Hari ini turun hujan. Lebih tepatnya belum reda sejak Luna meninggalkan kafe tadi malam. Membuat Gavin dan Sky terjebak di sana. Lantas mereka memutuskan untuk menetap sampai pagi. Memanfaatkan kamar kosong di ruangan khusus pemilik kafe.
"Kapan jumpa penggemarmu akan dilaksanakan?" Gavin memulai pembicaraan. Kedua pria itu sedang bersantai di meja panjang depan tempat meracik kopi.
"Nanti malam sekitar pukul tujuh." Sky memandang ke luar jendela. Hujan turun sangat lebat. Membuat jalanan tampak sepi. Hanya satu dua mobil yang terlihat melintas. Dia tidak yakin kafe temannya akan ramai hari ini.
"Nanti malam? Kau harus bersiap dari sekarang berarti." Gavin tercengang, sekaligus merasa heran. Bisa-bisanya penyanyi itu bersikap santai begini.
Sky menggeleng, "Aku akan pulang setelah hujan reda saja."
"Kau tidak mengundangku?"
Sky mengalihkan pandangannya ke arah Gavin. Lucu sekali sahabatnya bertanya seperti itu.
"Memangnya kau mau hadir?" Sky tertawa geli.
"Tidak. Bukan aku yang akan hadir."
"Lalu?" Alis Sky terangkat sebelah.
"Gadis yang bermain piano tadi malam. Dia memang bukan penggemarmu, tapi tidak ada salahnya mengundangnya sebagai ucapan terima kasih atas penampilannya tadi malam."
Ingatan Sky dibawa kembali pada kejadian tadi malam. Ketika Luna memainkan tuts-tuts piano dengan lihai. Dia akui gadis itu sangat hebat, bahkan jika boleh jujur, dia merasa sedikit iri pada keahliannya.
"Apa dia akan mau?” Sky tampak ragu. Dari cara Luna menatapnya tadi malam, sepertinya gadis itu tidak memiliki ketertarikan yang berarti pada dirinya.
"Jika kau yang memintanya secara langsung, mungkin dia mau.”
"Tanyakan pada gadis itu terlebih dahulu kalau begitu. Aku tidak mau mengeluarkan sesuatu yang sia-sia nantinya."
Mendengar itu, Gavin langsung mengeluarkan ponselnya. Mengetik beberapa pesan untuk Luna
"Ah, aku dengar, ini jumpa penggemarmu yang terakhir sebelum kau mengambil rehat dari dunia musik. Benar?"
Sky mengangguk, lalu menyeruput kopi yang tersaji di depannya. Cuaca di luar sepertinya berdampak pada suhu minuman itu. Terasa dingin dengan cepat, dan membuat rasa nikmatnya sedikit berkurang.
"Kenapa? Terjadi sesuatu?" Gavin mengambil kursi, menggesernya mendekat ke arah Sky. Dia tidak paham dengan kehidupan artis memang, tapi hal itu justru membuatnya penasaran.
"Aku ingin mencari seseorang." Matanya kembali menatap lurus ke arah jalan, tapi pikirannya seperti tidak di sini.
Tujuh tahun menjadi penyanyi, tenaganya diperas hampir setiap hari. Tidak pernah sekali pun dia mengambil cuti. Ambisi serta ego mengalahkan segalanya. Bahkan ketika kesehatannya terganggu, dia selalu ingin untuk tetap tampil.
Tanpa dia sadari, hal itu membuat banyak penggemarnya merasa khawatir akan kesehatan penyanyi itu. Karena bagaiman pun, Sky bukan kuda apalagi robot. Bahkan robot pun akan rusak jika terus digunakan tanpa istirahat. Apalagi manusia. Selain sakit, berpindah alam terdengar lebih mengerikan.
Keajaiban datang satu bulan yang lalu. Ketika Sky melakukan promosi untuk album ketujuhnya. Seorang yang tidak menyertakan nama, mengirimnya sepucuk surat. Meminta Sky untuk berhenti sejenak. Menasihatinya juga tentang menjaga kesehatan.
Aku tidak tahu hal apa yang membuatmu bekerja melebihi robot, tapi aku yakin kamu tahu konsekuensinya. Berhentilah sejenak.
Dikirim dari Indonesia, dan menggunakan bahasa yang sama. Ini bukan surat yang pertama. Bukan pula satu-satunya. Hampir setiap harinya, banyak surat yang dia terima.
Namun, yang membedakan surat itu dengan yang lainnya adalah, cara si pengirim melipatnya. Dengan bentuk pesawat kertas, dan selalu diselipi origami berbentuk bintang, menjadikannya lain dari yang lain. Mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
"Ah, gadis yang kau maksud dulu?" Gavin bertanya dengan hati-hati.
"Benar." Sky menunduk. Ekspresi wajahnya sulit sekali dibaca. Antara sedih, kecewa, marah dan rindu. Tidak ada yang bisa menebak mana yang lebih dominan.
Luna melamun di dekat jendela apartemen miliknya. Mata yang dibingkai kacamata bulat itu memperhatikan pemandangan di luar. Tangannya sesekali menyentuh kaca. Seolah bermain dengan tetes hujan yang menyerbu kota.
Gadis itu sangat menyukai hujan. Selain suasananya yang membuat tenang, dia juga suka karena banyak orang yang menghabiskan waktu mereka di rumah bersama keluarga. Berkumpul dekat perapian, atau membaca buku dengan segelas kopi di balik selimut hangat.
Semua itu dia suka. Pun baginya, saat hujan pula para petani mendapat kebahagiaan. Air yang melimpah, membuat tanaman mudah tumbuh. Tidak jarang, Luna mengaitkan hujan dengan kelahiran kembali.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" Suara seseorang menginterupsi. Mengalihkan pandangan Luna dalam sekejap.
Gadis yang baru datang itu tidak lain adalah Nadin, sepupu Luna. Mereka tinggal di satu gedung apartemen, hanya berbeda lantai saja. Karena perintah orang tuanya, Luna membagi kode pintu masuk dengan Nadin. Jadi, tidak heran jika gadis itu selalu datang tanpa membunyikan bel seperti ini. Begitu pun sebaliknya.
"Belum berangkat kerja?" Nadin mengambil bantal. Lalu duduk di dekat Luna. Ikut memandang ke luar jendela. Gadis itu tidak menyukai hujan.
Luna meraih kertas dan pulpen tak jauh dari tempat duduknya, dan menulis, "Ini hari Minggu. Aku masuk kerja pukul enam sore nanti. Lupa?"
Nadin menepuk dahinya. Dia tersenyum malu sambil bergumam kata maaf. Kalau boleh jujur, gadis itu memang tidak pernah memperhatikan jam kerja Luna. Yang dia tahu, sepupunya itu selalu pergi setiap hari.
"Aku mau curhat. Baca, ya." Luna kembali menulis.
"Ada apa? Ada apa?" Nadin membetulkan posisi duduknya. Lebih menghadap ke arah Luna. Dia juga memperhatikan dengan tidak sabar ketika gadis itu sedang menulis.
"Kau tidak sedang bercanda, 'kan?" Mata Nadin membola. Berulang kali dia membaca kata demi kata yang sepupunya tulis. Memastikan tidak ada yang dia lewatkan di sana.
Luna mengangguk antusias. Senyum manisnya menghias wajah. Gadis itu berseri-seri.
"Sky Lee penyanyi Korea pertama yang berdarah Indonesia itu?"
Lagi-lagi Luna mengangguk. Dia memang tahu beberapa berita tentang Sky Lee, tapi tentunya tidak separah Nadin. Dia juga tidak membeli pernak-pernik yang bersangkutan dengan penyanyi itu. Seperti gantungan kunci, kipas, majalah atau poster seperti yang dimiliki sepupunya.
Luna lebih tertarik dengan lagu-lagunya saja. Gadis itu memang berbeda. Caranya memandang dunia, kadang tidak dipahami oleh orang lain.
"Kenapa tidak meminta tanda tangannya?”
Senyum Luna pudar seketika. Dia mengetuk-ngetukkan pulpen ke kepala. Lalu, menatap Nadin dengan canggung.
Sudah dikatakan jika Luna bukan penggemar Sky. Jadi, dia tidak mungkin meminta hal itu pada Sky. Bahkan untuk meminta berfoto pun, sangat diragukan jika gadis itu akan melakukannya.
"Padahal jika kau mendapat tanda tangannya, aku akan bisa tidur nyenyak malam ini." Nadin merengut.
"Nanti malam Sky Lee mengadakan jumpa penggemar. Kau pasti sudah mendapat tiketnya, 'kan?"
Nadin semakin merengut, "Tiketnya sudah habis terjual."
Embusan napas terdengar dari mulut Nadin. Gadis itu merasa bodoh karena telah menunda-nunda untuk membeli sebuah tiket. Dia seolah lupa, jika penggemar Sky Lee tidak bisa dihitung dengan jari. Sekarang, dia merasakan sendiri akibat dari ulahnya itu.
"Tidak apa-apa. Jika Sky Lee tampil di kafe lagi, aku akan meminta tanda tangannya untukmu. Jika perlu, aku akan berfoto juga dengannya." Luna merangkul sepupunya itu. Senyum jahil terpasang di wajahnya.
"Tidak perlu berfoto tanpa aku! Lagi pula, kau sudah tampil satu panggung dengannya tadi malam." Embusan napas berat keluar dari mulut Nadin.
"Ah, betapa beruntungnya kau."
Dia tidak pernah membayangkan bisa berdiri di satu panggung yang sama dengan idolanya itu, tapi apa yang terjadi pada Luna, membuatnya merasa semakin jauh. Nadin tidak pandai bermain alat musik. Dia hanya bisa bernyanyi dengan suara seperti kucing tercekik.
Dering ponsel mengalihkan keduanya. Luna langsung mencari alat komunikasi itu, dan setelah menemukannya tergeletak di nakas, dia langsung membukanya. Beberapa pesan masuk dari Gavin.
"Siapa?" Nadin menatapnya penuh rasa ingin tahu. Luna pun memberikan ponsel itu padanya. Membiarkan dia membaca pesan yang masuk.
"Kenapa dia memintamu datang ke kafe sebelum jam kerjamu?"
Luna menggeleng tidak tahu. Gadis itu pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, dan sedikit memoles wajah.
"Na, di luar masih hujan. Kau yakin akan pergi?"
Luna hanya tersenyum menanggapinya. Lalu melambaikan tangan pada Nadin. Membuat sepupunya itu berdecak kesal. Mau saja Luna dipinta ini itu oleh Gavin dengan mudahnya.
Beruntung hujan sudah mulai reda. Hanya gerimis kecil yang tersisa, dan Luna tidak mau mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Dia ingin menikmati momen ini meski hanya sebentar.
Luna berjalan melambat. Aroma setelah hujan, membuatnya hampir lupa diri. Pun dengan tanaman hias pinggir jalan yang basah kuyup. Sesekali gadis itu berhenti, memotret air yang menggenang di daun, atau tetes-tetes di sarang laba-laba. Hal-hal kecil itu, selalu terlihat indah di matanya.
Jarak dari apartemennya ke kafe Gavin, hanya memerlukan waktu sekitar lima menit. Itu sebabnya dia bisa sesantai ini. Ditambah lagi, dia yakin kafe sedang sepi. Gavin memintanya untuk datang, mungkin karena ingin ditemani memilih penyanyi yang akan tampil di kafenya malam Rabu nanti.
Di depan kafe, terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam. Membuat Luna semakin memelankan langkahnya. Jantung gadis itu berdetak tak karuan. Dia penasaran, siapa gerangan yang akan dia temui?
Di dalam kafe, tiga orang pria terlihat sibuk mengobrol. Ekspresi bahagia terpancar dari wajah masing-masing. Sesekali Gavin terlihat menunjuk wajah salah satu pria di depannya, dan menimbulkan tawa dari pria satunya lagi.
Cukup lama Luna mengintip dari kaca jendela. Gadis itu merasa enggan untuk masuk. Takut mengganggu kesenangan atau entah apalah itu, yang sedang terjadi di antara tiga pria di dalam sana.
Sampai pada akhirnya, Gavin menyadari keberadaan gadis itu. Dia pun langsung membuka pintu, dan menariknya masuk. Luna hanya menurut seraya menundukkan kepala.
"Maaf aku tidak sempat memperkenalkannya tadi malam."
Luna memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Sky Lee dan entah siapa itu, tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sky, perkenalkan ini Luna. Luna, ini Sky Lee, dan di sebelahnya Manager Kim."
Luna menyalami kedua pria itu bergantian. Senyum manis dia pamerkan di wajahnya. Lalu mengambil buku dan pulpen dari tas, dan mulai menulis sesuatu.
"Senang bertemu kalian."
Sky mengangguk. Manajer Kim justru menatapnya penuh tanya. Terang saja, pria itu tidak paham bahasa Indonesia. Sky pun menerjemahkan untuknya. Detik berikutnya, Manajer Kim tersenyum dan membungkuk ke arah Luna.
Gavin pun menceritakan maksud meminta Luna datang ke kafe. Gadis itu menyimak, dalam hati merasa berdebar. Terutama ketika sahabatnya itu mengatakan jika Sky Lee ingin memberi sesuatu sebagai bentuk ucapan terima kasihnya.
"Kau sudah memiliki tiket untuk acara jumpa penggemar nanti malam?" tanya Sky Lee.
Luna terdiam. Hanya itu? Lalu menggeleng. Dia menulis kata HABIS di udara.
"Kami memiliki satu lagi tiket spesial untuk penggemar yang beruntung. Tadinya akan diberikan secara acak di media sosial, tapi karena kau belum punya. Maka aku berikan untukmu."
Sky Lee mengambil kertas tiket itu dari dompet Manajer Kim, yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan. Sebelum memberikannya, dia menerangkan jika tiket itu sangat spesial, dan hanya ada lima. Nanti di akhir acara, kelima orang yang memiliki tiket ini, bisa berfoto dengannya. Pun meminta Sky menyanyikan lagu untuk penggemar yang memiliki tiket tersebut.
Luna bergeming. Menatap lembar tiket berwarna emas itu. Serius, hanya ini? Dia membulak-balikkan kertas itu berulang kali. Seolah mencari sesuatu yang salah.
"Kau tidak senang?"
Luna seketika mengangkat kepalanya. Menatap dengan polos ketiga pria itu bergantian. Tangannya dia kibaskan di udara. Setelahnya, membungkuk cukup lama. Tanda terima kasih. Perkenalan dan ucapan terima kasih yang sangat unik. Setidaknya itu bagi Luna.