Devano berencana menjadi sopir taksi lagi hari ini. Ia sudah bersiap dengan seragam dan taksi sewaanya. Ia berencana menunggu Naura pulang di depan kampusnya. Menurut informannya, Naura biasa pulang jam 3 dari kampusnya, Lalu naik bus kota dan langsung menuju rumah. Sesekali mampir belanja.
Devano sudah berada di depan kampus Naura semenjak 10 menit yang lalu. Ia mengawasi dari jauh barangkali Naura bersiap untuk pulang. Ia akan siap sedia di depannya menjadi taksi gratisan seperti kapan hari.
Naura bersiap untuk pulang. Ia hampir mencapai gerbang kampusnya saat Stefen menghadangnya.
"Naura barengan sama aku yuk?", Stefen menawarkan boncengan seperti biasa.
"Nggak usah, Stef. Kita beda arah." Naura menolak halus. Terlalu sering Stefen menawarkan tumpangan.
"Udahlah hayuk. Kangen kue bikinan ibumu nih." Stefen menyodorkan helm.
Devano melihatnya ketar ketir. Berharap Naura menolak.
Naura merasa tidak ada pilihan. Stefen laki-laki baik yang sering mampir ke rumahnya dan cukup akrab dengan ibunya. Itung-itung hematlah, lumayan buat tambah uang sekolah anak - anak. Akhirnya Naura menerima tawaran Stefen.
"Baiklah, Hayuk!" Naura menerima helm Stefen dan menaiki jok belakang. Stefen segera nancap gas menuju jalan raya.
Devano menggenggam kemudinya erat.
"Siapa laki - laki itu? Apa pacar Naura? Sialan, dia mengagalkan rencanaku. Awas kau ya!". Devano kesal, sia - sia ia bermain peran hari ini.
"Remi, cari tahu siapa laki-laki yang dekat dengan Naura saat ini. Sepertinya ia sekampus dengan Naura." Devano menghubungi Remi saat itu juga.
**
"Kau masih mengajar di sekolah itu, Naura?", Stefen membuka pembicaraan.
"Iya, Steff. Kenapa? Kau berniat bergabung lagi?", Stefen beberapa kali menemaninya mengajar. Sesekali membantunya mengurus sekolah tersebut. Banyak teman - teman di kampusnya membantunya seperti itu. Namun jarang ada yang bertahan lama.
"Kapan - kapan boleh ya? Kangen juga. Lama tidak kesana."
"Boleh aja. Asal kau tidak mengeluh kepanasan lagi. dan gak jijik dengan aneka barang di sana. Maklumlah namanya di TPA. Gak bisa kalo gak kumuh, Steff.", Beberapa kali Stefen kesana. Dan beberapa kali itu pula Stefen selalu mengeluh kepanasan dan jijik dengan para anak didiknya pada Naura. Yang berakhir dengan Naura melarang Stefen kesana lagi. Demi ketenangan Naura dan anak didiknya yang tidak banyak mengeluh tentang keadaan. Mereka sampai di depan rumah Naura setelah 30 menit perjalanan. Ibu Naura sedang menyiram tanaman saat mereka sampai di depan rumah.
"Sore, Bu.", Stefen menggamit tangan ibu Naura lalu menempelkan pada keningnya. Salim dengan takzim. Di susul Naura.
"Eh, Nak Stefen. Gimana kabarnya? Lama ndak kesini." Ibu Naura menghentikan aktifitasnya. Mereka berjalan beriringan masuk ke rumah.
"Puji syukur baik, Bu. Ibu gimana kabarnya? Tambah seger aja."
"Ya beginilah. Naura melarang Ibu banyak bergerak. Padahal ibu sudah sehat begini. Sebentar ya Ibu ambilin kue sama minum."
"Nah ini yang aku tunggu - tunggu, Bu. Kangen nih sama kue bikinan ibu." Stefen jujur. Kue bikinan ibu Naura begitu enak.
"Masih sering nganter kue ke kelab, Naura?", Stefen menanyai Naura sambil menunggu Ibu Naura keluar dari dapur.
"Iya. Setiap hari aku kesana.", Sahut Naura jujur.
"Nggak di godain cowok - cowok?"
"Enggak lah. Mana ada yang mau sama aku?" Naura tersenyum. "Lagian kan aku kesananya pas belum buka. Ga begitu banyak orang."
"Begitu ya?", Saat yang sama ibu Naura keluar dari dapur membawa sepiring kue dan 2 gelas minuman hangat dalam nampan.
"Hmmm... Harumnya. Padahal belum nyampe meja ya, Bu?",
"Nak Stefen bisa aja. Silahkan di icip kue nya, Nak."
Stefen mencomot satu. Memasukkan ke mulutnya dan mengunyah dengan pelan. Rasanya masih enak seperti dulu.
"Enak, Bu. Sama kaya dulu. Mamaku suka kue buatan ibu. Boleh ya nanti bungkus dikit. Buat oleh- oleh mamaku. Pasti dia seneng dapet bingkisan dari calon besan nanti."
"Stefen apaan sih?", Naura mencubit pelan Stefen. Mereka sudah cukup lama akrab. Candaan seperti ini biasa mereka lontarin.
"Beneran Nak Stef? Mamamu suka? Ya nanti ibu bungkusin kaya biasanya ya? Tapi anter Naura ke kelab ya? Ibu takut nanti jika ia sendirian bakal di godain cowok-cowok di sana."
"Ibu apaan sih? Naura kan bisa sendiri. Nggak perlu ngrepotin Stefen, Bu. lagian kan di sana ada Mas Andra ponakan Ibu. Aman, Bu" Naura merajuk. Memegang tangan Ibunya.
"Alah Naura sok malu ih! Padahal maukan aku anterin." Stefen menowel Naura.
Mereka mengobrol ngalor ngidul soal apa saja menghabiskan waktu. Stefen menepati janji untuk mengantar Naura ke kelab. Sambil menenteng sekeranjang besar kue, mereka berboncengan dengan motor menembus jalan raya.
Stefen memilih menunggu di parkiran saat Naura masuk ke kelab. Tak lama Naura sudah keluar dari kelab dan berjalan ke arahnya.
"Gimana, udah?" Tanya Stefen.
"Udah. Yuk langsung pulang."
"Kenapa terbuu-buru, Naura?"
"Keburu rame, Stef."
Stefen menggamit tangan Naura. Naura menepisnya. Ia tidak nyaman.
"Naura?"
"Ya!"
"Jadian yuk?"
"Jadi apa?" Sahut Naura polos. Tidak paham arah pembicaraan.
"Kita pacaran yuk?"
"Hah?", Naura berubah blo'on. Tidak menyangka kalimat tersebut keluar dari mulut Stefen.
Naura memang mengagumi Stefen. Ia tampan, kaya, dan baik hati. Ia juga tidak terlihat dekat dengan perempuan manapun walau ia idola di kampusnya. Tapi ajakan pacaran Stefen sepertinya aneh.
"Stef, kamu bercanda ya? Nggak lucu tauk." Naura tersenyum.
"Aku serius, Naura." Stefen memandang Naura lurus. Matanya menyiratkan harapan tulus.
"Stefen apaan sih? Kita tuh udah kuliah loh. Udah gede kaya gini. Nggak cocok kayanya kita pacaran-pacaran gitu. Emang kaya gini aja nggak cukup? Kita temenan. jalan bareng. Maen bareng. Pacaran cuma status doang. Yang di lakuin sama aja kan? Lantas buat apa? Nggak penting, Stefen." Naura menjelaskan lembut. Tidak ada kata pacaran di hidupnya. Tepatnya, tidak sempat.
Stefen tersenyum kecut. Jawaban yang sama ia dapat selama beberapa kali nembak Naura.
"Lagian kalo gambaranmu pacaran itu sayang - sayangan. Kemana - mana berdua. Dikit- dikit bertukar kabar. Aku nggak sempat, Stefen. Mending nikah sekalian aja lah." Naura berseloroh.
"Oke, aku akan menyiapkan lamaran untukmu. Tunggu saja waktunya ya?"
"Stefen, Jangan aneh-aneh deh. Lulus kuliah aja belum. Ih kamu." Naura memasang wajah sebal. Jawaban asalnya jadi bumerang.
"Aku serius, Naura. Mamaku menginginkan menantu. Ku kira hanya kau yang cocok jadi menantunya."
"Ya ampun. Udah yuk pulang yuk! Kamu makin ngelantur.", Naura segera duduk di belakang Stefen.
"Nih helm", Stefen memasangkan helm pada kepaala Naura dan men-starter motor.
Brak..
Suara pintu mobil di pukul dari dalam membuat Stefen dan Naura menoleh sekilas.
"Stef, kirain mobilnya kosong. Ternyata ada orangnya", Naura melongo.
"Bodo amat lah!", Stefen segera tancap gas.
Devano meradang. Ia menyimak betul - betul setiap pembicaraan mereka. Ingin sekali ia keluar dari mobil dan menyeret Naura pergi. tapi, bukankah itu akan membuat Naura takut padanya. Citranya bisa hancur bisa - bisa. Devano harus bersabar. Ia menyimpan rindu begitu besar. Semesta mengabulkan pertemuan Devano dan Naura walau dengan cara yang tak tertebak oleh Devano. Setidaknya, mungkin malam ini ia bisa tidur nyenyak tanpa menyimpan rindu yang bikin hati sesak.