Suara riuh terdengar sejak band pembuka tampil membawakan lagu andalan mereka. Semua pengunjung terhanyut dalam melodi yang membangkitkan semangat. Mereka yang berada di dekat panggung, melambai-lambaikan tangan di udara. Tidak sedikit pula yang ikut bernyanyi.
Para pelayan kafe lalu-lalang mengantar pesanan, dengan senyum semringah di wajah mereka. Tampaknya, tidak ada satu pun yang tidak menikmati penampilan dari band yang sedang naik daun itu.
Malam semakin larut. Alunan musik yang disajikan pun perlahan berubah. Dari yang mengentak membuat semangat, berangsur menjadi alunan melodi yang menenangkan. Lagu-lagu bernuansa lembut dengan iringan gitar akustik.
"Luna, aku butuh bantuanmu malam ini."
Seorang pria berpakaian rapi, yang sedari tadi menikmati musik dari balik meja peracik kopi, menghampiri gadis yang duduk di meja memanjang tidak jauh dari tempatnya.
"Kau tahu penyanyi bernama Sky Lee, 'kan?"
Gadis manis bernama Luna itu mengangguk. Dia sempat menengok ke arah Gavin, tapi kemudian terhanyut oleh penampilan musisi di panggung sana.
"Rencananya dia akan tampil di sini malam ini. Dia akan menyanyikan lagu berjudul Love."
Gadis itu masih menyimak. Entah menyimak Gavin, atau tetap menikmati lagu. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan berpihak pada salah satu opsi.
"Kau tahu sendiri lagu itu diiringi oleh piano. Sementara pemain piano kita tidak bisa hadir malam ini. Jadi, aku ingin kau tampil dengannya. Kau pernah membawakan lagu ini sebelumnya, 'kan?"
Gavin memandang gadis itu. Cukup lama, dan tidak ada respons berarti yang dia dapatkan.
"Luna, kau mendengarku tidak?!"
Luna langsung mengalihkan atensinya ke arah Gavin. Matanya yang dibingkai kaca mata bulat, mengerjap dengan lucu. Detik itu juga, dia mengangguk antusias. Sementara mulutnya masih sibuk menikmati kopi lewat sedotan.
"Tenang saja, aku akan membayarmu lebih." Gavin menarik tangan Luna. Membawa gadis itu menuju ruang ganti yang biasa dipakai para artis perempuan sebelum tampil.
"Sebentar lagi Sky datang. Sebaiknya kau ganti bajumu dengan baju yang tergantung itu." Gavin menunjuk ke arah pojok ruangan.
Dalam ruangan itu hanya ada Luna seorang. Membuatnya bergegas mengganti pakaian sesuai perintah teman sekaligus pemilik kafe ini. Lalu, duduk di depan meja rias, dan kembali menikmati kopi. Menunggu perias artis yang entah ke mana, untuk memperbaiki tampilan wajah serta rambutnya.
Luna terpaku melihat wajahnya sendiri di depan cermin. Ini memang bukan kali pertama dia tampil sebagai pengganti, tapi tetap saja. Didandani secantik ini selalu membuat takjub. Padahal, tidak begitu banyak perubahan pada wajahnya.
Tidak berselang lama, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Luna membukanya, dan Gavin sudah berdiri di sana. Pria itu mematung.
Di matanya, Luna dengan balutan gaun putih sudah seperti angsa yang elegan. Ditambah dengan senyumnya yang menawan, pria itu yakin siapa pun akan jatuh cinta melihatnya.
"Ayo! Kau harus tampil sekarang."
Mereka berdua berjalan beriringan ke area panggung. Gavin meminta Luna untuk naik terlebih dahulu. Memintanya memainkan piano, dan Sky Lee akan menyusul ketika sudah sampai pada bagiannya menyanyi.
Permainan piano Luna disambut tepuk tangan para pengunjung. Mereka yang merupakan pengunjung tetap, sudah tahu kemampuan gadis itu dalam memainkan tuts-tuts piano.
Suara lembut seorang pria masuk ke dalam alunan nada. Menimbulkan suara riuh yang semakin menjadi. Luna sempat melirik pria yang sedang berjalan menuju ke tengah panggung itu. Konsentrasinya hampir dibuat buyar oleh pesona seorang Sky Lee.
Bagaimana tidak. Pria itu begitu tampan dengan wajah khas Asia Timur. Tinggi badan yang di atas rata-rata, juga menambah pesonanya sebagai seorang penyanyi. Sementara suara Sky, sudah jelas menjadi daya tarik utama setiap kalangan.
Alunan piano yang Luna mainkan, serta suara lembut seorang Sky Lee, membuat suasana terasa berbeda. Begitu romantis lengkap dengan kelap-kelip bintang di langit sana, yang bisa mereka nikmati karena atapnya terbuat dari kaca.
Orang-orang bilang
Tidak ada yang lebih indah dari bunga
Tapi aku yakin mereka salah
Karena ketika cinta mulai bersemi
Semua bisa jauh lebih cantik
Ketika cinta bersemi
Semua yang bisa kulihat hanya dirimu
Karena ketika cinta mulai bersemi
Keindahan bunga pun akan layu
Ketika cinta kita bersemi
Itu akan menjadi abadi
Penampilan berakhir. Suasana kafe kembali riuh oleh tepuk tangan. Sky membungkuk berulang kali, dan tetap di panggung. Menyapa para pengunjung. Dia sempat melirik ke arah Luna. Gadis itu hanya membungkuk satu kali. Lalu, pergi dengan seulas senyuman yang manis.
Di sepanjang koridor menuju ruang ganti, Luna memegang dadanya. Detak jantung gadis itu tidak normal. Terlalu cepat, dan membuat wajahnya memerah.
Dia memang bukan penggemar Sky, tapi sedikit pun tidak pernah terlintas dalam imajinasinya tentang hari ini. Bermain piano untuk mengiringi lagu penyanyi itu, sungguh di luar dugaan. Rasanya seperti mimpi, tapi terjadi dengan begitu nyata.
"Seperti biasa, penampilanmu luar biasa, Sky." Gavin mengajak penyanyi itu menuju sebuah ruangan khusus tamu.
"Seolah-olah kau selalu melihat penampilanku." Sky mencibir.
Gavin terdiam. Di detik berikutnya, tawa mereka meledak. Lalu, saling berpelukan. Menanyakan kabar masing-masing.
Sky Lee dan Gavin sudah berteman sejak di taman kanak-kanak. Selain selalu satu kelas, kompleks perumahan mereka juga sama. Namun sayang, ketika berumur sebelas tahun, Sky pindah ke Korea Selatan.
Meski sudah berbeda tempat tinggal dan sangat jauh, keduanya memiliki hobi yang sama. Yaitu nongkrong di kafe yang menyediakan live music. Setiap Sky menyempatkan untuk pulang ke Jakarta, akan mereka habiskan dengan mengunjungi kafe yang berbeda-beda.
Sekarang terlihat jelas dari hobi itu, Gavin sudah mengelola usaha miliknya sendiri. Kafe dengan nama Happy Cloud ini, selain nyaman dan makanannya yang lezat, seminggu dua kali mereka mengadakan live music. Jelas saja itu menjadi daya tarik lebih bagi pengunjung.
Sementara Sky Lee, setelah lulus SMP dia mengikuti beberapa audisi yang diselenggarakan oleh agensi di Korea sana. Sejak di Indonesia, Sky memang sudah menyukai musik. Jadi tidak heran jika dia lolos dan mendapat pelatihan.
Ketika tiba waktunya debut menjadi seorang penyanyi tujuh tahun lalu, Gavin adalah orang pertama yang diberi tahu. Entah mengapa, Sky merasa sahabatnya harus yang pertama mengetahui kabar gembira itu.
Tidak disangka pula, lagu debutnya berjudul Love langsung terkenal. Selain karena melodinya yang mudah diingat, lirik lagunya pun sangat romantis. Tidak heran jika anak muda di sana langsung menyukainya.
"Kau pulang untuk mengambil alih cabang bisnis ayahmu di sini?" Gavin mengulum senyum setelah menanyakan pertanyaan itu.
"Kau gila?!" Sky hampir melempar gelas kopi pada wajah kawan lamanya itu. Merasa kesal karena bagaimana pun, dia kembali bukan untuk hal itu. Dan sedikit pun tidak pernah tertarik.
"Ya ya ya. Jumpa penggemar. Aku tahu itu." Gavin tertawa sambil mengutak-atik ponselnya. Terlihat mengetik sesuatu.
Sementara Sky, penyanyi itu mendongak ke arah langit. Taburan bintang yang menghiasi ketika dia tampil tadi, berangsur lenyap. Awan hitam menggulung, menyembunyikan keindahannya.
"Ada yang harus aku urus. Lakukan saja apa pun yang kau mau. Anggap milik sendiri." Gavin berlalu begitu saja.
Sky mencebik. Memiliki teman orang sibuk memang menyebalkan, tapi jika dipikir lagi, dia juga sama sibuknya. Oleh karena itu, baru sekarang dia bisa pulang ke negara tercinta.
Rasa bosan mulai bergelayut, membuat Sky beranjak dari tempatnya duduk. Menelusuri setiap ruang yang ada di kafe ini, tidak ada salahnya. Toh dia tidak akan tersesat.
Suasana kafe sudah mulai lengang. Para pengunjung mulai kembali ke rumah masing-masing. Meninggalkan kekacauan yang harus segera dibereskan para karyawan.
Pandangan Sky tertuju ke arah Luna, yang sibuk mengelap meja memanjang di dekat kaca. Gadis itu sesekali berhenti, merapikan beberapa tanaman hias yang berantakan akibat ulah pengunjung tak bertanggung jawab.
Bibirnya mengerucut ketika mendapati gumpalan tisu terselip di dalam pot. Tidak habis pikir, kenapa harus ada pengunjung seperti itu? Padahal, alih-alih menyelipkannya di pot, mereka simpan saja di meja. Banyak karyawan yang akan membersihkannya.
"Permainan pianomu sangat bagus tadi."
Tanpa basa-basi, tanpa disadari pula kedatangannya, Sky sudah berdiri di belakang Luna. Membuat gadis itu melompat kaget. Dia sempat memandang pria itu cukup lama. Lalu, seolah tidak mendengar pujiannya, Luna kembali sibuk mengelap meja.
Sky terpaku. Mulutnya sedikit menganga. Untuk pertama kali dalam hidup, seorang gadis mengabaikannya begitu saja. Padahal jika diingat lagi, dia merupakan penyanyi yang terkenal di berbagai negara. Namun, reaksi yang Luna berikan, membuat dia harus mempertanyakan kembali eksistensinya itu.
"Di sana kau rupanya!" Gavin menghampiri keduanya.
Luna menatap Sky dan Gavin bergantian. Siapa yang pria itu maksud?
"Kau bisa pulang. Sudah larut. Biar karyawan lain yang membereskan itu."
Luna mengangguk antusias. Lalu meninggalkan kedua pria itu. Lagi pula, jam kerjanya sudah berakhir satu jam yang lalu. Dia sudah seharusnya tidak berada di kafe ini lagi.
"Apa sifatnya memang seperti itu?" Sky bertanya. Matanya memperhatikan Luna yang tampak sedang menulis sesuatu di kertas. Lalu mengambil tasnya dan kembali berjalan ke arah mereka.
Gavin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan kawannya itu. Sebentar lagi dia akan tahu jawabannya.
“Terima kasih untuk hari ini. Kita semua telah bekerja dengan sangat baik. Dan selamat malam, Gavin.”
Luna menunjukkan kertas berisi kalimat itu pada Gavin. Senyum manis menghiasi wajahnya. Seolah terpatri secara permanen di sana.
"Ya. Kita semua sudah bekerja dengan sangat baik. Hati-hati di jalan."
Luna memberi isyarat berupa tanda OK pada Gavin. Lalu dia menatap Sky dan membungkuk ke arahnya. Senyum yang tadi dipamerkan pada Gavin, tidak dia tunjukkan pada penyanyi itu. Entah mengapa. Merasa canggung, mungkin?
Selepas kepergian Luna, Gavin kembali mengajak Sky mengobrol. Namun, pria itu tidak memberi respons sama sekali. Matanya masih sibuk menatap punggung Luna yang semakin menjauh. Lalu menghilang di belokan.
"Dia tidak bisa berbicara?" Sky bergumam. Meski begitu, Gavin masih bisa mendengarnya. Dan ya, lagi-lagi dia hanya bisa tersenyum menanggapi temannya itu.