Devano Dharmawangsa adalah anak tunggal pemilik perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Banyak yang bilang Devano sukses karena warisan keluarganya. Padahal sebenarnya bukan. Ia sukses kaena didikan keras ayahnya dan manajemen waktu yang ketat oleh ibunya. Sejak usia 3 tahun ia sudah di sekolahkan. Diajari kursus Bahasa Inggris dan Perancis dengan metode ramah anak tapi mudah dimengerti. Ia pun sudah fasih berbahasa Mandarin di usia 5 tahun. Ia terbiasa memiliki jadwal kegiatan yang padat.
Tak seperti teman-temannya yang memiliki banyak waktu bermain. Mainan yang dimiliki Devano sangat terbatas. Itupun dikurasi ibunya supaya tetap ada peranan edukatif pada fungsinya. Jadilah ia, direktur di perusahaan multi nasional di usianya yang ke 18 tahun, lalu resmi menjadi CEO perusahaan ayahnya setelah lulus dari Harvard University dengan gelar Summa Cumlaude. Devano, lelaki tampan kaya raya yang di gilai banyak wanita. Namun karena pola hidupnya yang berorientasi dengan belajar dan bekerja, membuat ia sulit memiliki hubungan romantis dengan wanita.
Banyak yang mengira ia menjalani kehidupan jet set. Bergelimang perempuan cantik dan memiliki waktu bersantai yang banyak. Apa yang dibayangkan orang jauh berbeda dengan apa yang ia jalani.
Ia selalu mendapat fasilitas nomer 1. Terbang dengan first class. Mobil dinas seharga minimal setengah miliar, dan akomodasi selalu bintang 5. Namun, ia melewati itu semua dengan keadaan berpikir. Membuka puluhan email, menerima laporan macam-macam, dan telepon yang senantiasa berdering menunggu keputusannya tentang jalan perusahaan. Pekerjaannya tak mengijinkan dirinya bersantai sejenak. Perempuan cantik ada dimana-mana. Banyak yang menawarkan diri untuk dipakai. Ia hanya menyapanya dengan ramah, lalu menolak. Ia lebih memilih mencari perempuan yang sesuai keinginannya dan bersedia di bayar. Ia yang sepenuhnya mengontrol. Hanya beberapa jam dalam semalam untuk menuntaskan hasrat biologisnya. Ia tidak terlalu menikmati. Banyak pekerjaan yang tak bisa di tunda. Ia pun tak pernah larut dalam pesta-pesta gila. Ia hadir, tapi sebelum pesta benar-benar berakhir, ia sudah pergi dan menata energinya untuk esok hari.
Namun, hari itu memang lain. Ia sudah merasakannya bahkan dari pagi. Ia ingin pergi ke kantor sendiri tanpa sopir pribadi. Ia pun mengijinkan asistennya cuti kerja tanpa bingung mencari penggantinya. Ia benar-benar ingin seperti orang kantoran biasa. Bukan CEO istimewa. Ia ingin merasakan mengerjakan semuanya sendirian dan terjebak kemacetan.
Beberapa jam setelah pertemuan tak disangka dengan gadis itu. Berakhirlah ia di kelab alam langganannya. Secara resmi, ia bukan bos kelab itu. Tapi ia memiliki hampir 90% saham kelab tersebut yang akhirnya membuat ia mendapatkan apapun yang ada di kelab itu. Termasuk semua wanita yang berada di dalamnya.
Dalam temaram dan kelap-kelip lampu, serta musik yang menghentak-hentak keras. Orang-oran dalam ruangan itu menyempatkan diri untuk menoleh sejenak pada sosok Devano. Mengenakan setelan semi formal dengan nuansa biru membuat tubuh primanya amat mempesona. Rambut cepak tersisir rapi ke samping. Wajah tampan dan sorot mata yang dalam membuat semua orang ingin memandanginya terus-terusan.
Devano duduk di sofa sudut yang gelap. Para pengawal bersiaga di dekatnya tanpa diminta. Wine mahal disajikan di depannya. Dua wanita menggelayutinya mesra. Berusaha menarik perhatian. Satu diantarannya bahkan berani membelai inti tubuhnya dari luar. Devano jengah. Ia menepisnya. Dan itu pertanda perempuan itu harus undur diri dan pergi.
Devano memindai seluruh isi kelab. Pandangannya jatuh pada Disk Jokey seksi yang sibuk memutar-mutar piringan hitam di depannya. Energi musik malam ini tergantung pada keahliannya. Dan ia tampak begitu ahli.
Wanita itu mengenakan rok berbahan kulit berwarna hitam dengan bralette senada. Sepatu boot selutut dengan hak tinggi menghiasi kaki jenjangnya. Rambutnya tergerai indah dengan bibir merah mengkilap hasil pulasan lipstik. Ia seakan tahu bagaimana menunjukkan keindahan tubuhnya tanpa membuka ataupun memolesnya secara keseluruhan.
Devano pun memanggil pengawalnya dan membisikkan sesuatu. Setelahnya Devano meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ruangan pribadinya. Devano berdiri menghadap ranjang berlapis sprei putih tulang yang nyaman, rapi, dan tampak baru. Devano melonggarkan dasinya.
"Boleh saya masuk?", Seorang wanita tak lain Disk Jokey tadi sudah di ambang pintu. Wangi parfum aroma vanila sedikit powdery ikut menguar masuk tanpa permisi. Membaur dengan aroma maskulin tempat melepas penat Devano. Menjadi aroma baru yang membuat adrenalin terpacu.
Devano menoleh sekilas lalu mengangguk.
Wanita itu berjalan pelan ke arahnya dan berusaha memeluknya dari belakang. Refleks, Devano menangkap kedua tangan tersebut dan memutar tubuhnya. Sebelum akhirnya Devano melemparkan wanita itu ke ranjang. Tubuhnya memantul indah siap untuk di jamah.
"Aku yang mengontrol permainan ini dan kau akan ku bayar berapapun yang kau mau.''
Wanita itu hampir membuka mulut.
"Diamlah dan jangan membantah...''
Wanita akhirnya diam dan hanya mengangguk pasrah dalam pusaran Sang Player.
Devano mulai menenggelamkan wajahnya dalam lekukan leher sang DJ. Memberinya sentuhan demi sentuhan yang bersambung dengan lenguhan seolah pasangan lama tak jumpa. Reaksi biologis dua tubuh dewasa ingin melampiaskan hasrat yang membara. Panas dan tak terkendali jika Devano tidak memberinya batasan-batasan yang jelas. Devano sang Dominan.
Tangan Devano merayapi tubuh di bawahnya, mendekap, dan menjalarinya seolah sedang bermain denga Mahakarya Tuhan yang indah. Devano mendaratkan bibirnya ke persinggahannya malam ini. Ciuman yang panjang dan dalam hadir di antara mereka. Tari begitu menikmatinya. Ia rindu sentuhan Devano. Tidak ada laki-laki yang menyentuhnya seolah memujanya. Memuaskannya. Hanya Devano yang memuaskannya dan membayarnya dengan nominal tinggi. Sisanya, membayar dan minta di layani.
Hingga tiba-tiba..
Ciuman Devano menggantung di udara.
"Pliss, Dev. Terusin.'' Pinta Tari. Matanya memelas seperti kucing lapar haus belaian.
Devano memejamkan mata. Senyuman gadis itu ada di pelupuk mata.
Devano memilih turun dari ranjang dan mengabaikan Tari. Ia meraih ponselnya dan tampak menghubungi seseorang.
"Hallo.. cari data semua orang yang berkunjung di minimarket Sudirman jam enam sampai jam tujuh tadi. Ku tunggu dimejaku besok pagi.''
Devano meletakkan ponselnya dan duduk di tepi ranjang. Tari rungsing tapi sama sekali tak ia pedulikan.
"Dev, tanggung nih. Selesaiin yok.." Rajuk Tari badmood
"Berapa bayaranmu? Ku bayar segera dan pergilah dari sini.'' Sahut Devano acuh, sama sekali tak melihat Tari.
"Dev, aku lebih butuh kamu puasin. Aku gak butuh uang kamu."
"Aku yang mengontrol permainan ini, Tari. Kenakan pakaianmu dan pergilah dari sini. Aku tidak menginginkanmu."
"Dev, pliss..."
"Lakukan sekarang atau aku berubah jadi kejam"
Tari ketakutan dan segera memunguti pakaiannya asal. Devano terkenal sebagai player handal, kaya, juga arogan. Ia tak segan-segan untuk berbuat kasar pada perempuan yang tidak menurutinya.
"30 juta ya?, Ini rekeningku." Ucap Tari sambil menyodorkan selembar kertas.
"Taruh situ." Ucap Devano sambil melirik nakas. Hasratnya seolah hilang tanpa bekas.
Devano tak pernah sekalipun menghentikan permainannya di tengah jalan. Ia selalu menuntaskan hasratnya dan memuaskan partnernya. Malam ini, Ia berbeda. Devano juga tak sampai hati memahami pikirannya. Satu-satunya hasrat yang ia miliki adalah segera menemukan apa yang ingin ia cari.
Begitu kuatnya pengaruh gadis itu pada dirinya.