Semilir angin sejuk menerpa wajah Ana, gadis cantik berusia 18 tahun ini baru saja lulus dari SMA, hawa pedesaan yang sejuk dengan hamparan luas sawah yang hijau memanjakan matanya, pegunungan terlihat bayangannya dari tempat dia duduk, di pendopo tengah sawah.
Dia duduk beralaskan tikar tipis dengan ditemani pisang goreng dan kopi buatannya, dia menunggu bapak dan ibunya sedang menanam padi. Ingin rasanya menyeburkan diri ke tengah hijaunya sawah, tapi orang tuanya terkadang khawatir gadis itu digigit ular genit.
Tak jarang memang banyak ular hijau di sawah ini, Ana biasanya selalu menggunakan sepatu boot tebal, tapi sayangnya kini tidak, dia hanya menggunakan sandal japit untuk mengantarkan camilan dan kopi untuk bapak ibunya.
Sawah ini bukan milik bapak ibunya, sawah ini milik alam, hasilnya untuk rakyat. Bahkan ibunya pernah berkata bahwa sawah ini subur karena sang Pencipta, bukan karena para petaninya. Mereka hanya berusaha merawat dan menjaga karunia sang Pencipta.
“Nduk, kamu pulang saja dulu, nanti kan kamu harus mengajar ngaji. Ayo kamu pulang dulu sana,” ucap ibunya.
Topi capil diletakkan di samping duduknya, tangannya ia cuci dengan air mineral, lalu menyantap pisang goreng buatan anaknya. Matanya berbinar dan rasa lelahnya hilang seketika saat menikmati pisang goreng buatan Ana.
“Nduk, tanganmu ini terbuat dari apa toh, kok pinter masak pisang goreng, uenak tenan,” puji Darto—bapak Ana.
“Walah, enggak Pak itu masaknya cuma pake tepung vanilla instan kok pak, enak to pak? Kriyuk kremes gitu kaya iklannya?” tanya Ana ikut tertawa.
“Iya, uenak banget ini, bapak jadi pengen ngabisin. Enggak enggak apa-apa ya bapak habisin ini?”
“Lo lo pak, jangan to, ibu nanti makan apa. Sudah Ana, kamu pulang, bapak sama ibu pulangnya nanti agak sorean, mau ke kebun pak Sam dulu.”
Selain menjadi petani pekerjaan bapak ibunya membantu memetik buah pisang di kebun pak Sam, pekerjaan bapak ibunya hanya bisa untuk biaya Ana sekolah sampai SMA. Sebenarnya Ana sangat ingin kuliah dan merantau ke kota, tapi orang tuanya selalu melarangnya karena takut terjadi sesuatu dengan Ana.
Gadis itu turun dari pendopo dan berpamitan kepada ayah dan ibunya, dia harus mengajar mengaji hari ini, meski tidak dibayar sepeser pun, tapi Ana sangat senang jika mendengar anak-anak yang mengaji dengan khidmat.
Dia menapakkan kakinya di jalan yang menanjak, untuk menuju pulang dia harus berjalan sejauh dua kilo, dengan jalan yang menanjak dan menurun, tapi rasanya berjalan sama sekali tidak melelahkan sembari menikmati hamparan hijau yang luas nan udara yang sejuk. Terik matahari tidak begitu terasa menyengat kulitnya, hawanya dingin dan menenangkan.
Sebuah truck pick up melewatinya, dia melihat teman laki-laki SMA-nya duduk di atas pick up dengan membawa tas besar seperti ingin pindahan, truck itu berhenti tepat di depan Ana.
“Na, ayo ikut aku! Aku mau ke kota sekarang ini. Ayo Na, kita harus merantau ke kota Jogjakarta. Nanti biar aku yang kerja, kamu kuliah.” Lelaki itu menarik tangan Ana dengan lembut, tapi Ana menggeleng.
“Maaf kang Mas, Ana enggak bisa ikut. Bapak sama Ibu khawatir kalau Ana pergi ke kota, Mas saja ya yang pergi, hati-hati. Biar hubungan kita sampai di sini saja ya mas. Kalau memang jodoh, pasti kita bertemu lagi Mas,” ucap Ana.
Lelaki itu hanya bisa menatap sendu ucapan Ana, hatinya sangat sakit teriris ucapannya. Jarak kota dengan desa sangat jauh, bahkan menempuh waktu yang lama meski menggunakan truk pick up, Ana hanya bisa melambaikan tangannya atas kepergian kekasihnya.
Kisah cintanya telah usai, mau tak mau Ana harus merelakannya untuk merantau ke kota. Lelaki itu sebenarnya tidak begitu Ana cintai, Ana hanya mau menjalin hubungan dengannya karena dia dulu telah berjasa menyelamatkan hidupnya dari gigitan ular. Anehnya, meski dua tahun mereka berpacaran, Ana tetap tidak memiliki rasa dengannya.
Laki-laki itu naik ke atas pick up dan menunduk, dia tidak lagi menoleh ke belakang menatap Ana. Lama-kelamaan sosok lelaki itu menghilang dari pandangan Ana.
“Ayo anak-anak, kita mulai ya ngajinya, yuk baca dulu taawudz.”
Ana gadis desa yang sangat cantik, bisa dibilang dia adalah bunga desa, gadis pujaan lelaki sebayanya. Kulit putihnya yang cantik, matanya yang bulat hitam dan dagunya yang lancip membelah, bulu matanya lentik ke atas. Dengan balutan hijab dia terlihat lebih anggun dan auranya memancar cantik, membawa aura kebaikan kepada sekitarnya.
Anak-anak pun senang di ajar mengaji oleh Ana, dia perempuan yang sangat sabar menghadapi anak kecil, bahkan anak-anak yang tidak ikut mengaji dan berlarian tidak pernah ia bentak, dia pribadi yang sangat lembut, halus dan sopan.
“Hayo Adlan, nak jangan lari-lari, ayo masuk kita mengaji, biar nanti Adlan bisa masuk surga, kalau Adlan masuk surga, disana ada banyak sekali buah-buahan yang manis dan air yang segar.”
Begitulah cara Ana menegur anak-anak yang sangat aktif, dia sangat sabar dan tidak bisa marah. Entah bagaimana dia bisa berhati seperti bidadari, sosok laki-laki menggunakan masker hitam dengan jaket abu-abu mengintip dari kaca, membuat Ana penasaran, dia lalu keluar, dan laki-laki itu berlari pergi.
Ana tidak mengejar laki-laki itu, tapi rupanya ada surat tertinggal di tempat dia berdiri, Ana mengambil surat itu, dia tidak membukanya tapi menyimpan dalam sakunya lalu masuk lagi ke dalam kelas dan mengajar anak-anak mengaji.
“Aduh, itulo si Ana anak pak Darto sudah lulus SMA loh tapi kok enggak lanjut kuliah ya bu?”
“Oh iya bu, anak saya aja Lia saya suruh langsung kuliah, alhamdulillah bu dia keterima di Surabaya.”
“Wah, keren bu, lah itulo anaknya pak Darto. Kasihan banget ya bu enggak kuliah, tapi ya mau gimana? Bapak ibunya enggak punya uang kok memang.”
Ana telah usai mengajar, dan dia hanya berjalan diam-diam melewati ibu-ibu yang sibuk menggosip tentang dirinya, ibu-ibu itu berniat menjemput anaknya yang mengaji, memang semua teman sebayanya melanjutkan kuliah, bahkan jika mereka tidak kuliah, mereka merantau ke kota.
Tapi Ana hanya bisa tetap di desa menemani kedua orang tuanya, bahkan setelah ini dia bekerja apa dia belum tau. Sesampai di rumahnya Ana merebahka dirinya ke atas kasur, dia melepas pakaiannya, dan surat yang tadi ditinggalkan lelaki itu jatuh, Ana mengambilnya dan membaca seksama surat itu.
Betapa terkejutnya ia membaca surat itu, ‘Ana, Temui aku di terminal kota Jakarta, atau orang tuamu tidak akan selamat, aku tunggu dua hari lagi, atau orang tuamu tidak selamat.’ Tangannya seketika menjadi dingin dan bergetar, jantungnya mendadak berpacu dengan cepat. Ana kembali mengenakan bajunya dan berlari menuju kebun pak Sam.