Sepuluh hari penuh Naura selalu datang ke sekolah dengan wajah lesu. Ia hanya akan ceria saat mengajar anak didik nya. Devano memandang hal tersebut dengan perasaan teriris. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menghibur Naura dan memeluknya sesekali. Stefen sudah tidak pernah membantu Naura mengajar. Hanya sesekali mengantar dan menjemput. Melambaikan tangan dan menata sinis Devano. Devano memilih tidak menanggapi.
Pernikahan Naura kurang empat hari. Ibunya masih membuat kue untuk di antar ke kelab. Ini hari terakhir ia membuat kue sebelum libur tiga hari untuk persiapan pernikahan Naura. Hari sudah petang saat Stefen tiba - tiba datang kerumahnya dan berniat mengantar Naura ke kelab.
"Udah siap, Ra? Yuk berangkat keburu malem." Ucap Stefen pada Naura. Naura hanya diam dan segera menaiki motor Stefen.
"Ra, Jangan lupa pamit ke Andra kalo kue nya libur dulu tiga hari." Ucap Ibunya.
"Iya, Bu." Jawab Naura pendek. Ibunya menyadari. Akhir-akhir ini Naura jadi irit bicara. Mungkin ia tidak siap dengan pernikahannya yang akan segera terjadi. Tapi Ibu Naura tidak bisa berbuat banyak. Ia terlanjur menyetujui permintaan keluarga Stefen. Ibu Naura hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga ini pilihan terbaik yang bisa ia berikan untuk anaknya.
"Jadi, berapa kali kamu di booking Devano, Ra?" Stefen membuka percakapan dengan nada sarkas.
"Stef, maksud kamu apa?" Naura merasa salah dengar.
"Udah dapet duit berapa aja dari Devano?", Stefen berucap santai sambil menyetir motornya di jalan raya.
"Stef, kamu bisa bicara yang baik nggak?" Naura mencoba bersabar.
"Ini juga bicara baik - baik kog, Ra. Kali aja cukup buat tambahan resepsi pernikahan." Ucap Steen dengan santainya.
"Stef, Devano itu baik. Dia tidak pernah sekalipun berkata kasar kaya kamu." Ungka Naura.
"Ya jelas lah dia baik. Duitnya kan banyak. Kemana - mana juga naik mobil. Kalah jauhlah aku. Lagian kalo kamu nggak jadi simpenan Devano mana mau Devano sama kamu?", Naura begitu ingin menampar Stefen.
"Stef, maksud kamu apa? Kenapa ngomongmu ngelantur sekali?" Tanya Naura berusaha menjernihkan suasan tak enak di antara mereka.
"Nggak usah sok polos lah, Ra. Aku yakin kog lagakmu doang yang polos. Tapi kerjaan jual diri ke kelab. Jualan kue cuma modus kamu kan?" Stefen berkata kurang ajar. Stefen membelokkan motornya ke sebuah gang.
"Stef, ini kemana? Jalan ke kelab bukan sini arahnya." Naura mulai panik. Ada banyak anak motor di depan sana.
"Ngapain juga ke kelab kalo kamu bisa jual diri disini. Puasin tuh teman-temanku. Baru aku anter ke kelab."
Stefen mengehentikan motornya di tengah geng nya. Ada sekitar 7 orang disana. Semua bertato dan beringas.
"Jadi ini p*****r murahan yang loe bilang itu?" Kata satu orang yang sepertinya seumuran dengan Stefen. "Cantik juga. Selera loe bagus, Bro."
"Percuma cantik kalo murahan." Jawab Stefen dengan angkuh. Ia membiarkan Naura di dekati teman - teman geng nya.
Naura geram. Tak menyangka Stefen sejahat itu padanya.
"Kenapa, Ra? Udahlah mereka bisa puasin loe kok. Tenang aja, tetep gue nikahin. Tapi santai aja. Loe nggak bakal dapet duit dari gue. Loe kan udah pinter jual diri." Naura menampar pipi Stefen dengan keras. Seumur-umur, baru kali ini Naura menampar orang. Tangan Naura smpai nyeri di buatnya.
"Berani - beraninya ya loe tampar gue. Dasar jal*ng!" Tangan Stefen terangkat ke udara. Naura memejamkan mata bersiap menerima malam terburuk di hidupnya.
Satu detik.
Dua detik.
"B*jingan loe ya? Beraninya sama cewek doang." Suara itu terdengar familiar. Naura memberanikan diri membuka mata.
Bugh..
Bugh..
Naura sempat melihat Devano menghajar Stefen sebelum sekitarnya menjadi gelap. Kedua kakinya terasa lemas. Matanya berkunang - kunang. Naura tak sadarkan diri.
"Ra...!!" Devano melihat Naura jatuh tersungkur. Stefen tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk meninju rahang Devano. Devano hampir saja terjatuh. Devano kalap. Ia menghajar Stefen habis-habisan. Geng Stefen berusaha mengeroyok Devano. Perkelahian tak berimbang ini menyudutkan Devano sebelum akhirnya Remi datang bersama anak buahnya dan menghajar mereka hingga babak belur. Devano membopong Naura ke mobillnya dan segera tancap gas ke UGD rumah sakit.
Naura bangun keesokan harinya dengan nyeri di kepala.
"Ra!"
"Aku dimana, Dev? Ibuku mana?"
"Kamu di rumah sakit. Semalem kamu pingsan dan aku bawa ke sini."
"Ibuku udah tahu aku disini?"
"Udah. Beliau perjalanan kesini."
"Stefen gimana?"
"Udah diamanin pihak berwajib dia. Ternyata pengedar narkoba juga. Udah nggak usah mikir macem-macem. Fokus untuk sembuh ya?" Pinta Devano sambil menggenggam tangan Naura. Semalam Devano berencana mendatangi kelab. Di jalan ia bertemu dengan Stefen dan Naura. Devano berinisiatif mengikuti mereka berdua. Dan benar saja, hal buruk terjadi pada Naura.
"Naura, Anak ibu. Kenapa kamu sampai di bawa kesini, Nak? Ibu tidak bisa tidur semalaman mikirin kamu. Untung nak Devano ngabarin terus jemput ibu.'" Ibu Naura datang dengan bercucuran air mata. Ia begitu khawatir dengan anak semata wayangnya.
"Naura baik - baik aja kog, Bu. Mungkin Naura hanya capek jadi pingsan di jalan. Ibu nggak usah khawatir. Habis ini Naura boleh pulang kog. Iya kan, Dev?"
Devano hanya mengangguk.
"La kog nak Devano yang disini. Nak Stefen kemana?"
Tak lama, dua orang polisi datang dan menginterupsi mereka.
"Ibu Naura?"
"Iya Pak. Saya."
"Bersediakah anda menjadi saksi di persidangan saudara Stefen?"
Naura tidak berani menjawab. Ia hanya memandang ibunya cemas.
"Nak Stefen calon suami anak saya?"
Hanya Devano yang mengangguk.
"Jadi begini, Ibu. Saudara Stefen melakukan tindak pidana kekerasan terhadap saudara Devano dan saudara Naura. Selain itu, Saudara Stefen juga terlibat perdagangan narkoba jenis sabu dalam jumlah yang besar." Satu orang polisi berinisiatif menjelaskan. Naura hanya memejamkan mata. Tak siap melihat reaksi ibunya.
Ibunya jatuh tersungkur ke lantai. Keringat dingin mengucur di dahinya.
"Bu, Bangun, Bu." Devano menggoyang-goyangkan tubuh ibu Naura. Tak ada reaksi apapun selain suhunya semakin dingin dan kulitnya memucat.
"Ra, pencet tombol darurat, Ra. Pak, minta tolong di panggilkan petugas IGD ya?" Devano memberi intruksi ke seadanya orang.
Tak lama, perawat datang membawa ranjang pasien. Devano segera menggendong Ibu Naura ke ranjang dan membawanya ke IGD. Naura berusaha turun dari ranjang.
"Ra, kamu tenang disini. Ibumu biar aku yang urus. Tanganmu masih ada infus. Kondisimu juga belum bagus. Oke?" Pinta Devano serius.
Naura membatalkan rencananya dan mengikuti keinginan Devano.
Devano segera pergi ke IGD menyusul Ibu Naura. Dari IGD, Ibu Naura harus masuk HCU. Serangan jantung dan hipertensi membuat Ibu Naura butuh perawatan intensif. Sudah hampir 12 jam Ibu Naura belum sadar juga. Devano memutuskan menyewa suster untuk menunggu Ibu Naura. Ia ingin memastikan kondisi Naura baik-baik saja.
Devano sampai di ruang rawat Naura saat suster melepas selang infusnya. Naura sudah diijinkan pulang. Devano lega melihatnya. Satu beban terangkat sudah.
"Anter aku ke ruang rawat ibu ya, Dev?" Pinta Naura setengah tertatih. Devano membopongnya pelan.
"Kamu pulang aja, Ra. Istirahat dulu di rumah. Biar di anter sopirku ya?"
"Nggak, Dev. Aku pengen liat ibu."
"Tapi habis itu pulang ya? Ada suster standby 24 jam jaga ibumu."
"Nggak, Dev. Aku pengen sama ibu. Dia satu-satunya yang ku miliki, Dev."
"Ra, akupun milikmu jika kau mau." Jerit batin Devano
Mereka berdua sampai di ruang rawat ibunya. Banyak alat terpasang di tubuhnya. Puji syukur, Ibunya berhasil melewati fase kritis. Jadi ia tidak perlu menghuni HCU lama - lama. Devano pun memilih kamar rawat terbaik yang di miliki rumah sakit ini untuk Ibu Naura. Semoga dengan begitu, Ibu Naura segera pulih lebih cepat.
Naura hampir membuka mulutnya saat sampai ruang rawat ibunya.
"Sttt.. jangan pikirkan apapun. Fokus pada kesembuhan ibumu. Sisanya aku yang urus." Devano meletakkan jarinya ke bibir Naura.
Naura hanya menunduk pasrah.
"Nak....!" Terdengar Ibu Naura merintih.
"Naura disini Bu.." Naura menggenggam erat tangan ibunya.
"Maafin ibu ya? Ibu udah kasih pilihan yang salah buat kamu."
"Nggak kog, Bu. Nggak salah. Naura yakin pilihan ibu pasti yang terbaik." Naura berusaha menahan air mata.
"Ibu pengen banget liat Naura nikah. Tapi malah Nak Stefen masuk penjara. Padahal kan nikahannya besok."
"Ibu jangan mikir macem - macem. Ibu fokus aja untuk sembuh." Hibur Naura.
"Ibu pengen kamu pake baju pengantin yang ibu pake nikah dulu buat kamu besok, Ra." Pinta Ibunya berlinang air mata. Suaranya begitu pelan.
"Iya, Bu. Naura pasti pake baju Ibu buat nikahan nanti. Tapi ibu sembuh dulu ya?" Ucap Naura sambil mencium pipi Ibunya.
"Nikahnya besok kan, Ra? Nanti minta penghulunya datang kesini aja. Minta Andra buat jadi saksi." Ibunya semakin melantur. Lalu tak sadarkan diri. Devano menekan interkom untuk memanggil dokter.
Tak lama, Dokter jaga datang dan dengan sigap memeriksa kondisi Ibu Naura.
"Ibu ini anaknya?" Tanya dokter sambil melihat Naura.
"Betul, Dok." Jawab Naura singkat.
"Ibu anda kondisinya semakin drop. Jantungnya semakin lemah. Kami sudah mengupayakan yang terbaik untuk ibu anda. Mungkin kondisinya tidak akan bertahan lama. Baiknya jika ada permintaan beliau dituruti saja. Karena jika tidak di khawatirkan menimbulkan kecemasan dan itu berakibat buruk ke kinerja jantungnya. Sekarang saya suntikkan obat penenang dulu agar Ibu anda beristirahat dan jantungnya bisa kembali bekerja maksimal." Cairan dalam spuit yang di pegang dokter itu berpindah ke kantong infus ibu Naura. Tak lama, layar monitor menunjukkan diagram normal. Dokter jaga segera pamit undur diri.
Naura menangis sesungukan. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi permintaan ibunya.
"Ra, Maaf nih ya jika aku lancang."
"Lancang kenapa, Dev? Kamu baik banget kog. Maaf ya aku ngerepotin kamu terus menerus." Naura mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
"Nggak kog. Kamu nggak ngerepotin aku. Sewajarnya manusia bantu sesama kan?" Devano bingung menyusun kata-kata.
"Bagaimana kalau....", Ucap mereka bersamaan.
Mereka saling pandang.
"Apa, Ra?"
"Nggak jadi, Dev!" Naura membuang muka. Devano menatapnya terus menerus.
"Ra..!"
"Iya. Apa Dev?"
"Bagaimana kalau...."
"Kalau apa, Dev?"
"Maaf, Ra. Mungkin ini terlalu cepat buat aku dan kamu. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain, Ra. Ini demi Ibumu." Kata Devano sebisanya. Ie merasa otak dan mulutnya tidak sinkron
"Apa sih, Dev? Langsung pada intinya aja. Tumben kamu ngomongnya belibet." Naura menatap Devano lurus. Devano justru membuang muka.
"Menikahlah denganku, Ra."
Naura melongo. Tak percaya kalimat itu bisa keluar dari mulut Devano.
"Ra, Maaf. Kau bisa menolaknya jika kau tidak bisa." Tambah Devano.
"Tidak, Dev." Naura masih belum percaya.
"Jadi kau menolakku?" Tanya Devano memastikan. Ia merasa dadanya akan meledak.
"Nggak, Dev. Barusan aku kepikiran begitu. Tapi aku bingung harus bilang bagaimana. Terus kamu malah ngomong duluan." Naura bingung memilih kata-kata.
"Jadi, kamu nerima lamaranku?" Devano memastikan bahwa ia tak salah dengar.
"Dev, aku malu." Pipi Naura bersemu merah.
"Ra, Aku serius. Kamu mau nikah sama aku?"
"Iya, Dev." Naura memberanikan diri menemui mata Devano. Ia malu sekali.
Ada rasa lega di d**a Devano. Ia takut sekali. Takut jika Naura menolak dan akan membuatnya kembali patah hati tanpa Naura sadari. Ia segera bersimpuh di depan Naura.
"Naura Aisha, Bersediakah kau menjadi istriku? Menua bersamaku? Susah dan senang bersamaku?" Devano menggenggam erat tangan Naura.
"Iya, Dev. Aku mau." Naura menahan senyum.
"Yeess.." Devano segera bangkit dan berjoget ria.
"Dev, jangan berisik. Ibuku nanti ke ganggu."
"Oh iya lupa." Devano segera menarik Naura dalam pelukannya. Akhirnya, Tuhan menerangi jalan hidup Naura yang sempat ia rasa buntu dengan cara yang sama sekali tidak ia duga.
Bersambung..
.
.
.
.
Hai Hai !!
Jika kamu suka kisah Devano dan Naura, kalian bisa tap purple love ya? Biar masuk pustaka kalian.
Selain itu, kamu juga bisa kasih hadiah ke Mamak Suri-nya Devano dan Naura biar makin produktif dalam menulis dan semangat melahirkan karya-karya baru.
Caranya, tap ikon kado, di situ kalian bisa memilih hadiah untuk mamak. Bisa Hati, bunga, spirit stick, fire work, ataupun mahkota. Apa aja boleh kog, suka-suka kalian. Mamak akan terima dan anggap itu bentuk cinta & dukungan kalian terhadap kelanjutan hidup mamak. Makasih dan selamat membaca semuanya !!! ❤❤?