Terlalu lama kamu bertindak, sampai kamu tidak sadar bahaya apa yang mengintai sang Dewi.
***
Seperti biasa suasana pagi di Internasional Senior High School atau lebih dikenal dengan IS atau IHS ini, diwarnai dengan hiruk pikuk para penghuninya yang mulai berdatangan. Tepat di ujung koridor kelas XII IPA 1 yang terkenal dengan anak unggul dan juga kaya itu. terlihat sekelompok siswi yang terlihat sangat serius dengan obrolan mereka, tidak peduli dengan beberapa siswa yang menatap penuh minat kearah mereka.
"Jadi Apa rencana lo Karin" tanya salah satu dari mereka. Seorang gadis yang di panggil Karin tersenyum misterius dan mulai membisikkan rencananya kepada empat temannya. Membuat senyum tteman-temannya langsung mengembang sempurna dengan kekehan senang yang membuat beberapa orang menatap mereka ngeri.
"Wow bagus tu, gue yakin itu cewek pasti kapok" Tanggap yang lainnya. Karin mengangguk setuju, rencanannya pasti berhasil dan ia akan membuat anak baru yang sombong itu menyesal sudah menentangnya.
"Tentu saja Shion, anak baru itu pasti akan kapok. memangnya siapa dia berani melawan gue” balas Karin sambil tersenyum sinis, senyum yang beberapa hari ini terus menghiasi wajah cantiknya.
"Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, gue Karin Billiendra pasti akan menghajar anak baru kurang hajar itu" Ucap Karin angkuh, namun siapa yang akan membantah. Selama ini sebelum anak baru itu datang ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sedangkan di tempat lain, jauh dari pandangan Karin dan teman-temannya. seorang gadis cantik sedang asik dengan dunianya sendiri. tidak menghiraukan tatapan heran dari teman-temannya yang lain Alexsa terus mengabaikan orang-orang disekitarnya dan sibuk dengan dunianya sendiri.
"Hy Alexsa" sapa Feby dan memgambil kursi di depan Alexsa.
“Hn, ada apa?" Tanya Alexsa, tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang ia baca. Feby merotasikan matanya malas, Alexsa terlalu menyebalkan.
"Lo mau pilih ekskul apa nanti?" tanya Feby lagi mencoba menahan kekesalannya, Alexsa terlalu fokus dengan Novel yang gadis itu baca.
“Hy” diabaikan, Feby yang kesal langsung menarik novel yang di baca Alexsa.
"HY" Teriaknya marah, kedua netra alexsa melotot kesal.
“Kembalikan novel gue!" ucapnya kesal yang lebih terdengar seperti perintah.
Melihat itu Feby mendengus jengkel, mereka sedang berada di dalam kelas sekarang. Dia, Mona, Alexsa juga Monika, tapi Alexsa malah asik dengan dunianya sendiri. Dan bahkan tidak peduli dengan kehadiran mereka sedari tadi.
Menyebalkan!.
"Lagipula kami juga penasaran lo Alexsa” Ucap Monika, sambil mengambil alih novel di tangan Feby sebelum berhasil direbut Alexsa kembali. Alexsa yang melihat itu hanya menghela nafas pastrah. Kalau sudah jadi begini, lebih baik ia jawab saja pertanyaan sahabatnya atau novel barunya tidak akan kembali ketangannya lagi.
Padahal ia baru saja membelinya.
"Karate" Ucapnya kesal yang sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan Ekskul yang akan ia ambil, apapun itu sebenarnya tidak terlalu penting untuknya.
"What karate, lagi?" protes mereka secara bersamaan. Alexsa mengangguk cepat dengan senyum jail yang begitu kentara.
"Wah kalian kompak sekali" ucap Alexsa yang lebih terdengar seperti ejekan ditelinga mereka.
"Kami serius Alexsa, memangnya tidak ada yang lain yang bisa kamu ikuti. Masih banyak ekskul yang lain. Drama, cheerleaders, reporter sekolah, OSIS atau apa lah lagi. yang pasti bukan karate" protes Feby jengkel. Dia sudah melihat Alexsa dalam balutan seragam karate sejak mereka Junior Hight School dulu. Dan dia sudah bosan melihatnya. ALexsa seolah tidak ingin melepas seragam itu, padahal Alexsa tidak benar-benar belajar karate juga. Gadis itu hanya mengisi kekosongan saja, tidak lebih.
"Yang lain gak seru" balas Alexsa tidak peduli dengan Feby dan Monika yang sudah menatapnya jengkel.
"Memang ngapain sih ikut karate lagi. kan sudah pas SMP Alexsa" geram Bella yang baru saja muncul, ikut nimbrung kedalam pembahasan sahabat-sahabatnya.
"Belum cukup, untuk memusnahkan nenek sihir dari muka bumi ini" jelas Alexsa sambil mendelik tak suka, ia tentu dari beberapa hari lalu ingin mencekik Karin setiap kali sadar gadis itu satu sekolah dengannya. Tapi ia tidak bisa melakukannya, karena ia tahu itu hanya akan membuatnya berada dalam masalah. Karena itu, Ia harus sering berlatih dan mulai mempersiapkan diri untuk bisa melawan Karin saat sudah waktunya nanti.
"Maksud lo Karin?" tanya Monika, Alexsa mengangguk cepat.
Memangnya siapa lagi.
“Senior yang Lo tampar waktu ospek itu" tanya Feby sambil menangkup pipinya dengan kedua tangannya, membayangkan betapa keras tamparan sahabat tomboynya ini.
"Wah. sepertinya Lo bakalan dapat heaters baru Lexsa" balas Mona, yang sedari tadi diam mendengar perdebatan di antara sahabat-sahabatnya.
"Gue gak peduli" balas Alexsa sinis, mendengar nama gadis itu disebut saja sudah berhasil membuat mood nya buruk apalagi bertemu langsung dengan Karin, ia yakin dia siap menghajar gadis itu saat itu juga kalau Karin berani bertingkah di depannya.
Mereka langsung diam, sadar sahabat mereka tidak dalam kondisi mood yang bagus sekarang. Sepertinya setelah ini mereka harus lebih waspada, amarah Alexsa bukanlah hal yang bagus. Mau bagaimana lagi bukan, Alexsa memang selalu menjadi magnet masalah setiap kali para gadis diluar sana yang menggilai Alex tidak tahu hubungan Alexsa dan Alex itu apa.
Padahal nama keluarga keduanya sama tapi tetap saja mereka seolah menutup mata dan malah cemburu pada Alexsa.
***
Alex mendengus jengkel, Sejak tadi pagi ia ingin menyapa Alexsa adik perempuannya itu. Tapi sayangnya Alexsa terus saja menghindarinya dengan alasan Alexsa masih marah padanya karena insiden saat dia membentak kelompok Alexsa saat ospek sehari yang lalu. Padahal Alex yakin ia tidak membentak Alexsa, hanya kebetulan saja Alexsa ada dalam kelompok itu. sehingga Alexsa berpikir ia memarahinya.
FlashBack On:
Jam sudah menunjukkan pukul 10:00 malam. sudah sejak dari tadi sore Alex menunggu Alexsa keluar dari kamarnya, tapi Alexsa tetap betah disana. beberapa kali coba Alex ketuk pintu kamar Alexsa tapi tak ada jawaban. hanya terdengar alunan musik Pop Amerika yang Alex yakin penyanyinya Justen Bieber, dengan Volume yang tidak begitu keras dan juga Alexsa yang ikut menyanyi dengan semangat.
Dan baru sekarang ketika sudah jam 10 malam Alexsa keluar dari kamarnya. Alex langsung menyapa Alexsa saat Alexsa melewati ruang keluarga. tapi sayangnya Alexsa malah mengabaikan panggilannya, Alex yang tidak tahu meengapa Alexsa bersikap seperti itu, langsung mengikuti Alexsa menuju dapur.
"Hy sayang" dan kembali menyapa Alexsa bahkan Alex sampai mencium pipinya. Alexsa langsung mendorong kasar tubuh Alex disampingnya, membuat Alex mengernyit heran tidak paham dengan sikap Alexsa. Alexsa bahkan menatapnya tajam, memang apa salahnya.
"Minggir!" ucap Alexsa sambil mendelik tak suka ke arah Alex. Membuat Alex semakin bertanya-tanya sebenarnya ada apa.
"Hy ada apa, kamu marah karena kakak cium princess?" tanya Alex mencoba menebak perubahan sikap Alexsa yang tiba-tiba seperti ini.
Tidak ada jawaban, Alexsa kembali mengabaikannya.
Tidak ingin membuat Alexsa semakin marah, Alex mulai mengikutinya lagi saat Alexsa mulai menjauh dengan langkah kaki yang sengaja Alexsa percepat. Alexsa benar-benar ingin menghindarinya ternyata. Melihat Alex yang semakin dekat, Alexsa sengaja mempercepat langkahnya sampai terlihat seolah gadis itu sedang berlari saja, tapi sayangnya langkah lebar Alex tentu dapat mengimbanginya. Menyadari itu Alexsa menghentikan langkahnya dan langsung menghadap Alex dan menatap Alex sinis sambil mendengus jengkel.
"Bisa Lo berhenti ngikutin gue seperti penguntit" ucapnya sambil menatap Alex seolah mengusirnya
Alex melotot kaget, What penguntit?. Alex menggeleng tidak percaya, bagaimana mungkin Alexsa menuduhnya sejahat itu. ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alexsa mala mini.
"Kamu kenapa princes?. kamu marah karena kakak cium?" tanya Alex lagi, masih dengan kecurigaannya yang pertama. Alexsa memutar matanya malas, kakaknya tidak peka sekali.
"Berhenti sok gak tahu" ucapnya dengan nada marah, Alex semakin menatapnya tidak paham membuat Alexsa ingin memaki saudaranya ini saat ini juga.
"Apa maksudmu?" Balasnya lagi sambil menyentuh bahu Alexsa pelan, yang kemudian di tepisnya kasar. Alex semakin tidak paham, memang apa salahnya sih.
"Pergi lo!. gak usah sok lembut sekarang. setelah Lo bentak Gue tadi siang" bentak Alexsa kesal, mengapa saudaranya setidak peka ini.
Alex diam, otak cerdasnya memproses cepat, mulai berpikir keras setelah mendengar ucapan Alexsa yang penuh amarah itu. Sampai sebuat ingatan tentang kejadian tadi siang membuatnya menganguk mengerti, Alexsa marah padanya karena itu ternyata. Padahal seingatnya ia tidak membentak Alexsa.
"Kakak tidak bermaksud membentak kamu Princess"
Alexsa menyorot sinis, Baru sadar ternyata, membuat Alexsa mendengus jengkel. Padahal ia sudah merajuk sejak siang tadi. Tapi baru saat malam tiba Alex baru membujuknya, menyebalkan sekali. Benar-benar tidak peka.
“Kakak jahat. Alexsa benci kakak" Alexsa berlari cepat menuju kamarnya, tidak peduli dengan Alex yang sudah berteriak-teriak memanggilnya.
Flashback Off
Alex mengusab wajahnya frustasi, ia yakin kali ini Alexsa benar-benar marah padanya. Mau bagaimana lagi, disini ia yang kurang peka. Alex semakin mendengus frustasi, kilasan ucapan Alexsa yang membencinya semakin membuatnya menggeram jengkel. Alexsa benar-benar terluka dengan tindakannya, seharusnya ia bisia lebih berhati-hati lagi. Alex mengeram prustasi mengingat pertengkaran singkat mereka semalam.
“Lo kenapa Lex?" tanya Reno, saat mereka sudah tiba di kantin sekolah. Dan ekpresi suram Alex masih belum hilang juga.
"Hn" Alex menggeleng pelan, sambil menitip makanannya pada Xarly untuk dibelikan.
"Oya, tadi pagi gue lihat lo gak pergi bareng sama Alexsa" tanya Dion curiga, keingin tahuannya tentang Alexsa dan Alex membuatnya ingin tahu apa yang menyebabkan Alex tidak berangkat bareng Alexsa tadi pagi.
Alex mendengus jengkel, padahal ia sedang tidak ingin membahasnya sekarang. Otaknya sedang penuh dengan pemikiran-pemikiran bagaimana menjelaskan semua ini pada Adiknya yang keras kepala itu. Tapi Dion malah menyinggung masalah itu sekarang, sebagai kawan Dion benar-benar tidak peka.
"Lo marahan ya sama Alexsa?" tanya Xarly, yang baru saja tiba sambil membawa pesanan mereka dibantu dua petugas kantin di belakangnya, setelah mengantar semua makanan mereka diatas meja kedua petugas kantin tadi undur diri.
Alex hanya diam tidak ingin menjawab, netra kelamnya malah lebih tertarik melihat salat buah di depannya dari pada menjawab kekepoan sahabat-sahabatnya.
"Wahh apa jangan-jangan Lo udah putus ya sama Alexsa" tanya Dion, sambil memasang wajah bahagianya yang sukses membuat Alex ingin melempar jus tomatnya kewajah Dion saat ini juga sebelum air bewarna orange lebih dulu mengenai wajah Dion diikuti suara batuk Daniel disampingnya.
Uhuuukk
"Hy, Daniel jorok banget. sampai nyembur ni kearah gue." protes Dion yang kebetulan duduk tepat di depan
Daniel, Alex menyeringai puas, ia tidak perlu bersusah payah menyiram wajah Dion, sudah ada Daniel yang melakukannya.
"Haha" Reno hanya terkikik geli melihat ekspresi Daniel. dan kemudian beralih melihat Alex yang masih dengan kikikan tidak jelasnya itu.
"Wah kalau putus, gue boleh dong dekatin Lexsa" timpal Dion dengan berbunga bunga, padahal baru saja disiram Daniel tapi tetap saja Dion tidak peka. Alex mendelik geram ke arah Dion, Sepertinya semburan jus wolter dari daniel tadi belum cukup membuat lelaki itu diam.
Terlalu malas berdebat, Alex kembali menghela nafas Panjang, sepertinya memang ia harus membuat pengumuman penting sekarang, ia dan Alexsa itu saudara. Tapi walaupun begitu ia tentu tidak rela Dion bersama adiknya. Ia tidak bodoh, ia tahu Dion sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis putri perawat senior di Robecha Hospital. Mana mungkin ia membiarkan lelaki playboy ini mendekati adiknya. Tidak akan mungkin.
"Siapa yang putus. gue sama Lexsa itu_ "
"Berani lo dekatin Alex lagi. gue pastiin Lo gak akan hidup tenang." teriak suara itu marah. Ucapan Alex terpotong begitu saja saat netra kelamnya menangkap pemandangan yang sangat mencurigakan tidak jauh darinya, apalagi kali ini namanya juga ikut dibawa-bawa.
"Alex, bukan kah itu Alexsa" ucap Reno cepat saat melihat ada Bella disana dan tentu Alexsa juga ada disana, dan benar saja netranya melihat Alexsa tidak jauh dari Bella. ada apa sebenarnya, mengapa gadis manis itu bisa ada disana. Reno langsung bangkit dari kursinya hatinya tidak tenang, tidak ingin hal buruk menimpa gadis itu. Reno segera berjalan cepat kearah Bella, Diikuti Alex yang sepertinya sudah sadar bahwa ada Alexsa disana.
"Alex bukan milik lo." balas Alexsa dingin. tak menghiraukan perkataan sahabat-sahabatnya yang memintanya untuk mundur saja. ia tidak akan kabur, beraninya wanita ini mengancamnya. Alexsa menatap tajam Karin yang menatap remeh dirinya.
“Aku bukan pengecut. yang lari terbirit b***t dari nenek sihir ini”
"KAU."Karin berteriak marah, tidak terima dirinya kembali dipermalukan didepan semua orang seperti tempo hari. Dengan cepat tangannya langsung mengambil minuman yang semula ada diatas meja Alexsa.
BRUUURRR
“YAAA” Alexsa memekik kaget saat cairan dingin nan manis itu membasahi wajah dan pakaiannya.
Sial! Seharusya tangannya bergerak lebih cepat dari Karin. Menyebalkan. Tapi ini belum terlambat, dengan cepat Alexsa mengambil jus apokat yang semula dipesan oleh Mona diatas meja mereka dan hendak menyiramkannya kewajah menyebalkan Karin. Tapi sayangnya memang mungkin hari ini adalah hari sialnya, Karin malah lebih dulu mendorongnya sampai minuman yang berada ditangannya malah membasahi bajunya sendiri.
Dabel Sial!
“Hahahaha rasain lo hahaha. " Alexsa hanya bisa meringkih kedinginan di lantai kantin. dengan pakain yang basah. dan beberapa makanan yang ikut ditumpahkan Karin di sekitarnya, ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan sekarang. rasanya ia ingin menangis saja, kalau saja ia tidak ingat sedang dimana ia sekarang, dapat dipastikan airmatanya pasti akan mengalir deras. Bahkan untuk bangun pun rasanya ia gak sanggup. Netra kelamnya menatap sahabat-sahabatnya yang sepertinya masih kaget melihatnya. ingin berteriak saja, Tapi dia terlalu malas melakukannya.
"LO” Febymenunjuk-nunjuk Karin kesal.
“BERANINYA LO LAKUIN INI PADA SAHABAT KAMI" geram Feby, sambil mendorong Karin. Setelah menyingkirkan salah satu teman Karin yang mencoba menahannya.
"Salahkan sahabat bodoh Lo itu. beraninya Dia mendekati Alex. Alex hanya milik gue. DENGAR LO!" Balas Karin jengkel, hendak membalas mendorong Feby tapi sayangnya gerak tangan gadis itu lebih cepat menepis tangannya sampai membentur meja, Sial!, ia yakin tangannya akan membiru setelah ini.
Siall! Ini sakit sekali.
Alex yang masih kesusahan menembus kerumunan siswa menatap murka kearah Karin yang masih menatap Feby sinis, netra kelamnya bisa melihat Alexsa yang sedang di bantu berdiri oleh Mona dan Monika. sedangkan Bella sedang mendorong kasar Shion menjauh yang kembali mencoba melemparkan tepung lagi kearah Alexsa.
Mereka benar-benar sudah keterluan kali ini, tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Memang siapa lo berani melarang Alexsa. Alexsa lebih punya hak terhadap Alex dari pada lo dasar nenek lampir" balas Feby geram, dengan satu tangannya menarik rambut panjang Karin kasar. Karin yang tidak terima hendak membalas menjambak gadis sombong didepannya ini, namun sayangnya Feby lebih dulu mendorongnya sampai punggungnya terbentur meja dengan keras.
Feby yang melihat itu menyeringai Sinis, inilah akibatnya kalau Karin berani mengganggu sakah satu diantara mereka.
“Mampus lo”
Alex yang melihat itu menyeringai sinis, Karin benar-benar memancing amarahnya. Dengan kesal ia mendorong kasar seorang Siswa yang masih saja menghangi jalannya, membuat Siswa yang ia yakin Juniornya itu telonjak kaget tiba-tiba didorong kasar dari belakang membuatnya ditatap heran oleh para siswa dan siswi yang ada disana, ingin memaki siapapun pelakunya sayangnya lidahnya langsung kelu saat tahu siapa yang mendorongnya tadi. Dengan cepat ia memberi jalan sebelum mengundang amarah salah satu seniornya ini.
"Alexsa” panggil Alex, yang sukses membuat Karin telonjak kaget melihat Alex berada diantara mereka. Alexsa mengangat pandangannya menatap Alex dengan netra kelamnya yang menyorot sedih. Dia pasti terlihat sangat jelek sekarang, dengan baju basah, rambut lepek bahkan hiasan tepung diatas rambut bahkan wajahnya.
"Alex" gumam Karin masih dengan ekpresi kagetnya, dengan cepat ia melepaskan Feby dan hendak mendekati Alex setelah yakin epresinya sudah terlihat lebih baik. ia harus mengatur emosinya dengan baik, Ini saatnya ia membuat Alexsa terlihat begitu buruk didepan Alex.
"Alex, hiks. akhirnya kamu datang juga. Hiks, aku takut. Alexsa mengancamku, dan mencoba menamparku lagi hiks untung saja ada _"adu Karin sambil mengeluarkan air mata buayanya, yang membuat semuanya menatap tak percaya kearahnya bagaimana mungkin gadis itu bisa memutar balikkan cerita padahal jelas semua orang tahu Karin lah yang salah disini.
"Dasar pembohong, Lo yang labrak Alexsa, lo lihat apa yang Lo lakuin ke Dia" geram Feby, sambil mencoba menghajar Karin lagi, tangannya benar-benar sudah gatal ingin menghajar wanita ini sekarang juga. tapi Daniel malah menahannya membuatnya menatap Sinis Daniel.
Alex melangkah cepat, tidak peduli dengan wajah menyebalkan Karin ataupun Feby yang sudah siap kembali menghajar Karin, yang ia pikirkan hanya satu, Alexsa.
“Sayang Kamu baik-baik saja, dimana yang luka sayang??" tanya Alex Khawatir dan ikut duduk di samping Alexsa, memastikan ALexsanya tidak terluka.
Diam, Alexsa hanya diam. Alex menghela nafas berat, pikirannya yang kalut sejak tadi pagi membuatnya memilih membiarkan Alexsa sendiri dulu. Tapi sayangnya malah ini yang ia dapatkan. Rasa bersalah itu semakin menggunung, saat Alex sadar apa yang memicu masalah ini terjadi. coba dari awal ia memperkenalkan Alexsa sebagai adiknya, mungkin ini tidak akan terjadi.
Ini memang salahnya.
"Kau” Alex menatap Karin murka, bisa-bisanya wanita ini malah melukai adiknya. Benar-benar tidak bisa ia biarkan.
“Sudah gue bilang, jangan pernah menyentuhnya. Apa peringatan sebelumnya belum cukup jelas Hah" bentak Alex, netra kelamnya menyorot sinis wanita didepannya. Apa semua yang sudah ia katakan tidak cukup menjadi peringatan untuk Karin. Kenapa wanita ini malah mengganggu Adiknya.
"Aku melakukan ini semua demi kamu Alex" jelas Karin sambil memasang wajah sedih, Alex semakin menatap sinis wanita didepannya. Apa boleh ia menyingkirkan Karin saat ini juga. Wanita ini benar-benar memuakkan.
"Enyah kau dari hadapanku Karin, gue muak sama Lo” sinis Alex yang sukses membuat Karin terdiam tidak percaya, bukankah selama ini Alex senang saat ia menyingkirkan setiap wanita yang mencoba mengganggu Alex, lalu mengapa kali ini Alex tidak memihak padanya. Sebenarnya siapa gadis ini, siapa Alexsa. Kenapa Alex sampai marah padanya seperti ini.
"Ayo kita UKS " tidak peduli dengan Karin yang sudah siap dengan semua rayuan memuakkan wanita itu lagi, Alex mengendong cepat Alexsa tidak peduli seragamnya yang ikut kotor karena tindakannya.
"Aku mau pulang" Alex mengangguk cepat, tidak peduli semua mata yang menatapnya, Alex membawa cepat Alexsa keluar dari area kantin. Dia yakin para sahabatnya akan membereskan semuanya untuknya.
“Baiklah kita pulang sayang"
“Mulai hari ini dan selanjutnya aku berjanji tidak akan ada yang bisa melukai kamu lagi Alexsa, kakak janji. dan kesalahpahaman ini. pasti akan kakak luruskan, pasti!.
***