Hujan kembali mengguyur kota Jakarta di Senin pagi. Membuat orang-orang enggan keluar rumah, meski aktivitas harus tetap dijalani. Mereka yang pada dasarnya membenci hari Senin, memanfaatkan suasana ini untuk bermalas-malasan. Memberi seribu alasan untuk tidak masuk kerja, sekolah atau rutinitas apa pun itu.
Sama halnya dengan yang Luna lakukan. Jarum pendek pada jam di dinding kamarnya sudah menunjuk pada angka tujuh. Sementara jarum panjangnya menunjuk angka lima. Itu berarti, seharusnya gadis itu sudah bersiap-siap untuk pergi ke kafe. Bekerja seperti biasa.
Namun, suasana di luar memang membuatnya enggan beranjak dari kasur. Luna hanya menggulingkan tubuhnya ke sana ke mari. Menarik selimut, lalu mencoba terpejam kembali.
Dia sudah berniat untuk tidak berangkat kerja sejak tadi malam. Perlakuan Sky tadi malam, benar-benar telah merusak perasaan gadis itu. Karena Luna tidak seperti biasa dia seperti ini. Tidak berangkat kerja karena masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan secara baik-baik.
Dari balik selimut, Luna mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kecil samping ranjang. Tangannya menggapai ke sana ke mari. Mencari keberadaan ponsel yang terletak sedikit jauh dari jangkauannya.
Setelah mendapat apa yang di cari, Luna menyalakan benda pipih canggih itu. Jam bertalu dengan cepat, angka delapan dan dua buah nol terpajang di layar depan. Lalu, gadis itu beralih dan menyentuh ikon pesan. Terdapat lebih dari tiga pesan di sana. Kebanyakan berasal dari nomor Gavin.
Luna membuka pesan itu satu per satu. Ketika pulang dari acara Sky tadi malam, dia baru menyentuh ponselnya lagi. Gadis itu tidak mau diganggu. Apalagi lagi oleh Gavin yang isi pesannya terus menanyakan kondisi Luna.
Luna baik-baik saja. Sungguh. Hanya saja, perasaan gadis itu lumayan kacau. Perlakuan Sky padanya, sungguh di luar dugaannya. Dan lagi, dia sama sekali tidak berniat untuk mengacaukan acara. Tidak sama sekali. Itu semua hanya kecelakaan.
Mengingat tentang semalam, membuat Luna mengembuskan napasnya dengan kasar. Gadis itu melempar ponselnya ke sisi kasur. Dia yang sedari tadi sudah siap untuk mengirim pesan pada Gavin, kini diurungkan begitu saja.
Sekilas, Luna melirik ke luar jendela kaca. Hujan masih turun dengan deras. Rutinitas kebanyakan orang pasti terganggu hari ini. Termasuk kafe milik Gavin. Luna bahkan berani menebak, jika tempat itu belum juga buka saat ini. Meskipun buka, pengunjungnya pasti sedikit.
Masa-masa itu pernah dia lalui juga. Bahkan pernah, sehari tidak ada pengunjung sama sekali. Dia dan para pekerja lainnya hanya duduk memandang ke luar jendela, dengan pemandangan hujan yang begitu deras.
Luna benar-benar memutuskan untuk tidak bekerja hari ini. Tidak peduli jika gajinya akan dipotong, atau dicap sebagai gadis tidak profesional. Dia tidak peduli itu. Pada awalnya, pemikirannya memang seperti itu. Namun, seiring hujan yang mulai reda, pikiran gadis itu lambat laun ikut berubah.
Luna menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Gadis itu turun dari kasur dan meregangkan tulang-tulangnya untuk beberapa saat. Kemudian, dia berjalan ke arah kamar mandi. Mengambil beberapa peralatan dan mulai menyalakan keran. Luna bukanlah gadis yang bisa bepergian tanpa mandi. Dalam kamusnya, mandi sebelum pergi bekerja atau pergi ke mana pun itu, mandi adalah ritual wajib yang harus dilakukan. Tidak peduli meski udara terasa dingin mencekik.
Selesai dengan ritual wajibnya, Luna bergegas memakai pakaian yang sudah tersedia di lemari. Dia sudah menyiapkan baju itu sejak hari Minggu kemarin. Tidak ingin tergesa-gesa, itu alasan Luna selalu menyiapkan pakaian untuk bekerja sehari sebelumnya. Dia juga gadis yang selalu mengutamakan kerapian.
Hujan sudah sepenuhnya reda. Lalu lalang orang mulai terlihat. Luna melangkahkan kakinya setengah berlari kecil menuju kafe Happy Cloud. Dia tahu ini sudah terlambat, tapi bukan berarti dia harus tetap santai.
Tidak berapa lama, gadis itu sudah sampai di pintu depan kafe. Beberapa pegawai terlihat bersandar di pintu masuk. Ada juga yang berjongkok memperhatikan genangan air di depannya. Entah apa yang tengah dia lakukan. Perilaku orang memang bisa seaneh itu.
Mereka menyambut kedatangan Luna. Beberapa menyapa, beberapa acuh dan masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Luna menanggapi sapaan mereka dengan senyum. Dia akan terlihat semakin manis jika di wajahnya tersungging sebuah senyum.
Atensi Luna teralih pada kunci yang masih terpasang dengan rapi di pintu. Dia melirik jamnya sekilas, lalu beralih ke jalan. Seolah mencari keberadaan Gavin. Benar kan? Pria itu seolah tidak ada niat untuk membuka tempat bisnisnya ini. Tidak seperti biasanya.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya yang Gavin datang juga. Pria itu keluar dari dalam mobilnya. Berjalan ke arah para pegawai dengan sebuah senyum yang terpatri di bibir seksinya. Dua orang pegawai wanita di samping Luna, menggumamkan kata-kata yang sedikit tidak pantas. Membuat gadis dengan poni menghiasi dahinya itu menoleh dengan tatapan aneh. Berani sekali. Jika Gavin tahu, kedua pegawai ini bisa-bisa dipecat tanpa rasa hormat.
Merasa diperhatikan oleh Luna, keduanya segera menunduk. Luna memang tidak begitu akrab dengan beberapa pegawai, termasuk kedua gadis itu. Entah mengapa. Mungkin karena Luna begitu dekat dengan Gavin? Wajar saja, keduanya sudah berteman cukup lama. Dan lagi, Gavin memang tidak pernah menunjukkan jika dirinya adalah atasan Luna ketika berinteraksi dengan gadis itu. Tidak mengherankan jika ada pegawai yang merasa iri.
Gavin membuka kunci pintu itu, dan masuk terlebih dahulu. Para pegawainya mengekor dari belakang. Setelahnya, mereka menghambur untuk bersiap memulai pekerjaan yang sama di hari baru. Luna sendiri, gadis itu pergi ke loker. Menyimpan tasnya dan memakan apron yang menjadi ciri khas pegawai di kafe ini.
Selesai dengan pakaiannya, Luna beralih ke meja di dekat jendela. Memastikan jika area itu bersih dan bebas dari s****h. Bukannya tidak ada yang membersihkan, tapi itu adalah area kesukaan Luna. Dia akan sangat memperhatikan tempat duduk itu.
Tidak ada yang mencurigakan di sana, gadis itu berjalan ke sisi lain kafe. Tepat ke tempat barista meracik kopi. Dia memastikan persediaan dari berbagai macam kopi, terisi penuh di sana. Biasanya Gavin yang melakukan ini, tapi karena pria itu masih berada di ruangannya maka Luna yang memastikan. Mengisi kembali toples yang sudah kosong, atau mengambil toples lain jika ada yang isinya sudah berkurang.
Satu dua pelanggan mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja kantoran. Wajar saja, kafe ini berada di tempat yang strategis dengan beberapa gedung pencakar langit di sekitarnya. Ketika waktu istirahat tiba, tidak sedikit dari mereka yang datang untuk melepas penat sejenak. Menikmati kopi atau memesan beberapa menu yang disediakan.
Di jam istirahat seperti ini, kesibukan biasanya terjadi. Tidak jarang mereka akan dibuat kewalahan. Akan tetapi, hal seperti itu tidak terjadi setiap hari. Seperti hari ini misalnya. Hanya ada beberapa pelanggan yang keluar masuk melewati pintu itu. Mungkin para karyawan lain enggan keluar kantor. Mengingat jalan yang masih cukup becek karena hujan pagi tadi.
Di saat suasana kafe begitu lengang, seorang pegawai pria menghampiri Luna yang tengah menata cangkir di dapur.
“Pak Gavin memanggilmu,” ucap pegawai itu. Lalu, dia hendak mengambil alih pekerjaan Luna yang hampir selesai.
Merasa tidak enak, Luna meminta pria itu untuk mengerjakan hal lain saja. Biar dia yang akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelahnya, bergegas ke ruangan Gavin dengan perasaan penuh tanda tanya. Apa dia melakukan kesalahan?
Luna berusaha menetralkan napasnya sebelum mengetuk pintu berbahan kayu jati di depannya. Berselang tiga kali ketukan, gadis itu pun masuk je dalam ruangan. Terlihat Gavin tengah duduk di mejanya. Tampak santai, tapi tatapannya tepat mengarah pada Luna.
Gavin bangkit dari duduknya. Pria itu membawa Luna untuk duduk di kursi yang biasa disediakan untuk tamu. Tidak jarang Gavin menggunakannya untuk tidur juga. Mengingat, jarang sekali ada tamu yang berkunjung.
Luna menuruti perintah atasan sekaligus sahabatnya itu. Dia duduk dengan tangan yang memegang buku kecil serta pena. Kedua manik mata yang terbingkai kaca mata, memperhatikan setiap gerak Gavin dengan saksama. Ada yang mengganjal dari ekspresi wajahnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Gavin tiba-tiba.
Tautan di alis Luna terbentuk. Tidak seperti biasanya. Meski begitu, dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Maaf atas sifat Sky tadi malam.” Gavin mengembuskan napasnya dengan perlahan. Menunduk seolah dirinya yang membuat kesalahan.
“Bukan kau yang seharusnya meminta maaf.” Tulis Luna di buku kecilnya.
“Tapi aku yang membawamu ke sana.” Gavin menatap tulisan di buku itu.
“Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha menjadi teman yang baik dengan membantu untuk pria itu. Aku yang harusnya minta maaf karena telah mengacaukan acara itu.”
Gavin membaca setiap kata yang Luna tulis. Kemudian beralih menatap gadis itu. Sungguh. Melihatnya tersenyum seolah tidak ada yang terjadi, justru membuat Gavin merasa semakin bersalah. Dia tidak lupa, pipi mulus dengan sedikit rona merah itu dialiri air mata tadi malam. Itu sudah cukup membuktikan jika hati Luna terluka.
Meski begitu, terlihat seperti selalu ada cara bagi Luna untuk menutupi kesedihan di hatinya. Dengan mengumbar senyum manis, misalnya. Karena siapa pun yang melihat senyum itu tanpa menatap matanya, hanya akan melihat kebahagiaan. Tanpa menyadari sorot penuh luka dari kedua manik mata coklatnya.
“Tapi sifatnya itu sudah keterlaluan. Aku sudah menghubungi dan memintanya untuk meminta maaf padamu. Entah dia akan datang atau tidak.”
Luna buru-buru mengibaskan tangannya di udara, dia juga mulai kembali menulis.
“Tidak perlu. Aku tidak mau bertemu atau berurusan dengannya lagi. Cukup sampaikan permintaan maafku saja. Maaf karena sudah mengacaukan acaranya.”
Gavin terdiam. Bisa-bisanya Luna menulis kalimat permintaan maaf seperti itu. Padahal, dia tahu hatinya lebih terluka. Namun, seperti itulah Luna. Meski tidak salah. Meski hati tercabik, dia akan meminta maaf terlebih dahulu. Hatinya memang sangat baik dan tulus. Dan juga rapuh.
“Jika tidak ada yang ingin dibahas lagi, aku akan kembali bekerja.” Tanpa menunggu jawaban Gavin, Luna bangkit dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan sahabatnya yang masih menatap kepergian Luna dalam diam.
Tangan pria itu terulur menyentuh dadanya sendiri. Degup jantungnya selalu seperti ini. Tiba-tiba menjadi cepat jika sudah bersama Luna. Pun kepribadian gadis itu sangat menarik bagi Gavin. Dia tidak bodoh. Gavin menyadarinya. Sangat. Hatinya mulai menyimpan rasa pada gadis bisu nan cantik itu.