Hari ini hari yang melelahkan bagi Devano. Pekerjaannya di kantor menumpuk bagai menara. Ia sudah mencicilnya, tetapi bukan berkurang justru dokumen demi dokumen yang perlu ia cek terus berdatangan. Biasanya ia akan meminta asistennya untuk melakukan supervisi dan mengkoreksi lalu ia hanya akan membacanya sekilas, bertanya mengenai beberapa hal, dan menandatanganinya. Hari ini, tiba-tiba saja asisten pribadinya tidak masuk kerja. Ia ijin sakit. Tentu saja Devano mengijinkannya. Asistennya tipe pekerja yang loyal dan tidak pelit waktu. Jika ia ijin sakit maka ia beneran sakit dan benar-benar tidak mampu menghandel pekerjaannya. Devano si perfeksionis memilih mengerjakannya sendiri ketimbang menggantinya dengan yang lain. Ya, walaupun dengan konsekuensi ia tak bisa bersantai walau sedetikpun seperti hari ini. Tidak apa-apa, tidak setiap hari. Begitu batin Devano berkata. Devano mencicil dokumen demi dokumen, menerima telepon, membalas email, dan sesekali meneguk kopi hitam pekat dari cangkir di mejanya. Detik demi detik telah berlalu. Devano semakin tenggelam dan sibuk dengan pekerjaannya.
Tak terasa, hari sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu artinya jam kerja kantor sudah berakhir. Walaupun seorang CEO, Devano membiasakan dirinya hanya akan berurusan dengan pekerjaan kantor di jam kerja. Kalo urusan bisnis di luar jam kerja asistennya yang akan mengatur semua, itupun harus dengan appointment jauh-jauh sebelumnya. Devano berusaha memiliki ritme kerja yang teratur, terarah, dan terukur. Ia tidak menyukai kejutan dan dadakan. Amat sangat tidak suka.
Devano memiliki rencana berkunjung ke kelab malam langganannya. Ia sengaja sendirian tanpa sopir. Sebuah pilihan yang tidak tepat. Ia harus berjuang bersama banyak orang untuk melawan macetnya jalanan kota megapolitan. Tak kurang dari 2 jam ia terkurung di jalan raya. Dari semula sore menjelang petang hingga malam pun datang bersama bulan. Ia haus, perutnya pun keroncongan. Ia memindai seisi mobil, tak ada cemilan atau sebotol air sama sekali. Ia lupa. Tadi pagi ia menyuruh sopir untuk membersihkan sebersih-bersihnya. Devano lupa tidak menambahkan untuk mengisi mobil yang ia kendarai dengan camilan pengganjal lapar. Devano benar-benar merutuki hari ini. Ia berniat menjalani hari ini tanpa sopir dan asistennya berharap hidup memberinya persepsi baru. Yang terjadi justru ia terjebak di jalan raya dengan perut keroncongan dan kerongkongan kekeringan. Sudah lama Devano lupa rasanya haus dan lapar. Menyebalkan, sungguh menyebalkan. Sampai akhirnya tanpa sadar Devano membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket di pinggir jalan. Entahlah, biasanya sopirnya yang akan keluar dan membeli beberapa keperluannya. Hari ini dan segenap kesialannya, ia memilih turun dan memasuki minimarket seorang diri. Kasir segera menyapanya dengan ramah. Beberapa orang memperhatikannya dan Devano memilih mengabaikannya. Ia terbiasa menjadi perhatian. Tak peduli dimanapun ia berada. Devano meneliti seisi minimarket. Akhirnya Devano memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat rak minimarket sambil menenteng keranjang belanja. Benar-benar seperti bukan Devano biasanya.
"Rapi juga," gumam Devano.
"Aku akan menghabiskan beberapa menit disini. Lumayanlah sedikit merefresh diri. Jenuh juga di belakang kemudi ga bisa ngapa-ngapain selain nungguin macet terurai.''
Devano pun mengambil roti dan sekaleng minuman. Sambil membuka kaleng minumnya ia berjalan ke lorong paling ujung. Ternyata di sana tersedia perlengkapan praktis pria. Mulai dari parfum, shampo, minyak wangi, hingga shaver. Devano berlama-lama disana dan melihat-lihat. Ia terheran-heran dengan harganya. Ia biasa memakai parfum seharga puluhan juta dan di sini paling mahal tak sampai seratus ribu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Tak terasa ia berada di rak terakhir. Ternyata di rak tersebut tersedia berbagai merk k*ndom dan lubricant. Tentu saja, dengan harga yang sangat murah di banding yang biasa ia beli. Ia tergerak membelinya beberapa. Mulai dari yang biasa, ultra thin, ekstra safe, hingga yg bertekstur. Sempat terlintas rencana untuk membandingkannya dengan yang mahal saat sampai rumah nanti. Entahlah darimana jalan pikirannya bermula. Ide tersebut muncul begitu saja. Mungkin ia pun bisa memakainya saat nanti di kelab malam jika memang di perlukan. Sudah lama Devano tidak merasakan belanja seperti ini. Merasa sudah terlalu membuang-buang waktu, Ia pun menyudahi sesi belanjanya dan menuju kasir untuk menotal harga barang yang sudah ia pindahkan dari rak ke keranjang belanjanya. Sampai tiba-tiba..
"Mas, maaf belanjaannya jatuh."
Devano seketika menoleh, seorang perempuan menyodorkan kotak kecil hitam kepadanya sambil menunduk.
"Oh, makasih." Devano menerimanya dan perempuan itu berlalu sambil menatapnya sekilas dan sedikit tersenyum.
Devano terdiam. Beradu tatap dengan perempuan itu... Walau hanya sekian detik. Alis lebat yang menaungi kedua mata hitam yang menatap Devano penuh arti. Senyum hangatnya seketika merekah dan membuat napas Devano tertahan karena terkesima dengan auranya yang menyilaukan. Hanya beberapa detik.
Perempuan barusan bukanlah perempuan berpakaian kurang bahan dan bertubuh seksi seperti yang sering ia temui. Bukan pula perempuan berlipstik mencolok dan berambut warna warni. Bukan juga perempuan berbaju formal dan bersepatu hak tinggi seperti yang ada di kantornya setiap hari.
Ia perempuan biasa.
Berkulit putih langsat, rambut kucir kuda, hanya bercelana jeans, berkemeja longgar, dan memakai daypack warna biru. Yang sepertinya isinya agak berat. Ia benar-benar bukan perempuan yang biasa ia temui di kehidupannya selama ini.
Ia perempuan sederhana. Perempuan yang tampak begitu tulus tanpa suara yang di buat-buat dan tidak berlenggak lenggok yang berusaha menggoda seperti kebanyakan perempuan asing yang Devano temui. Itulah penyebab Devano selalu memandang rendah perempuan di sekelilingnya. Tak ada yang tulus untuknya. Semua perempuan mengincar harta dan kekuasaannya.
Ada perasaan mengembang di hatinya. Ia seperti oase di tengah gurun pasir. Devano sejenak lupa bahwa hari ini banyak hal tidak menyenangkan menimpanya. Ia seperti menemukan rumah yang pas untuk ia pulang. Ia merasa bahagia dan penuh cinta. Rasa yang sudah lama tiada tiba-tiba datang begitu saja melalui pertemuan beberapa detik yang entah dengan siapa. Devano terpaku di tempatnya.
"Mari, Mas." Perempuan itu bersuara lembut, lalu pergi.
Devano tersentak dan tersenyum malu. Ia menyadari bahwa sedari tadi dia memandangi perempuan itu tanpa berkedip. Sekagum itu Devano pada perempuan tersebut. Seketika itu pula ia merutuki nasibnya. Kotak kecil yang diserahkan perempuan itu adalah satu dari sekian k*ndom yang diambilnya dari rak tadi. Langit yang semula indah berbintang seketika berasa runtuh menimpa Devano. Mengapa dari sekian dikit belanjaannya, harus k*ndom yang jatuh dan ditemukan perempuan itu. Harga dirinya berasa di runtuhkan. Devano pun bersumpah dalam hati akan mencari tahu semua hal tentang perempuan itu setelah melihatnya berlalu meninggalkannya dengan senyuman kecil yang membuatnya mabuk kepayang. Devano akan mencari dengan segenap kekuatan dan kuasanya.