Devano meminta Remi berbelanja aneka kebutuhan anak sekolah dalam jumlah yang besar. Ia berencana mengunjungi sekolah Naura dan melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda. Ia ingin menggunakan harta dan kekuasaannya. Dua hal yang biasanya disukai oleh wanita. Dan dua hal yang tidak begitu dimiliki oleh Stefen, lelaki yang kini ia anggap saingannya. Sekarang, beberapa dus buku, alat tulis, makanan kecil, dan aneka tas yang lucu-lucu sudah memenuhi jok belakang mobilnya. Ia berencana berkunjung seorang diri tanpa sopir dan asistennya. Ia sudah mendelegasikan semua pekerjaan kantornya dan sudah meminta siapapun tidak menghubunginya jia bukan sesuatu yang mendesak.
Devano sudah sampai sekolah 20 menit lebih awal dari jam biasa Naura datang. Anak - anak sudah banyak yang bermain di sekitar sekolah. Ya walau tidak jam sekolah pun mereka akan lebih sering bermain disini ketimbang di tempat lain.
Devano mengamati keadaaan. Menimbang - nimbang langkah apa yang harus ia ambil dengan banyak barang di mobilnya. Ini pengalaman pertama baginya. Ia tak pernah terjun langsung ke acara amal. Biasanya ia akan mendelegasikan atau datang hanya untuk peresmian. Dimananya acaranya selalu bersih, teduh, dan terukur. Tidak langsung turun ke lapangan seperti ini. Devano kebingungan. Akhirnya ia memilih berdiam di mobilnya dan menunggu Naura datang. Sontak mobil hitam metalik yang ia tumpangi mencolok perhatian. Tak biasanya ada mobil berada di sekitar sekolah. Akhirnya beberapa anak bekerumun dan bermain - main di sekitar mobil dengan perasaan takjub. Ada pula yang iseng membuka pintunya ataupun mengintip ke dalam. Untung Devano memasang kaca dengan film tebal. Sehingga tidak mudah orang sembarangan mengintip mobilnya.
Takut menimbulkan keributan. Devano memilih turun dari mobil dan disambut dengan anak-anak berpakaian lusuh mengerumuninya.
Devano melepas kacamata hitamnya. "Halo adek - adek !", Devano berusaha ramah, sebenarnya ia sedikit risih. Demi Naura, ia harus bertahan.
"Halo, Kak !" Sahut mereka setengah bingung. Mereka terbiasa kedatangan tamu baru. Biasanya tamu baru akan datang bersama Naura. Entah mengapa tamu ini datang sendirian tanpa Naura.
"Hmmm.. Siapa disini yang suka coklat?", Tanya Devano mencoba mengakrabkan diri.
"Coklat itu apa, Kak?", Tanya satu anak dengan polosnya.
"Sebentar ya, Kakak ambilin.", Devano membuka mobilnya dan membawa satu boks coklat berbentuk telur yang menarik.
"Ini dia!! Siapa mau?"
"Aku, Kak. Aku... Aku, Kak!" Anak - anak beriuh rendah berusaha menggapai tangan Devano.
"Oke. Tapi tebak - tebakan dulu ya? Yang bener jawabnya dapat ini. Gimana, setuju??" Tawar Devano. Ia meniru cara Naura menangani anak-anak. Ia mendapat banyak video Naura ketika mengajar. Tak sia - sia ia menonton dan menyimaknya. Berguna juga ternyata, batin Devano kegirangan.
"Sulit nggak, Kak?", Tanya satu anak yang paling tinggi badannya.
"Kalo sulit gak usah aja, Kak." Satu anak mulai tidak sabar.
"Mudah kok. Yuk pertanyaan pertama. Yang bisa jawab angkat tangan ya? Nanti kakak tunjuk baru boleh kasih jawabannya. Oke?"
"Siap, Kak!!", Jawab anak - anak serentak.
"Satu, ditambah lima, ditambah dua berapa?", Devano melontarkan pertanyaan.
Anak - anak segera sibuk berhitung dengan jarinya. Satu anak yang paling belakang mengangkat tangan. Disusul beberapa anak lainnya.
"Iya kamu. Namanya siapa? Berapa jawabannya?", Devano menunjuk anak yang paling pertama mengangkat tangan.
"Bagas, Kak. Delapan."
"Iya betul sekali! Kamu berhak mendapatkan satu buah telur coklat dari kak Devan yang tampan ini. Sini maju ke depan."
Bagas segera maju ke depan dan mengambil coklat hadiahnya dari tangan Devano. Ia segera membukanya dan memakannya lahap. Anak - anak memandanginya dengan rasa penasaran tinggi. Devano merasa kasihan. Akhinya ia mengubah strategi pembagian hadiahnya.
"Yuk yang pengen coklat kaya Bagas bikin barisan. Kakak bakal kasih satu-satu nih! Antri yang rapi ya?"
Anak - anak segera membentuk barisan mirip antrian yang mengular. Devano sigap memberi mereka satu persatu coklat telur yang ia bawa. Sampai - sampai Devano tak menyadari bahwa Naura datang berboncengan sepeda motor dengan Stefen. Naura sempat memperhatikan interaksi Devano dengan anak didiknya.
"Siapa, Ra? Donatur baru." Tanya Stefen penasaran.
"Aku juga gak kenal." Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung dengan apa yang dilakukan Devano bersama anak didiknya sampai mereka membuat antrian rapi seperti ini. Baru setelah diamati lebih teliti. Devano tampak membagi - bagikan coklat berbentuk telur pada mereka. Pantas aja, mereka sampai rela bersabar dan mengantri seperti ini. Anak - anak pun sepertinya pun hepi dengan apa yang dilakukan Devano.
Stefen dan Naura akhirnya memutuskan mendekati gerombolan Devano dan anak didik mereka. Jantung Devano berdegup kencang menyadari Naura mendekatinya. Yah, tapi kenapa ada Stefen?
"Eh Bu Naura datang. Yuk baris lagi yuk!" Satria berinisiatif mengumpulkan teman - temannya yang telah tercerai berai karena asyik menikmati coklat.
"Yuk!", Sahut Bagas.
Anak - anak segera mendekati Naura dan Stefen untuk menjabat tangan dengan takzim. Sisanya mengekor teman - temannya di belakang yang membuat mereka kembali berbaris mengular.
"Wah.. Kog pada makan coklat? Dikasih siapa nih?", Naura menanyai anak didiknya sambil menerima jabat tangan satu persatu.
"Dikasih Kakak itu, Bu..", Beberapa anak menjawa kompak sambil menunjuk - nunjuk Devano.
"Kakak siapa namanya?", Naura kembali bertanya.
Anak - anak cekikikan. Tidak ada yang bisa menjawab.
"Kak Devan.", Satu Anak ada yang ingat sekilas. Sisanya sama sekali tidak ada yang bisa menjawab.
Devano tersenyum tipis. Ia lupa mengenalkan diri secara manis.
"Oke. Lain kali sebelum menerima hadiah alangkah lebih baik jika kenalan dulu sama yang ngasih ya? Dan Jangan lupa bilang makasih. Oke setuju?"
"Setuju, Bu!", Anak - anak menjawab kompak.
"Oke sekarang kalian cuci tangan dulu dan masuk kelas ya? Silahkan masing - masing ambil satu buku cerita dan di baca baik - baik ya? Ibu akan segera menyusul kalian masuk." Naura memberikan intruksi.
"Iya, Bu!" Anak - anak segera bubar dan masuk ke kelas.
Naura menatap Devano lurus dan mengulurkan tangannya.
"Kenalin saya Naura. Mas namaya siapa?" Naura membuka percakapan.
"Devan." Devano menyambut tangan Naura dan menggenggamnya erat. Ia memilih nama Devan. Semoga membawa keberuntungan.
"Saya Stefen, Mas." Stefen menyela mereka. Stefen tak suka melihat Devano menjabat tangan Naura terlalu lama. Ia merasa bagai obat nyamuk disini.
Devano tersenyum masam. Mau tak mau menerima uluran tangan Stefen.
"Ngomong - ngomong makasih ya, Mas. Udah bagi - bagi coklat ke anak - anak dan bikin mereka hepi." Ucap Naura tulus.
"Eh, Iya sama - sama."
"Mas ini siapa ya? Kog tiba - tiba nongol disini gak kabar- kabar dulu. Mau jadi donatur apa jadi guru, Mas?" Tanya Stefen penasaran. Ia memang hanya sesekali membantu Naura mengajar. Tetapi ia yang dulu membantu Naura menginisiasi sekolah ini sampai berdiri. Beberapa kali juga ia di ajak Naura mencari donatur. Jadi ia lumayan tahu siapa - siapa saja yang biasa kesini. Banyak orang yang merasa perlu jadi donatur karena ingin mendekati Naura. Mungkin ini salah satunya, Begitu pikir Stefen. Tapi biasanya mereka bertemu Naura secara personal, bukan langsung ke sekolah seperti ini. Sepertinya ini kali pertama. Oke baik, aku harus waspada. Begitu batin Stefen menambahkan.
"Oh, jadi apa aja boleh mas. Saya pengen jadi tenaga sukarela disini. Bantu ngajar Mbak Naura juga boleh. Kalo donasi ini saya bawa beberapa buku, tas, dan alat tulis buat anak-anak." Devano membuka pintu belakang.
Naura dan Stefen melihatnya dengan ternganga.
"Puji syukur ya Tuhan. Memang sekolah ini lagi kekurangan buku dan alat tulis, Mas. Makasih banyak ya, Mas. Ini Donasi yang sangat bermanfaat buat disini. Anak - anak pasti suka dan makin semangat belajarnya." Naura tampak begitu ceria. Wajahnya berbinar.
Ingin sekali Devano memeluknya.
"Ya udah. Yuk di turunin ke kelas aja. Biar aku sama Devan yang bawa ini."
"Oh gitu. yau dah aku duluan ya? Makasih sebelumnya ya?" Naura meninggalkan mereka dan menuju kelas. Ini kesempatan Devano menikmati indahnya Naura dari jauh. Devano memandangnya lekat. Seolah ingin waktu berhenti. Naura begitu dekat.
Stefen membawa sebuah kardus besar saat menyadari Devano memandang Naura tanpa berkedip.
"Hoe. Bantuin. Malah ngelamun." Stefen menyodorkan kardus dengan keras. Sengaja mengintimidasi Devano.
Devano tersadar. Tanpa berkata apa - apa. Ia segera menerima kardus dari Stefen dan mengekori Naura dari jauh. Di susul oleh Stefen. Perlu beberapa kali bolak balik untuk mengosongkan mobil Devano. Dua kardus terakhir Stefen membuka percakapan.
"Kamu ngincer Naura ya?" Tanya Stefen.
"Sok tahu." Jawab Devano ketus
"Dia pacar saya." Stefen mengada - ngada.
"Alah bukan istri. Saya nggak peduli." Sialan, berani - beraninya dia ngaku - ngaku. jelas - jelas kemarin di tolak. Devano menambahkan dalam hati.
"Bentar lagi juga jadi istri." Stefen menyombongkan diri,
Devano memilih diam. Ingin sekali ia memukuli Stefen. Sialan, hanya makian yang ada di batin Devano.
Devano dan Stefen bergegas menuju kelas membawa kardus terakhir. Tanpa berkata apa - apa, sepertinya mereka berdua sepakat akan berkompetisi satu sama lain untuk mendapat perhatian Naura.
Naura sedang mendampingi satu anak didiknya untuk belajar berhitung. Anak didik yang lebih bisa mendampingi yang kurang bisa. Jika mereka tidak sanggup Naura lah yang turun tangan. Sering kali, ada beberapa anak didiknya yang mengeluh tidak bisa dan ingin diajari secara langsung oleh Naura. Tapi karena kapasitasnya yang terbatas sering kali ia kewalahan. Disitulah ia membutuhkan guru pembantu. Atau siapapun yang bersedia secara suka rela mengajar disini. Naura bersyukur, hari ini ia mendapat bala bantuan dan donasi melimpah. Tuhan selalu memberi kejutan pada Naura. Tugas Naura hanya percaya. Percaya bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Devano senang sekali membaur bersama anak didik Naura. Pengalaman sekolah di luar negeri banyak membantu Devano menerapkan sistem belajar berhitung yang mudah. Naura terkagum - kagum di buatnya. Baru kali ini ada pengajar yang menguasai pelajaran berhitung tanpa takut sakit kepala. Hal tersebut yang membuat Naura dan Devano cepat akrab. bahkan sampai membuat Devano lupa sejenak akan misinya mendekati Naura. Stefen memandangi mereka dengan perasaan iri. Stefen banyak mengeluh dan tidak setelaten Devano. Ia pun juga kalah tampan dan tajir ketimbang Devano. Ia merasa tersaingi dan kalah bertarung. "Awas kau ya!", Stefen hanya bisa mengancam dalam hati.
Hari sudah beranjak siang. Kelas sudah selesai sejak 10 menit yang lalu. Naura di apit Devano dan Stefen. Peluh bercucuran membasahi mereka bertiga. Cuaca sangat panas. Devano pun tidak terbiasa di ruangan yang tidak ber-AC. Ia berusaha beradaptasi.
Naura mengambil sebotol air dari dalam tas nya. Ia menyodorkan pada Devano. Devano hampir menerima uluran air Naura sampai tiba - tiba Stefen merebutnya.
"Aku saja, Naura. Laki-laki ini pasti mebawa stok air yang cukup di mobilnya. Beda dengan kita." Stefen segera menenggak sebotol air hingga tandas. Lupa jika Naura belum minum sama sekali.
"Ya udah sekalian pulang yuk!", Devano menggamit tangan Naura. Curi - curi kesempatan. Naura manut saja dan mengiringi langkah Devano.
"Sialan mereka." Stefen segera menyusul.
"Setelah ini mau kemana? Aku antar pulang ya?", Devano menawarkan diri. Tidak ingin Naura pergi. Ia mengambil dua gelas air mineral dari mobilnya. Menyerahkan satu untuk Naura.
"Oh, aku mau ke kampus. Aku sama Stefen aja, Mas. Kita satu kampus kog." Naura menghabiskan segelas air dengan segera. Keringat membasahi dahinya.
"Tapi cuaca panas sekali, Naura. Naik mobilku saja sejuk", Devano setengah memaksa.
"Udah biasa kog. Biasanya juga lebih panas. Ini mending masih mendung, Mas. Stef, yuk takut keduluan dosbing." Naura melihat Stefen sekilas. Stefen tersenyum kegirangan.
Stefen segera mengambil motor dan memasangkan helm ke kepala Naura. Naura menolak, Ia menghindar.
"Apaan sih, Stef. Aku bisa sendiri tauk!", Naura cemberut.
Stefen segera tanjap gas dan meng-klakson Devano.
"Duluan ya, Mas"
"Hati-hati". Devano melambaikan tangan. Ia tersenyum kecut.
Lagi - lagi, Naura memporak - porandakan apa yang selama ini ia percaya. Tidak semua wanita butuh harta dan rasa nyaman seperti yang ia punya selama ini.