Tepat setelah mendapat telepon dari orang tuanya dari Jerman, Gavin bergegas untuk pulang menuju rumahnya. Dia ingin memastikan apa yang baru saja telah disampaikan oleh sang ibu.
Belum lagi, dia juga harus mempersiapkan diri. Jika saja nantinya benar-benar harus pergi ke Jerman. Ah, jika pun kabar mengenai sang nenek sudah bak-baik saja. Gavin akan tetap pergi ke negara itu.
Dia sudah lama tidak bertemu dengan sang nenek. Begitu juga dengan orang tuanya. Jujur saja, pria itu sudah sangat merindukan mereka juga. Jadi sebisa mungkin, Gavin akan pergi ke Jerman. Secepat yang dia bisa.
Untuk saat ini, pria itu harus memikirkan mengenai kafe yang dia kelola. Memikirkan mengenai seseorang yang bisa dia percaya untuk mengelola tempat itu dengan benar.
Dalam perjalanan menuju rumahnya itu. Gavin tidak berhenti memikirkan beberapa hal. Selain khawatir pada sang nenek, urusan mengenai kafe juga merupakan hal yang penting. Dia tidak bisa membiarkan orang yang salah mengurus bisnis yang sudah dibangun sekian lama. Pun dengan jerih payahnya seorang diri.
Gavin memang memberikan kunci kafe itu pada Luna, karena dia memang sangat mempercayai gadis itu. Hanya saja, jika membiarkan dia yang mengurus tempat itu seorang diri. Rasanya Gavin tidak akan tega.
Dia memang mengenal Luna sudah sejak lama, tapi bukan berarti pria itu bisa semen semena terhadapnya. Ditambah lagi, semua tahu kondisi Luna seperti apa.
Bukannya ingin menyepelekan atau merendahkan. Gavin hanya ingin melindungi gadis itu. Karena tidak jarang dia mendengar dengan telinganya sendiri. Bahwa ada beberapa pegawai lain yang tidak menyukai gadis itu, dan sering membicarakan hal buruk tentangnya.
Memang, pria itu sempat berpikir untuk memecat mereka yang telah memperlakukan Luna dengan buruk. Hanya saja, gadis itu melarangnya. Juga meminta Gavin untuk tidak ikut campur.
Luna memang berhati sangat baik. Mungkin bisa dibilang juga, gadis itu tak acuh terhadap apa yang orang lain bicarakan tentangnya. Toh dia juga punya kehidupan sendiri. Untuk apa mengurusi mereka yang hanya tahu satu sisi tentangnya?
Dan ya ... Gavin tidak bisa memungkirinya lagi. Bahwa dirinya selalu luluh dengan apa yang Luna lakukan atau pinta. Semua tentang gadis itu, dia sudah sangat terpesona.
Berbekal pada itu semua, Gavin selalu ingin melindunginya. Pun dalam urusan mengurus kafe pada entah beberapa waktu ke depan. Dia tidak akan membiarkan Luna yang mengelolanya seorang diri, karena takut pegawai lain justru akan bertingkah semena-mena padanya.
Gavin harus memikirkan akan hal ini lebih matang lagi. Mungkin bukan Luna yang akan bertanggung jawab sepenuhnya, tapi gadis itu tentu saja akan ikut andil juga. Karena bagaimana pun juga, hanya gadis itu yang dia percaya dari sekian banyaknya karyawan di kafe miliknya.
Selama dalam perjalanan, berulang kali Gavin mencoba untuk menghubungi Sky. Akan tetapi, pria yang merupakan sahabatnya itu tak kunjung mengangkat telepon dari Gavin. Entah sedang apa pria itu.
Gavin hampir dibuat kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Padahal, ini merupakan waktu yang bisa dibilang sangat penting. Dia membutuhkan pertolongan Sky secepatnya.
Lama berselang, pria itu tetap berusaha untuk menghubungi Sky. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Masih tetap tidak diangkat juga.
Gavin sudah hampir mengumpat karena hal ini. Kesabaran pria itu sudah hampir terkuras. Dia sudah tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa, jika bukan pada Sky.
Gavin bukan tipe pria yang mudah percaya pada orang lain. Dia hanya akan percaya pada orang-orang yang memang sudah dekat dengannya. Meski dalam hal ini, Sky bahkan sudahvlama tak bertemu dengannya.
Akan tetapi, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan rasa percaya yang sudah mereka bangun sekian lama. Oleh sebab itu, kali ini Gavin akan mencoba untuk tetap bersabar. Pun menunggu sahabatnya itu untuk mengangkat telepon.
Tidak berapa lama, akhirnya Gavin pun sampai di apartemen yang dia tinggali. Memarkirkan kendaraan beroda empat miliknya dan langsung bergegas menuju rumah.
Cara berjalan pria itu tampak terburu. Dengan sebelah tangan yang masih memegang ponsel yang menempel di telinganya. Tampaknya dia masih gigih untuk menghubungi seorang Sky Lee.
“Kenapa kau baru mengangkatnya?” cecar Gavin setelah sambungan telepon pada akhirnya diangkat oleh Sky.
Di seberang sana, terdengar suara seseorang yang berbicara dengan nada lesu. Kentara sekali jika dia baru saja bangun dari tidur.
Terang saja, hal itu membuat Gavin merasa kesal. Pria itu ingat betul, Sky jika sudah tidur akan seperti orang mati. Sulit sekali untuk dibangunkan. Sekalipun itu suarq dari nada dering ponselnya sendiri.
Bahkan terkadang, alarm yang dia pasang pun tidak akan digubris. Separah itu memang.
“Datang ke apartemenku sekarang juga. Ini penting!” titah Gavin.
Tanpa mau mendengar respons dari sahabatnya itu, Gavin langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia sudah tidak mau membuang banyak waktu lagi, hanya untuk mengoceh menerangkan sesuatu yang bisa dia katakan nanti.
Gavin harus mempersiapkan diri untuk keberangkatannya, yang mungkin akan dia dilaksanakan keesokan harinya. Mungkin terdengar sangat mendadak, tapi begitulah Gavin. Dia bukan tipe yang bisa menunggu lama. Terlebih lagi, kabar mengenai kesehatan sang nenek sudah membuatnya tambah tidak sabar.
Sementara itu, Sky yang tengah di rumahnya, hanya menatap ponselnya dengan alis yang tertaut. Pria itu baru bangun dari tidurnya, dan langsung dipinta untuk pergi ke rumah Gavin. Maka dengan sedikit lesu, Sky pun bangkit dari tempat tidurnya.
Berjalan dengan sedikit gontai menuju kamar mandi, pikiran Sky masih berusaha mencerna apa yang Gavin katakan tadi. Dia memang mendengarnya, bahwa sahabatnya itu memintanya untuk pergi menemuinya. Ada hal penting.
Namun, Sky masih memikirkan hal penting apa yang Gavin maksud. Karena seingatnya, tidak ada yang penting yang harus mereka bahas. Kecuali jika itu mengenai perlakuannya pada Luna pada malam itu.
Mata Sky memutar dengan malas. Pria itu merasa kesal jika maksud Gavin memanggilnya hanya untuk membahas Luna lagi. Karena jujur saja, dia benar-benar sudah tidak mau berurusan dengan gadis itu.
Lagi. Dengan malas dia berjalan kembali menuju kamarnya. Duduk dengan malas di sisi ranjang. Pun masih memikirkan, apa haris pergi atau tidak.
Di saat seperti itu, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Nama Gavin tertera pada layar depan. Sahabatnya itu kembali memanggil.
Dengan sedikit lesu, Sky mengangkatnya. Lagi. Belum juga dia berbicara, Gavin sudah terlebih dahulu menginterupsi. Berucap dengan nada yang sangat keras, hingga memekakkan telinganya. Pun membuat Sky menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
Di seberang sana, terdengar Gavin mengoceh dan berbicara dengan sangat marah. Meminta agar sahabatnya itu untuk segera datang. Pun mengatakan ada hal penting yang harus mereka bahas, untuk yang kedua kalinya.
Untuk yang kedua kalinya juga, Sky tidak sempat memberi respons. Atau sekadar untuk menanyakan sesuatu lebih lanjut lagi, dia tidak diberi kesempatan.
Berbekal sua rasa penasarannya, pada akhirnya Sky pun beranjak. Berpakaian lebih pantas dan tidak lupa mengenakan jaket juga. Langit sedang mendung, dia takut jika nanti turun hujan dan membuatnya kedinginan.
Selain itu, Sky juga tidak mau Gavin menunggu lebih lama lagi. Dia tahu betul watak sahabatnya itu. Dan lagi, sangat menjengkelkan jika hanya di telepon, tapi tidak memberi tahu detail akan tujuannya. Jadi, dengan bergegas dia pun pergi menuju kediaman Gavin. Tanpa mau membuat pria itu semakin marah pada dirinya.