Hari ini Devano suntuk sekali. Pekerjaannya menumpuk. Meeting datang silih berganti. Banyak hal yang harus ia putuskan demi kemajuan perusahaan yang ia pimpin. Devano kelelahan dan ingin memanjakan dirinya di kelab. Ia berencana langsung ke kelab begitu jam kerja usai. Tak peduli jika kelab masih tutup. Ia akan bersantai di ruang pribadinya nanti.
Sekarang, ia sudah bergelung di jalan. Berjibaku dengan kemacetan ditemani sopir dan asistennya. Kabin mobil yang lega dan silent memungkinkan ia menyelesaikan beberapa pekerjaan ringan selama dalam perjalanan.
Setelah dua jam membelah padatnya kendaraan di jalan raya. Akhirnya ia sampai di lobi kelab. Asistennya masuk duluan menyiapkan keperluannya di dalam dan sopirnya menuju parkiran. Sampai tiba-tiba..
Brakkk....
Devano hampir terjungkal ke samping. Aneka kue basah berceceran di sekitarnya.
"Mas, maaf saya tidak liat. Saya tergesa-gesa sampai tidak lihat bahwa ada orang di depan saya." Wanita itu menunduk sambil memunguti kue nya yang berceceran.
"Heh, kamu itu jalan pake mata. Tempat seluas dan sesepi ini bisa-bisa kamu nabrak saya. Sengaja ya?" Devano emosi, bajunya sedikit kotor. Ia lumayan lelah, tapi masih harus menghadapi hal tak terduga saat asisten dan sopir baru saja meninggalkannya.
"Sekali lagi maaf, Mas. Saya beneran nggak sengaja." Wanita itu membungkuk berkali-kali yang disambut dengan Devano yang melengos pergi tanpa menoleh sama sekali.
Wanita itu memberanikan diri untuk mendongak. Memperhatikan lelaki yang baru saja ia tabrak.
"Lelaki itu dari belakang aja tampan. Sayangnya arogan." Batin wanita itu berkata.
"Well.. Apa yang harus ku lakukan dengan kue-kue ini? Banyak juga yang hancur," Naura memilah-milah kue nya. Banyak yang tidak selamat. Ia begitu sembrono. Sampai-sampai menabrak lelaki tadi dan menjatuhkan kue-kue nya. Ia juga sampai terjatuh dan menimpa kue-kue nya. Itulah mengapa banyak dagangannya yang tidak bisa ia selamatkan. Dan laki-laki itu.. memakinya lalu melengos pergi begitu saja. Tidak menolongnya, minta maaf, atau sekedar menerima permohonan maafnya.
Naura akhinya memutuskan tetap masuk ke kelab dan langsung menuju arena bar.
"Mas Andra.." Sapa Naura saat satu barista menoleh kepadanya.
"Loh, Dee.. Mana kue mu? Kog keranjang kosong doang yang kamu bawa?", Andra celingak celinguk melihat sekitaran Naura. Berharap ia salah liat.
"Maaf, Mas.. Hari ini aku gak setor kue ya?"' Ucap Naura sayu.
"Loh, la terus ngapain kamu kesini? Kalo gak bikin kan kamu bisa WA gak perlu jauh-jauh datang kesini", Ucap Andra lembut.
"Tadi sebenarnya aku bawa kue kaya biasanya, Mas. Tapi tadi di lobi aku nggak hati-hati. Aku nabrak orang dan kue ku jatuh berhamburan. Banyak yang tidak bisa ku selamatkan, Mas. Akhirnya aku buang aja ke tempat sampah. Yang masih layak aku kasih ke satpam sama valet." Naura menjelaskan apa yang barusan menimpanya.
"Yah, kamu ini. Kena musibah masih sempat-sempat nya kasih orang." gerutu Andra.
"Ya Udah, Mas. Pamit dulu. Sekali lagi maaf ya? Besok aku setorin lagi seperti biasa."
"Iya, Dee.. Besok hati-hati. jangan nabrak orang lagi. Sana gih cepet pergi. Keburu rame." Suruh Andra yang mulai sibuk menata gelas dan mengelapnya satu persatu walau sudah bersih.
"Iya, Mas. Makasih." Naura menuju pintu keluar. Tanpa disadari, tampak sepasang mata mengamati interaksi mereka dengan seksama.
Beberapa saat kemudian..
"Tadi siapa, Ndra??" Andra tersentak kaget. Hampir saja gelas di tangannya terlepas. Devano sudah berada di depannya.
"Eh, Pak Devano.. Mau dibuatin minum apa, Pak?", Ucap Andra gagap. Tak pernah sekalipun bos-nya bos satu ini menghampirinya.
"Nggak Perlu. Aku cuma pengen tahu siapa wanita yang kau ajak ngobrol tadi..", Ucap Devano tanpa basa basi.
"Oh, itu tadi supplier dessert kita, Pak. Yang bentukannya jajanan pasar. Ibunya yang bikin, Dia yang ngantar." Jelas Andra.
"Siapa namanya?" Tanya Devano. Tak ada nada ramah keluar mengiringi suaranya.
"Naura, Pak. Kenapa, Pak? Naura ada salah sama Bapak? Bapak bilang aja salahnya apa. Nanti saya sampaikan." Ucap Andra takut salah ucap. Bos nya satu ini terkenal seenak jidat jika tersinggung. Andra sendiri tak ingin sampai di pecat hanya karena salah ucap.
"Dia pacarmu?" Tanya Devano kepo dan spontan. Entah mengapa pertanyaan itu tiba tiba keluar dari mulutnya dan meluncur dari mulutnya.
"Ku tembak nolak mulu." Ucap Andra malu-malu mengingat kejadian yang telah lalu.
Devano tersenyum masam sambil berlalu. Belum apa-apa sudah ada yang mendahului langkahnya untuk mendapatkan gadis incarannya.
Dalam hati Andra penasaran. Kenapa Sang Devano menanyakan soal Naura. Ah, entahlah. Andra harus menyimpan rasa penasarannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di ruangan lain.
Devano merebahkan dirinya di sofa.
"Ya, Tuhan. Kau hanya berjarak seujung kuku denganku. Tapi kenapa aku tidak tahu??"
Dua bulan berlalu. Devano sudah mengerahkan segala kekuasaannya untuk menyelidiki wanita itu. Tanpa hasil yang signifikan. Dan sekarang, apa yang ia cari muncul begitu saja di depan mata.
Devano menekan tombol interkom di dekatnya.
"Ke ruanganku sekarang!!"
Asisten-nya tiba dalam waktu kurang dari dua menit.
"Duduklah..." Titah Devano sambil meraih sebuah botol dan dua gelas kosong. Melalui tangan Devano, berpindahlah isi botol ke gelas gelas itu.
"Cari semua hal tentang Naura." Ucap Devano sambil menyodorkan satu gelas untuk asistennya. Sungguh satu hal di luar kebiasaan bos nya.
"Naura siapa, Bos?"
Devano lupa. Ada banyak Naura di luar sana. Duh, Devano selalu saja mengira orang akan langsung paham apa maksudnya tanpa perlu menjelaskan lebih lebar.
"Lupakan Naura. Cari data semua orang yang suplai fresh product di kelab ini !!" koreksi Devano. Ia malu jika asistennya tahu ia terlalu kentara mencari seseorang. Padahal biasanya, ia akan biasa-biasa saja soal apa saja. Entahlah.
Tak butuh lama, Remi, asistennya, datang dengan sebuah map dan langsung memberikannya pada Devano. Devano membuka lembar per lembar isi map tersebut sampai akhirnya ia menemukan satu nama yang ia cari.
"Cari semua hal tentang orang ini !" Devano memberikan perintah sambil menyodorkan satu lembar kertas dari map sebelumnya. Remi menerimanya dan membaca sejenak lalu pergi. Esoknya, Remi kembali dengan berkas di tangan yang berisi semua dokumen tentang Naura. Urusan mencari identitas orang selalu bisa di kerjakan Remi dengan cepat.
"Ini, Bos.. silahkan di cek."
Devano membukanya. Foto Naura dengan beragam angle, data pribadi, riwayat pendidikaan dan riwayat kesehatan pun tertera lengkap di situ. Devano mengambil selembar foto. Tampak Naura berjalan di area kumuh.
"Aku tidak ingin melihatmu di tempat ini lagi, Naura.." Devano membatin.
Devano segera menyusun rencana agar pertemuannya dengan Naura terjadi seperti kebetulan dan secepatnya.