Pengunjung hari ini lumayan banyak. Suasana kafe tentu saja ramai dibuatnya. Lalu lalang pelanggan yang keluar serta memasuki kafe, membuat para pelayan di sana cukup kewalahan.
Gavin bahkan sampai turun tangan untuk membantu mereka. Dia tampak berada di balik meja peracik kopi. Membantu Luna serta satu orang lainnya.
Begitu juga dengan para pelayan lain yang lalu lalang mengantar pesanan. Mereka terlihat mulai lelah, tapi pekerjaan yang menumpuk minta diselesaikan. Bukan dibiarkan semakin menumpuk begitu saja.
Hari ini memang tidak seperti kemarin, yang turun hujan dengan deras. Pagi ini matahari bersinar sangat cerah. Kehangatannya berpendar ke seluruh penjuru kota. Sesuatu yang kebanyakan orang tunggu ketika benci dengan musim hujan.
Jika sepanjang hari ini tidak turun hujan, dan berlangsung sampai malam nanti. Maka kesibukan mereka tidak akan berakhir begitu saja. Karena jadwal malam nanti harusnya mereka mengadakan live music.
Artis yang dimaksud pun sudah dihubungi dan mendapat undangan, tapi kelangsungan acara tetap ada di tangan pihak Gavin. Terlebih lagi, jika banyak pelanggan yang datang maka acara akan sukses. Berbanding terbalik dengan acara yang sepi. Pihak mereka akan merugi tentu saja.
Tidak terasa, waktu istirahat bagi mereka tiba. Pelanggan yang memasuki area kafe pun sudah bisa dihitung dengan jari. Tidak berapa lama lagi, mereka bisa melepas penat barang sejenak, sebelum memulai kesibukan kembali.
Para pelayan terlihat duduk di meja pelanggan. Ada yang menyandarkan diri ke belakang kursi. Ada pula yang mengambil posisi menelungkup di atas meja.
Raut wajah mereka terlihat lelah. Meski begitu, bukan berarti harus mengeluh begitu saja. Lelah sudah menjadi konsekuensi dalam menjalani pekerjaan. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan, jika tidak lelah terlebih dahulu, maka tidak akan mendapat uang.
Luna menelungkupkan badannya di atas meja barista. Sementara Gavin, hanya duduk di kursi dan memandangi wajah gadis itu. Dengan penuh rasa kagum.
Hari ini Luna tidak berhadapan dengan pelanggan. Sesuatu yang patut dia syukuri karena dengan begitu, jarinya tidak sakit dipakai untuk terus menulis. Dia berada di balik meja barista bersama Gavin. Meracik kopi seperti biasa.
Kemampuannya untuk membuat latte art pun sudah patut diacungi jempol. Setiap hari membantu Gavin, membuat dia sedikit-sedikit menjadi mahir juga. Dan jika sudah sangat mahir, Gavin berencana akan meminta Luna mengambil posisi itu. Dia juga sebenarnya tidak tega melihat Luna bulak-balik menulis untuk berkomunikasi.
Luna mengeluarkan buku catatannya yang sedari tadi disimpan di saku apron. Kemudian mulai menulis sesuatu.
“Hari yang sibuk setelah cukup sekian lama. Benar, ‘kan?” Luna menunjukkan tulisan itu pada Gavin.
Gavin yang berada di sebelahnya, memberi senyum yang sangat cerah. Seolah tidak ada gurat lelah di sana. Dia lalu menganggukkan kepala.
Luna ikut tersenyum melihatnya. Kemudian dia memilih untuk bangkit. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru. Ruangan kafe lumayan berantakan. Beberapa piring serta cangkir atau gelas masih berada di atas meja.
Para pelayan belum membereskannya. Mereka masih melepas penat sama seperti dirinya. Akan tetapi, Luna tidak suka tempat berantakan seperti ini.
Dia mulai bangkit dan merapikan meja satu per satu. Jelas saja, beberapa pelayan pun mengikuti aksinya. Meski tidak sedikit yang bercanda akan sifat rajin yang Luna miliki.
“Tidak apa-apa jika kalian ingin beristirahat dulu. Tidak perlu terprovokasi olehku.” Tulis Luna di bukunya. Dia menunjukkan itu pada dua orang pelayan yang ikut membersihkan meja seperti dirinya.
“Tidak apa-apa. Lagi pula, jika pekerjaan lebih awal selesai, kita bisa beristirahat sedikit lebih lama lagi,” ucap salah satu dari mereka. Yang satunya lagi mengangguk setuju.
Luna hanya tersenyum manis menanggapinya. Dia sangat senang memiliki rekan seperti mereka. Baik, ramah dan tidak mengeluh dalam melakukan pekerjaan. Pun tidak mempermasalahkan caranya berkomunikasi, adalah hal yang paling Luna sukai.
Berhubung semua pelayan mengikuti aksi Luna, maka pekerjaan pun selesai dengan cepat. Satu dua dari mereka terlihat meninggalkan kafe. Sepertinya ingin mencari makan atau ada urusan sebentar.
Gavin pun sempat mengajak Luna untuk pergi mencari makan, tapi gadis itu menolak dengan halus. Dia tidak mau meninggalkan kafe, dan lebih memilih untuk membuat kopi dan duduk di tempat kesukaannya. Melihat itu, Gavin tidak bisa untuk tidak ikut. Dia dengan mudah mengurungkan niatnya.
“Kenapa tidak jadi pergi?” tanya Luna.
Gadis itu sedikit melamun. Oleh karena itu, dia hampir tidak menyadari jika Gavin sudah duduk di sebelahnya dengan secangkir ice coffe di tangannya.
“Karena kau tidak mau, jadi lain kali saja.” Lagi. Gavin berucap dengan senyum terpatri di wajahnya. Sungguh. Siapa saja yang melihat itu, hatinya pasti dibuat meleleh. Tidak terkecuali seorang Luna.
“Maaf.” Luna tampak menyesal.
“Tidak apa-apa. Masih ada lain waktu.”
Luna mengangguk. Lalu meminum kopinya yang mulai dingin. Meski hari tidak hujan, tapi dia memang lebih suka kopi hangat. Berbanding terbalik dengan Gavin yang menyukai kopi dingin. Menyesuaikan dengan udara di luar sana.
Kepala Luna menengadah. Mata yang dibingkai kaca mata bulat itu menatap langit di atas sana. Sebagian atap di kafe ini memang terbuat dari kaca, jadi para pengunjung di sini bisa melihat birunya langit di atas sana dengan jelas.
“Aku rasa malam ini akan turun hujan lagi.”
Setelah membaca apa yang Luna tulis, Gavin ikut mendongak. Langit memang tampat cerah, tapi dia juga bisa melihat awan yang mulai berarak ditiup angin. Sebagian dari awan itu sudah tampak kelabu, membawa butiran air yang siap untuk dimuntahkan kapan saja.
“Jika turun hujan lagi, itu berarti acara live music malam nanti tidak akan berjalan lancar.” Gavin bergumam.
Luna mengangguk setuju. Jika hujan turun, orang-orang akan enggan untuk keluar rumah. Mereka akan lebih suka mengurung diri di balik selimut dan memilih terlelap. Jika sudah seperti itu, kafe mereka tentu akan sepi.
Ketika memikirkan mengenai agenda malam nanti, tiba-tiba ponsel Gavin berdering. Fokus keduanya seketika teralihkan.
Pria itu bergegas mengecek siapa yang telah menghubungi. Sebuah nama panggilan yang tidak asing baginya, tertera di layar ponsel. Seketika perasaannya terasa kurang baik. Tidak seperti biasanya orang itu menghubungi Gavin di saat bekerja seperti ini.
Gavin sedikit beranjak dari tempatnya duduk. Mengangkat telepon dan berbincang dengan orang di seberang sana. Cukup lama mereka mengobrol, sebelum pada akhirnya Gavin terlebih dahulu memutus panggilan tersebut.
Mendapati Gavin yang sudah kembali menghampirinya, Luna hanya menatap pria itu. Tatapannya seolah bertanya mengenai siapa yang baru saja menghubungi teman sekaligus bosnya itu. Ekspresi Luna dibuat semakin penasaran tatkala mendapati tingkah Gavin yang tampak tidak tenang.
“Ada apa? Apa sesuatu telah terjadi?” Luna buru-buru menulis di bukunya.
“Ibuku menelepon dari Jerman. Dia mengabarkan jika nenek tengah sakit parah.” Gavin terlihat khawatir. Sangat jelas dari ekspresi wajah yang dia tunjukkan.
Luna bangkit dari duduknya segera. Ekspresi gadis itu seketika sama seperti Gavin. Dia memang tidak mengenal nenek dari pria itu, tapi mendengar kabar buruk seperti itu cukup membuat dia terkejut juga. Dan lagi, dia pernah mengalami hal seperti ini juga.
“Ibu memintaku untuk menjenguknya segera. Nenek sangat ingin bertemu denganku.”
Gavin mengingat-ingat. Dia memang sudah lama tidak pergi ke Jerman untuk menemui nenek serta orang tuanya di sana.
Gavin tinggal di Indonesia seorang diri. Selain ingin mandiri, dia juga lebih menyukai tanah kelahirannya ini. Berbeda dengan kedua orang tua serta keluarga besarnya, yang lebih memilih untuk tinggal di sana karena urusan bisnis juga.
“Lalu sekarang bagaimana?” Luna semakin panik.
Gavin tidak merespons. Dia malah berlari menuju ruangannya. Mengambil jaket serta kunci kafe. Tidak berapa lama, pria itu kembali ke tempat Luna. Memberikan kunci kafe pada temannya itu.
“Aku akan pulang sekarang. Jika para pelayan lain sudah kembali berkumpul, suruh mereka pulang juga. Kau pegang dan bawa kuncinya bersamamu. Aku rasa aku akan menutup kafe untuk sementara.”
Tanpa menerangkan lebih lanjut lagi, Gavin pergi dengan terburu. Meninggalkan Luna yang masih mematung. Gadis itu hendak menulis, tapi baru satu kata dan Gavin sudah meninggalkannya. Seketika, Luna merengut dan kembali duduk. Matanya memandangi kunci kafe dengan lekat.