Devano melajukan mobilnya perlahan. Ia tak ingin tergesa - gesa dan membiarkan Naura tidur dengan pulasnya.
10 menit harusnya sampai menjadi 20 menit. Sampai akhirnya Naura bangun duluan.
"Belum sampai ya, Dev?"
"Belum, tidur lagi aja. Nanti begitu sampai aku bangunin." Devano fokus melihat jalan.
"Kog lama ya? Biasanya 10 menit kayanya udah sampe." Naura menegakkan kursinya dan membenarkan ikat rambutnya.
"Macet tadi, Ra." Jawab Devano asal.
Sisa perjalanan diisi banyak diam. Naura sedang membuka - buka catatan. Devano tidak ingin menginterupsi.
"Itu Dev rumah cat ijo. Parkir samping pohon aja biar kamu nanti mudah pulangnya."
"Depan rumah juga gak apa - apa, Ra. Biar mudah kita nurunin barangnya."
"Tapi, Dev.."
"Stttt.. Udah nurut aja. Eh tapi kog rumah kamu kayanya lagi rame ya?"
"Iya ya? Ibuku jarang banget malah kedatangan tamu. Yuk turun dulu aja, Dev. Belanjaannya biar dimobil kamu dulu boleh ya?"
"Baiklah. Kamu turun duluan aja gih. Aku susul."
"Oke." Naura melepas seatbelt nya dan segera turun dari mobil. Tak lama, Devano sudah menjajari langkahnya.
"La ini Naura datang. Kebetulan sekali!" Naura mendekati ibunya dan salim, di ikuti Devano.
"Stef, katanya sakit kog kamu disini?" Tanya Naura pada Stefen yang datang ke rumahnya bersama ke dua orang tuanya.
"Bu, kenalin ini Devano. Teman baru Naura. Stefen juga kenal kog" Naura mengenalkan Devano pada ibunya.
"Oh jadi ini Devano. Anak orang kaya yang jadi guru baru di sekolah Naura itu ya? Hati - hati ya, Ra. Jaga jarak aman supaya gak jatuh ke pelukan buaya." Ibu Stefen berusaha membuat Devano memiliki citra buruk pada pertemuan pertamanya dengan Ibu Naura.
Devano memiliki firasat tidak enak. Sepertinya keluarga Stefen bukan keluarga baik - baik. Devano tetap tenang. Ia memilih diam dan mengikuti alur.
"Devano baik kog, Bu. Sering bantuin Naura ngajar. Seing banget donasi buat sekolah. Barusan juga nganter Naura belanja kebutuhan kue ibu." Naura menggengam tangan ibunya.
"Ya belum aja, Ra. Barangkali setelah ini kamu di ajak ngamar kamu juga nggak tahu." Tambah Stefen. Ingin sekali Devano meninjunya.
"Stef, apaan sih?" Naura melihat Stefen, lalu Devano. Naura takut Devano tersinggung dan marah.
"Nak, Ibu yakin Devano anak baik kog. Sama kaya nak Stefen." Ibu Naura menengahi. Ini kali ke dua anaknya membawa pulang seorang lelaki. Dan Naura selalu bilang mereka adalah teman.
"Stef, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu kenapa kesini sama ibumu? Mau pesen kue?" Tanya Naura ingin tahu. Tadi pagi Stefen bilang sakit perut. Sekarang ia sudah di rumahnya.
"Jadi gini, Nak Naura. Stefen bilang suka sama kamu. Ibu tahu Stefen anaknya serius dan nggak main - main sama kamu. Ibu berencana menikahkan kalian dalam waktu dekat. Ibu sudah berbicara dengan ibumu. Dan ibumu setuju. Sekarang tinggal persetujuan kamu." Jelas ibu Stefen. Naura gelagapan. Ia berpikir kala itu Stefen hanya bercanda. Devano geram, namun ia tetap memilih diam.
"Iya, Nak. Ibu setuju dengan Ibu Stefen. Kalian temenan sudah lama. Sering pergi berdua. Satu kampus juga. Bentar lagi juga sama - sama lulus kuliah. Ibu nggak pengen liat kamu sendirian terus." Tambah Ibu Naura. Naura semakin bingung.
"Lagian Ibu juga semakin tua dan sakit - sakitan begini. Ibu tidak mau jika ibu meninggal nanti kamu jadi sendirian. Ibu pengen banget lihat Naura menikah." Lanjut Ibu Naura.
"Bu, Ibu jangan bilang gitu. Naura masih pengen lama - lama sama ibu. Naura juga masih kuliah. Belum lulus. Belum kerja juga. Masih ngerepotin ibu. Naura pengen bahagiain Ibu. Mas Devan udah janji buat cariin kerjaan Naura begitu Naura lulus nanti. Naura pengen kerja dulu, Bu. Biar Ibu gak susah - susah tiap hari bikin kue."
"Nak, Ibu juga pengen punya umur panjang biar bisa liat kamu makin maju. Ibu juga nggak pernah merasa kerepotan karena kamu. Justru ibu yang nyusahin kamu, Nak. Kamu nikah dulu kan nggak apa - apa. Begitu lulus baru kamu cari kerja. Pasti Stefen ngijinin. Iya kan, Nak Stefen?", Stefen menegiyakan.
"Ra, aku pamit pulang ya?" Sela Devano. Ia tak tahan lama - lama disana. Lagian, Devano ingin menyelidiki siapa Stefen sebenarnya.
"Maaf ya, Dev." Naura menatap Devano dengan muka memelas. Ia tidak tahu jika akan terjadi pembicaraan seperti ini.
"Pamit dulu ya, Bu." Devano menyalami tangan Ibu Naura.
"Ya baguslah kalo kamu peka." Sengit Ibu Stefen. Devano tidak menanggapi.
"Stefen, aku duluan." Devano melambaikan tangan. Devano segera keluar dari rumah Naura dan menuju mobilnya. Mengeluarkan barang-barang Naura di teras. Lalu segera tancap gas.
"Sialan kamu, Stefen." Devano menggenggam erat setirnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya.
Begitu sampai ruang kerjanya. Devano meminta asisten dan sekretaris ke ruangan kerja nya. Devano memeriksa beberapa hal dan menerima laporan soal usahanya. Dua minggu ia tinggal. Perusahaanya baik - baik saja.
"Oke, Kalian boleh pergi. Sekalian minta tolong hubungi Remi buat kesini sekarang juga."
Sekretaris dan asisten nya saling berpandangan. Baru kali ini Devano meminta tolong. Biasanya Nadanya selalu memerintah.
"Baik, Pak." Sekretaris dan asistennya pamit undur diri.
15 menit kemudian. Remi sudah sampai ruang kerja nya.
"Ada apa, Bos? Naura lagi?" Tanya Remi langsung pada inti.
"Bukan. Selidiki soal Stefen, temannya Naura. Aku ingin tahu. Sedekat apa mereka dan seperti apa keluarganya. Sekarang juga. Disini." Pinta Devano.
"Baiklah, Tapi pinjam komputer ya, boss."
"Oke silahkan." Devano meninggalkan tempat duduknya dan memilih rebahan di sofa.
Remi memutar komputer Devano agar ia lebih mudah mengoperasikannya.
"Kamu duduk di tempatku aja biar nggak repot - repot muter." Tambah Devano.
"Oke!", Remi segera menduduki kursi bos nya dan membuka database nya.
"Bos, Keluarganya bukan keluarga baik - baik. Ayahnya masuk daftar hitam perbankan dan ibunya pernah di laporkan ke polisi karena kasus penggelapan uang arisan. Stefen sendiri beberapa kali terlibat baku hantam dengan geng motor. Naura sekampus beda kelas dengan Stefen. Kegiatan bersama yang pernah mereka lakukan hanya sebatas guru di sekolah darurat dekat TPA itu. Sama nganter Naura ke kelab buat antar kue. Akhir-akhir ini Stefen juga mengantar jemput Naura." Ungkap Remi. Devano hanya manggut - manggut. Sepertinya tidak ada yang spesial. Tapi ia merasa tersaingi.
Esoknya, Devano masih berkunjung ke sekolah darurat. Ia menelan kecewa. Naura tidak datang dan sekolah di liburkan. Devano ingin berkunjung ke rumah Naura. Tapi ia tak punya alasan yang memadai untuk bertemu. Esoknya lagi, sekolah masih libur. Devano berniat menemui Naura di kampusnya di jam Naura biasa pulang kuliah. Yang ada Naura malah sudah di bonceng Stefen. Mungkin Devano perlu menjaga jarak dulu dengan Naura. Demi kesehatan hatindan kejernihan batinnya.
Baru hari ke empat Naura kembali mengajar di sekolah darurat. Devano sengaja datang terlambat dan menunggu Naura selesai mengajar. Ia ingin menanyakan beberapa hal pada Naura.
Naura tertunduk lesu saat berjalan ke arah Devano.
"Ra, kamu kayaknya capek banget. Kenapa?" Devano menyambut kedatangan Naura dan memberanikan diri memegang pundaknya. Naura diam saja.
"Jawab, Ra!"
Naura masih diam.
Devano memberanikan diri memeluk Naura. Naura tidak menolak. d**a Devano terasa basah. Naura menangis dalam dekapannya.
"Aku diminta nikah sama Ibu, Dev. Dan aku nggak suka sama Stefen. Belum - belum dia udah ngatur macem - macem. Nggak boleh ngajar lah. Nggak boleh dekat dekat kamu lah." Naura mulai bercerita. Sesekali ia masih terisak.
"Ya tolak aja, Ra."
"Nggak bisa, Dev. Ini yang minta Ibu. Ini keinginan ibu. Aku takut ngecewain ibu."
"Ra, kamu juga berhak bahagia. Komunikasiin ke Ibu kamu. Kasih ibu kamu pengertian. Pasti beliau bisa memaklumi jika itu bukan kebahagiaan kamu."
"Nggak bisa, Ra. Udah aku coba. Stefen juga baik banget ke Ibu. Ibu nggak percaya sama aku, Dev."
"Jadi kamu terima lamaran Stefen?"
"Iya, Dev. Dua minggu lagi aku nikah." Naura semakin terisak. Devano harus menelan pil pahit. Gadis kesayangannya akan segera jadi istri orang. Naura mengurai pelukan Devano. Ia mengusap air matanya.
"Ra, nggak bisa nggak ya? Kamu masih belum lulus kuliah lho. Kamu juga kan mau kerja dulu. Janji deh nanti begitu lulus kuliah kamu langsung dapat kerja dengan posisi dan jabatan menarik." Tawar Devano. Ingin sekali ia membawa Naura pergi.
"Aku nggak tahu, Dev. Ini demi Ibuku. Udahlah aku pasrah aja sama Tuhan. Kalo memang ini jalan terbaik pasti suatu saat nanti aku ikhlas kog."
"Ra..!"
"Udah ya, Dev. Mau ke kampus dulu ngurus skripsian."
"Aku anter ya?"
"Boleh."
Devano membukakan pintu mobil untuk Naura lalu segera melajukan mobilnya ke jalan raya. Tak banyak pembicaraan di antara mereka. Naura masih sesekali terisak. Devano hanya berani mencuri - curi pandang sekilas dan kembali fokus mengendara.
Mereka sudah hampir sampai kampus Naura.
"Pulangnya mau aku jemput?"
"Nggak usah, Dev. Makasih ya tumpangannya. Kamu temenku yang paling baik." Naura segera turun dan memasuki gerbang kampusnya.
"Penghiburan seorang teman." Devano berusaha menghibur diri. Walau dalam hatinya ia masih berharap pernikahan Stefen dan Naura batal. Tapi, apakah bisa?
***
Bersambung..
.
.
.
Suka sama Kisah Devano dan Naura??
Jangan lupa tap love biar masuk pustaka kalian ya!?
Happy reading ?