Pria itu sedikit memiringkan kepala. Matanya yang gelap menatap tajam ke arahnya. "Bagaimana mungkin kamu gak tahu kalau para gadis itu ada di bawah sana, Flore?"
Gelombang dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, sementara cengkeramannya pada keranjang semakin menjadi-jadi.
"Aku gak ...." Flore menggeleng sambil mundur selangkah. "Kurasa kamu salah—"
Pria itu maju selangkah. Flore mundur, sampai rak-rak itu menusuk punggungnya.
"Kamu menutupinya," gumam pria itu dengan suara bergetar karena marah. "Mereka bilang kalau kamu membantu menutupi kasus b******n itu."
Dengungan mulai memenuhi telinga Flore, menenggelamkan suara lampu yang berkedip di langit-langit dan dengungan kulkas di belakangnya.
"Maaf," kata Flore, memaksa suaranya tetap tegas. "Apa pun yang kamu cari, kamu gak akan menemukannya di sini."
Bibir pria itu langsung melengkung. Barulah Flore melihat pisau yang berkilat di tangannya. Denyut nadinya langsung berpacu. Flore menjatuhkan keranjangnya dan kaleng-kaleng bergulingan di atas ubin, tetapi dia tidak peduli. Dia berbalik dan menerobos melewati pria itu dengan napas yang semakin terengah-engah.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Adikku," desisnya. "Namanya Adellia Rasheed."
Flore menarik lengannya sekuat tenaga, jantungnya pun berdebar keras.
"Jangan ganggu aku, sialan!" teriak Flore.
Dia terhuyung mundur dan menabrak rak minuman hingga semuanya berjatuhan ke lantai. Suara gaduh yang tiba-tiba itu pun membuat Hotman terkejut dari balik meja kasirnya.
"Hei! Apa-apaan—"
Flore tidak menunggu. Dia langsung berlari ke pintu dan keluar menyusuri blok itu secepat mungkin. Dia bisa mendengar pria itu mengejarnya. Flore tidak berani menoleh, dia tidak boleh berhenti.
Tangannya sudah merogoh saku untuk mencari kunci ketika dia berbelok di tikungan dan melihat gedung apartemennya. Dia langsung berlari menuju tangga, tangannya gemetar saat berpegangan pada pagar. Flore tidak langsung menuju kamar apartemennya. Sebaliknya, dia justru menjatuhkan diri di anak tangga, meringkuk sambil menarik kedua lutut ke d**a.
Adellia Rasheed.
Nama itu terus bergema di kepalanya bersama nama-nama korban Jimmy lainnya. Flore berusaha membuang ingatan itu, tapi tidak bisa.
Jimmy, ayah Flore, sudah meninggal. Dia dibunuh di penjara empat bulan lalu. Namun, hantu-hantu yang ditinggalkannya masih menuntut balas dendam padanya.
Akhirnya Flore bergegas menaiki tangga menuju apartemen di lantai empat sambil berpegangan pada pagar. Dia hampir tidak menyadari tangannya yang gemetar. Jantungnya belum juga tenang sejak dari toko kelontong, sejak mendengar suara pria itu yang dipenuhi amarah saat menyebut nama perempuan itu.
Adellia Rasheed.
Dina Marlina.
Yukki Juandi.
Evelyn Musamba.
Ely Lusina.
Farah Ashari.
Flore tiba di lantai empat bahkan sebelum berhasil menyelesaikan daftar semua nama yang terukir dalam ingatannya. Flore menarik napas sebelum membuka kunci apartemennya, ia sudah tahu apa yang menunggunya di balik pintu itu.
Begitu pintu terbuka, bau vodka langsung menghantam hidungnya. Melani persis seperti yang Flore bayangkan. Ibunya tergeletak di sofa dengan jubah usang, sementara televisi menayangkan acara wawancara tengah malam. Gelas yang terisi setengah berada di tangannya, sedangkan leher botol berada dalam jangkauan tangannya di atas meja.
Melani nyaris tidak menoleh. Tatapannya hanya terangkat sebentar untuk menilai penampilan Flore yang berantakan sebelum kembali ke televisi.
"Sudah malam!"
Flore tahu hampir semua orang memiliki hubungan yang rumit dengan ibunya. Namun, dia yakin hubungannya dengan Melani layak mendapatkan penghargaan tersendiri. Dia tidak pernah sekalipun merasakan kasih sayang seorang ibu dari Melani.
Melani tidak sepenuhnya menelantarkan Flore saat kecil. Flore punya makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Namun, kasih sayang sebagai orang tua?
Pelukan?
Mendengar bahwa dirinya dicintai?
Semua itu tidak pernah ada dalam diri Melani.
Flore mengembuskan napas dan menutup pintu di belakangnya. "Latihannya molor."
Melani mendengus sambil menggeser tubuhnya di kursi.
"Latihan," ulang Ibunya. "Oke. Selama ini kamu terus menari ... bilang sama Mama, kapan itu mulai bisa bayar tagihan kita?"
Flore tidak punya jawaban. Percuma, mereka sudah terlalu sering membicarakan hal yang sama. Ia meletakkan tasnya di samping pintu. Yang dia inginkan hanya masuk ke kamarnya, mengunci pintu, lalu menjatuhkan diri ke kasur selama beberapa jam sebelum bangun dan mengulang semuanya lagi besok.
"Ada apa?"
Dahi Flore berkerut saat menatap ibunya. "Apa?"
"Ada apa?" tanya Melani dengan ucapan yang mulai pelo. "Wajahmu kelihatan aneh."
Flore pun menggeleng. "Aku cuma capek."
"Flore. Bilang sama mama," desak Melani sambil menatapnya dengan mata yang sudah mati rasa. Matanya sayu karena alkohol, tetapi tetap tajam dan penuh fokus.
Flore menarik napas dalam-dalam secara perlahan. "Ada pria yang mengenaliku," katanya. "Barusan, di toko kelontong di ujung jalan."
Melani tidak langsung bereaksi. Gelasnya masih menggantung di dekat bibir, vodka menetes di tepinya saat tubuhnya sedikit bergoyang di kursi. Kemudian dia mengendus dan menyesap minumannya perlahan, tatapan kaburnya beralih kepada Flore.
"Dia mengenalimu?"
"Orang dari persidangan." Kata itu terasa pahit di mulut Flore.
Mata Melani mendadak lebih tajam. Kabut alkohol yang menyelimutinya seakan tersibak. Bibirnya mengejek, lalu dia tertawa getir sambil menggelengkan kepala.
"Tentu saja. Siapa dia? Salah satu reporter yang suka menjilat? Atau Burung pemakan bangkai lainnya?"
Tatapan Flore terpaku pada kedua tangannya. "Jamal Rasheed."
Flore mengingat nama itu saat menaiki tangga. Dia ingat pernah melihat Jamal di luar gedung pengadilan selama hari-hari persidangan yang kacau dan melelahkan itu. Flore juga ingat wawancara menyudutkan yang diberikan pria itu kepada pers setelah ayahnya dijatuhi hukuman, ketika dia berjanji akan memastikan para kaki tangan Jimmy juga dihukum.
Melani pun mengerutkan dahi. "Siapa dia?"
"Kakaknya Adellia Rasheed."
Ibunya kembali mengernyit. "Mama gak tahu siapa sialan yang kamu maksud—"
"Dia salah satu gadis yang diperkosa dan dibunuh suamimu!" ketus Flore.
Ruangan langsung sunyi. Mata Melani menyipit menatap Flore, bibirnya mengerucut.
"Semua polisi itu, pengacara, para ... reporter sialan itu. Mereka memutarbalikkan semuanya, Flore!"
Flore langsung mengerang pelan lalu membalikkan badan. Ini bukan pertama kalinya dia mendengar versi cerita ibunya.
"Mama ...."
"Astaga, Jimmy memang bukan pria baik," ejek Melani. "Aku tahu dia punya selingkuhan. Aku benci dia, tapi aku gak akan memasukkannya ke penjara—"
"Ya Tuhan, Ma," potong Flore. "Cukup! Dia gak dipenjara karena berselingkuh dari Mama! Dia dipenjara karena—"
"Karena kamu yang memasukkannya ke penjara!" teriak Melani.
Ibunya pun bangkit dengan begitu kasar hingga minumannya tumpah ke mana-mana.
"Karena b******n-b******n itu memanipulasi kamu dan membuatmu berbalik melawan Papamu sendiri! Kamu berdiri di ruang sidang itu dengan sikap sok tahu, lalu ngoceh tanpa henti," semburnya, suaranya dipenuhi rasa jijik. "Kamu menangis dengan air mata buayamu itu dan mengatakan semua yang ingin mereka dengar. Kamu memberi mereka semua yang mereka butuhkan untuk menjebloskan Papamu sendiri ke penjara! Kamu paham sampai di sini, Flore?!"
Air mata mulai terasa panas di sudut mata Flore. "Aku cuma mengatakan yang sebenarnya."
"Ya. Dan lihat apa akibatnya sekarang." Melani merentangkan kedua tangan, menunjuk apartemen mereka yang sudah kumuh. "Lihat ... Lihat Mama sekarang. Lihat apa yang udah kamu lakuin ke mama!"
Flore menggelengkan kepala dan membalikkan badan. Berdebat tidak akan ada gunanya.
"Selamat malam, Ma."
Namun, sebelum Flore sempat melangkah, terdengar ketukan keras dan berat di pintu. Ibunya sedikit menegang dan menggenggam gelasnya lebih erat. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.
Melani meletakkan minumannya di meja, lalu mengusap wajah. "Astaga," gumamnya. "Siapa sih yang bertamu di jam segini."
Ketukan berikutnya bukan lagi ketukan. Sebuah pukulan keras dan tidak sabar menghantam pintu.