Setelah kepergian Luna dan Sky, suasana di belakang panggung tampak hening. Semua sibuk dengan kegiatan serta pikiran masing-masing. Beberapa orang ada yang secara terang-terangan ikut melayangkan kritik pada Luna. Gadis itu sudah tidak ada di sana, jelas saja mereka bisa lebih leluasa. Bukankah memang itu yang biasa terjadi? Hanya berani membicarakan di belakan, tapi jika berhadapan langsung nyali ciut seketika.
Gavin menghela napas kasar. Bukan ini yang dia inginkan. Pria itu sangat tahu permainan piano Luna. Selama ini, gadis itu tidak pernah mengecewakan. Permainan pianonya selalu sempurna. Akan tetapi, apa yang terjadi malam ini membuatnya ikut menyesal. Luna sudah mengatakan jika jemarinya sakit, seharusnya dia membawa gadis itu kembali secepatnya. Dia seolah lupa, tentang sifat Luna yang selalu kesulitan menolak permintaan orang lain.
Kedua kaki panjang Gavin membawanya berlari ke luar area gedung. Berniat untuk menyusul Luna. Dia ingat gadis itu meneteskan air mata. Hatinya pasti terluka, dan sakit. Bodoh. Kenapa dia tidak mengejarnya sejak awal?
Memasuki area parkir, Gavin kelabakan mencari keberadaan Luna. Setiap sudut dia cek, tapi nihil. Luna sudah tidak ada di sekitar sana.
Dengan terburu, Gavin merogoh saku celananya. Mencari benda pipih canggih miliknya. Dia terlihat mengutak-atik benda itu untuk beberapa saat, lalu menempelkannya ke telinga. Cukup lama dia melakukan hal itu, tapi nomor yang dituju tidak bisa dihubungi. Kemungkinan besar Luna menonaktifkan ponsel miliknya.
Terang saja, hal itu membuat Gavin semakin panik. Dia kembali menempelkan ponselnya di telinga. Kali ini bukan Luna yang dia hubungi. Menunggu cukup lama, akhirnya telepon tersambung. Suara seorang perempuan menyambutnya dengan nada tidak ramah.
“Nadin, apa Luna bersamamu?” tanya Gavin dengan panik. Tidak bisa dipungkiri lagi, dia khawatir setengah mati. Bagaimana tidak? Dia kehilangan jejak seorang gadis di malam selarut ini, tentu saja otak warasnya merasa was-was. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.
“Ya! Kau apakan dia sampai menangis seperti ini?” Gadis yang mengangkat telepon di seberang sana, yang tidak lain adalah Nadin, balik bertanya dengan nada semakin ketus.
Mendengar pertanyaan Nadin, sama sekali tidak membuat nyali Gavin ciut. Dia mengelus dadanya dan mengembuskan napas dengan tenang. Nadin tahu Luna menangis, itu berarti mereka sudah bersama.
“Jawab! Dasar kau bos kejam.” Nada bicara Nadin masih menggebu. Wajar saja, dia sepupu Luna yang dipinta secara langsung oleh orang tua gadis itu untuk menjaganya. Jika sesuatu terjadi pada Luna, gadis dengan rambut di cat cokelat itu akan dengan senang hati pasang badan untuk melindunginya.
“Syukurlah jika Luna sudah bersamamu,” ucap Gavin dengan lega.
“Jawab dulu pertanyaanku! Apa ini ada sangkut-pautnya dengan kekacauan di panggung tadi?” Nadin mulai melembut. Meski begitu, dia masih penasaran.
Sekilas, Nadin melirik Luna yang duduk di sampingnya. Sementara dirinya fokus mengemudi. Ketika hendak pulang tadi, Nadin melihat Luna berlari keluar dari dalam gedung. Dia pun bergegas menghampirinya dan terkejut ketika mendapati sepupunya itu tengah menangis. Tidak membuang waktu, Nadin menyeretnya masuk ke dalam mobil. Membawa gadis itu pulang tanpa banyak bertanya.
Lina terlihat damai dengan mata terpejam. Sisa lelehan air mata terlihat membekas di pipi mulus gadis itu. Entah dia benar-bebar terlelap, atau tidak. Yang jelas, Nadin tidak ingin mengganggunya saat ini. Membiarkan Luna tenang terlebih dahulu, adalah cara yang selalu dia pakai untuk meluluhkan hati gadis ini. Baru setelah tenang nanti, atau keesokan harinya, Nadin akan bertanya. Meminta penjelasan secara detail.
“Akan aku jelaskan besok.” Setelah mengucapkan itu, sambungan telepon terputus. Gavin yang menutupnya secara sepihak. Tidak peduli meski Nadin sudah akan protes lagi.
Udara malam ini terasa begitu menusuk. Membuat Gavin menyilangkan tangan dan mengusapnya. Pria itu lantas bergegas kembali ke dalam gedung. Sebelumnya, dia sempat mendongakkan kepalanya ke atas. Bulan dan bintang tidak keluar malam ini. Keberadaannya tertelan awan gelap yang menjadi hiasan malam ini. Pantas saja udaranya terasa begitu dingin.
Sampainya di dalam, dia langsung menanyakan keberadaan Sky pada orang-orang yang dia temui. Rata-rata jawaban yang mereka berikan sama saja. Ketidaktahuan di mana penyanyi itu berada. Bahkan, manajer Kim sendiri tengah mencarinya.
Gavin terdiam untuk beberapa saat. Mengingat-ingat kebiasaan sahabat lamanya itu jika sesuatu tidak berjalan dengan apa yang dia mau. Tidak berapa lama, seulas senyum terpatri di wajahnya. Atap. Dia ingat Sky sangat menyukai atap. Pria itu pasti tengah di sana saat ini.
Tidak mau membuang banyak waktu, Gavin bergegas ke tempat tujuannya. Hanya memakan waktu beberapa menit untuk sampai di sana. Dan benar saja, dari kejauhan dia bisa melihat seseorang tengah berdiri di dekat tepi gedung. Menyaksikan gemerlapnya kota Jakarta dari atas sana.
Gavin berjalan secara perlahan. Dia menghampiri pria itu dan berdiri di sampingnya. Embusan napasnya terdengar tenang. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri jika hatinya waspada. Dia sudah mengenal Sky sangat lama, dan tahu betul amarah pria itu seperti apa.
“Kacau. Acara terakhirku kacau.” Sky bergumam. Tatapannya lurus ke depan, tapi ada sorot kekecewaan terpancar dari sana.
“Kau ... tidak akan menuntut gadis itu, ‘kan?” Gavin bertanya dengan nada yang sangat pelan. Lebih terdengar seperti gumaman tak berarti.
“Tidak,” jawab Sky.
Gavin mengelus dadanya. Napasnya semakin tenang. Acara jumpa penggemar yang kacau, biasanya jarang terjadi. Dia benar-benar takut jika pihak Sky akan menuntut Luna. Terlebih lagi para penggemar penyanyi itu. Mereka banyak. Luna sudah dipastikan jadi bulan-bulanan mereka di internet.
“Aku sangat khawatir kau akan menuntutnya. Dia itu gadis baik, percayalah.”
“Aku tidak menuntutnya bukan berarti aku memaafkan tindakannya.” Sky berjalan ke tepi lain atap gedung itu. Dia suka pemandangan di malam hari. Gemerlap lampu yang menghias kota, serta suasana tenang yang dia dapat. Sky sangat menyukai itu semua.
Selain indah, hal itu juga memberinya sedikit ketenangan. Sejujurnya, Sky tidak mau terlarut dalam kekacauan yang Luna berikan. Dia hanya ingin fokus pada tujuan utamanya. Tujuan mengapa dia pulang dan memutuskan untuk vakum dari dunia musik untuk sementara.
“Ayolah, Sky. Dia tidak sengaja.” Gavin mengikuti ke mana langkah pria itu berjalan.
“Aku tidak peduli,” ucap Sky penuh penekanan.
“Setidaknya tenangkan fansmu agar tidak menyerangnya.” Gavin masih berusaha membujuk pria itu. Mendapat maaf dari Sky memang akan sedikit sulit, tapi di satu sisi dia bukan pria yang akan membiarkan fansnya berulah. Jika menyerang orang lain seenaknya, Sky akan menegur mereka dengan tegas.
“Biarkan saja. Mereka hanya akan mengungkapkan rasa kecewa dan itu wajar.”
Sepertinya, untuk kali ini sifat Sky yang akan menegur fansnya ketika mereka berulah, mendadak hilang entah ke mana. Terang saja, hal itu membuat Gavin sedikit tersulut emosi. Tidak biasanya Sky seperti ini.
“Tapi di satu sisi kau juga salah, Sky.” Pada akhirnya, Gavin memiliki keberanian untuk mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya.
Sky mengalihkan atensinya pada Gavin. Manik matanya yang kelam, menatap sahabatnya itu dengan ekspresi penuh tanya.
“Kau menyakiti hati Luna. Caramu ketika menegurnya tadi, membuat dia menangis.”
Sky kembali mengarahkan pandangannya pada gemerlap lampu di bawah sana. Kali ini kepalanya menunduk. Entah apa yang tengah pria itu rasakan. Penyesalan? Atau justru menenangkan diri agar tidak mengamuk? Entah yang mana.
“Datanglah ke kafe besok dan meminta maaf pada Luna,” ucap Gavin.
“Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf padaku?” tanya Sky. Sungguh tidak habis pikir. Kenapa dia yang harus meminta maaf?
“Luna sudah melakukan itu sebelum kau memarahinya sampai menangis.” Gavin tampak tenang. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri jika hatinya masih khawatir. Sky itu keras kepala.
“Aku tidak akan pernah meminta maaf padanya. Bertemu lagi dengannya pun, aku tidak berminat.” Sky berlalu begitu saja. Meninggalkan Gavin yang masih mematung di sana.
Sungguh. Gavin dibuat lumayan jengkel dengan sikat sahabat lamanya itu. Keras kepala. Sky itu keras kepala dan sulit sekali ditundukkan. Keadaan seperti ini sama sekali tidak ada yang mengharapkan. Baik Luna sekalipun. Namun sepertinya, Sky tidak mau mengerti akan hal itu. Dia benar-benar memiliki kepala batu.