu siapa Daniall Dazel. Semua orang juga tahu. Dia pewaris keluarga Dazel sekaligus kakak laki-laki Neagley. Flore tahu Niall bagian dari mafia, tetapi sialnya dia tidak menyangka pria itu memiliki kekuatan segelap dan semengerikan itu. Atau entah apa sebenarnya yang tadi dia lihat.
Ada sesuatu yang sangat mengerikan dalam diri Niall, dan itu bukan sekadar aura mafianya. Cara Niall melingkarkan tangan di leher Flore dan mengusap nadinya, itu bukan lagi sekadar d******i.
"Kalau itu saja sudah bikin kamu takut, aku malah pingin melihat seperti apa dirimu waktu benar-benar ketakutan."
Flore merapatkan hoodie ke tubuhnya. Sekali lagi, rasanya seperti Niall terangsang oleh ketakutannya. Seperti psikopat.
Seharusnya Flore memikirkan uang yang tidak dimilikinya untuk membeli bahan makanan. Tentang uang sewa yang sebentar lagi jatuh tempo. Tentang ibunya, yang hampir bisa dipastikan kembali mabuk sampai tak sadarkan diri di sofa atau kalau ibunya masih begadang, ia harus menerima kata kata pedas dari mulutnya.
Namun, yang terus memenuhi pikirannya justru tekanan telapak tangan kasar Niall di lehernya, cara mata pria itu menatapnya. Tentang bagaimana nadinya berdenyut di bawah kulit pria itu.
Flore mengembuskan napas kasar sambil menggelengkan kepala, "Astaga, apa yang aku pikirkan, bodoh!"
Dia memaksa pandangan turun ke pangkuannya, lalu ke dompet yang ada di sana dan kemudian ke argo taksi. Harga dirinya yang bodoh itu sebenarnya ingin menolak tawaran Angeline.
Namun, harga diri selalu tersingkir ketika berhadapan dengan rasa lapar dan keputusasaan. Untungnya, Angeline memberinya cukup uang untuk dua kali naik taksi. Itu bisa mengatasi masalah makan malamnya malam ini dan mungkin beberapa hari ke depan, itu pun kalau Flore bisa menghemat pengeluarannya.
"Ini, pak. Terima kasih," gumam Flore kepada sopir ketika mereka tiba di toko kelontong bernama Hot Mart yang buka 24 jam di ujung jalan, hanya satu blok dari apartemennya. Dia membayar sopir itu, lalu turun dari taksi.
Jalanan hampir sepi pada jam seperti ini. Flore berbalik ke arah cahaya yang familiar dari Hot Mart, memasukkan kedua tangan ke saku hoodienya, lalu mulai menyusun daftar kebutuhan pokok dalam pikirannya.
Roti. Mi instan. Mungkin sarden kalengan?
Bel pintu berdenting saat Flore masuk. Toko itu terasa hangat dan berbau kopi basi serta buah yang sudah terlalu matang. Flore melambaikan tangan kepada Hotman di balik meja kasir, seorang pria tua yang terlalu lelah untuk peduli pada apa pun.
Flore mengambil keranjang dan berjalan menuju rak-rak. Dia baru menyadari ada seorang pria berdiri di ujung lorong dan menghalangi jalannya. d**a Flore terasa sesak. Dia tidak mengenali pria itu, tetapi ada sesuatu yang aneh dari cara pria tersebut menatapnya dengan begitu intens. Flore kira para psikopat itu sudah berhenti mengganggunya.
Flore menggenggam keranjang itu lebih erat. "Permisi," gumamnya.
Pria itu tidak bergerak. "Bagaimana kamu bisa gak tahu?"
Flore pun membeku. "Apa?"