"Braakkkk...," Devano menggebrak mejanya dengan keras.
"Hanya ini yang datang ke minimarket itu? Hanya para laki-laki tak bermutu dan manusia-manusia jompo? Salah ini. Bukan ini yang aku butuhkan."
"Bos, kau minta data semua orang yang berkunjung ke sana jam 6 sampai jam 7 tadi. Ini sudah semua, Bos." Sahut Remi tenang.
"Bukan. Pasti ada yang salah. Oang yang ku temui kemarin tidak ada disini. Tidak ada satupun yang mendekati". Sahut Devano menyugar rambutnya.
"Salah apa dia, Bos? Sampai mampu membuat kau gusar dan perlu mencarinya begini?" Tanya Remi penuh rasa ingin tahu.
"Bukan urusanmu. Pergi !!"
Remi berdiri dan menuju pintu. Meninggalkan Devano dengan segala arogansinya.
"Who are you? Where ae you?", Devano begitu dihantui rasa penasaran.
Devano kembali mengecek data dari anak buahnya, lalu larut dalam pekerjaannya.
Esoknya, Devano mendatangi minimarket tempatnya bertemu dengan gadis itu. Memeriksa beberapa lokasi CCTV. Berharap ada yang menangkap wajah gadis itu untuk mempermudah pencariannya.
Devano tak pernah segila ini dalam berusaha menemukan seseorang. Menemukan jejak orang yang mencelakainya saja ia tak pernah turun tangan. Biasanya, ia akan meminta tolong asisten dan anak buahnya. Entah mengapa, kali ini berbeda.
Ia bahkan menerjunkan detektif sewaan terbaiknya untuk menyelidiki seseorang yang bahkan tidak ia ketahui nama dan tak ia miliki fotonya. Tentu saja sang detektif menolak. Bagaimana cara mencari seseorang hanya berbekal sekeping memori. Devano tak kehilangan akal. Ia mengundang ahli sketsa terbaik yang ia kenal, Robin. Ia akan meminta Robin membuat sketsa gadis itu.
Hari ini, Robin datang ke kantornya tepat waktu.
"So, mari kita mulai dengan bentuk wajah." Robin memberi intruksi sambil menyiapkan kertas dan aneka pensilnya.
"Wajahnya..." Devano tercenung. Menghidupkan kembali sekeping memorinya.
"Wajahnya oval sedikit lebar... Tulang pipinya menonjol tegas, matanya tidak sipit, tidak pula besar..." Devano memejamkan matanya, ia terdiam sejenak. Bayangan gadis itu kembali memenuhi pikirannya.
"Ia memiliki gigi kelinci, lesung pipi di sebelah kiri, rambutnya hitam legam dan sedikit ikal di bagian ujungnya. Senyumnya...." Devano terhenti. Memberi dirinya jeda akan sebuah rasa.
Robin meneruskn sketsanya sambil mendengarkan Devano dengan seksama.
Devano kembali terpejam. Masih terasa segar di hatinya. Senyuman itu, membuat sesuatu dalam dadanya berasa mekar.
"Bibirnya tipis, merah alami, & ..." Devano lagi-lagi terdiam.
"Ada tahi lalat kecil di sudut bibirnya." Sahut Robin.
Sontak Devano membuka mata dan menatap Robin lurus.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Devano
"Ah, aku hanya asal nebak. Kau tahu, aku kan ahli sketsa terbaik di negari ini." Robin menyombongkan diri.
"Sungguh, tebakanmu jitu sekali. Tak sia-sia aku membayarmu."
Robin mengarsir beberapa bagian gambarnya. Mengeceknya sekilas, lalu menyodorkannya pada Devano.
Devano menerimanya dan mengamati hasil sketsa Robin dengan seksama.
"Ngomong-ngomong. Buat apa sketsa itu, Dev? Kau punya buronan dengan wajah seperti itu?" Robin hafal betul, Devano sering menggunakan jasanya untuk membuat sketsa buronannya. Rata-rata sih laki-laki. Baru kali ini Devano memintanya membuat sketsa wajah perempuan.
"Hmmmm.. Aku sedang mencari seseorang. Mirip dengan gadis ini." Jawab Devano jujur. Ia tahu, Robin bisa menjaga rahasia.
"Dia habis mencelakaimu atau bagaimana?" Lanjut Robin ingin tahu.
"Aku... Hanya ingin mengenalnya." Devano tidak tahu kalimat yang tepat untuk mengutarakan keinginannya menjumpai gadis itu kembali.
"Itu saja?" Robin menyugar rambutnya. Tak habis pikir.
"Iya"
"Kau yakin? Hanya ingin mengenalnya? Tidak ingin mengencaninya?" Robin mencoba mencairkan suasana.
"Tidak, aku ingin menikahinya."
Mereka berdua tertawa.
Sungguh bukan kebiasaan Devano seperti ini. Minta dibuatkan sketsa seorang gadis asing dan berniat menikahinya. Entahlah, Robin tak ingin ikut campur lebih lanjut.
"Baiklah, ku pikir tugasku sudah selesai dan sekarang hampir jam makan siang. Aku pamit dulu. Semoga kau segera bertemu gadis itu dan berjodoh dengannya" Robin tersenyum.
"Okelah. Hati-hati. Makasih ya!" Devano melonggarkan dasinya.
Sepeninggal Robin, Devano kembali mengamati sketsa di depannya. Ia tampak begitu hidup dan mampu membuat sebuah rasa di dadanya menggeliat. Ah, mungkin aku hanya penasaran, begitu batin Devano berkata.
"Remi, nanti malam datanglah ke apartemenku. Ada tugas penting menunggumu." Devano menghubungi Remi melalui sambungan nirkabel.
Malamnya, Remi mendatangi apartemen Devano.
"Gimana, Bos? Apa tugasku?" Remi to the point. Remi paham. Devano tidak suka membuang waktu dengan basa-basi.
"Temukan gadis ini secepatnya." Devano memberi intruksi sambil menyodorkan map berisi hasil sketsa Robin.
Remi menerimanya tanpa bertanya apapun dan langsung undur diri.
"Duh, dimana aku harus mencari gadis ini. Modal sketsa doang ga ada keterangan nama kek.. alamat kek.. instansi kek.. sosmed kek.. wuasem si boss" Remi menyetir sambil ngomel-ngomel sendiri. Remi merutuki nasibnya.
Remi sampai di kediamannya dan langsung masuk ruang kerjanya. Ia menyalakan komputer canggih miliknya dan iseng ngecek CCTV minimarket Sudirman. Ia memperhatikan dengan seksama setiap orang yang lalu lalang dan keluar masuk minimarket tersebut. Dari rentang jam 6 hingga jam 7. Ia berharap barangkali ada yang terlewat. Tidak ada yang mirip dengan si gadis dalam sketsa. Remi pun iseng ngecek CCTV jam 7 ke atas dan tiiitttttt.... hanya layar buram abu-abu terpampang di depannya. Remi pusing di buatnya. Bisa jadi, gadis itu masuk minimarket jam segitu. Karena tidak ada orang lain yang keluar dari sana setelah jam 7 lebih 6 kecuali Devano. Remi bingung harus mencarinya dari mana. Hanya CCTV itu yang memiliki kemungkinan besar untuk mengambil sidik jari dan kornea mata. Sepertinya nasib baik tidak mau berpihak kepadanya.
Dua hari berlalu.
Remi masih belum ada kabar.
Devano geram. Remi adalah manusia cerdas yang ia bayar mahal untuk urusan beginian. Biasanya, tak sampai 12 jam petunjuk pertama sudah ia pegang. Bahkan, ketika polisi kesusahan mencari di database mereka. Bisa dikatakan Remi sangat ahli.
Empat hari berlalu.
Akhirnya Devano menghubungi Remi duluan.
"Remi gimana? Ada kabar?" Devano bertanya tanpa salam lewat ponselnya.
"Belum ada, Bos. Maaf ya? Sepertinya dia termasuk satu dari segelintir orang yang tidak masuk database. Dan secara kebetulan CCTV minimarket sudirman mati dari jam 07.00 sampai jam 07.05. Lalu aku melihatmu keluar di jam 07.06. Berarti kan bisa di simpulkan kau bertemu gadis itu di jam tersebut." Sahut Remi tenang. Ia sudah berusaha maksimal.
"Begitu, ya?" Ada nada kecewa pada suara Devano.
"Iya, Dev. Jadi kau bisa beri aku waktu lagi atau katakan padaku jika aku harus berhenti." Ucap Remi yang membuat Devano bimbang.
"Lanjutkan saja, Remi. Aku akan tetap membayarmu penuh jikalau tidak ketemu dalam dua minggu ke depan. Dan aku akan memberimu bonus seperti biasa jika kau berhasil menemukannya." Devano akhirnya memutuskan.
"Baiklah. Akan aku usahakan semaksimal mungkin. Aku akan mengabarimu jika ada perkembangan. Aku sudahi dulu ya! Bye." Ucap Remi mengakhiri sambungan selulernya.
Kenapa kamu sulit sekali dicari wahai gadisku?, Devano membatin sambil memandangi sketsa yang ia pegang.