Hari ini sepertinya akan jadi hari yang melelahkan bagi Naura. Banyak hal yang harus ia kerjakan. Pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh ia sudah bangun untuk mencuci baju dan mandi. Lalu berkutat di dapur menyiapkan makanan dan aneka bahan kue yang akan di olah ibunya nanti siang. Ibunya yang sakit-sakitan tidak ia ijinkan melakukan banyak aktivitas berat. Sebagai gantinya, Naura mengambil sebagian besar pekerjaan rumah tangga di rumahnya agar ibunya tidak terlalu kelelahan namun tetap aktif bergerak.
Naura sudah menyiapkan sarapan dan kotak bekal makan siangnya saat ibunya bangun dan menemuinya di dapur.
"Eh, Ibu sudah bangun? Ini bu aku masak opor tahu. Cukup buat sarapan dan makan siang ibu." Ucap Naura sambil memasukkan kotak bekal makan siangnya ke dalam tas.
"Iya, Nak. Maafin ibu ya? Semenjak ibu sakit kamu setiap hari harus begini", Ucap Ibu Naura menatap iba.
"Ah, tidak masalah. Aku hepi dengan situasi seperti ini, Bu. Aku ngerasa lebih produktif dan bermanfaat. Apakah ibu lupa? Saat Naura kecil dan belum bisa apa-apa Ibu yang menyiapkan segala kebutuhan Naura. Ini tidak ada apa-apa nya, Bu. Dah, Ibu jangan sedih. Naura pamit dulu ya?" Naura menggamit tangan ibunya. Menciumnya dengan takzim.
"Iya, Nak. Hati-hati ya?"
"Telpon ya, Bu jika ada apa-apa. Ibu jangan terlalu capek. Oke?" Naura keluar dari rumahnya dan berjalan kaki menuju halte bus. Ia perlu 10 menit untuk melakukannya. Hari masih pagi. Bus yang akan ia tumpangi biasanya akan datang 15 menit lagi. Sambil menungu bus yang datang. Naura membuka materi yang akan ia ajarkan ke anak didiknya nanti.
Bus yang ia tunggu sudah datang. Hanya menyisakan satu kursi kosong di tengah. Ia pun segera mendudukinya. Naura kembali membuka buka materinya dan membacanya ulang sambil menggarisbawahi bagian yang menurutnya penting. Biasanya ia akan cuek dengan penumpang sebelahnya atau siapapun di dalam bus. Tidak ada juga yang peduli dengannya. Entah kenapa hari ini Naura merasa pria yang duduk di sebelahnya memperhatikannya terus menerus. Beberapa kali Naura menoleh berusaha memastikan. Namun pria di sampingnya tampak memejamkan mata seperti tertidur. Hoodie yang menutup kepala dan headset yan menyumbat kedua telinga melengkapi penampilannya. Naura sendiri tentu akan ber-style demikian jika ia tidak akan mengajar sekalian ke kampus.
"Entahlah. Mungkin aku hanya kepedean." Begitu akhirnya Naura menyimpulkan.
Ciitt....
Bus yang Naura tumpangi tiba-tiba mengerem mendadak. Di saat yang sama Naura sedang mengambil pulpen yang tak sengaja ia jatuhkan. Hampir saja kepalanya membentur kursi di depannya. Untung saja sebuah tangan melindungi keningnya. Tangan pria di sebelahnya.
"Oh, maaf mas. Tangannya jadi kebentur kursi." Naura memandang pria tersebut. Pria tersebut hanya diam dan memandangnya sekilas. Menyedekapkan tangannya dan kembali memejamkan mata tanpa berujar sepatah kata pun.
Naura merasa tidak asing dengan pria tersebut. Ia seperti pernah bertemu entah dimana. Naura mencoba mengingat-ingat.
Tak terasa bus yang ia tumpangi sudah sampai pemberhentian yang ia tuju.
"Kiri, Pak" Naura turun dari bus dengan buku di tangan dan ransel di bahu. Ia segera masuk gang dan menyusuri setapak di depannya. Tak perlu waktu lama untuk jalan kaki, Naura sampai di bangunan beratap seng karatan dan berdinding seadanya. Bangunan yang tampak mencolok dan paling besar di antara bangunan kumuh di sekitarnya. Disitulah tempat Naura menghabiskan waktu 4 jam dalam sehari, 4 hari dalam seminggu untuk mengajari anak-anak pemulung membaca, menulis, dan berhitung.
Begitu Naura datang. Anak-anak yang berhamburan di sekitar bangunan segera berkumpul dan menyalami Naura satu per satu lalu masuk ke dalam bangunan yang mereka sebut kelas. Ruangan dengan bangku panjang dan kursi panjang berderet 3 ke belakang dengan panjang sekitar 2,5 meter. Mereka terbiasa duduk berjejer di situ. Anak-Anak dengan rentang usia 5 sampai 12 tahun itu belum begitu bisa membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga tak punya cukup uang untuk masuk pendidikan sekolah negeri. Naura lah yang dengan suka rela menjadi guru bagi mereka.
"Oke, Anak-anak. Sebelum belajar mari kita berdoa dulu di pimpin oleh... Satria" Naura menunjuk satu anak didiknya yang paling besar.
"Baik, Bu" Anak-anak menyahut kompak. Satria segera berdiri dengan sigap untuk mempimpin doa.
"Teman-teman. Sebelum kita belajar hari ini. Mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai." Ucap Satria sambil menundukkan kepalanya dengan khidmat di ikuti oleh teman-temannya.
"Berdoa selesai." Lanjut Satria sambil mengangkat kepalanya, lalu duduk dan di ikuti anak-anak lainnya.
"Baik, hari ini ibu tidak akan mengajari kalian calistung. Ibu akan..."Naura mengambil sesuatu dari tas-nya.
"Taraa...." Naura mengeluarkan boneka kecil dari tas-nya lalu memasang boneka sapi di tangannya.
"Ibu hari ini akan mendongeng!"
"Horeee...!!", Anak anak bertepuk tangan dengan ceria. Itu artinya mereka tidak perlu berpikir keras seperti saat calistung. Mereka bisa bersantai, tertawa, dan bahagia menyimak dongeng Naura.
"Ada seekor anak sapi yang malas sekali membaca. Dia bilang, ibuku selalu saja menyuruhku membaca, baca, baca terus. Padahal kan, aku malas membaca", Naura mengecilkan suaranya sambil menggerak-gerakkan boneka sapi tersebut. Ia membuat ekspresi dan suara selucu mungkin.
"Kemudian, anak sapi tersebut pergi dari rumah dan berjalan-jalan ke hutan. Di Hutan ada papan bertuliskan *Dilarang masuk, ada banyak buaya disini*. Anak sapi hanya melihatnya sekilas dan tidak mau membacanya." Naura mengambil boneka kura-kura.
"Anak sapi terus berjalan mendekati sungai sampai bertemu kura-kura. Si Kura-kura berkata *Hai, anak sapi! Apa kau tidak baca papan disana. Disini banyak buaya. Kenapa kau malah datang kesini?* Si kura-kura memperingatkan anak sapi."
"Anak sapi bilang *Oh, Benarkah? Aku malas membaca, aku tidak suka membaca. Lagian aku juga haus. Aku akan minum sebentar di sungai. Sepertinya menyegarkan*. Anak sapi mengabaikan peringatan kura-kura."
Anak-anak menyimak dongeng Naura dengan seksama.
"Anak sapi terus berjalan ke sungai untuk minum. sampai tiba-tiba ada seekor buaya menampakkan diri di depannya. Anak sapi terlonjak kaget dan mundur ketakutan. Ternyata di kanan dan kirinya ada buaya yang mulutnya terbuka lebar siap menerkam. Anak sapi segera lari terbiri-b***t menyelamatkan diri. Bahkan ia hampir saja menginjak kura-kura. Wah, andai anak sapi membaca papan tadi ya? Pasti ia tidak perlu lari terbirit-b***t karena buaya. Sejak saat itu, anak sapi jadi rajin membaca. Ia tidak mau lagi di kerja-kejar buaya karena malas mebaca." Naura menyudahi dongengnya di sambut tepuk tangan anak didiknya.
"Hayo anak-anak. Siapa disini yang tidak suka membaca angkat tangan.." Naura memandang anak didiknya satu per satu.
Anak- anak tertawa cekikikan sambil saling tunjuk. Naura tersenyum melihatnya.
"Siapa di siniyang suka membaca? Angkat tangan."
"Aku..!!"
"Aku, Bu..!!"
"Saya, Bu..!!"
Anak-anak saling menyahut dengan ramainya.
"Baik, yang suka membaca Ibu kasih hadiah ya? Silahkan ambil boneka ini satu persatu ya? gak boleh berebut." Naura membuka tasnya lebar-leba. Menyuguhkan belasan boneka kecil beraneka karakter.
"Horee..!"
"Asyik..!!"
Mereka satu persatu mengambil boneka yang dibawa Naura. Tak lupa Naura mengabsen satu-persatu anak didiknya agar tahu siapa yang tidak hadir hari ini. Jarang sekali anak didiknya masuk dengan serentak. Ada saja yang alpa. Biasanya mereka memilih tidak masuk sekolah karena perlu membantu orang tuanya memulung sampah. Naura tidak melarang. Tidak ada pilihan bagi mereka. Naura lah yang memilih mengabdikan ilmu yang ia miliki untuk sekolah gotong royong ini. Naura dengan ikhlas menjadi pendiri, guru, pengurus, donatur, dan menjembatani sekolah ini dengan dunia luar. Ia menerima siapapun yang mau menyumbang ilmunya ataupun mendonasikan yang mereka punya untuk sekolah ini. Naura mengajari anak didiknya baca, tulis, dan berhitung dengan telaten. Naura berharap, dengan bekal tersebut anak didiknya bisa memiliki kesempatan lebih baik ketimbang orang tua mereka yang kebanyakan buta huruf. Tidak mudah, tapi tidak ada yang tak mungkin. Begitu prinsip teguh Naura.
Naura menutup kelas hari ini dengan pelajaran berhitung yang mudah. Jam 11 siang, jam anak didiknya banyak yang pulang. Naura masih ada di kelas. ia membereskan buku-buku yang ada di lemari.
"Mbak Naura.." Serang ibu gemuk memanggilnya pelan.
"Dalem.. Oh, Bu Surti. Masuk, Bu. SIlahkan duduk sini."
Bu Surti duduk di kursi dekat Naura. Ia menyerahkan sebuah kresek hitam kecil.
"Ini buat Mbak Naura. Maaf cuma sedikit." Bu Surti menunduk takzim.
"Ah, Ibu gak usah repot-repot. Kenapa bawa-bawa bingkisan gini, Bu?", Naura menerimanya dan mengintip isinya sekilas. Beberapa lembar uang lusuh yang di gepit dengan karet gelang. Naura berniat menyerahkannya kembali.
"Maaf ya, Mbak. Cuma sedikit. Ini sebagian gajinya Udin yang dikasih ke saya. Dia sekarang kerja di warung padang. Lumayan gajinya ketimbang bantu saya cari rosokan, Mbak." Bu Surti menolak halus seakan tahu bahwa Naura tidak akan menerimanya.
Tak enak hati, Naura memilih menyimpan bungkusan tersebut ke dalam tas.
"Makasih, Bu. Puji syukur ya, Bu. Semoga Udin betah di sana dan lancar kerjanya ya, Bu?"
"Amin. Makasih ya, Mbak. Berkat Mbak anak saya jadi bisa baca tulis. Jadi punya kerjaan layak. Pamit dulu ya, Mbak. Mau milah barang." Bu Surti segera berdiri disusul Naura.
"Ayo, Bu. Mari. Sekalian saya juga mau pulang." Narua dan Bu Surti beriringan keluar kelas. Mereka berpisah di depan rumah Bu Surti. Naura meneruskan langkahnya ke jalan raya. Ia berniat menyetop angkot untuk pergi ke kampusnya.
Naura duduk di halte sambil menyantap bekal makan siangnya. Tepat saat makan siangnya habis ada taksi yang berhenti persis di depannya. Sang sopir lantas membuka kaca mobil.
"Naura, ya? Silahkan masuk, Mbak. Saya siap antar kemanapun tujuannya tanpa perlu bayar." Sang Sopir berkata lugas.
"Hah! Mmmm", Naura tergagap. Seumur-umur ia tak pernah menyetop taksi. Ia pernah sekali menyewa taksi bersama teman-temannya. Itupun sharing cost dan jatuhnya tetap mahal bagi Naura.
Melihat Naura tidak segera merespon. Sang sopir yang tampaknya masih muda itu segera turun dan membuka pintu belakang.
"Silahkan masuk, Naura."
Setelah beberapa saat Naura mulai menguasai keadaan dan melirik jam tangannya. Sudah hampir terlambat. Akhirnya Naura memutuskan memutuskan naik ke taksi tersebut dan di susul pintunya di tutup oleh si sopir. Naura merasa di perlakukan begitu baik. Taksi tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Naura tidak menyia - nyiakan waktu senggangnya untuk membuka - buka catatan kuliahnya.
"Kita kemana, Mbak Naura?", Snag sopir mencairkan suasana sepi di mtaksi.
"Oh, ke kampus Dharma Bhakti, Pak. Oh iya, Ini serius gak bayar yah?" Naura bertanya penasaran. Sekadar memastikan.
"Iya!" Si Sopir menjawab pasti.
"Ada program apa, Pak? Kog bisa kebetulan saya? Padahal saya bukan langganan Bapak? Eh, Mas.." Tepat saat si sopir menoleh. Naura jadi tahu jika sopir tersebut masih seumuran dengannya. Atau mungkin hanya selisih beberapa tahun di atasnya.
"Ya ga ada apa apa, Mbak. Saya suka random kasih tumpangan ke orang. Hitung hitung amal, Mbak. Mbak Naura ini yang ngajar di sekolah dekat TPA itu ya?"
"Iya, Mas. Kog tahu?"
"Karena aku begitu terpesona dengan ketulusan hatimu, Naura." Batin sang sopir berkata.
Akhirnya sopir tersebut memilih jawaban lain." Oh, Iya denger dengar aja mbak. Katanya ada sekolah darurat gitu yang ngajar gantian dan pengajar tetapnya cuma Mbak Naura gitu katanya. apa betul?"
"Iya, Mas." Naura tersenyum. Baru kali ini ada orang yang mengenalnya tanpa ia kenal.
Tak terasa Naura sudah sampai di kampusnya.
"Ini beneran gak bayar, Mas?" Naura kembali memastikan.
"Iya benar. Silahkan turun dan selamat belajar Mbak Naura"
"Iya, Makasih Mas." Puji syukur hari ini. Banyak orang baik untuk Naura.
Naura turun dari mobil tersebut dan melambaikan tangan. Mobil tersebut kembali mebaur dengan aneka kendaraan lainnya di jalan raya.
"Ya Ampun. Kog aku tadi tadi gak minta kenalan ya? Padahal kan orangnya kenal aku. Baik banget pula. Aduh.." Naura baru tersadar. Ia terlalu larut dalam obrolan sampai lupa berkenalan.
**
Devano kembali ke kantornya bercucuran peluh. Seharian memata matai Naura secara langsung benar benar membuka matanya. Ia, yang sempat berpikir untuk tidak membiarkan Naura di TPA jadi tahu. Bahwa Naura di sana karena sebuah misi mulia. Naura menjadi guru dari puluhan anak pemulung secara suka rela. Devano jadi tahu, bahwa di luar sana banyak sekali keluarga miskin yang kondisinya miris. Banyak orang yang tinggal di tempat yang bahkan lebih sempit dari kamar mandi di apartemennya. Devano juga jadi tahu, ada orang yang perjuangannya sangat keras, manajemen waktunya sangat baik, tapi uang yang dihasilkan begitu sedikit. Orang tersebut tetap melakukannya atas dasar kebaikan. Naura benar-benar menyuguhkan dunia lain bagi Devano.
"Naura. Bolehkah aku menyebutmu Naura ku?", Devano berucap lirih sambil mengusap sebuah foto.