"Hari ini Arva tidak datang lagi ke kafe." Noura sedang berdiri di balkon kamarnya. Nanti malam bulan purnama.
Dua hari berlalu sejak acara pergantian b***k manusia di istana, bau darah manusia masih tercium. Istana sedang terkontaminasi darah manusia. Noura pusing bukan main. Aroma ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan menyemprotkan sepuluh minyak wangi di pakaiannya. Noura tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan aroma manis darah manusia yang hampir membuatnya terlena untuk mencicipinya walau hanya setetes.
Manusia yang melamar selain telah lolos uji kesehatan dan uji psikologis. Ada juga tes kepribadian dan kejujuran. Jika telah lulus, para manusia melakukan ikrar sumpah tidak akan membocorkan rahasia vampir pada manusia lainnya. Bila melanggar sumpah perjanjian, manusia itu akan dibunuh sampai tujuh turunan. Para manusia ini didapatkan dari sebuah lembaga khusus. Pemerintah tidak ada yang tahu. Bisa dikatakan, semacam lembaga ilegal.
Acara dilaksanakan dengan cara pelelangan. Para manusia akan diminta menusukkan jarum pada jempol tangan—sampai darah keluar. Darahnya dikumpulkan di sebuah tempat semacam asbak, lalu para vampir akan mencolek atau m******t sedikit darah manusia tersebut. Jika cocok, para vampir akan membawa pulang b***k manusia pilihannya.
Dahulu pergantian b***k hanya akan dilakukan jika b***k manusianya meninggal. Kemudian Carlen membuat kebijakan baru. 'Bagi warga yang merasa bosan dan ingin mengganti b***k manusianya, pergantian akan dilakukan minimal setelah sepuluh tahun manusia itu bekerja padanya.'
"Putri Noura, apa kau di dalam?" Vander mengetuk pintu kamar.
"Ya, buka saja," teriak Noura. Dia sedang malas berjalan. Biasanya Vander akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Mungkin hari ini Vander sedang sedikit waras.
Vander memelesat, dalam kurun waktu satu detik dia sudah berdiri di samping Noura.
Noura melirik ke Vander yang sedang menggenggam dua gelas berisi darah manusia di kedua tangannya. Noura penasaran, bagaimana caranya Vander membuka pintu? Tapi dia malas bertanya. Anggap saja, ada pelayan yang membantu Vander.
"Seperti biasa kita dapat kiriman dari Ferin." Vander memberikan gelas yang masih penuh pada Noura.
Sebelum meminumnya, Noura menganalisis darah hewan apa yang terdapat di gelas tersebut. "Harimau? Dari mana Ferin mendapatkan harimau?" Noura menatap Vander yang sedang meneguk habis isi gelas.
Vander mengedikkan bahunya. "Jangan tanya padaku."
"Sungguh, Ferin telah melanggar perjanjian damai. Kalau bangsa werewolf tahu, aku yakin akan terjadi perang ketiga." Noura menatap nanar gelas di genggamannya. Membayangkan harimau yang diburu oleh Ferin dan diambil darahnya. "Kalau Yang Mulia tahu, dia pasti akan langsung menemui Ferin."
Ferin tidak tinggal di istana, tapi dia selalu menyelundupkan darah hewan ke kerajaan. Selama ini, Noura tidak pernah meminum darah hewan pemberian Ferin. Noura tidak mau melanggar kesepakatan perjanjian damai. Tidak dengan Vander yang tetap meminumnya.
"Ingat. Bukan hanya kita, vampir peminum darah hewan yang memburu hewan langka, tapi banyak juga werewolf yang memburu hewan langka untuk dinikmati dagingnya. Padahal mereka sama-sama hewan," ujar Vander.
Noura tahu itu. Padahal sudah jelas tertulis di salah satu kesepakatan perjanjian damai yang menyatakan bahwa, 'Bangsa vampir dan werewolf tidak boleh memburu hewan langka di hutan'. Kedua bangsa telah setuju. Entah siapa yang telah berkhianat dari golongan werewolf.
Vander mendengar informasi yang berembus kencang mengenai para werewolf yang ikut memburu hewan untuk dikonsumsi dagingnya. Dia sedang menyelidikinya, apa ada keterkaitan Ferin dengan para werewolf itu? Apalagi sejak satu tahun terakhir Ferin rutin mengirim darah hewan langka kepadanya dan Noura. Mau dibuang, sayang. Pikir Vander.
**
"Wangi bumi, wangi tanah yang basah, wangi darah manusia." Vander menghirup udara di sekitarnya. Selama ini dia hanya berkutat di istana. Bila di Kerajaan Hamakua, Vander dilarang ke mana-mana oleh ayahnya. Saat berada di Kerajaan Appalachia dia memang sibuk, tetapi Carlen masih sedikit memiliki rasa kasihan padanya, jika ada waktu luang Vander dibebaskan untuk ke mana saja.
"Jangan begitu, nanti manusia yang dengar akan curiga." Noura berdecak kesal. Dia selalu waswas bila membawa Vander ke dunia manusia. Sekitar lima tahun yang lalu, Vander sempat kehilangan kontrol hawa nafsu akan darah manusia. Untung dia dapat menenangkan Vander.
"Maaf, aku sangat senang. Tenang, aku sudah kenyang minum darah hewan. Jadi tidak akan tergoda darah manusia," bisik Vander pelan.
Noura sudah siap di depan kasir. Vander sibuk mondar-mandir melayani para pengunjung. Pengunjung wanita terpesona dengan wajah Vander yang bak Dewa Yunani.
Sejujurnya, hingga hari ini Noura masih memiliki sedikit rasa gugup berada di kafe yang mengharuskannya bertemu dengan manusia. Dia sudah sangat percaya diri tidak akan nafsu dan tidak tertarik dengan darah manusia. Sebab kalau dipikir-pikir, kasihan juga manusia yang diminum darahnya. Noura tahu ini aneh, karena tidak ada satu pun vampir yang merasa kasihan pada manusia walau secuil pun. Noura tidak pernah mengatakan tentang perasaan dan pikirannya ini pada siapa pun, dia pendam sendiri, dia takut dicap tidak waras.
Bahaya, bau werewolf kental sekali di sini. Apalagi setelah kemarin kedatangan dua petinggi Redwood Pack. Tunggu, kemarin wajah Alpha Orlan kenapa mencurigakan. Kenapa dia melihat putri Noura intens sekali. batin Vander. Dia curiga pada Alpha Orlan. Ya, dia akan mencari tahu. Tapi bagaimana cara mencari tahunya?
"Vander, Ivander, astaga, sedang memikirkan apa dia." Noura melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Vander.
Noura mendengus kesal. Apa Vander sedang mengalami masalah pada pendengaran? Sama seperti dirinya, Vander juga minum darah hewan. Pastinya kemampuan indra pendengarannya menurun.
Noura mencubit tangan Vander, yang membuat Vander tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?"
"Mikirin apa? Dari tadi kau melamun."
"Aku tidak memikirkan apa pun," bantah Vander seraya menunjukkan cengiran lebar.
"Awas saja kalau kau menutupi sesuatu dariku." Noura mengancam. Dia dan Vander sudah saling mengenal sejak kecil. Karena hubungan kedua keluarga yang sangat erat—keluarga Walton dan keluarga Carlton—yang merupakan salah satu keturunan vampir murni.
Sampai saat ini Vander sering datang ke Kerajaan Appalachia hanya untuk membantu Carlen atau menjalankan tugas dari ayahnya—raja Aldwin.
"Aku tidak berbohong. Aku tidak bisa berbohong padamu." Vander mengedipkan satu matanya. Noura mendelik, kewarasan Vander mulai menghilang.
Noura sibuk melayani pengunjung yang sedang membayar. Pengunjung wanita berbisik-bisik melihat wajah tampan Vander. Para pengunjung tidak tahu, kalau mereka berdua merupakan vampir yang dapat dengan jelas mendengar bisikan mereka—walaupun samar-samar.
**
Setelah bertemu dengan mate-nya. Orlan tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Noura dan aroma harum yang memabukkan itu, sangat dia rindukan. Dia ingin memeluk mate-nya itu. Sekarang dia tahu betapa tersiksanya Leon dan Arva yang sering terpisah oleh jarak dan waktu.
Selama dua hari ini. Orlan dan Jay terus berdebat. Apa yang harus mereka lakukan? Mereka belum menemukan jalan keluar. Justru mereka saling beradu pendapat, tanpa ada yang mau mengalah.
Orlan mengutuk Dafa yang terus-menerus menyangkut pautkan dirinya dengan ramalan penyihir tahun 1150. Lihat, sekarang menjadi kenyataan. Memang nama dirinya lah yang tercantum di ramalan tersebut.
Ya Tuhan. Moon Goddess. Kenapa mate Orlan merupakan vampir? Semuanya semakin rumit karena Noura itu merupakan tuan putri. Makin susah Orlan untuk menemui Noura. Pastinya raja Carlen selalu memantau adiknya itu. Arva bilang, biasanya raja Carlen akan datang ke kafe dua atau tiga kali dalam sebulan.
Makin pusing otak Orlan berpikir. Jikalau ilustrasi yang ada di film kartun itu benar adanya, mungkin saat ini kepalanya sudah berasap. Sangat mendidih. Apalagi mendengar Jay yang merengek terus-menerus memintanya untuk menemui Noura.
Orlan menatap ke luar jendela. Dia sangat mengutuk dirinya. Kenapa selama dua hari ini, dia seperti penguntit? Sungguh ini tidak keren sama sekali. Ini merupakan pekerjaan orang yang kurang kerjaan dan pengecut.
Orlan mengembuskan napasnya. Restoran yang dia datangi selama dua hari ini tepat berada di depan kafe milik Arva dan Noura.
Untung saja Arva sedang tidak datang ke kafe. Jadi tidak ada yang tahu, ketika jam makan siang dan saat pulang dari kantor Orlan langsung datang ke restoran ini. Hanya agar dapat melihat mate-nya dan mencium aroma khas yang menguar dari mate-nya, walaupun tidak terlalu pekat harumnya. Bagaimana dengan Dafa? Beta-nya itu pastilah mendukungnya. Karena seperti yang kalian tahu, Dafa yang paling percaya kalau namanya yang tertulis dalam ramalan itu.
Orlan agak menyesal. Kenapa tidak dari dulu dia datang ke kafe Arva? Padahal kafe itu sudah berdiri selama satu tahun. Orlan juga tahu, kalau Arva bekerja sama dengan Noura untuk membangun kafe tersebut. Kalau tahu Noura merupakan mate-nya, mungkin Orlan akan datang saat peresmian kafe. Membuatnya dan Jay tidak perlu memikirkan sekiranya ke mana lagi mereka harus mencari mate mereka dan mereka tidak dilanda kegelisahan karena takut meninggal sebelum merasakan indahnya perasaan jatuh cinta. Yah, penyesalan memang selalu datang terakhir.
"Orlan, ayo, kita berganti shif. Aku ingin sekali menerjang pangeran vampir itu. Berani-beraninya dia menatap mate kita sangat intens. Izinkan aku untuk mencolok mata merahnya itu."
Orlan hanya bisa memegangi kepalanya yang terasa pening. Jay sangat berisik. Dia menyeruput kopi. Saking tidak mau ketinggalan apa saja yang mate-nya lakukan, dia lupa kalau telah memesan kopi. Jadi kopinya sudah dingin dan tidak nikmat untuk diminum.
"Aku juga ingin menemui mate kita. Aku ingin katakan padanya, jangan berikan senyuman manisnya itu pada sembarang orang. Senyuman itu hanya miliki kita. Aku tidak terima!"
Orlan mendelik. Kenapa Jay sangat posesif? Dia juga tidak terima dengan sikap baik dan ramah yang Noura berikan kepada para pengunjung pria, tetapi dia tahu, Noura melakukan itu hanya sebatas formalitas.
Mata Orlan masih setia menatap kafe yang ada di depan sana. Badan Orlan menegang, buru-buru dia menolehkan kepalanya ke kiri. Ketika Orlan melihat dengan jelas mata Vander sedang berkeliling menyelusuri bangunan dan jalanan. Orlan takut Vander menyadari kehadirannya di sini. Matilah dia.
"Untung bangsa vampir sudah tidak memiliki kemampuan membaca pikiran." Jay mendadak diam. Dia ikut tegang. Bahaya kalau Vander melihat mereka.
Orlan menyetujui ucapan serigalanya itu. Dia juga merasa beruntung karena vampir sudah tidak lagi memiliki kemampuan membaca pikiran. Jika masih, dapat dipastikan Noura akan tahu bila dia dan Jay dari kemarin duduk di sini seraya memperhatikan dan membicarakannya.