Ceklek..
Pintu kaca yang mengembun itu akhirnya terbuka. Menampilkan sosok pria atletis yang berbalut handuk di pinggang dan bertelanjang d**a. Ia berjalan pelan menuju wastafel untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia juga mengambil shaver untuk merapikan cambangnya.
Devano terdiam menatap pantulan dirinya di cermin. Ada beberapa tanda kemerahan di d**a dan lehernya.
"Sialan"', makinya dalam hati. Devano membenci tanda itu.
Perempuan itu benar-benar keterlaluan. Seharusnya ia yang memegang kendali penuh. Bukan malah berakhir seperti ini. Bagaimana ia esok akan bekerja. Sementara di lehernya ada cupang kemerahan begitu jelasnya. Hal yang begitu memalukan.
Belum selesai ia dengan lamunannya, sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Ia refleks menangkap dan melepaskan kedua tangan itu dari tubuhnya. Devano benci di sentuh tanpa ijin.
"Kenapa?", Perempuan itu bertanya. Tak pernah ada pria yang menolak sentuhannya.
"Aku tidak suka", jawab Devano tanpa menoleh. Ia muak dengan perempuan di belakangnya.
"Apa servisku kurang memuaskan?" Tanya perempuan itu dengan suara menggoda yang tampak di buat-buat. Ia ingat beberapa jam yang lalu ranjang menandak-nandak dengan hebatnya. Perempuan itu ingin kembali mengulangnya.
"Tidak, pergilah." Ucap Devano sinis. Ia benci mendengarnya. Baginya, wanita agresif sangat tidak menarik.
"Ini bahkan belum pagi, kita bisa memulai satu ronde lagi.", Perempuan itu berharap dan memohon. Devano begitu menggairahkan. Ia bersedia membuka kakinya lebar-lebar bahkan kalau perlu saat ini juga.
"Apa bayaranku masih kurang sehingga kau jadi banyak bicara?, Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan tak segan-segan untuk menyakitimu."
Perempuan itu beringsut pergi. Kembali ke kamar dan mengemasi barang-barangnya. Orang suruhan Devano akan mengantarkannya pulang. Perempuan itu pergi bukan karena takut. Devano terkenal dengan player handal dan mau membayar perempuan yang mau berkencan dengannya dengan amat sangat mahal. Hanya sayang satu, ia tidak mau berkomitmen dengan perempuan manapun. Apalagi dengan perempuan keras kepala yang memohon untuk tetap di sampingnya sedangkan Devano tidak menginginkannya. Ia tak segan-segan untuk menyuruh bodyguard-nya menyeret keluar perempuan yang tidak ia inginkan. Tak peduli sudah berbaju atau hanya berbalut selimut bulu. Tidak ada hati untuk perempuan yang sudah menukar s**********nya dengan uang. Tapi, jika perempuan sewaannya berhasil menjadi sosok yang memuaskan bagi Devano. Maka Devano tidak akan segan untuk membuatnya o*****e berkali-kali, memberinya bayaran mahal, dan memenuhi semua keinginannya termasuk makan di restoran berbintang, membelikan tas branded mewah, dan baju merk kenamaan walau hanya di satu malam itu. Devano yang tampan, kaya, dan idaman banyak wanita. Devano yang dingin, arogan, juga dominan. Ia di gilai sekaligus di benci. Di puja sekaligus di caci. Di nanti sekaligus di harapkan pergi.
Devano seolah memiliki sumber kekayaan yang tidak ada habisnya bahkan di usianya yang baru saja melewati angka tiga puluh lima. Devano kaya bukan karena warisan. Devano kaya karena ia tekun, ulet, gigih, dan cerdas dalam menjalankan bisnisnya. Bahkan akuisisi bisnis temannya yang hampir bangkrut selalu berhasil menambah pundi-pundi hartanya hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Banyak yang menawarinya jadi model karena wajahnya yang rupawan dan tubuhnya yang atletis. Devano hanya tertawa. Ia tidak mau di atur-atur untuk sebuah pose yang membuatnya terlihat begitu murahan dan memuakkan. Bahkan untuk mereka-mereka yang berani mengambil foto Devano tanpa ijin pun siap-siap saja mendapat pelajaran setimpal atas perbuatannya. Oleh karena itu, sosok Devano hampir jadi mitos. Hanya kabar dari mulut ke mulut yang menceritakan bagaimana fisik dan rupa Devano. Meskipun begitu, Devano tetap menjadi idola banyak wanita. Jika beruntung, segelintir wanita yang mengidolakannya bisa bertemu dengannya di kelab. Banyak wanita yang tidak di kenalnya pun nyaris ingin bertekut lutut berharap bisa merobohkan dinding hati Devano. Devano yang kokoh dan tak tersentuh dan tak pernah sekalipun tertangkap kamera sedang bersama wanita.
Devano sendiri tak pernah peduli soal hati. Baginya, hidup adalah soal kekayaan dan kekuasaan. Memiliki dua hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa perlu berkomitmen dan terikat dengan siapapun. Ia laki-laki dewasa yang tidak begitu perlu dengan hal semacam itu. Apa pula itu pernikahan, tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya untuk di bahas lebih lanjut bahkan dengan kedua orang tuanya sekalipun. Hati Devano telah kering. Devano lupa merawat atau sekedar menggunakannya. Devano terlalu sering memakai otaknya untuk mengendalikan dan memutuskan banyak hal. Devano terbiasa berpikiran terbuka. Sebagai akibat terlalu lama ia tidak tinggal di Indonesia. Tidak akan menjadi masalah, selama ia tetap kaya raya.
Hingga di suatu waktu hidupnya tiba-tiba berubah. Saat secara tak sengaja ia bertemu dengan gadis sederhana, lugu, nan pemalu di mini market di suatu rest area saat ia dalam perjalanan bisnis di kota sebelah. Ia tak pernah setertarik itu pada orang asing yang baru pertama bertemu dengannya. Gadis yang begitu biasa dan tak seperti wanita kebanyakan yang sering ia temui. Gadis itu berhasil membawa pergi hatinya bahkan tanpa sempat melalui perkenalan. Devano baru menyadari, bahwa ia masih memiliki hati yang butuh seseorang untuk menempati. Hatinya butuh penghuni. Devano seketika langsung bersumpah dan berjanji akan menemukan gadis itu dan membuat perhitungan dengannya. Perempuan itu harus mengembalikan kunci hatinya yang turut ikut serta. Devano tak pernah menyangka, hatinya bertambat pada perempuan yang sama sekali tidak ia kenal dan sepertinya juga tidak mengenalnya.
Devano berencana mengerahkan kekuasannya melalui tangan-tangan ahli yang ia biayai sendiri untuk mencari orang-orang yang Devano incar. Jika biasanya Devano memerintahkan orang-orangnya untuk mencari orang-orang yang berusaha mencelakai atau menjatuhkan bisnisnya. Kali ini mungkin tugas mereka akan berbeda. Biasanya, orang-orangnya juga akan sekalian membereskan mereka-mereka yang menghalangi jalan Devano. Tetapi, kali ini Devano sendirilah yang akan turun tangan menangani gadis itu saat ia berhasil di temukan. Devano mulai menyusun berbagai rencana di kepalanya secara sistematis. Terkesan berlebihan memang, hanya seorang wanita yang ia temui sekilas dan tanpa perkenalan. Tetapi sudah membuat Devano bereaksi seakan bertemu dengan sebuah ide bisnis yang begitu menggiurkan. Devano tidak tahu, apakah menjalankan bisnis sama dengan menaklukkan seorang gadis. Yang Devano tahu hanya satu, wanita begitu suka uang dan perhiasan. Itu yang dapat Devano simpulkan dari sekian banyak wanita yang pernah ia kencani dalam satu malam. Tidak sampai menggunakan hati, Tak perlu memakai embel-embel cinta, yang penting uang ada semua wanita yang ia inginkan berhasil ia taklukkan. Walau hanya berhasil membuatnya tertarik dalam satu malam. Lalu bosan tanpa alasan. Mengulanginya, lagi dan lagi.