Alexsa duduk santai diatas ranjangnya, dengan dikelilingi oleh satu orang wanita cantik dan dua orang lelaki tampan yang menyorotnya penuh tanya dan seorang wanita paruh baya yang masih setia berdiri tenang diantara mereka, menatapnya khawatir sejak ia kembali kerumah.
"Alexsa sayang, siapa yang sudah melakukan ini semua sayang?" tanya Robecha cemas, ini pertama kalinya ia mendapati putrinya dalam keadaan babak belur begini. Siapa sebenarnya yang sudah berani mengganggu putrinya ini, padahal selama SMP tidak ada yang berani mengganggu Alexsa, keberadaan Alex dan eksistensi putrinya membuat Alexsa selalu baik-baik saja.
Alexsa hanya diam, sambil sesekali menggeram kesal. Sangat jauh berbeda dengan postur tubuhnya yang terlihat tetap santai bersandar di kepala ranjang dengan kedua netranya yang menatap kesal kakaknya yang masih berdiri tegak diantara mereka.
"Princes, kamu tidak mau cerita sama kami sayang" tanya Robert Wilshon lagi, Mencoba membuat putrinya yang sedari tadi diam untuk buka suara atau ini tidak akan pernah selesai. Alexsa menghela nafas pelan, Daddynya terus menatapnya menuntut, Mommynya juga sama, mereka semuanya menunggu ia berbicara dan menceritakan semuanya.
"Bukan begitu Dad" Akhirnya Alexsa memilih buka suara, mengharapkan Alex menjelaskan semuanya sama saja dengan sia-sia. Alex tidak akan melakukannya, kebungkaman lelaki itu sedari tadi sudah menjelaskan semuanya. Bahkan netranya saja sudah lelah menatap tajam saudaranya itu, ingin memaksa Alex berbicara namun Alex malah terdiam seribu Bahasa.
Ah iya, kami lagi marahan. Oh ya, masih marahan. Hahaha masih marahan eh? ok.
Alexsa membatin ria, dengan tatapan jengkel yang masih saja ia layangkan untuk Alex. Seharusnya sebagai orang yang sudah melakukan kesalahan, seharusnya Alex tahu bagaimana caranya meminta maaf padanya.
Tapi ini tidak, Alex malah hanya diam saja sedari tadi. Ck! Menyebalkan. Baiklah kalau ini yang Alex mau, ia akan melempar semua kesalahan pada Alex, biar kakaknya itu sadar.
"Ini semua karna fansgirl Kak Alex yang gila itu Mam" jelas Alexsa akhirnya. sambil mendelik tajam ke arah kakaknya yang masih saja memilih bungkam padahal sudah ia tatap setajam ini sejak tadi bahkan sudah ia sindir sekeras itu Tapi kenapa Alex tidak peka juga.
Mendengar itu, Robecha dan Robert menatap bingung Alexsa."Maksudnya sayang?, kenapa dengan fansgirl kakak kamu" tanya Robecha bingung. Alexsa merotasikan matanya kesal, Mommy nya tidak mungkin tidak tahu bagaimana dengan para gadis diluar sana yang menyukai kakaknya itu, mereka bahkan sudah setengah gila sampai menganggapnya adalah pacar Alex padahal nama mereka itu sama, sama-sama Wilshon.
"Mereka bully Alexsa ma" rajuk Alexsa kesal, yang sukses membuat Robert menatap putrinya tidak percaya. Beneran di bully?, Alexsa di bully, kenapa malah ia merasa tidak percaya. Putrinya yang garang ini bisa di bully, wau.
"Kamu dibully Princess. Hahahahaha" tidak sanggup menahan rasa geli yang terus mendesak di ujung tenggorokannya, Robert langsung tertawa keras tidak peduli Alexsa yang setelah ini mungkin akan merajuk padanya. Oh tuhan ini lucu sekali, putrinya yang biasanya membully orang malah di bully, yang benar saja dan itu di_.
“Di sekolah milik Grandma sayang hahaha”’ masih dengan tawa menyebalkannya Alexsa mendengus jengkel melihat Daddy nya, dengan rasa kesal yang semakin menggunung dihatinya.
“Eh, gue lupa itu sekolah milik Grandma. Bodoh bodoh”
"Kamu serius sayang?" tanya Robecha heran, bagaimana mungkinkan Alexsa di bully. Apa telinganya salah dengar.
Alexsa mendengus jengkel, orangtuanya pasti tidak akan percaya ia tahu itu. sedangkan Alex, cowok itu hanya menatap kosong kedua orang tuanya. masih merasa bersalah, yang semakin membuat Alexsa menatap jengkel saudaranya yang hanya memilih diam. Kalau memang Alex merasa bersalah seharusnya Alex jangan hanya diam saja, seharusnya Alex menjelaskan apa yang terjadi disini.
“Ok ok maaf Princes" ucap Robert setelah mendapat tatapan mengancam dari putrinya.
“Jadi kenapa fansgirl kakak kamu bully kamu Princess" tanya Robert setelah mengembalikan raut wajah tenangnya, seperti semula. Alexsa menghela nafas pelan, ia bahkan malas kalau harus membahas ini.
"Jelous kali dad, mereka pikir Alexsa pacarnya Kak Alex." jawab Alexsa jengkel.
"Maksudnya?" Robecha dan Robert berucap bersamaan saat mendengar pengakuan putrinya. yang tentunya itu tidak masuk akal sama sekali.
"Mommy sama Daddy kompak banget" ucap Alexsa sambil tersenyum jail. Robecha bersidekap kesal, bisa-bisanya Alexsa malah becanda saat sedang serius seperti ini.
"Kami serius Alexsa Wilshon" ucap Robecha dingin, yang jelas sekarang Alexsa tahu ia tidak bisa bercanda lagi. bisa gawat kalau Mommynya sudah memanggil nama lengkap mereka, Alexsa menatap kedua orang tuanya cemas.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Alexsa Wilshon!" ucap Robecha lagi, tidak ingin dibantah.
"Tanya saja sama kak Alex ma"Alexsa kembali memberungut kesal dan menatap Alex sinis masih enggan menjawab. Tapi kali ini malah melempar semua masalah kepada Alex yang sedari tadi hanya diam saja saat ia diintrogasi oleh kedua orang tuanya. Robecha hanya bisa menghela nafas pastrah. kemudian menatap putranya meminta penjelasan.
Merasa di perhatikan, Alex yang sejak tadi asik dengan dunianya sendiri akhirnya mengalihkan pandangannya untuk melihat kedua orang tuanya yang sekarang malah menuntut penjelasan darinya.
Alex menghela nafas berat, akhirnya ia juga yang harus menjelaskan semuanya. apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi waktu itu ma_" Alex akhirnya buka suara, deretan kata yang tersusun jadi satu cerita itu keluar tanpa hambatan dari bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat. Robecha dan Robert hanya menggangguk-anggukan kepala tanda mengerti, sesekali mereka menatap heran ke arah Alex dan Alexsa. kemudian mengembalikan lagi rahut wajah tenang mereka untuk mendengar deretan cerita yang keluar dari bibir putranya yang jujur malah membuat mereka semakin jengkel.
"Jadi ini semua karena salah paham doang kok Ma" Alex mengedarkan pandangannya, sampai akhirnya kedua netra kelamnya malah bertemu dengan netra hitam Alexsa yang sedang menatapnya sinis seolah berkata_
“Oo, gak berani bilang ya. kalau kita lagi berantem. dasar pengecut”
Seolah pandangan mereka saling berkomunikasi, keduanya saling fokus mengintiminasi walau yang paling dominan adalah Alexsa yang terus mengobarkan bendera perang nya terhadap Alex.
"Hmmmmm" Robert berdehem pelan, saat melihat putranya kembali terdiam dengan netra kelam yang serupa dengannya itu menatap Alexsa penuh arti.
"Jadi ini karena kesalahpahaman?" tanya Robeth memastikan. "Apa itu masuk akal, apa kalian memiliki nama keluarga yang berbeda?" Lanjut Robert dengan nada sarkastik, jelas disini ia kesal dengan alasan sepele yang membuat putrinya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari salah seorang siswi disana yang ia belum tahu siapa orangnya. Alex dan Alexsa hanya bisa diam mendengar pertanyaan Robert yang seolah mendukung kebodohan mereka, dan juga teman mereka di sekolah.
Mengapa jadi seperti mereka yang di salahkan?
kok makin memusingkan sih.
Pikir mereka, saling menatap satu sama lainnya. Sayangnya tetap tidak ingin saling membuka suara.
"Itu karena kak Alex, Daddy. Seharusnya dari awal ia memperkenalkan Alexsa sebagai adiknya. bukan menunggu orang lain salah paham dulu. " Alexsa membela diri, tentu disini ia tidak ingin disalahkan kerena itu ia langsung menatap Alex sinis sambil menampilkan senyum kemenangannya.
"Mengapa gue yang disalahin, mereka aja kali yang bodoh. "runtuk Alek kesal.
"Gue menang, semua ini memang salah kak Alex kali" senyum kemenangan kembali menghiasi wajah Alexsa, wajah prustasi Alex sudah cukup membuatnya tersenyum senang.
Robecha dan Robert yang melihat itu, menatap heran keduanya. Seolah sedang terjadi perang dingin di antara dua anaknya.
“Resiko punya adik keras kepala" Alex kembali menyemangati dirinya kesal.
"Daddy sama Mommy tidak mau tahu, pokoknya ini harus di luruskan. Jangan ada kesalah pahaman lagi, Daddy tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Paham!." Tegas Robert, memberikan perintah yang tidak mungkin bisa di bantah oleh kedua anaknya.
"iya Dady".
"ya".
Alex dan Lexsa menyahut berbarengan, sambil mengalihkan pandangan mereka menghindari tatapan mengintiminasi dari Robert.
***
Kesunyian itu kembali menyelimuti Alex dan Alexsa. keduanya seolah asik dengan dunianya masing-masing. Yang akhirnya membuat Alex jengah sendiri, ia harus meluruskan semua ini sebelum akhirnya orang tuanya tahu mereka sedang ada masalah.
"Alexsa_" panggil Alex akhirnya, sambil beranjak pergi dari sisi meja belajar Alexsa. dan kemudian duduk di depan Alexsa yang masih duduk diatas ranjangnya.
"Hn "
"kamu masih marah?". tanya Alex yang sudah jelas lelaki itu tahu jawabannya apa.
‘Oh God , perang dingin ini harus di akhiri. aku sudah bosan kalau harus berdiam-diaman seperti ini’.
"Menurut?" tanya Alexsa sarkastik, Yang kembali membuat Alex menghela nafas prustasi. bukan perkara mudah baginya untuk menghadapi sikap keras kepalanya Alexsa, seharusnya Alexsa tahu ia menyesal dan ia minta maaf.
"Kakak minta maaf"
"Untuk. ? tanya Alexsa sambil memasang wajah kesalnya. Alex kembali menghela nafas lelah, Alexsa keras kepala sekali.
"Kakak gak ada maksud bentak kamu, atau marahin kamu, atau gak membantu kamu, tidak membela kamu, saat Orientasi hari itu semuanya terjadi begitu saja. kakak benar-benar tidak ada maksud bentak kamu Princess." Jelas Alex yang hanya dibalas Alexsa dengan tatapan acuh tak acuhnya.
"Ayolah Princess." Alex kembali memohon, mencoba memasang wajah memelas yang ia yakin andai saja kondisinya tidak seperti ini, Alexsa pasti sudah menertawakannya sekarang.
Mencoba mencari solusi lain, Alex memutar otaknya cepat. ia harus menuntaskan masalah ini dan kemudian kembali berbaikan dengan Alexsa yang masih asik dengan ponselnya itu, seolah ada yang sangat menarik perhatian Alexsa disana.
"Princes Please, kakak benar-benar minta maaf. kamu jangan ngambek lagi dong." bujuk Alex lagi, otaknya sedang buntu sekarang. Tidak ada solusi sesuai yang melintas di pikirannya sekarang untuk membujuk Alexsa.
"Enggak mau" jawab Alexsa acuh. sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
SKATMAT.
Alex tersenyum senang, saat Alexsa memberi tanggapan walaupun terkesan acuh tapi ia bisa tersenyum senang sekarang. adiknya mulai sedikit luluh.
"Princess kakak janji, kakak gak akan membentak kamu lagi. apalagi untuk hal yang sepele seperti kemarin" lanjut Alex, sambil mengacungkan jari kelingkingnya. memberi tanda kalau Dia sungguh-sungguh.
Alexsa menatap Alex ragu saat Alex mengacungkan jari kelingkingnya, setelah berpikir sejenak akhirnya ia menyambut jari kelingking itu. Alex sudah berjanji padanya, awas saja kalau lelaki itu berani ingkar.
"janji!" ucap Alexsa memastikan.
"iya kakak janji Princess" balas Alex tersenyum senang, Akhirnya masalah ini selesai juga dan Alexsa tidak akan merajuk lagi padanya. Tidak lagi.
Akhirnya!.
“Tapi_” Alexsa menyorot Alex angkuh, yang seketika Alex sadar ini belum sepenuhnya berakhir.
“Aku gak mau memaafkan kakak semudah itu. aku sudah terlanjur kesal. " Alexsa melipat dua tangannya di d**a sambil menampilkan wajah kesalnya yang malah terkesan lucu dimata Alex.
Menggemaskan.
"Jadi My princess mau kakak melakukan apa" tanya Alex seolah sudah tahu kemana arah perkataan Alexsa. Alexsa yang mendengar itu tersenyum senang, inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.
"Alexsa mau besok, kak Alex batalin semua janji yang sudah kakak buat. dan temanin Alexsa jalan-jalan kesemua tempat yang Alexsa mau dan tentunya kakak harus mengtraktir Alexsa sampai Alexsa puas, Bagaimana?" jelas Alexsa sambil menampilkan senyum penuh kemenangan. Alex langsung menatap Alexsa memohon, Ini tidak akan mudah, ok.
"Jangan besok ya sayang" Alex mulai memelas lagi, ia tidak mungkin membatalkan semua janji yang sudah ada besok, dan besok adalah jadwalnya latihan basket dengan anggota Timnya. Tidak mungkin ia kembali libur karena ia kaptennya dan pelatih mereka pasti akan marah kalau tahu itu.
"Big No Princee, i want it tomorrow. so will that happen tomorrow. i no want ather day again." kekeh Alexsa dengan permintaannya, yang sukses membuat Alex menggeram prustasi
"Ok kalau kakak gak mau, Alexsa gak akan maafin" ancam Alexsa, yang jelas Alex tidak ingin itu terjadi. Alex menghela nafas prustasi, Alexsa tersenyum senang saat melihat wajah prustasi kakaknya. Alex tidak akan menolak, ia yakin itu.
"Baik lah" balas Alex menyetujui permintaan Alexsa. Menolak bukan pilihan yang bagus sekarang, dan Alex sadar ia tidak dapat menghindar. Walaupun wajah garang Pak Romi sudah terbayang jelas di pikirannya, tapi sayangnya sekarang ia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Alexsa.
"Pak jangan marah-marah terus nanti cepat tua. lagipula saya melakukan ini untuk Alexsa. bapak gak tahu sih kalau Alexsa marah dia bisa membuat satu keluarga bad mood karena perubahan moodnya. dan itu merepotkan pak." pikir Alex sambil menghela nafas prustasi. sedangkan Aexsa di depannya, masih menampilkan senyum kemenangannya. Yang semakin membuat Alex mendengus jengkel.
Oh God, no more like this.
***