Orlan mengacak rambutnya frustrasi. Sedikit tidak terima dengan takdir hidupnya. Menunggu kehadiran mate-nya selama ratusan tahun, setelah bertemu ternyata mate-nya merupakan vampir. Dia melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya, memijit dahinya yang terasa pening.
"Orlan, jangan terlalu dipusingkan. Ayolah, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri. Aku tahu, kau juga ingin sekali bertemu dengan mate kita. Aku sudah bilang, singkirkan semua egomu. Percayalah padaku, tidak akan terjadi apa pun."
Orlan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. Benar kata Jay. Apakah sekarang waktunya untuk menemui mate-nya? Belahan jiwanya?
Sebenarnya dari kemarin dia bukan hanya memikirkan tentang 'kenapa mate-nya vampir?'. Ada hal lain yang mengganjal hatinya.
Dia merasa khawatir. Apa yang akan terjadi, jika dia membawa Noura ke pack dan memperkenalkannya pada anggota pack? Yang paling membuat dia risau ialah bagaimana caranya untuk meyakinkan pada Noura kalau dia adalah mate-nya? Dia yakin, pasti Noura tidak akan mudah percaya.
Lalu bagaimana kalau bangsa vampir tahu, kalau nama dirinya dan Noura yang tertulis di ramalan penyihir tersebut? Karena selama ini yang dia tahu, bangsa vampir tidak mengakui dan menolak mentah-mentah ramalan penyihir tahun 1150 itu.
Sejujurnya selama ini, Orlan juga merasa bahwa nama dirinya yang tertulis di ramalan penyihir itu, tetapi dia tidak terlalu peduli. Mungkin saja mate-nya manusia? Selama empat ratus tahun dia mencari mate-nya di antara bangsa werewolf dan manusia, tidak ada satu pun shewolf dan wanita manusia yang merupakan mate-nya.
Orlan sempat berpikir. Mungkin mate-nya bukan berasal dari negeri ini? Tetapi Orlan pergi ke luar negeri hanya dalam rangka urusan bisnis, tidak ada waktu untuknya berkeliling mencari mate-nya. Atau yang paling membuatnya dan Jay risau adalah kemungkinan mate mereka sudah meninggal dan mereka harus menunggu mate mereka untuk reinkarnasi?
Kemarin, tepatnya tiga hari lalu. Dia bertemu dengan Noura— tuan putri dari Kerajaan Vampir Appalachia. Dia mencium aroma yang sangat harum percampuran wangi bunga lavender dan melati. Jay menyatakan kalau Noura merupakan mate mereka dan saat itu juga, jantungnya berdegup kencang disertai desiran kehangatan.
Berarti memang benar, Noura merupakan mate yang diberikan oleh Moon Goodess kepadanya. Yang mampu membuat jantungnya berdetak dan Orlan menginginkan Noura berada di sisinya.
"Bagaimana aku bisa membawa Noura ke pack? Bagaimana caranya agar aku dapat menemuinya?" tanya Orlan pada serigalanya.
Jay tersenyum bahagia mendengar pertanyaan Orlan. Berarti Orlan akan menemui mate mereka. Jay tahu, Orlan itu munafik. Ck, dasar keras kepala.
"Jangan pikirkan apa pun. Kau masih menyimpan cincin itu, bukan? Berikan saja cincin itu padanya." Jay mengingatkan Orlan.
Orlan mengangguk setuju dengan usulan Jay. Dia baru ingat cincin pemberian kakeknya itu. Ternyata ada gunanya juga. Sebentar, kenapa kakek memberikan cincin itu padanya?
"Jay, apa kakek tahu, bila mate kita itu vampir?"
"Aku tidak tahu. Sudahlah berpikir positif saja, mungkin hanya sebuah kebetulan." Jay tidak mau ambil pusing. Masalah cincin saja dipersoalkan. "Dasar munafik", gumam Jay pelan, mencibir Orlan.
"Jay, aku mendengarnya!"
Jay mendengus.
"Alpha, Anda di dalam?" Dafa mengetuk pintu.
Orlan menjawab, "Iya.”
Dafa membuka pintu bersamaan dengan Arva dan Leon di belakangnya.
Orlan memutar bola matanya malas. Selama dua hari ini, Dafa selalu saja menyuruhnya menemui Noura. Dafa mengatakan, jika Orlan tidak segera menemui putri Noura, nanti mate-nya itu akan benaran menikah dengan putra mahkota Vander. Yang pastinya itu hanya bertujuan untuk menakut-nakuti Orlan. Cerita dari mana itu? Dia bahkan tidak pernah mendengar bila Noura dan Vander dijodohkan.
Ketiganya duduk di depan Orlan.
Mari kita dengarkan, hari ini apa yang akan Dafa katakan. Orlan dan Jay sudah siap mendengarnya, walaupun rasanya Orlan benar-benar ingin melakban mulut Dafa.
"Alpha, Anda tidak percaya, bukan? Kalau putri Noura akan menikah dengan putra mahkota Vander?" Orlan mengangguk. "Tanya pada Arva, dia tahu segalanya." Dafa menoleh ke arah Arva.
Orlan memelotot. Jadi maksudnya? Dafa cerita ke Arva dan pastinya juga pada Leon, tentang Noura yang merupakan mate-nya?
"Kau ....?"
"Saya tidak memberi tahu Arva. Arva kemarin mendengarnya sendiri." Dafa membela diri. Dia tidak ingin mati karena sudah membocorkan rahasia Alpha-nya itu.
Arva menyengir. "Maaf, Kak. Niatnya kemarin malam, Leon ingin menemui Kakak dan aku menemaninya. Saat di depan pintu, kami berdua mendengar pembicaraan Kakak dan Beta Dafa."
Leon ikutan menyengir.
Orlan menghela napas panjang. Ya, sudahlah. Harus bagaimana lagi? Suatu hari nanti, semuanya juga akan mengetahuinya.
"Ternyata mate Anda, Putri Noura? Rupanya ramalan itu bukan rekayasa semata." Leon mencomot apel yang ada di meja lalu memakannya.
Orlan menatap Arva, meminta penjelasan dari ucapan Dafa tentang pernikahan Noura dan Vander.
Arva yang mengerti tatapan kakaknya yang terlihat penasaran itu, dia pun menjelaskan. "Aku sudah lama mendengar kabar pernikahan ini. Awalnya putra mahkota Vander akan dinikahkan dengan Putri Lucia, saat usia putri Lucia tiga ratus tahun. Tetapi berhubung putri Lucia tewas saat perang kedua. Pernikahan diundur sampai waktu yang tidak ditentukan." Orlan menegakkan tubuhnya, jadi benar? "Waktu itu aku mendapatkan informasi dari pengawal Aaron. Dikarenakan putri Lucia meninggal, putri Noura lah yang akan menggantikan posisinya. Pernikahan akan dilaksanakan setelah putra mahkota Vander dinobatkan sebagai raja Hamakua."
Orlan sukar menelan ludah. Dia paling kesal dengan pernikahan politik seperti ini. Tidak bisa dibiarkan, Noura itu mate-nya. Hanya untuknya. Tidak boleh ada yang merebut Noura darinya.
"Saya benar, bukan? Saya tidak pernah berbohong pada Anda," kata Dafa. Dia akui, dia memang sering menjaili Alpha-nya itu, tapi adakalanya perkataan yang dia lontarkan itu mengandung keseriusan.
"Apa yang akan Kakak lakukan? Putri Noura itu tidak mudah percaya."
"Tentu saja, aku akan menemuinya dan membuat dia percaya." Orlan berkata dengan penuh keyakinan.
Leon menaikkan alisnya. "Anda akan membiarkan perang ketiga terjadi? Bangsa vampir sangat anti pada kita. Apalagi putri Noura merupakan vampir murni. Pasti bangsa vampir akan merasa harga dirinya tercoreng."
Arva memberikan Leon tatapan tajam. Sementara itu Dafa menatap Leon kesal.
Orlan terdiam, benar juga ucapan Leon. Dia tidak ingin peperangan terjadi lagi.
"Kenapa? Apa saya salah?" tanya Leon menatap Arva dan Dafa secara bergantian.
"Kamu ini, bukannya memberi solusi. Malah semakin memperkeruh keadaan," ketus Arva.
"Saya akan mendukung Alpha dengan putri Noura. Tenang, Alpha. Saya yakin ada jalan keluarnya." Dafa menyemangati Alpha-nya.
"Benar, Kak."
Orlan tersenyum tipis. Noura hanya miliknya! "Saya akan menemuinya besok." Jay bersorak riang saat mendengar ucapan Orlan.
**
Meskipun zaman sudah modern. Kerajaan Appalachia masih tetap mempertahankan konsep zaman dahulu kala pada interior istananya. Seperti salah satu contohnya, penerangan cahaya dari lilin yang terpasang di sepanjang dinding istana. Bangunan istana pun tidak ada perombakan.
Ada beberapa interior yang mengikuti zaman modern. Contohnya kursi dan meja yang berada di ruang makan. Lalu ada keramik putih bening yang terpasang di atas tanah dan sofa yang diperuntukkan untuk tamu yang berada di ruang singgasana dan juga ruang kerja.
"Kenapa aku selalu merasa putri Noura itu merupakan putri Lucia?"
"Iya. Aku juga. Bukan hanya kita. Bahkan para pengawal dan prajurit istana pun merasa seperti itu."
"Waktu itu kepala prajurit jenderal Nehan mengatakan, kalau kemampuan memanah putri Noura sangat bagus. Padahal dulu putri Noura hanya bisa menggunakan pedang. Putri Lucia lah yang pandai memanah."
"Memang banyak sekali keanehan."
Noura bergeming di tempat. Dia berdiri di balik pintu dapur. Dia baru saja dari ruang tabib istana meminta obat yang selalu ia minum agar kemampuannya tidak melemah, karena hanya minum darah hewan.
Ucapan seperti ini, sering Noura dengar dari semua penghuni istana. Mereka mengatakan ada yang aneh dengan dirinya.
Semua bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang tewas saat di medan perang? Putri Lucia atau putri Noura?
Semua mempertanyakan kebenarannya. Tidak percaya dengan kabar yang beredar, jikalau putri Lucia yang tewas.
Noura menghela napas panjang. Biarkanlah mereka berpikir sesukanya.
"Putri Noura, sedang apa kau di sini?"
Noura terperanjat kaget mendengar suara Vander. Dia mendongakkan kepalanya. "Sedang berdiri saja." Jawaban yang konyol sekali. Dia merutuki dirinya yang terlihat seperti maling.
Vander mengerutkan keningnya. Matanya menoleh ke dalam dapur, para maid berdiri mematung dengan badan yang kaku. Mereka tidak sadar, kalau putri Noura mendengar percakapan mereka. Terkutuklah sifat mereka yang suka menggunjing.
Iris mata merah Vander menyala terang, terpancing emosinya. Vander mendengar semua yang dikatakan oleh para maid itu, tapi dia tidak sadar, ternyata Noura berdiri tak jauh darinya.
"Lebih baik kau segera ke kamar. Istirahatlah."
"Jangan bunuh mereka. Kalau kau mengindahkan permintaanku, aku akan membenci kau." Noura menatap Vander tajam.
Vander tersenyum. "Baiklah. Aku tidak akan melakukannya."
Noura memelesat menuju kamarnya.
Vander menunduk dengan iris mata merahnya yang menekuri lantai. Dia juga merasa ada yang aneh dengan Noura. Yang paling mengganggu pikirannya ialah sekarang Noura berteman baik dengan Arva. Dahulu Lucia dan Noura memang berteman dengan Arva, tetapi Noura agak menjaga jarak dengan bangsa lain, tidak seperti Lucia. Setelah perang kedua pun, Noura sudah tidak mau ikut campur dalam urusan politik.
**
Noura melihat ribuan bintang di langit. Itulah yang dia lakukan ketika malam tiba.
Dia selalu merindukan ayah, ibunda, dan kembarannya.
Jika dia bisa meminta. Dia juga ingin tewas di medan perang. Daripada hidup dengan perasaan kesepian dan rasa bersalah terus-menerus.
"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?" tanya Carlen yang tanpa pemberitahuan sudah berada di sebelah Noura.
"Sampai Kakak bilang. Kenapa aku harus melakukan ini." Noura tersenyum pahit. Dadanya terasa perih.
Raja Carlen mengembuskan napas. Dia memejamkan mata sejenak. "Saat waktu yang tepat. Kamu bukanlah penjahat. Ini semua demi kebaikan dirimu."
"Kapan itu?"
"Tunggu sampai kita mendapatkan semua kertas yang berisi ramalan tahun 1150 itu."
"Cari di mana? Kakak saja tidak mengizinkan aku untuk membantu. Selalu melakukan semuanya sendiri." Noura mencibir. Suaranya terdengar frustrasi dan putus asa.
Carlen tertawa miris. Miris memang. Tapi apa boleh buat? Dalam situasi seperti ini, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
"Apa kamu percaya, kalau Ferin memiliki salah satu kertas dari ramalan itu?"
Noura mengedikkan bahunya. "Mungkin."
Carlen tersenyum sinis. "Di mana dia sekarang? Apa pangeran Darren merupakan salah satu bawahannya?"
Noura terdiam sejenak. Pangeran Darren? Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan pangeran itu.
"Bagaimana kalau dia tahu fakta sebenarnya?" Noura menekuri lantai seraya menggigit bibir bawahnya.
"Anak itu, ya?" Carlen berdecak. "Saya percaya, suatu hari nanti pasti dia akan ke sini dan mungkin Ferin akan mempergunakan anak itu."
"Dia hanya sakit hati, tapi bukankah yang akan sakit hati nantinya ialah putra mahkota Vander?" Noura mengusap wajahnya. Ya ampun, kenapa hidupnya sangat rumit sekali? Apa dia ditakdirkan hanya untuk menyakiti hati orang lain?
Carlen tersenyum tipis. "Ya. Tenanglah. Aku yang akan bertanggung jawab atas semua ini."
Noura tersenyum samar, tapi tetap saja, rasa bersalah terus menggerogoti hatinya.