Hari ini berlalu begitu saja. Tidak ada yang spesial. Pun pengunjung pun hanya sedikit yang datang ke kafe. Suasananya memang sedang tidak mendukung. Sepanjang hari hujan terus mengguyur.
Kafe ditutup satu jam lebih cepat dari biasanya. Selain karena udara dingin, Gavin beralasan takut jika hujan turun semakin deras. Dia tidak mau jika mereka semua terjebak semalaman di dalam kafe.
Luna sendiri, gadis itu sudah berada di kamarnya. Bersandar pada kepala ranjang dengan selimut membalut tubuh bagian bawah. Sementara di tangannya memegang satu novel tebal yang baru dia beli minggu lalu. Buku itu belum sempat dia baca, dan memang sudah menjadi rutinitasnya sebelum tidur untuk membaca buku terlebih dahulu.
Terlalu asyik dengan jalan cerita yang tersaji, sampai dia tidak menyadari jika Nadin sudah berada di kamarnya. Menatap Luna yang tengah tersenyum sendiri dengan geli.
“Jika yang datang adalah maling, semua barang berhargamu pasti sudah raib,” ucap Nadin.
Gadis dengan rambut sebahu itu duduk di tepi ranjang. Matanya masih fokus menatap Luna yang terperanjat kaget dan hampir melempar buku tebal itu padanya.
Tawa Nadin pecah seketika. Ekspresi Luna sangatlah lucu. Cara dia marah, seperti anak kecil yang dibuat kesal. Bibirnya mengerucut dengan tatapan tajam. Begitu juga dengan tangannya yang menggapai-gapai ingin memukul sepupunya itu.
“Kau ingin membuat jantungku berhenti berdetak?” Luna mengambil buku catatannya dan menulis kalimat itu.
Nadin menggeleng. Meski begitu, dia masih berusaha menahan tawa. Tentu saja tujuan dia datang ke kamar Luna bukan seperti itu.
Keduanya memang seperti itu. Sangat dekat sampai saling mengetahui kode apartemen masing-masing. Tidak jarang, Luna pun berkunjung ke tempat Nadin dan membuat gadis itu terkejut.
“Tidak biasanya kau sudah bersantai. Apa pekerjaan hari ini menyenangkan?” tanya Nadin.
Luna mengangguk. “Kafe tutup satu jam lebih awal. Tentu saja itu sangat menyenangkan.”
Senyum Luna mengembang di wajahnya. Begitu juga dengan Nadin. Dia selalu suka melihat sepupunya itu tersenyum. Sangat manis dan terlihat polos.
“Pekerjaanmu sendiri bagaimana?” Luna kembali menulis.
“Ada sedikit masalah tadi. Tapi aku bisa menanganinya dan sudah beres,” jawab Nadin.
Gadis itu juga bekerja di sebuah kafe juga. Sama seperti Luna. Hanya saja, jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
“Ingin cerita?”
“Tidak apa-apa. Hanya pelanggan yang rewel.”
Nadin mengumbar senyum, dan Luna hanya mengangguk-anggukkan kepalanya untuk memberinya respons.
Pelanggan yang rewel. Suatu masalah yang tidak akan pernah lepas dari para pelayan kafe seperti mereka. Luna paham betul akan hal ini. Dia tidak jarang mengalaminya, dan terkadang dibuat kewalahan juga.
“Jadi, ada apa? Kau akan menginap?”
Nadin menggeleng dengan cepat. Itu juga bukan tujuan dia datang ke sini.
“Kau berhutang sesuatu padaku.” Nadin mendekatkan posisi duduknya ke arah Luna.
Kedua bola mata Luna yang terbingkai kaca mata bulat, mengerjap berulang kali. Kepalanya sedikit dia miringkan ke arah kiri, dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Hutang? Hutang apa? Seingatnya bulan ini dia belum meminjam uang pada sepupunya itu. Terakhir kali berhutang adalah tiga bulan lalu. Itu pun karena kondisi mendesak. Seingat Luna pula, dia sudah membayarnya dengan lunas setelah mendapat gaji.
“Hutang apa yang kau maksud?” Luna masih memasang ekspresi kebingungan.
Embusan napas berat terdengar keluar dari mulut Nadin. Gadis itu semakin mendekat ke arah Luna. Kemudian tangannya terulur ke arah wajah sepupunya itu. Di detik berikutnya, dia mencubit kedua pipi gadis yang lebih muda darinya itu.
Terang saja hal itu membuat Luna terkejut. Kedua matanya membola. Tangannya juga berusaha melepaskan kedua tangan Nadin dari pipinya. Setelah berhasil terlepas, dia mengusapnya dengan ekspresi meringis kesakitan.
Apa-apaan sepupunya itu? Tidakkah dia tahu jika itu menyakitkan?
“Kau ini apa-apaan?”
Luna menulis dengan sebelah tangan yang masih mengelus pipinya secara bergantian. Ekspresi wajah gadis itu tampak merengut, dengan sesekali menatap sepupunya dengan tajam.
“Kau lupa?” Nadin tak kalah melotot, “kau berhutang penjelasan tentang kemarin malam. Tentang kau yang menjadi pengiring piano ketika Sky Lee bernyanyi di acara jumpa penggemarnya.”
Luna meringis. Tentang itu ternyata. Apa masih harus dibahas? Dia sendiri masih terlihat sedikit kesal dengan kejadian malam itu. Sekarang sepupunya malah meminta penjelasan. Bukankah itu sedikit keterlaluan? Namun, mengingat Nadin adalah salah satu dari banyaknya penggemar Sky Lee, membuat Luna merasa tidak aneh.
Dia seharusnya sedikit lebih bersyukur. Karena Nadin tidak seperti penggemar yang lain. Yang akan memaksanya melakukan permintaan maaf di depan publik. Bukan. Nadin tidak seperti itu.
Meski ya ... kadar kegilaannya terhadap Sky Lee pun bisa dikatakan cukup parah, tapi Nadin tidak akan menyerang sepupunya dengan brutal. Dia meminta penjelasan langsung pada Luna, pasti karena khawatir padanya juga.
“Jelaskan padaku, kenapa kau bisa ada di sana?” Ekspresi wajah Nadin berubah. Menjadi sedikit lebih serius. Tatapannya lurus pada mata Luna.
Luna hanya bisa mengembuskan napas secara pasrah. Dia menolak pun percuma. Nadin itu sangat gigih. Dia tidak akan berhenti untuk bertanya sebelum mendapat apa yang dia mau.
Terkadang meski sudah mendapatkannya pun, jika masih tidak puas dia masih akan mencecarnya dengan pertanyaan yang sama. Oleh karena itu, daripada dibuat kacau dengan sifat keras kepala yang sepupunya miliki, Luna lebih baik mulai menulis dan menjelaskannya. Sedetail mungkin.
Cukup lama Luna menulis, dan Nadin hanya menyimak. Dagunya bertumpu pada kedua tangan. Pun tatapannya sesekali mencuri pandang pada setiap tulisan yang tengah Luna rangkai.
Tidak berapa lama kemudian, Luna selesai dengan tulisannya. Dia menyerahkan buku catatan itu pada Nadin. Raut wajah gadis itu tampak sedikit kesal dan lelah.
Nadin tentu saja menerima buku itu dengan penuh antusias. Matanya mendadak berbinar dan mulai membaca dengan saksama. Tidak dia hiraukan sepupunya yang berulang kali memijit tangannya sendiri.
Jujur saja. Tidak jarang Luna kesal dengan situasi seperti ini. Menerangkan sesuatu yang panjang, bukanlah sesuatu yang menurutnya gampang. Meski dia bisa menulis dengan cepat, bukan berarti jarinya tidak akan pernah merasa lelah.
“Aku tidak tahu jika Gavin dan Sky ternyata sedekat ini.” Nadin bergumam di tengah membacanya yang belum usai.
“Kau beruntung sekali, Luna!” Lagi, Nadin bergumam. Kali ini nadanya terdengar sedikit kesal. Membuat Luna ingin tertawa. Dia tahu Nadin iri.
“Lain kali, bisakah kau memperkenalkanku secara langsung pada Sky? Dia pasti berkunjung ke kafe Gavin lagi. Aku sangat ingin berfoto dengannya dan membuat penggemar lain iri.”
Selesai membaca, Nadin mengembalikan buku catatan itu pada Luna. Matanya masih berbinar penuh harap.
“Kenapa kau tidak memintanya pada Gavin saja langsung?” Tulis Luna.
“Jika aku meminta pada Gavin secara langsung, dia justru akan menjauhkanku dari Sky. Kau tahu sifat pria itu seperti apa.” Nadin merengut.
Luna hanya bisa mengulum senyum mendengar sepupunya itu.
“Tidak aneh jika nantinya Gavin malah menjauhkanmu dari Sky. Kau terlalu berbahaya.”
Satu cubitan kembali mendarat di pipi Luna. “Aku tidak seberbahaya itu.”
Lama mengobrol membuat keduanya hampir lupa waktu. Semua penjelasan Luna yang membuat Nadin merasa sedikit iri, dan juga kasihan.
Iri karena sepupunya bisa menjadi pengiring nyanyian Sky. Sementara dia yang sangat mengidolakan pria itu, hanya bisa menatap dari kejauhan. Pun rasa kasihan karena kesalahan yang tidak sengaja Luna buat. Dia tahu itu memalukan. Meski Luna tidak memberitahu mengenai Sky yang memarahinya, tetap saja Nadin merasa tidak tega. Dia ingat Luna menangis malam itu.
Merasa sudah waktunya untuk beristirahat, Nadin berpamitan untuk kembali ke tempatnya. Luna sempat memintanya untuk menginap saja, tapi Nadin menolak. Dia datang hanya ingin tahu mengenai kejadian malam itu saja, tidak lebih.
Jika dia berniat menginap, bisa kacau semalaman. Mereka bukannya tidur, bisa-bisa hanya mengoceh sampai pagi. Lupa untuk beristirahat.
Sebelum beranjak dari kamar Luna, Nadin sempat memeluknya dengan erat. Dia sangat tahu ini pasti berat bagi sepupunya itu. Meski Luna tidak memiliki akun media sosial dan tidak tahu apa saja yang penggemar Sky bicarakan tentangnya, tapi Nadin jauh lebih tahu betapa rapuhnya gadis itu.
Terlihat baik-baik saja, tapi hatinya meratap. Luna selalu seperti itu. Menyembunyikan perasaan seolah sudah menjadi hobi baginya.