Acara jumpa penggemar Sky akan dimulai satu jam lagi. Suasana di lokasi pun sudah dipadati oleh para penggemar. Mereka mengantre untuk memasuki area dengan tidak sabar.
Suara gaduh terdengar memekakkan telinga. Gadis-gadis yang baru memasuki masa puber, meneriakkan nama penyanyi itu berulang-ulang. Bahkan tidak sedikit pula yang meneteskan air mata. Entah karena terharu bisa berjumpa dengan sang idola, atau justru bersedih. Mengingat, ini terakhir kali mereka dapat melihat Sky sebelum pria itu memutuskan untuk rehat sejenak dari dunia hiburan.
Nadin berada di dalam antrean itu. Tubuhnya yang kecil, terjepit di antara penggemar lain. Berulang kali dia berusaha mendorong mereka, dan meminta untuk memberinya sedikit ruang. Namun, suaranya tenggelam tanpa ada yang mendengar.
"Aku ingin segera masuk dan duduk di bangku paling depan," gumam Nadin.
Waktu yang ditentukan tiba juga, satu per satu dari mereka memasuki ruangan yang sudah disediakan. Nadin berlari menuju kursinya. Degup jantung gadis itu berpacu dengan cepat. Memacu adrenalin yang semakin kuat.
"Di sana Sky akan bernyanyi. Tepat di depanku. Kyaa~" Dia mulai gila dengan fantasinya sendiri. Matanya yang berbinar, tidak berhenti menatap kagum area panggung.
Setiap kali pembawa acara menyebutkan nama Sky, mereka bersorak gembira. Mengayun-ayunkan balon, kipas bergambar wajah penyanyi itu, bahkan Baner di udara. Semakin terlihat jelas antusiasmenya.
***
Luna melangkah masuk ke dalam kafe. Masih sepi. Dia hanya mendapati beberapa karyawan tengah menata meja. Bahkan ada seseorang yang masih mengelapnya, sekalipun meja itu sudah terlihat bersih.
Tidak mau hanya berdiam diri di ambang pintu, Luna bergegas mengganti pakaian. Menyimpan tas di loker, dan membawa buku catatan kecil serta pena di saku seragamnya. Dia tidak akan bisa berkomunikasi tanpa kedua benda itu.
Tidak berselang lama, lonceng di pintu masuk berbunyi. Seorang pelanggan pertama langsung menghampiri Luna. Memesan secangkir kopi.
Dengan keahliannya yang masih pas-pasan, Luna berusaha meracik kopi untuk pelanggan tersebut. Dia tidak menunjukkan ekspresi kesulitan, karena bagaimana pun, Gavin sudah mengajarinya cara menggunakan mesin penyeduh kopi. Soal rasa, tidak begitu buruk bagi ukuran pemula.
"Na, kenapa di sini? Bukankah seharusnya kau pergi ke acara Sky Lee?" Gavin yang baru tiba, langsung menghampirinya. Luna mengabaikan pria itu, dan lebih memilih untuk mengantar pesanan.
"Na?" Gavin mengambil alih area menyeduh kopi. Menggulung lengan bajunya, sembari menunggu penjelasan dari Luna.
"Aku memberikan tiket itu pada Nadin. Dia sangat ingin menghadiri acara itu." Selesai menulis, Luna memberikan catatan itu pada Gavin.
"Kau sendiri memangnya tidak mau menghadirinya?"
Luna merebut buku catatannya, "Aku harus bekerja. Lagi pula, aku sudah tampil dengannya. Jika penggemar yang lain tahu, mereka akan iri setengah mati padaku."
Gavin tertawa ketika membaca kata demi kata yang gadis itu tulis. Luna sangat sederhana dan tahu caranya bersyukur. Dia tidak serakah seperti kebanyakan orang di luar sana. Sungguh membuat Gavin kagum akan sifatnya yang ini.
"Aku sedang malas menulis. Jangan bicara padaku lagi." Luna tersenyum manis. Lalu melenggang menghampiri meja pelanggan yang baru tiba.
Jari-jarinya memang sudah lelah seharian ini diajak bicara oleh Nadin. Menanyakan ini itu mengenai asal-usul tiket, dan membuatnya lebih dari tiga kali menulis kalimat yang begitu panjang. Belum lagi, dia juga harus mencatat pesanan pelanggan malam ini. Luna tidak ingin jarinya semakin lelah karena menanggapi pertanyaan Gavin yang hanya sekadar basa-basi.
Jika sudah seperti ini, jauh di lubuk hati kecilnya, Luna ingin orang-orang mengerti bahasa isyarat. Dengan begitu, dia bisa menggunakan jarinya hanya untuk mencatat pesanan dan mengirim surat.
Semakin malam, pengunjung semakin bertambah pula. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang hobi nongkrong. Tidak peduli meskipun besok adalah hari Senin yang super sibuk.
Luna menerima beberapa pesanan, juga membuat beberapa kopi untuk mereka. Menggantikan Gavin yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Ganti bajumu dan ikut aku sekarang." Gavin terlihat buru-buru. Membuat Luna tidak sempat bertanya, dan langsung menjalankan apa yang pria itu pinta.
"Kita mau ke mana?" Luna menarik baju Gavin, dan membiarkan pria itu membaca apa yang dia tulis.
"Acara jumpa penggemar Sky. Dia menanyakanmu." Lebih tepatnya, Manajer Kim meminta bantuan Luna.
Luna hanya terdiam, tidak mau mengganggu temannya menjalankan kemudi mobil. Pikirannya sibuk mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ketidakmampuannya untuk berkomunikasi secara normal, membuat di sedikit kesal.
Tidak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di lokasi. Manajer Kim terlihat berdiri di luar bersama seorang gadis berjilbab biru. Menunggu kedatangan mereka.
Dalam perjalanan menuju ruang ganti, Manajer Kim menceritakan alasan kenapa meminta Luna datang mendadak begini. Dia ingin gadis itu tampil di atas panggung. Menggantikan pemain piano yang tidak bisa datang malam ini. Karena usut punya usut, pianis yang dimaksud ternyata orang yang sama yang bekerja di kafe Gavin. Dan ya, orang itu masih belum bisa bekerja karena suatu urusan.
Sialnya lagi, dia memberi tahu pihak penyelenggara acara secara mendadak. Seperti caranya menghubungi Gavin. Berhubung Sky tidak bisa bermain piano, dan mereka memerlukan pengganti dengan cepat, maka Manajer Kim langsung teringat pada Luna. Dia sempat mencarinya di barisan penonton, tapi tidak ditemukan.
Luna menghentikan langkahnya, mengambil buku serta pulpen. Ekspresi wajah gadis itu mendadak jengkel. Lalu, menulis sesuatu dengan acak-acakan.
"Tanganku sudah lelah, Vin!"
Gavin ikut terdiam. Gadis berjilbab biru, menerjemahkan apa yang Luna tulis pada Manajer Kim. Pria Korea itu pun terlihat menimbang-nimbang.
"Tapi kita membutuhkanmu, Luna. Acara puncak sebentar lagi akan dimulai. Kau pasti paham bagaimana perasaan para penggemar jika apa yang mereka tunggu tidak terwujud." Gadis penerjemah itu meniru cara Manajer Kim berbicara.
Luna masih terdiam. Bimbang. Kepalanya menunduk menatap kedua tangannya yang dia tautkan. Gadis itu tidak punya kekuatan untuk menolak. Hatinya selalu merasa tidak enak. Dia juga tidak ingin menulis lagi, dan membuat jemarinya semakin lelah.
"Terserah padamu saja, Na." Gavin mengusap bahu gadis itu. Berusaha membuatnya tenang.
Lumayan lama mereka berdiam diri di sana. Manajer Kim sudah terlihat tidak sabar. Raut wajahnya tegang. Berulang kali juga dia memeriksa jam tangannya.
Setelah perdebatan batin yang lumayan sengit, akhirnya Luna mengangguk setuju. Dia tidak mau egois, dan mengacaukan acara. Akan tetapi, gadis itu juga tidak mau disalahkan jika membuat kesalahan di atas panggung nantinya. Karena bagaimana pun, jari-jari tangannya sudah lelah.
Senyum cerah seketika tersungging di wajah Manajer Kim. Dia terlihat gemas pada Luna, dan berulang kali memuji betapa menggemaskannya gadis itu dalam bahasa Korea.
"Nanti di penghujung acara, lampu akan dimatikan. Ketika itu, kau masuk dan langsung bermain piano. Jangan terkejut jika lampu tiba-tiba menyorot ke arahmu."
Luna mengangguk mendengar penuturan gadis penerjemah itu. Meski begitu, matanya fokus pada kertas berisi susunan tangga nada lagu yang akan dia mainkan. Sedikit pun dia tidak melihat pada cermin. Benar-benar tidak tertarik pada perubahan wajahnya yang sedang didandani oleh seorang perias profesional.
"Kau penggemar Sky Lee? Berarti kau tahu lagu It Is You?"
Lagi-lagi Luna mengangguk. Dia bukan penggemarnya, tapi lagu itu sangat populer. Dan lagi, setiap hari mendengar Nadin menyetel lagu itu, membuatnya hafal di luar kepala.
Dengan melodinya yang romantis, serta arti dari lirik lagunya yang bisa membuat siapa pun ikut terbuai dalam cinta. Tentu lagu itu terbilang mudah untuk dihafal. Ditambah lagi, It Is You merupakan lagu di album kelimanya yang dikeluarkan empat bulan lalu. Masih bisa dibilang baru.
"Jangan lupa untuk mengatur emosi, dan jangan biarkan dia mengambil alih pikiranmu. Karena di panggung nanti, lampu hanya akan menyorot pada kalian berdua."
"Tenang saja, dia orang yang profesional." Gavin menyentuh tangan Luna. Ucapannya menghentikan kegiatan menulis yang hendak dilakukan gadis itu.
Sesuai yang diperintahkan, ketika lampu mati, Luna berjalan ke atas panggung. Jemarinya yang sudah lelah, menekan tuts piano dengan sedikit gemetar. Riuh penggemar Sky Lee membuat gadis itu tersentak kaget.
Selain karena latihan yang dia lakukan hanya beberapa menit, jumlah pengunjung pun membuatnya gugup. Sedikit pun tidak pernah melintasi otaknya, imajinasi tentang tampil di hadapan banyak orang seperti ini. Hampir saja Luna dibuat menangis terharu.
Lampu menyorot ke sisi lain panggung. Sky Lee berjalan ke arahnya. Bernyanyi dengan suara yang sangat lembut.
Semua terlarut. Suasana penonton berubah sunyi. Mereka tidak ingin mengganggu kesan romantis sekaligus tragis yang ada dalam lirik lagu itu.
Mata hitam Sky bertemu pandang dengan manik mata berwarna coklat milik Luna. Hanya sedetik, tapi cukup membuat penyanyi itu terkejut, dan hampir kehilangan fokus. Sebelumnya, dia memang tidak diberi tahu mengenai pemain piano pengganti.
Sky menyanyi di samping Luna. Membuat gadis itu merasa semakin gugup. Disadari atau tidak, dia beberapa kali membuat kesalahan. Sesekali menekan tuts yang salah, di lain kali ada yang tutsnya tidak berbunyi. Gadis itu sedikit merutuki keputusannya menerima tawaran ini.
"Ah, aku jadi ingin pandai bermain piano agar bisa menemani Sky Lee bernyanyi," ucap salah satu penggemar di samping Nadin.
“Permainannya buruk. Apa dia tidak bisa bermain piano?” ucap gadis lain di belakang Nadin. Gadis itu tidak menanggapi mereka, dia justru sibuk mengucek kedua matanya. Berharap apa yang dia lihat itu salah.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Nona Luna Annatasya!" Nadin bergumam.
Seiring dengan permainan Luna yang memburuk, riuh penggemar mulai terdengar. Mereka menyayangkan penampilan gadis itu. Bahkan tidak sedikit pula yang memintanya untuk berhenti dan turun dari panggung.
Luna menjadi panik, dan penampilannya jadi kacau. Sky memperhatikan gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Lantas, pria itu menghentikan nyanyiannya. Raut wajahnya terlihat marah.
Lagu itu tidak selesai seperti yang diharapkan. Seorang staf tiba-tiba naik ke atas panggung dan membawa Luna ke pergi dari area itu, sebelum para penggemar Sky melemparinya dengan botol minuman. Sementara Sky, dia mematung untuk beberapa saat. Mencoba menetralkan emosi. Sampai pada akhirnya membungkuk meminta maaf atas ketidaknyamanan para penggemarnya itu.
Acara dilanjutkan dengan sedikit canggung. Sky merasa bersalah karena tidak bisa memberikan penampilan terakhir yang memukau. Sesekali kata maaf keluar dari mulutnya tanpa disadari.
Di belakang panggung, Luna menunduk dalam. Kedua jarinya yang memerah, dia tautkan dan dia usap satu sama lain. Sakit, tapi ini bukan saatnya untuk mengeluh. Dia harus menghadapi dan menjelaskannya pada Sky.
Manajer Lee mengembuskan napasnya dengan kasar. Keputusan ini benar-benar salah. Coba jika dia bisa mencari pemain piano yang lebih baik, acara pasti tidak akan berakhir seperti ini.
Dan Gavin, dia memeluk bahu Luna. Berusaha membuat gadis itu tenang. Dia mengenal Sky. Kemarahan pria itu bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.
Tidak berselang lama, Sky datang menghampiri mereka. Acara sudah selesai. Raut wajahnya benar-benar menyiratkan kemarahan. Pun tatapan mata yang membara itu, tidak lepas dari Luna. Seolah ingin mencincang gadis itu sekarang juga.
“Jelaskan kenapa gadis ini yang bermain piano untukku?!” tanya Sky penuh penekanan.
Manajer Kim langsung menjawabnya. Menjelaskan semua detail tanpa terlewat. Pun mengakui jika ini kesalahannya. Meski begitu, tatapan Sky masih tertuju pada Luna.
“Jika tidak bisa bermain piano, kenapa kau menyetujui permintaan Manajer Kim? Pengacau!”
Mendengar itu, Luna langsung mengangkat kepalanya. Menatap pria itu dengan lekat. Pengacau dia bilang? Oh, tidak ingatkan dia siapa yang bermain piano untuknya di kafe Happy Cloud?
“Jarinya sedang sakit, Sky. Tolong pahami itu,” ucap Gavin. Berusaha menenangkan kawannya itu.
“Bukankah itu sudah jelas? Jika tahu tidak mampu, seharusnya kau menolaknya! Atau, kau memang sengaja ingin mengacaukan acaraku?”
Semua mata terbelalak mendengar apa yang Sky katakan. Mereka tidak percaya jika Sky bisa setega itu berprasangka buruk pada Luna. Padahal semua tahu, jika gadis itu hanya ingin membantu.
Luna langsung mengibaskan tangannya di udara. Ingin mengatakan jika dia sama sekali tidak bermaksud melakukan itu. Bahkan terlintas di pemikirannya pun tidak.
Tidak sedikit staf yang menatap Luna dengan berbisik-bisik. Entah apa yang mereka komentari dari gadis itu. Yang jelas, hal itu membuat Luna merasa sedang dipermalukan.
“Tapi sayangnya, kau sudah mengacaukannya, Nona! Penggemarku kecewa. Mereka mendapat kesan terakhir uang buruk karena keegoisanmu untuk tetap tampil!”
Merasa kesal terus dipojokkan, Luna menatap pria itu dengan kesal. Matanya berbinar merah dan ... kecewa. Tanpa bisa dibendung lagi, air matanya luruh membasahi pipi.
“Kau! Kau sungguh keterlaluan! Aku tahu aku membuat kesalahan, tapi bukan berarti aku sengaja! Dasar pria sombong! Aku menyesal telah membantumu!” Luna mengucapkan ini semua menggunakan bahasa isyarat. Tidak peduli jika Sky tidak paham apa yang ingin dia sampaikan.
Dengan berlinang air mata, Luna berlari keluar ruangan. Terus berlari sampai area parkir. Di sana, dia mencari mobil Nadin. Siapa tahu sepupunya itu masih di sana, tapi nihil. Area parkir sudah lengang.
Dengan kesal, dia kembali berlari. Kali ini menuju ke arah jalan untuk pulang. Menelusuri trotoar dengan terisak. Entah kenapa, hatinya sangat sakit mendengar tuduhan yang Sky layangkan padanya.
“Aku tidak mau bertemu dengannya lagi,” ucap Luna. Tangisnya bukannya mereda, justru semakin menjadi-jadi.
Sementara di belakang panggung, Sky masih dengan rasa kesalnya. Meski tidak bisa dipungkiri, dia penasaran dengan apa yang Luna katakan, tapi rasa gengsi membuatnya enggan bertanya. Dia hanya melampiaskan amarahnya, dan sebuah harapan agar tidak dipertemukan lagi dengan Luna.