"Nak, serius kamu mau nikahin Naura? Dia keluarga miskin. Anak yatim. Tulang punggung keluarga juga. Ibunya juga sakit-sakitan. Kalo kamu nikahin Naura itu artinya kamu harus siap menafkahi dua orang, Nak." Ibu Stefen berusaha menggoyahkan niat anaknya untuk menikahi Naura. "Lagian mana pantas Naura di sandingin sama kamu dan keluarga kita. Bisa jomplang nanti", Ibu Stefen menambahkan. Ia tidak mau anaknya sampai menjadi sapi perah bagi Naura dan Ibunya.
"Ma, Naura itu anak baik. Pekerja keras juga. Buktinya dia bisa kuliah dan mengajar di sekolah sampah itu. Nggak di bayar pula. Donatur disana banyak. Dan hidupnya baik - baik saja walau ibunya sakit- - sakitan, Ma. Naura gak mungkin punya uang sebegitu cukupnya jika ia tidak mampu mengelola semuanya. Ia juga cantik." Stefen memang tidak pernah memandang Naura peempuan baik - baik. Stefen yakin, selain mengantar kue ke kelab, Naura juga menjajakan dirinya di sana. Ia berpikir, dengan menikahi Naura ia tidak perlu menafkahinya. Naura bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa perlu merepotkannya. Justru Stefen yang dapat bonus, ia bisa meniduri Naura kapanpun ia mau. Stefen yakin, Ibu Naura yang bodoh itu pasti menerima dirinya sebagai menantu. Selama ini, dengan sedikit pujian, Ibu Naura selalu baik padanya dan memberinya oleh-oleh untuk ibunya. Hanya sesekali Stefen benar - benar memberikannya pada ibunya. Sebagian besar ia buang ke tempat sampah dekat rumahnya.
Devano sudah beberapa kali mendatangi sekolah gotong royong. Ia semakin akrab dengan Naura walau selalu ada Stefen diantara mereka. Naura masih saja memilih berangkat ke kampus dengan Stefen walau Devano membujuknya dengan berbagai cara. Satu arah dan gak takut macet, begitu alasan Naura. Devano akhirnya menyerah. Saat ini Devano sedang duduk di mobilnya dengan pintu yang terbuka. Pohon yang rindang dan angin yang semilir menermani Ia menunggu kedatangan Naura
"Stefen mana, Ra? Kog kamu sendirian?" Devano celingak - celinguk. Naura jalan kaki sendirian.
"Dia gak bisa datang hari ini. Sakit perut katanya."
"Terus kamu naik apa?" tanya Devano penasaran.
"Naik bus lah."
"Lah kenapa gak telfon aku aja? Kan bisa aku jemput." Devano mengusap mukanya. Naura benar - benar tidak menganggapnya ada dan siap bersamanya kapan pun juga.
"Aku biasa kog naik bus. Kangen juga. Semenjak Stefen rajin jemput aku nggak pernah naik bus lagi." Naura menjelaskan dengan nada biasa yang justru sukses membuat Devano merasa cemburu.
"Oh, begitu." Devano manggut - manggut. Ia tak ingin bertanya lagi. Ia takut kelepasan emosi karena Naura benar - benar menguji kesabarannya.
"Kamu rajin banget kesini? Memangnya kamu gak kerja, Mas?" Naura penasaran dengan latar belakang Devano. Dua minggu ini ia tak pernah mendapat kesempatan bertanya-tanya lebih banyak dengan Devano. Stefen selalu menginterupsi.
"Ya kerja, Ra. Tapi kan aku freelancer dan kerjaanku bisa ku kerjain kapan aja." Jawaban Devano sepenuhnya benar. Kerjaannya bebas ia kerjakan kapan saja. Ada asisten dan sekretarisnya yang menangani. Ia hanya perlu mengecek sesekali.
"Di bidang apa, Mas?"
"Panggil Devan aja, kayanya kita seumuran." Ucap Devano setengah bercanda.
"Lah, tua an kamu kali, Mas. Aku masih kuliah kamu udah kerja kog." Naura tersenyum. Manis bukan main.
"Jadi Devan kerja di bidang apa? Gajinya gede pasti. Kemana - mana pake mobil dan sering bawa hadiah buat anak sini." Naura ingin tahu. Barangkali nanti selulus kuliah ia bisa melamar kerja di tempat Devano.
"Kasih tahu nggak ya??" Devano menarap Naura dengan ekspresi jahil.
"Aku serius, Dev. Aku harus rencanain dari sekarang. Kalo aku lulus kuliah aku bakal kerja dimana gitu. Cuma kurang beberapa bulan lagi aku lulus. Nggak bisa kalo harus nganggur dulu. Dan nggak bisa aku jadi pengajar terus." Naura menatap Devano serius.
"Oh gitu. Ya gampang nanti. Aku bantu cari kerja deh." Mudah bagi Devano mencarikan kerja Naura. Devano kan yang punya perusahaan. Oh tentu Naura tidak perlu tahu.
"Ke kelas yuk! Anak - anak pada ngumpul tuh." Tunjuk Naura ke depan kelas.
Devano meninggalkan mobilnya dan mengekori Naura. Mereka berjalan ke kelas beriringan. Hari ini mereka berencana mengevaluasi cara membaca anak - anak.
Waktu dua minggu untuk bersama Naura berjalan sangat cepat. Devano menikmatinya. Bukan hanya menikmati Naura. Ia menikmati berinteraksi dengan anak - anak pemulung. Ia melihat betapa keras perjuangan mereka. Pagi mereka ke sekolah. Sepulang sekolah mereka membantu orang tua nya mencari sampah. Malamnya mereka memilah sampah di depan rumah. Devano jadi memiliki rencana tersendiri untuk mereka.
Mereka berdua selesai mengajar jam 11 siang. Devano berencana mengajak Naura makan siang di luar. Lalu mengantarkan ke kampus. Anak - anak sudah bubar sejak 10 menit yang lalu. Naura baru saja menyimpan buku terakhir di lemari. Belum sampai Devano membuka mulut. Naura sudah mengeluarkan dua kotak bekal dan dua botol minuman dari dalam tas nya.
"Entah mengapa aku tadi pengen aja gitu bawa dua kotak bekal. Biasanya kan aku bawa satu. Eh ternyata Stefen yang biasanya ngikut hari ini ngelibur. Jadi rejeki kamu deh jika kamu mau. Kalo kamu nggak mau nggak apa apa kog." Naura menyodorkan satu kotak bekal ke Devano yang berada di seberangnya.
"Mau kog, Ra. Baru aja aku mau ngajak kamu makan siang. Eh malah keduluan kamu malah tanpa perlu kemana - mana. Makasih ya, Ra?" Devano menerima pemberian Naura dengan senang hati. Mereka makan bersama dalam satu meja. Bolehkah ia menganggap kedekatan Naura bertambah satu langkah padanya? Devano hanya berani bertanya dalam hati.
"Enak juga. Masakan kamu sendiri nih?" Devano memberanikan diri bertanya. Ini makanan sederhana terenak yang pernah Devano coba.
"Iyalah. Aku biasa masak sendiri kog. Lebih hemat juga." Sahut Naura jujur.
"Boleh dong besok di bawain lagi. Hehehe."
"Halah paling kamu bohongan deh. Cuma tahu sama telur aja di bilang enak." Naura cemberut. Selain ibunya, tidak ada yang pernah memuji masakannya enak.
"Aku serius, Naura. Mau berapa per kotak gini? Aku bayar deh. Anggep aja aku pelanggan katering kamu." Devano berusaha meyakinkan.
"Ya kalo emang kamu serius mau aku bawain, Dev. Gak perlu bayar. Anggap aja bentuk makasih aku karena kamu sering ngajar di sini sama sering donasi di sini. Gimana?" Naura memilih mengambil jalan tengah. Hanya sekotak bekal makan siang. Ia merasa tak perlu sampai memasang tarif.
"Boleh - boleh. Makasih ya, Ra? Lagian seru juga habis ngajar terus makan disini sama kamu." Devano menata Naura lurus. Naura salah tingkah di buatnya.
"Sama - sama, Dev." Ia tak mampu menimpali dengan jawaban lebih panjang. Tatapan Devano membuat Naura memilih menundukkan kepalanya. Ia takut jantungnya lepas dari dadanya.
"Habis ini mau kemana, Ra? Ke kampus?"
"Enggak. Hari ini aku libur. Mau belanja kebutuhan kue buat ibu ku."
"Naik apa? Aku anter aja ya? Mumpung aku lagi nggak ada acara." Devano menawarkan diri.
"Nggak usah repot - repot, Dev. Aku biasa naik angkot kog."
"Nggak repot kog. Mau ya aku anter? Anggep aja ini bentuk makasih aku karena udah kamu bawain makan siang tepat pada saat perutku keroncongan."
"Boleh deh." Tidak ada salahnya menerima tawaran Devano.
"Berangkat sekarang aja yuk?"
"Oke." Naura bangkit dari duduknya. Ia berjalan duluan. Devano menyusulnya dan memberanikan diri menyentuh pundak Naura berniat agar mereka bisa jalan beriringan lebih dekat (dan lebih mesra). Naura jengah. Ia berusaha menghindari sentuhan Devano.
Naura menghentikan langkahnya.
"Maaf ya, Dev. Refleks aja tadi."
"Maaf ya? Aku juga refleks." Naura perempuan pertama yang menolak sentuhan Devano. Aneh, sungguh aneh. Banyak yang memuja Devano dan berharap sentuhannya. Bahkan lebih. Tapi, Naura adalah Naura.
Mereka sampai toko bahan kue setelah 20 menit perjalanan.
"Kamu pulang aja, Dev. Belanjaku lumayan banyak dan makan waktu lama." Pinta Naura. Tidak enak hati jika terlalu merepotkan Devano.
"Terus kamu mau pulang naik apa?"
"Naik becak." Devano melongo. Hidupnya terjungkir balik bersama Naura. Ia sampai kepikiran. Naura itu buta atau naif? Ia yang naik mobil justru di suruh pergi dan memilih becak. Devano tak habis pikir.
"Serius kamu nggak ngijinin aku nemenin kamu. Mumpung aku lagi nganggur dan lagi baik nih? Kalo ditolak aku jadi jahat loh." Devano memilih membecandai Naura. Teori hidup yang selama ini ia pegang banyak yang tidak berlaku untuk Naura.
"Oke terserah kamu aja, Dev. Asal kamu serius nggak repot dan punya waktu." Naura segera mengambil troli dan menuju rak kebutuhan sesuai daftar yang ia pegang. Devano mengekorinya dari belakang.
Naura mengambil beberapa kotak keju cheddar dan beberapa kotak coklat batangan. Lalu ia berlanjut mengambil SP, baking soda, soda kue, dan asam sitrun di sebelahnya. Merasa Devano mengekorinya terus sambil sesekali mendorong trolinya. Naura memutuskan membagi tugas biar lebih hemat waktu.
"Dev, maaf ya? Misal nih, ketimbang kamu ngekor aku terus dan bikin kita makin lama disini gimana kalo kamu bantu aku ngambil barang dari rak sebelah sini dan aku ngambil yang di sebelah sana. Jadi kita bawa dua troli."
"Boleh sih. Tapi kan kamu cuma bawa daftarnya selembar. Aku juga nggak begitu hafal soal bahan kue, Ra. Nanti kalo salah gimana?"
"ini aku robek jadi dua aja. Aku biasa nulis belanjaan sesuai rak nya kog. jadi bisa jalan cepet sama ngambil cepet. Ini tinggal lurus aja trus kamu tengok rak kanan kiri terus cocokin sama daftarnya. Ambil. Beres deh. Nanti sebelum ke kasir kita cek lagi barang-barangnya biar tau kalo ada yang kurang atau nggak."
"Boleh deh." Devano mengiyakan. Walau akhirnya ia tidak bisa berlama-lama dengan Naura di toko. ini adalah cara paling efisien agar mereka bisa kembali bersantai.
Devano dan Naura segera memisahkan diri. Tak sampai 10 menit mereka sudah kembali bertemu di dekat kasir untuk meneliti belanjaan.
"Lengkap. Yuk bawa ke kasir." Naura segera membawa trolinya ke kasir.
Dengan lincahnya. Petugas kasir segera menghitung jumlah belanjaan Naura dan memasukkan ke dalam kantong yang sudah di siapkan oleh Naura. Naura membantu menurunkan dari meja. Satu yang dapat disimpulkan Devano selama bersama Naura. Naura sangat ringan tangan dan memanajemen waktunya dengan baik. Sepertinya ia juga jarang bersantai atau justru tidak memiliki waktu untuk itu, Devano tidak tahu dan ingin mencari tahu.
"Jumlah total belanjaannya Rp 1.325.000,- Mbak." Naura membuka dompetnya.
"Dan khusus hari ini anda tidak perlu membayar sepeserpun alias gratis."
"Iya Mbak. Ada promosi khusus hari ini untuk pengunjung yang beruntung."
"Tapi di depan nggak ada tulisan promosi." Naura celingak - celinguk. Setengah tak percaya. Petugas kasir gelagapan. Bingung menjelaskan.
"Ya mungkin yang punya toko lagi baik, Ra. Dan kamu udah terlalu sering belanja disini makanya di gratisin." Ucap Devano membantu kasir menjelaskan. "Dan nggak semua promo harus di tulis di depan kan, Ra? Bisa jadi buat kejutan." Tambah Devano.
"Iya betul kata mas nya ini, Mbak. Hari ini bos kami ulang tahun, dan beliau meminta saya menggratiskan belanjaan satu orang yang beruntung. Dan yang beruntung itu Mbak ini."
"Oh begitu. Ini serius saya nggak perlu bayar sepeserpun? Atau saya perlu kasih tip ke mbak nya?" Naura masih kurang yakin.
"Serius, Mbak. Anda juga tidak perlu memberi tip apapun."
"Oke baiklah." Naura mengambil barang belanjaannya dan memasukkan ke mobil Devano yang sudah di siapkan di depan toko. Perlu tiga kali bolak balik agar mereka selesai memasukan semuanya ke dalam mobil.
Naura dan Devano sudah dalam perjalanan.
"Minta tolong mampir ke apotek depan ya, Dev. Habis itu ke rumahku. Makasih."
"Siap."
Naura turun dari mobil dan mampir ke apotek sebentar. Devano memilih menunggu di mobil.
"Halo, siang. Oke makasih ya tadi sudah di bantuin. Ambil aja 300 ribu buat tip kamu ya? Lain kali tolong kasih potongan lagi jika mbak yang tadi belanja." Devano menghubungi kasir tempat Naura belanja tadi. Ia meninggalkan sebuah kartu berikut pin-nya pada kasir tadi.
Devano segera menyimpan kembali ponselnya saat Naura berjalan menuju mobil.
"Beli obat apa, Ra?" tanya Devano sambil melajukan mobilnya.
"Obat buat ibuku. Pengencer darah sama buat radang sendi."
"Oh. Langsung ke rumah nih?"
"Iya. Jalan Pattimura ya? Deket SD nanti belok kanan." Naura menguap. Ia sepertinya lelah sekali.
"Kalo ngantuk tidur aja, Ra. Nanti begitu nyampe aku bangunin." Devano memberanikan diri mengusap rambut Naura. Naura yang sudah di kuasai kantuk tidak menolak. Tak lama, Naura sudah mendengkur halus. Devano menurunkan kursi yang Naura duduki agar Naura bisa tidur dengan nyaman. Devano menepikan mobilnya.
Devano ingin melihat Naura yang tidur. Hari yang padat, uang yang seadanya, dan fasilitas yang terbatas pasti menguras energi Naura. Menurut informannya, Naura sering tertidur selama di bus atau angkot yang ia tumpangi dan terbangun ketika sudah sampai lokasi yang ia tuju. Tubuhnya sudah seperti terprogram otomatis. Entah Naura bangun jam berapa setiap pagi. Yang pasti mungkin ia tak cukup tidur setiap hari. Devano memberanikan diri mengusap pipi Naura. Ingin sekali ia menciumnya. Ingin sekali ia melindunginya. Mendekapnya. Memberikan segalanya yang ia punya.