Hiruk pikuk taman hiburan langsung menyambut kedatangan Alex dan Alexsa yang sukses membuat Alex ingin mengumpat saat itu juga, Keadaan yang panas ditambah ramainya pengunjung membuatnya semakin bertanya-tanya mengapa Alexsa malah mengajaknya kemari. Apa saudaranya ini ingin balas dendam padanya, atau memang hanya ingin bermain saja, jelas alexsa tahu, ia tidak suka dengan tempat ini. Terlalu ramai, terlalu sesak membuatnya bahkan tidak bisa bernafas bebas.
"Kak Alek ayok naik bilang lala itu" Paksa Alexsa sambil menarik tangan Alex lagi. Alex yang merasa kesal hanya bisa pasrah, ia tidak bisa membantah keinginan adik perempuannya yang satu ini. Bahkan ia rela pergi ketaman bermain yang sangat ramai ini dan meninggalkan latihan basketnya dengan Timnya.
Ia jelas sadar, setelah ini ia pasti akan dapat masalah. Tapi bermasalah dengan ALexsa jauh lebih menyebalkan. Masalah timnya, ia tahu mereka akan tetap baik-baik saja tanpanya. Tapi pelatih mereka?.
Ia tidak yakin pak Romi akan memaklumi sikapnya ini.
"Kak kita naik itu juga yok" ajak Alexsa lagi tanpa memperdulikan keadaan Alex yang sekarang sedang menahan mual di perutnya. Dan sekarang Alexsa sudah menunjukkan permainan baru yang pasti akan membuat isi perutnya keluar semua.
“Ayok kak, kakak udah janji lo” mudah sekali alexsa ngomongnya. Alex menatap ngeri kearah Alexsa, yang di balas Alexsa dengan cengiran tak berdosa. Kalau begini ceritanya, bisa-bisa ia benar-benar akan muntah dan perutnya akan semakit sakit, kepalanya juga sakit.
"Princes sudah ya" mohon Alex yang hanya dibalas gelengan kepala pasti oleh Alexsa dengan senyum manis masih terukir diwajahnya. dan Alex sadar, sedikitpun ia tidak bisa membantah. Bahkan saat senyum itu berubah menjadi seringai yang menyeraman untuknya, ia hanya bisa meringis ngeri membayangkan semua hal buruk yang akan menimpanya setelah ini.
Alexsa benar-benar ingin balas dendam padanya. Kenapa adik manisnya malah berubah jadi mengerikan seperti ini. Padahal biasanya Alexsa selalu patuh padanya dan mendengarkan semua ucapannya.
"Gak ada bantahan Prince!" Alexsa menatap tajam dirinya, Alex kembali menyorot gadis di depannya memohon. Bukan karena takut untuk menaiki setiap permainan yang Alexsa inginkan. Tapi membayangkan setiap putaran yang permainan itu ciptakan benar-benar membuatnya mual seketika.
Ayolah, ia bukan penakut. Ia benar-benar tidak takut dengan ketinggian atau apapun itu, ia hanya tidak suka dengan hal yang berputar-putar, hanya itu saja.
“sayang, kita loncat dari tebing aja mau” Alexsa mendengus kesal, mana mungkin ia mau menuruti alex. Karena hari ini Alex yang harus menuruti keinginannya.
“Yaudah, kita main kuda sayang, naik kuda, memanah, menembak, balap-balapan sayang, sekalian main jetskey sayang, ayolah yaa” ALexsa tetap menggeleng tegas, Alex menunduk frustasi. Bagaimana ini, kenapa ALexsa keras kepala sekali hari ini.
“Kamu sudah janji kakakku sayang, harus ditepati” dan Alex sadar, Alexsa sudah pasti tidak akan mau menerima tawaran darinya. Ah, menyebalkan.
"Baiklah" Tidak tahan terus ditatap setajam itu, Alex mengangguk pastrah dan ikut saja saat Alexsa menyeretnya mendekati tempat permainan rolling causter yang pasti akan membuatnya langsung muntah-muntah.
Dan benar saja, setelah puas dengan permainan yang mengacu adrenalin itu. Alexsa tersenyum puas, netra kelamnya menyorot sekelilingnya semangat. Kakinya sudah siap untuk kembali melangkah mendekati permainan lainnya, sebelum suara Alex disampingnya membuatnya langsung menatap lelaki itu Khawatir.
UWEEEKK
Alex langsung muntah-muntah.
"Kakak baik-baik saja" panik Alexsa, padahal awalnya ia hanya ingin mengerjai Alex saja. Tapi malah begini jadinya, ia benar-benar menyesal. Lebih tepatnya, tiba-tiba ia langsung merasa menyesal melihat kakaknya semenderita ini. Sepertinya ia sudah terlalu keras.
"Kok kakak lemah banget sih, masak kalah sama cewek" sindir Alexsa, tapi bukan Alexsa namanya kalau tidak mengejek lelaki ini. Alex mendelik jengkel, ingin balik mendebat tapi lambungnya kembali membuatnya muntah-muntah.
UWEEKKK
Hanya suara muntahan itu yang membalas ucapan Alexsa. Dengan rasa khawatir yang semakin membuncah akhirnya Alexsa menyudahi aksi balas dendamnya, mengingat Alex yang memang tidak menyukai semua hal yang ia lakukan hari ini. apalagi semua permainan yang ia pilih, Alex benar-benar tidak menyukai semua hal yang berputar-putar seperti tadi. Mengacu adrenalin sih boleh saja, tapi tidak dengan hal yang bisa membuat asam lambung Alex naik.
Ok, ia tahu. ia sudah keterlaluan disini.
***
Jauh disana, di area lapangan basket. Dimana semua anggota Team basket sudah berkumpul disana dan hanya Alex yang tidak ada. dan itu sukses memancing amarah sang pelatih, bagaimana mungkin sebuah team bisa latihan tanpa kapten Teamnya. Berkali-kali Pak Romi berteriak murka menanyakan dimana Alex sekarang, tapi sayangnya hanya keheningan yang Pak Romi dapatkan.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan anak didikannya yang satu itu, seharusnya Alex bisa lebih disiplin bukan malah lalai seperti ini.
"DIMANA ALEX?". Lagi dan lagi teriakan Pak Romi memenuhi gedung olahraga, para anggota Clup basket tidak ada satupun yang tahu dimana Alex sekarang hanya bisa diam. Tidak ada yang bersuara, hanya Xarlly yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya menghubungi pelaku yang sudah membuat mereka jadi pelampiasan emosi Pak Romi.
Baru juga dapat pacar Alex sudah bertingkah seperti ini, ia bahkan sampai heran, jelas ini pertama kalinya Alex tidak datang kelatihan dan ia yakin Alex pasti sedang Bersama Alexsa. Sebenarnya apa hebatnya gadis itu, bahkan disaat banyak teman-teman alexsa yang juga berada disini, seharusnya gadis itu tahu tanggung jawab alex dan lebih mendukung Alex kemari. Toh juga kalau Alexsa kemari, gadis itu tidak akan sendirian, disini ada sahabat-sahabat alexsa juga.
"Kami lagi berusaha menelponnya pak" Akhirnya Xarlly membuka suara, setelah lelah mendengar teriakan pelatih mereka. Dan tangannya yang lelah terus menerus menghubungi Alex tapi tidak diangkat oleh sahabatnya itu.
Pengen di hajar emang ni anak
"Telpon lagi!, Dia pikir latihan ini untuk main-main." ucap pak Romi kesal, walaupun tak berteriak seperti tadi lagi. tapi itu cukup membuat mereka semuanya mengumpati Alex secara serempak dalam hati mereka masing-masing.
awas lo Alex.
mampus aja lo lex.
Punya kawan kok gini amat ya.
"Telpon lagi dia!" Perintah Pak Romi tidak sabar. Pak Romi menghela nafas jengkel sebelum akhirnya menatap semua anak didiknya kesal, gara-gara satu orang Latihan mereka jadi terhambat.
“Yang lain kembali latihan lagi." lanjutnya.
Xarlly yang masih memegang ponselnya menggeram kasar, ingin mengumpat sayangnya ia tidak ingin memancing amarah pelatih mereka lagi. Cukup Alex saja yang mendapat hukuman dari Pak Romi jangan sampai ia juga.
***
Alexsa menatap Alex yang masih saja memijit kepalanya kasian, Setelah perdebatan kecil dengan Alex tadi yang memang tidak ingin berlama-lama di taman bermain itu. akhirnya Alexsa mereka memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di restoran di salah satu pusat pembelanjaan yang berada tepat di depan arena permainan yang mereka datangi.
"Kakak pesan apa?" tanya Alexsa setelah memanggil salah satu pelayan disana dan mulai melihat buku menu yang diberikan padanya.
"Soft drink, sama nasi putih, sea food, tumis kangkung, fried chicken, cumi goreng juga. Ah satu lagi kentang gorengnya juga " Alexsa menatap tak percaya mendengar pesanan Alex yang jauh dari kata biasa, dia menggabungkan semuanya. tapi bukan itu saja, dia memesan terlalu banyak. bahkan sangat banyak malah, mengingat porsi makan Alex yang tidak sebanyak itu.
“Kakak serius?” Alex mengangguk mantap, memang apa yang salah. Mengapa Alexsa menatapnya seperti itu. wajar dong kalau makannya banyak, perutnya terasa benar-benar kosong sekarang dan seharusnya Alexsa tahu itu karena ulah siapa.
“Itu terlalu banyak kak, kakak yakin?” Alex bergidik tak peduli, yang ia tahu ia ingin makan sekarang. Setelah kejadian yang memalukan tadi perutnya terasa sangat lapar. Melihat itu Alexsa mengangguk mengerti, memangnya ia bisa apa kan. Lagipula ini juga salahnya, ia yang sudah membuat Alex kelaparan.
"Saya pesan es krim vanila blue mint. sama soft drink nya juga," pesan Alexsa akhirnya, pelayan wanita yang tadi fokus mencatat pesanan Alex langsung mencatan pesanan Alexsa cepat setelah ditatap tajam oleh gadis di depannya.
“Dasar ganjen”
“Baiklah pesanan mbak akan segera siap, mohon ditunggu sebentar." ucap pelayan itu sopan. kemudian dengan cepat berlalu dari hadapan keduanya.
"jadi?" tanya Alex, setelah dirasa ini adalah waktu yang tepat untuk mereka mendiskusikan semuanya, sebelum ALexsa semakin semena-mena atasnya.
"Apanya?" Alex memutar mata malas, ia jelas tahu Alexsa hanya pura-pura tidak mengerti disini.
He, apa maksudnya itu?
Alexsa memberunggut kesal melihat respon yang diberikan Alex padanya. Alex bahkan menatapnya seolah ia adalah gadis paling menyebalkan dimuka bumi ini. Ya walaupun ia akui dia memang sedikit menyebalkan, tapi tidak perlu harus ditatap semenyebalkan itu bukan.
Dasar menyebalkan
Alex yang tidak ingin membuka suara, menatap Alexsa lama yang dibalas dengan hal yang sama oleh gadis dihadapannya. Sampai akhirnya seorang pelayan datang dengan pesanan mereka, Alex langsung melahap makanan yang dipesannya tanpa peduli Alexsa yang semakin menatapnya jengkel.
“Apa dia sangat lapar” Gumam Alexsa reflek.
"Apa lihat-lihat" sinis Alex yang sadar Alexsa malah memperhatikannya. Dan mengabaikan es krim pesanan Alexsa.
“Sudah gak makan sebulan ya kak?” sindir Alexsa yang sukses membuat Alex menatapnya sinis, gadis di depannya ini pasti tidak sadar siapa yang sudah membuatnya seperti ini. Jangan lupakan kejadian di taman hiburan tadi, semua itu cukup membuatnya kelaparan sekarang.
Ah sudah lah.
Alex kembali fokus dengan makanannya, membuat Alexsa merotasikan matanya jengkel. Tidak bisa diajak bicara sedikitpun saudaranya ini. Menghela nafas berat akhirnya Alexsa memilih diam, rugi saja kalau harus adu mulut dengan Alex. Bagaimanapun disini Alexlah yang sanggup berlama-lama diam dari pada Alexsa. Jadi rugi saja mendebat Alex kalau yang Alexsa dapatkan hanya tatapan tajam dan keheningan saja.
Drrrrr
Alex meraih cepat ponselnya yang bergetar hebat diatas meja. Disana nama Xarlly salah satu sahabatnya tertera. Membuat perasaan horor seketika melingkupinya. Pasti Xarly sudah berubah jadi makhluk halus sampai sanggup membuatnya merinding begini.
"Hallo". sapa Alex tenang, namun teriakan di seberang sana sukses membuatnya menjauhkan ponselnya dengan cepat.
"Dimana lo hah."
Sial!
Alex megusap kupingnya sebentar, suara Xarly benar-benar tidak main-main. Pantas saja walaupun bukan anggota tim penyiar seolah lelaki itu kerap sekali mengisi siaran radio sekolah. Kekuatan Suara lelaki itu memang menjadi faktor utama.
"Ada apa?" tanya Alex tenang, walaupun sebenarnya ia sadar mengapa ia sampai ditelpon begini dan suara kesal Xarlly sudah menjelaskan semuanya padanya. Pasti pak Romi sudah mengamuk-ngamuk disana dan anak basket menjadi sasarannya.
"Ada apa lo bilang, Dimana lo sekarang? cepat ke sekolah! Kita latihan oii, Latihan. " balas Xarlly masih berteriak seperti tadi, tapi paling tidak itu tidak sekeras tadi. Alex menghela nafas jengkel. ia harus membujuk Alexsa sekarang. Ingin terlebih dahulu memaki Xarlly yang sudah berani membentaknya seperti itu. Tapi mengingat faktor utama mengapa lelaki yang paling sering tersenyum itu bisa semenjengkelkan ini, ia langsung mengurungkan niatnya. Kali ini ia memakluminya.
"Ya aku tahu, tapi aku tidak bisa kesana sekarang!” ia tidak berbohong disini, tapi respon yang diberikan Xarly setelahnya berhasil membuat kepalanya nyeri.
"Lo gila, cepat kesini! Pak Romi sudah ngamuk tu. anak- anak sudah jadi sasarannya, lo datang sekarang!"
"Lo urus bentar, buat alasan apa gitu, gue lagi sama Alexsa” kembali ia dapat mendengar Xarlly menghela nafas kasar.
"Gue bunuh juga lo lama-lama ya, cepat kemari oi”
Alex terdiam sambil menghela nafas berat, netra kelamnya menatap Alexsa sebentar dan benar saja Alexsa sudah menantapnya sinis seolah mengancamnya. ia benar-benar bingung sekarang, Alexsa benar-benar sulit untuk dibujuk.
"Acara Lo sama Alexsa lanjutin disini aja deh, ya. gue udah males berurusan sama pak Romi, mendingan lo kemari sekarang!. atau Gue bilangin Pak Romi lo gak datang cuma karena Lo lagi kencan buta sama cewek SMA Laksana." Ancamnya yang sukses membuat Alex mendengus jengkel, apa sahabatnya ini ingin memfitnahnya. Sejak kapan ia mengencani siswi dari SMA lawan. Ia tidak mungkin melakukan itu.
"Ok ok gue datang." balas Alex jengkel. Dan sekarang bagaimana caranya ia bisa membujuk Alexsa, Alexsa bahkan sudah menatapnya penuh peringatan, ia tahu ia tidak akan mungkin bisa lepas dengan mudah.
"Gitu do_”
Alex langsung menutup telponnya begitu saja, terlalu malas kalau harus berlama-lama. ancaman murahan yang dipakai Xarly cukup ampuh mengingat SMA Laksana adalah lawan mereka nanti di pertandingan Basket antar sekolah yang menyandang gelar internasional. Tentu ini bukan pertandingan biasa, mereka mempertaruhkan kehormatan mereka disini.
"Siapa?" tanya Alexsa tidak suka ada yang mengganggu Alex saat saudaranya itu bersamanya.
"Xarly" jawab Alex, sambil mengamati es kriem Alexsa yang sudah habis tapi masih dimainkan oleh gadis itu. Alex mengambil kentang goreng miliknya, dan memakannya santai. Kemudian mengambil satu lagi dan membawanya kedepan bibir Alexsa, Alexsa menerimanya dengan tatapan yang masih sama. Masih menatapnya kesal sekaligus penasaran.
“Hm?” Alexsa mengernyit tidak paham, mengapa salah seorang sahabat kakaknya menelpon. Dia butuh penjelasan disini, dan entah mengapa perasaannya langsung tidak enak.
"Pak Romi,” ucap Alex yang sengaja menyebut nama pelatih mereka.
“Ada latihan basket di sekolah. Pak Romi nyuruh aku kesana" jelas Alex, Alexsa langsung menatap Alex curiga seolah Alex ingin kabur dari janji lelaki itu dengannya.
"Hari ini kan kakak sama Alexsa, kakak sudah janji" ucapnya mengingatkan Alex dengan janji Alex semalam. Alex menghela nafas berat, ia tahu ini tidak akan mudah. Membujuk Alexsa itu sangat sulit.
"Bagaimana kalau kita kesekolah saja. lagipula kamu juga bisa melakukan banyak hal disana." Alex masih mencoba, ia ingat disana pasti ada Bella dan Salsa yang merupakan anggota Chearleaders sekolah.
"Gak kakak” Alexsa menggeleng tegas. ia sedang tidak ingin berkompromi disini, biarkan ia bersikap egois sekali ini saja.
“Kakak harus nemanin Alexsa belanja, kakak sudah janji" lanjutnya sambil mengangkat sebelah tangannya memanggil pelayan, Mereka akan berbelanja sekarang.
Tidak lama seorang pelayan datang dan menyerahkan selembar kertas pada Alex, Alex menghela nafas pastrah, sepertinya ia memang harus menemani Alexsa terlebih dahulu atau gadis ini akan kembali merajuk padanya. Alex melihat berapa harga semuanya sebelum membayar semuanya yang cukup menguras dompetnya mengingat uang Cash di dompetnya tidak banyak.
"Ayo " Alexsa segera menyeret Alex keluar setelah lelaki itu selesai membayar semuanya, menuju tempat yang akan kembali mengguras dompet saudaranya. Alex yang sadar uangnya akan kembali melayang sebentar lagi hanya bisa merapalkan mantra penyemangat didalam hati.
Sabar
Sabar semua ini cobaan
Sabar-sabar
Uang jajan dari Bokap belum turun lagi.
"Kak” panggil Alexsa masih mengandeng tangan Alex, kakaknya ini kenapa tegang sekali.
"Hn?"
"Kak kita lihat baju yok" Ajak Alexsa sambil menarik tangannya ke sebuah toko dengan berbagai macam baju wanita ada disana, kembali Alex hanya bisa menatapnya sebal. Memasuki toko dengan semua barang-barang wanita cukup membuatnya jengkel.
"Dasar cewek" gumamnya pelan
"Kakak bilang apa tadi" tanya Alexsa yang jelas ia mendengar gerutuan Alex tadi. Alex langsung menggeleng cepat, terlihat sangat menggemaskan saat Alex melakukannya.
"Gak, kakak gak bilang apa- apa". jawab Alex cepat. Alexsa hanya tersenyum manis kearahnya yang jelas Alex tahu saudaranya ini pasti mendengar gerutuannya tadi.
“Hm” Alexsa kembali bergumam tidak jelas sebelum gadis itu pergi meninggalkannya dan mulai sibuk dengan semua pakaian yang ada didepan mereka.
Menyebalkan memang!
Tidak lama kemudian_
"Kak ayok, Alexsa sudah pilih ni." Alexsa menunjukkan hasil belanjaannya. sebuah Dres, baju kaos, celana jeans dan beberapa lainnya. Sebanyak itu, Alex menggeleng prihatin dengan nasib uangnya. Gadis ini sangat tahu cara membuatnya miskin dadakan padahal ia anak sultan, tapi kenapa uang jajannya malah sedikit sekali. Menyedihkan sekali nasibnya.
Alexsa tersenyum lebar, Setelah yakin dengan semua piihannya, Alexsa langsung menarik tangan Alex menuju kasir yang membuat Alex langsung paham hari ini ia benar-benar jadi ATM berjalan untuk Alexsa.
"Makasih kakak sayang" Alexsa mencium pipi Alex cepat sambil tersenyum senang melihat hasil belanjaannya di tangan saudaranya. ia tidak menyangka akan belanja sebanyak itu, dan ia tahu Alex pasti menggunakan uang jajannya untuk membayar semua belanjaannya hari ini. Mengingat kartu kredit Alex masih ditahan oleh Daddynya setelah kejadian kemarin.
“Iya” Alex mengelum senyum manis merespon perlakuan Alexsa padanya, padahal ia sudah sangat kesal tadi, tapi tindakan berani yang dilakukan Alexsa di depan umum malah membuat emosinya menguap entah kemana.
Aneh_
Yang ia rasakan sekarang hanyalah rasa tenang, nyaman yang membuat jantungnya berdetak dengan irama yang sangat pas, dan itu terasa sangat menyenangkan membuatnya ingin melakukan hal serupa seperti yang Alexsa lakukan tadi padanya.
Alexsa tersentak kaget mendapati Alex juga membalas ciumannya, namun kemudian ia tersenyum senang, Alex tidak marah padanya setelah ia menghabisan uang saudaranya. Dengan perasaan bahagia Alexsa menyambut senang saat Alex menggenggam tangannya erat, tidak peduli dengan beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka setelah tindakan berani mereka didepan umum tadi.
"Tampan sekali dia”
"Beruntung sekali gadis itu”
"Pasangan yang serasi”
Alexsa terkekeh geli mendengar bisikan-bisikan para gadis yang berlalu lalang disekitarnya dan Alex, para gadis itu tidak tahu saja kalau mereka ini saudara sedarah. Dan itu juga yang terjadi dengan teman-teman mereka disekolah, padahal mereka cukup mirip tapi mengap masih ada saja yang mengira mereka ini adalah pasangan bukan saudara.
"Kak, beli topi itu yok" kembali netra gelap itu berbinar senang saat kembali sebuah barang menarik minatnya untuk dibeli. Alex mengangguk setuju, melihat respon saudaranya Alexsa langsung menarik Alex mendekati tempat dimana topi-topi cantik itu dipanjang.
Alexsa mulai asik memilih-milih topi yang ia suka, Alex hanya melihat kesenangan saudaranya itu sambil sesekali tersenyum saat Alexsa mencoba berbagai macam topi dengan antusias.Dia memilih berdiri tak jauh dari Alexsa untuk mengawasi saudaranya dari beberapa pasang mata yang menatap Alexsa seolah ingin menggoda. Mereka pasti berpikir Alexsa sendirian kemari, mata mereka pasti buta tidak melihat ia yang menggandeng tangan Alexsa tadi.
Dasar buta!
Alex yang kesal melihat mata-mata lancang itu menatap Alexsa penuh minat tanpa sadar malah menggepalkan tangannya erat, seolah siap kapan saja menghajar para remaja itu kalau mereka berani mendekat.
“Hy siapa gadis itu. Dia cantik”
“Sepertinya dia sendiri”
Wah, mereka benar-benar buta. Alex mengerang kesal, mendengar bisikan-bisikan beranu itu terus terdengar, dan sepertinya Alexsa tidak menyadarinya. Adiknya polos sekali, kalau begini mana mungkin ia membiarkan Alexsa sendirian tanpa pengawasannya. Dengan cepat Alex melangkah mendekat dan merangkul bahu Alexsa cepat. Bahu itu sempat menengang sesaat seolah kaget dengan tindakannya.
“Kakak bikin kaget saja” Alex terkekeh pelan kemudian mengelus puncak kepala Alexsa sayang, sebelum bertanya_
"Sudah dapat apa yang kamu cari princes?"
Dan tindakannya itu sukses membuat para remaja lelaki yang sedari tadi mengawasi Alexsa melangkah menjauh dengan geraman kekesalan yang masih bisa ia dengar.
“Dia tidak pantas untuk kalian goda. keputusan bagus kalau kalian pergi, sebelum kalian berakhir ditangan ku”
"Hy"
“Bagus bukan?” Alexsa bertanya cepat sebelum Alex melepaskan topi yang ia pasangkan di kepala Alex.
"Bagaimana, kakak suka. itu untuk kakak dan ini untuk Alexsa, topi kita sama." Lanjut Alexsa sambil memakai topi yang serupa dengannya kemudian tersenyum senang.
Ya, topi mereka sama
"Ayok kakak yang bayar lagi hihi" Ajaknya lagi sambil tertawa senang, dan kembali ia menjadi ATM berjalan untuk gadis manis ini.
Sepertinya uang gue udah ludes ni. sabar Alex sabar, resiko punya adik Judes mah gini.
***
Setelah akhirnya selesai dengan semua keinginan Lexsa, Alex dan Alexsa langsung bergegas meninggalkan pusat pembelanjaan dengan sedikit paksaan dari Alex yang sudah sangat jengkel dengan ponselnya yang terus bergetar di saku celananya.
"Princes, kita ke sekolah ya" bujuk Alex lagi, yang ia bahkan sudah bosan menghitungnya. Alexsa masih terus saja menggeleng semangat padahal ia sudah lelah membujuk.
"Tapi kan_"Bantah Alexsa lagi, tapi kali ini ia harus berhasil. Atau telinganya akan panas mendengar semua omelan Pak Romi
"Ayolah Princess, kamu gak mau kan melihat kakakmu yang tampan ini dihukum berat sama Pak Romi." mohon Alex yang sukses membuat Alexsa ingin muntah saat itu juga, narsis sekali saudaranya ini untung beneran ganteng.
"Dasar narsir" balas Alexsa sambil bergidik geli. Alex masih menatapnya memohon, sepertinya ia memang harus mengalah sekarang.
"Ya baiklah kita kesekolah." putus Alexsa akhirnya setelah menerima tatapan memohon dari Alex, yang sebenarnya malah membuatnya ingin tertawa dari pada kasihan. Alex benar-benar tidak cocok memasang ekpresi menyedihkan seperti itu.
"Thank you Princes, kamu memang baik banget deh." balas Alex senang, tidak ingin membuat Alexsa berubah piiran, Alex segera melajukan mobilnya menuju sekolah mereka. Entah hukuman apa yang akan menunggunya nanti, ia tidak tahu.
"Ih kakak alay banget geli tahu gak" balas Alexsa sambil bergidik geli, Alex hanya tertawa garing membalas ucapan adiknya. Yang penting sekarang ia harus kesekolah demi keselamatannya.
***