"Terima kasih telah datang."
Suara lembut dari seorang wanita yang rambut cokelatnya dibiarkan tergerai itu mengalun bagaikan melodi bagi siapa saja yang mendengarnya. Tidak lupa dengan senyum ramah yang selalu terpasang di wajah cantiknya di kala menyapa para pengunjung kafe.
"Siapa manusia yang menjadi targetmu hari ini?" tanya seorang wanita yang rambutnya dikucir kuda.
Wanita berambut cokelat memutar bola matanya. "Memangnya aku psikopat. Ucapan kamu itu akan membuat orang yang mendengarnya salah paham." Dia sibuk menghitung uang koin yang ada di laci kasir, hanya sekadar untuk membunuh rasa bosannya.
"Iya, maaf. Kamu marah?"
"Tidak, hanya kesal.”
Wanita yang rambutnya dikucir terkekeh.
"Arva! Berisik tahu."
Arva memonyongkan bibirnya. "Iya. Tidak usah melotot. Seram tahu!"
Noura memutar bola matanya malas. Jika dia punya kekuatan untuk membuat orang lain diam atau andai dia bisa menulikan pendengarannya untuk sementara agar tidak mendengarkan hal yang berisik. Semenjak dia tidak lagi meminum darah manusia kemampuan indra pendengarannya mengalami penurunan. Dia tidak lagi dapat mendengar suara dengan jelas, tetapi kalau ada yang berbicara cukup kencang dan berteriak tepat di sampingnya, dia terganggu
Katakanlah, dia tidak bersyukur, karena masih bisa mendengar. Andai efek dari tidak meminum darah manusia membuat dia benar-benar tidak bisa mendengar, entah apa yang akan dia lakukan. Mungkin dia akan terpaksa meminum darah manusia. Ingat, terpaksa!
"Kak, terima kasih sudah mentraktirku."
Suara itu membuat Noura mendongakkan kepalanya mencari arah sumber suara tersebut. Tepat di pojok, dia melihat dua orang wanita manusia sedang bercengkerama. Terlihat akrab dan penuh kehangatan. Noura tercenung. Dia menjadi teringat kebersamaannya dengan saudari kembarnya yang telah tiada. Tatapannya terpaku pada kedua wanita manusia yang wajahnya terlihat mirip, mungkin kakak beradik?
"Lucia, ayo latihan menggunakan pedang. Ingat, kau ini Tuan Putri. Kemari, biar aku ajari."
Noura terdiam. Saat kenangan bersama saudari kembarnya terlintas di ingatan. Saat itu merupakan hari terakhir dia menghabiskan waktu bersama kembarannya. Tanpa sadar, senyum terbit di wajahnya.
Iris mata cokelatnya bergerak ke arah lain. Tepat di depan kedua wanita manusia itu, terdapat seorang ibu dengan anaknya, mereka berbicara sembari sesekali tertawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu. Noura tidak peduli. Noura hanya menatap lekat manik mata milik ibu tersebut yang terlihat sangat menyayangi anaknya.
Lagi-lagi dia teringat dengan sang bunda yang juga meninggalkannya.
"Jangan mengganggu kakakmu. Aku tidak mau lagi mendengar ada barang pecah di ruangan ini."
Noura tersenyum. Saat itu juga hari terakhir Ibunda menasihatinya. Sudah beratus tahun lamanya kedua orang tua dan saudari kembarnya itu meninggalkannya dan kakaknya, raja Carlen.
"Noura, menurutmu bagaimana?" tanya Arva seraya menunjukkan sebuah tas yang ingin dia beli dii aplikasi berbelanja.
Noura tersadar dari lamunannya. Kenapa hidupnya selalu melankolis seperti ini. Sudah beratus tahun lamanya, masih saja dia bersedih ketika mengingat kebersamaannya dengan kedua orang tua dan saudari kembarnya itu.
**
"Tiga hari lagi bulan purnama." Arva berkata setelah memastikan Noura telah selesai menerima panggilan dari kakaknya. "Jadi seperti biasa. Besok aku tidak datang ke kafe supaya tidak ada yang curiga. Masa setiap terjadi bulan purnama aku tidak datang." Arva berbisik.
Noura mengangguk. Bulan purnama sangat berharga bagi bangsa werewolf.
"Kenapa raja Carlen menelepon?" tanya Arva. Dia penasaran, jarang sekali Carlen menelepon di tengah jam kerja. Biasanya akan menelepon bila kafe telah tutup.
Noura menghela napas panjang. "Hari ini ada acara pertemuan warga vampir di aula istana. Jadwalnya ganti b***k manusia.”
Arva membulatkan bibirnya.
Jadwal ganti b***k manusia akan dilaksanakan selama sepuluh tahun sekali. Manusia yang bersedia diminum darahnya oleh vampir akan datang ke istana. Mereka harus melewati berbagai tes dan uji kesehatan. Mereka tidak boleh memiliki penyakit dan menimbulkan penyakit bagi tuannya.
Manusia yang menjadi b***k vampir akan dibebaskan setelah sepuluh tahun bekerja dan tidak boleh melamar lagi. Tentunya manusia yang telah menjadi b***k vampir tidak akan mati karena diminum darahnya. Karena mereka diberi makan-makanan yang bergizi.
Banyak manusia yang melamarkan diri karena gajinya sangat besar. Apalagi bila menjadi b***k dari bangsawan. Dalam waktu satu tahun bekerja mereka dapat membeli rumah dan mobil mewah.
"Kamu harus datang. Hargai yang lain."
"Ya, aku harus datang kalau tidak aku akan menjadi bahan gunjingan para warga." Noura sering kali menjadi sorotan. Karena ke tidak ikut sertaannya pada beberapa acara. Padahal dia merupakan putri, salah satu penerus takhta kerajaan.
"Kamu itu tuan putri. Pastinya segala tindak-tandukmu tidak pernah luput dari pantauan mereka," ucap Arva.
"Menyebalkan." Noura menopang dagu. Malas menyergapinya, dia selalu malas bila datang ke acara yang dilaksanakan oleh kerajaan.
"Putri Noura, aku mau cerita."
"Cerita apa?"
"Akhir-akhir ini banyak sekali ditemukan mayat werewolf di Hutan Redwood. Kami sedang mencari tahu apa yang menyebabkan mereka tewas." Arva menatap kosong ke depan.
"Mayat werewolf?" Noura terkejut.
Arva mengangguk pelan. Tiba-tiba Arva mencium aroma darah segar. Khas vampir. Pandangannya mengarah ke pintu kafe. Ada seorang pria tampan berambut pirang sedang berdiri di sana. Seperti sedang mencari sesuatu.
Noura ikut menoleh, dia juga mencium aroma tidak sedap—darah manusia.
Noura mendelik kaget. "Putra Mahkota Vander?" Sontak dia berdiri.
"Putri Noura." Vander berjalan menuju Noura.
Arva mengerutkan dahinya.
"Sedang apa kau di sini? Kau mengikutiku?" Noura menuduh. Vander suka mengikutinya dan selalu ingin tahu apa saja yang dia lakukan.
Vander menggeleng. Sebenarnya dia disuruh oleh Carlen, tetapi Carlen memintanya untuk merahasiakan hal itu.
"Tidak. Kebetulan hari ini aku mendapatkan jam istirahat sedikit panjang dan sudah lama aku tidak ke sini," ujar Vander.
Noura menatap penuh selidik. Dia ragu dengan ucapan Vander.
Vander mendudukkan dirinya di kursi yang kosong tepat di samping Noura. "Lama tidak bertemu, Arva."
"Iya, sudah lama sekali." Arva tersenyum sopan. "Apa Anda masih meminum darah manusia?" Arva langsung menutup mulutnya. Terkutuklah mulutnya ini yang tidak bisa direm.
Vander tertawa, tidak tersinggung.
"Tidak, dia sekarang sama sepertiku, tapi dia masih tidak dapat mengontrol hawa nafsu akan darah manusia. Makanya aku tidak pernah mengajaknya ke dunia manusia." Noura menjelaskan.
Arva mengangguk paham.
"Aku selama ini penasaran. Kapan kalian bertemu setelah perang kedua?" tanya Vander penuh tanya.
"Tujuh tahun yang lalu?" jawab Arva ragu.
"Mungkin." Noura mengedikkan bahunya.
Vander terkejut. Ternyata sudah lama Noura dan Arva bertemu. "Bau werewolf." Vander mencium aroma werewolf yang sangat pekat. Lebih pekat dua kali lipat dari aroma Arva. Dia menyapu pandang sekeliling kafe.
Noura pun mencari sosok werewolf yang memiliki aroma sepekat ini.
***
"Sudah sampai." Dafa memarkirkan mobil di tempat parkir.
"Cepat sekali, tidak sampai dua jam," ujar Orlan.
"Bukankah lebih cepat itu lebih baik?" Dafa melihat ke arah kafe yang lumayan ramai.
"Kau tunggu di sini." Orlan keluar dari mobil. Tiba-tiba badannya menegang. Dia mencium aroma vampir dan juga aroma yang sangat harum percampuran antara harum bunga lavender dan melati.
"Orlan, itu aroma harum mate kita. Sepertinya mate kita ada di kafe. Kita menemukannya, kita menemukannya! Cepat Orlan, kita temui mate kita!" Jay berseru riang. Dia bahagia, akhirnya mereka dapat bertemu dengan mate-nya.
"Siapa mate kita? Manusia? Atau vampir? Aroma vampir sangat kental di sini." Orlan dilanda kegelisahan.
Dafa mengerutkan dahinya. Dia memutuskan untuk mendekati Alpha-nya yang terdiam mematung itu.
"Anda kenapa?" Dafa Menepuk pundak Orlan pelan.
Orlan tersadar dari lamunannya, dia menoleh. "Mate ...."
Dafa mencerna ucapan Alpha-nya. Seketika senyum mengembang di wajahnya. "Anda telah menemukan mate?"
Orlan mengangguk, tapi aroma harum ini tersamarkan dengan aroma darah manusia. Siapa sebenarnya mate-nya itu?
"Ayo masuk, Alpha. Saya akan menemani Anda." Baru hendak melangkah, aroma darah manusia menyergap indra penciuman Dafa. "Apa ada vampir?" Dafa menoleh ke Orlan.
Orlan mengedikkan bahunya. "Ayo, masuk." Dafa mengikuti dari belakang.
***
"Kakak!" teriak Arva, ketika seorang pria memasuki kafe.
Noura dan Vander sontak menoleh. Insting pertahanan diri mereka keluar hampir mereka mengeluarkan taring. Mereka membulatkan mata ketika melihat siapa werewolf yang datang.
Mata Orlan dan Dafa melebar. Terkejut bukan main. Sudah lama mereka tidak bertemu dengan Noura dan Vander, mereka seringnya bertemu dengan Aaron, pengawal pribadi raja Carlen. Apalagi Vander yang merupakan putra mahkota vampir dari Kerajaan Hamakua, mungkin Vander sedang ada urusan di sini?
"Sini." Arva menyuruh keduanya duduk. Dia menyeret satu kursi kosong yang ada di belakang.
Orlan dan Dafa berjalan menuju Arva. Pandangan Noura dan Vander masih tertuju kepada keduanya yang baru saja datang. Keduanya duduk di samping Arva, berhadapan dengan Noura dan Vander.
"Senang bertemu dengan kalian, Putri Noura dan Putra Mahkota Vander." Dafa menyapa dengan ramah seraya menebar senyuman lebar.
"Senang bertemu dengan kalian juga, Alpha Orlan dan Beta Dafa." Vander tersenyum sopan.
Noura mengerjapkan mata. Sudah lama sekali dia tidak melihat kedua petinggi Redwood Pack itu. Dafa pernah sesekali menjemput Arva, terakhir Noura bertemu dengan Dafa kalau tidak salah tiga bulan yang lalu. “Senang juga bertemu dengan Anda, Alpha Orlan dan Beta Dafa.” Noura ikut berbasa-basi.
Orlan tidak berniat untuk berbicara. Bukan sombong, tapi dia memang seperti itu.
Suasana menjadi agak canggung.
"Itu mate kita, Orlan. Putri Noura, mate kita. Ternyata ramalan itu tertuju pada kita. Oh, sungguh, mate kita sangat cantik Orlan." Jay berseru heboh di pikiran Orlan.
Orlan menegang ketika mengetahui sumber dari aroma yang sangat harum ini berasal dari putri Noura.
"Ini sebuah kebetulan, kita bisa bertemu di sini," ucap Dafa membunuh keheningan yang menimpa mereka berlima.
"Ya. Benar-benar kebetulan," sahut Vander.
Dafa menoleh ke arah Alpha-nya yang tengah menatap tajam Noura yang sedang mengobrol dengan Arva.
Dafa melihat Noura. Seketika pikirannya tertuju pada ramalan para penyihir, dia kembali menatap Orlan. Tadi Alpha-nya bilang ada mate-nya di sini? Apa jangan-jangan, Putri Noura merupakan mate Alpha-nya?
Mereka berlima membahas banyak hal seraya menunggu waktunya kafe tutup.
Orlan tidak fokus, matanya terus menatap Noura tajam. Noura tidak menyadari tatapan intens yang diberikan olehnya. Aroma bunga lavender dan melati ini, membuat dia merasa tenang dan nyaman, begitu juga dengan Jay. Tetapi Orlan masih tidak percaya dengan takdir yang menimpa dirinya. Bagaimana bisa?
"Mate-ku, vampir? Bagaimana in? Apa kau tidak salah Jay?" tanya Orlan pada serigalanya.
"Kau juga merasakannya. Buat apa bertanya padaku. Apa salahnya bila dia vampir? Sadarlah Orlan, dia mate yang sudah ditakdirkan hanya untuk kita. Sampingkan semua egomu."
"Tapi Jay-"
"Ayolah, jangan egois. Kita sudah menunggu selama ratusan tahun dan setelah menemukannya, kau akan menolaknya? Kau mau hidup tanpa seorang mate?"
Orlan menghela napas panjang. Dia memijit pangkal hidungnya. Benar ucapan Jay, tapi kenapa mate-nya harus vampir?
"Oke, aku juga tidak mau egois. Aku tahu bagaimana hubungan antara bangsa werewolf dan vampir. Mari kita pikirkan jalan keluarnya, bagaimana caranya agar kita dapat menemui mate kita."
"Aku akan pikirkan itu."
Jay tersenyum senang.
Dari tadi Noura merasa ada yang menatapnya begitu intens dan tatapannya seolah-olah seperti menusuk tepat di kepalanya. Vander dan Dafa sedang mengobrol. Lalu Orlan sedang memejamkan mata. Mungkin ini hanya perasaannya saja.