Ana mengelilingi kebun pak Sam, dia membuka pagar kebun dan berlari mengelilingi kebun hampir seperti orang gila, dia mencari di kebun seluas dua hektar itu sendirian, namun tidak ada siapa pun disana, Ana mengacak kerudungnya frustasi.
“Assalamualaikum pak ....” ucap Ana. Dia mengetuk pintu rumah pak Sam dengan panik, hari sudah mulai gelap namun orang tuanya tak kunjung pulang. Dia takut surat itu benar mengancam nyawa orang tuanya.
“Waalaikumsalam ....” jawab pembantu pak Sam. Pembantunya keluar sambil membawa bayi anak dari anak pertama pak Sam.
“Ada apa neng ke sini?”
“Saya cari Bapak sama Ibu, sudah jam segini kok belum pulang ya mbak Nem?” tanya Ana panik.
“Waduh mbak, setau saya dari tadi enggak ada yang kerja di kebun mbak, soalnya nyonya sama tuan semuanya pergi keluar kota. Mereka mau nyiapin kuliahnya mbak Dewina.”
“Waduh, ini gimana mbak Neemm, Bapak sama Ibu kemana semua ini.”
Mbak Nem lalu pamit masuk meletakkan bayinya, memanggil anak pertama pak Sam, Mas Fahrul lalu lelaki itu keluar, dia menatap bingung Ana yang matanya sembab karena menangis. Istrinya berdiri di samping Ana dan menyuruhnya duduk lalu memberinya air minum.
“Seng tenang dik, ada apa? Bapak sama Ibu kamu mungkin masih di sawah,” ucap mbak Laras, istri mas Fahrul.
“Aduh Mbak, bapak sama Ibu enggak biasanya lo mbak pulang setelah maghrib, biasanya mereka itu pulangnya jam empat sore.”
Laras hanya bisa mengusap punggung Ana agar gadis itu tenang. Napas Ana masih tersengal dan panik, memikirkan surat yang dia temukan, dia benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada bapak atau ibunya.
“Wis dik, kamu pulang sekarang ya sudah malam, biar diantar sama mbak Nem naik motor,” ucap mbak Laras.
Tapi suaminya Fahrul menawarkan mengantar Ana. Di perjalanan, keduanya berboncengan tanpa sepatah kata, namun tiba-tiba Fahrul menghentikan motor tepat di jalanan yang sepi dan penuh dengan semak-semak, Ana sempat bingung dengan Fahrul yang tiba-tiba berhenti.
“Loh Mas? Kenapa ini motornya?” tanya Ana. Fahrul turun dari motor, Ana juga mengikutinya turun, lelaki itu tiba-tiba menarik paksa Ana dan merebahkannya di atas semak-semak, Ana terkejut dan meronta, badan Fahrul menindihnya dan menarik paksa rok Ana, Fahrul merobek baju Ana, gadis itu kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki di hadapannya. Ana menendang kemaluan Fahrul lalu dia bangkit, dengan keadaan baju yang sobek dimana-mana.
Ana mencoba berlari kencang dan tak menoleh ke belakang, jarak ke rumahnya sangat jauh, sedangkan Fahrul masih di semak-semak merintih kesakitan. Ana ke rumah saudaranya, ke rumah kakak ibunya.
“Budhe, buka budhe ....” panggil Ana mengetuk pintu rumah budhenya. Budhenya yang membaca Al-Quran menghentikan aktifitasnya dan membuka pintu, terlihat Ana yang menggunakan pakaian tak layak.
“Astagfirullah nduk, kamu kenapa nak?” tanya budhenya lalu menggiringnya masuk ke dalam, budhenya mengambil baju lengan panjang miliknya dan memberikan kepada Ana. Sedangkan Ana hanya bisa menangis tersedu-sedu.
“Nduk, siapa yang melakukan ini sama kamu nduk?” tanya budhenya khawatir.
Ana menggeleng tak mau memberi tahu jika Fahrul yang mencoba memperkosanya, Ana sangat takut jika dia mengatakan jika Fahrul yang berbuat, bisa-bisa pekerjaan ayah ibunya terancam, kalau pekerjaan ayah ibunya hilang, dari mana mereka makan, hasil dari sawah tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Wis nduk, kamu seng tenang, besok kita ke dukun kalau kamu hamil. Budhe janji enggak bilang ke siapa-siapa soal ini.”
Ana masih menggeleng, dia tak mampu mengeluarkan kata-kata karena masih shock berat. Tanpa mereka sadari ada tetangga yang menguping di depan rumah. Tangan Ana dingin, sekujur tubuhnya bergetar ketakutan.
Perbuatan Fahrul membuat Ana tidak berani melakukan apa-apa. Ana digiring budhenya untuk masuk ke dalam kamar dan tidur, untung saja pakdhe dan sepupunya sedang keluar kota untuk menjual beberapa sayuran.
“Budhe, Ana mau pulang budhe, bapak sama ibu sudah pulang belum?” ucap Ana dengan suara bergetar.
Dia sangat kebingungan saat ini. Dia mau mencari bapak ibunya tapi sayangnya mereka tidak ada mana-mana, keadaannya sendiri mengenaskan, hampir saja gadis remaja ini kehilangan keperawanannya.
“Sudah, kamu di sini saja dulu ya tinggal sama budhe, besok subuh baru kamu pulang, kalau pulang ke rumah masih jauh Ana.” Ana mengangguk dan memejamkan matanya, dia tidur sambil memegang tangan budhenya, gadis ini sangat ketakutan,
Terik matahari menerpa wajah Ana, membuat gadis itu terbangun. Budhenya sudah tidak ada di sampingnya, pergi untuk bercocok tanam. Ana keluar rumah dan kembali berjalan pulang, beberapa ibu-ibu menggosip tentangnya, membuat Ana menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon besar.
“Eh Bu! Kemarin aku ke rumah Yu Sutik! Ana ke rumahnya bu, katanya hamil! Wah ini berarti dia harus digusur dari desa ini, kita harus lapor ini ke pak RT.”
“Walah yang bener Bu? Ana enggak mungkin hamil bu, masih perawan gitu.”
Ana tidak mau mendengar gosip mereka lagi, beginilah kehidupan di desa, semua masalah akan digunjingkan oleh warga sebagai bahan gosip. Hati Ana pilu, kakinya juga pegal, biasanya jam segini bapak ibunya bersiap berangkat ke sawah.
Dia membuka pintu rumahnya, namun kosong dia semakin panik, takut bila ancaman di surat itu benar. Tidak ada siapapun di sana, Ana memilih pergi ke sawah, meski sebenarnya raganya lelah, dia tetap berjalan sekuat tenaga. Semua orang di sawah tidak tau kemana peginya bapak dan ibu Ana, gadis itu semakin panik, waktunya tersisa tinggal satu hari lagi, dia akhirnya memilih numpang menaiki truk beras menuju terminal untuk ke kota Jakarta.
Dia tidak membawa uang sepeser pun, perutnya juga kosong belum terisi makanan apapun, dia hanya bermodalkan nekat dan doa yang dia panjatkan dalam perjalanan.
“Pak, permisi. Saya mau ke Jakarta, berapa ya pak biayanya?” tanya Ana, gadis itu mencoba bertanya pada calo tiket bus.
“Murah kok mbak, cuma empat puluh ribu, ayo mbak saya antar naik ke busnya.”
Calo itu sempat bingung melihat Ana, pergi ke Jakarta tapi tidak membawa apapun, bahkan wajahnya sangat lusuh seperti belum mandi.
“Waduh pak, saya enggak punya uang, saya pinjam bapak dulu boleh? Ini penting pak soalnya,” ucap Ana memelas.
“Wah maaf mbak, enggak bisa e saya juga lagi cari duit ini.”
Ana lalu berpikir sejenak, dia masih memiliki gelang emas pemberian kakeknya dulu, dia lalu melepasnya dan memberikan kepada calo itu, terpaksa dia harus memberikannya, dia tidak memiliki apapun kecuali gelang itu.
“Saya cuma punya ini pak, tolong ya pak. Tolong saya.” Ana memelas dan memohon.
“Walah mbak, ini emas asli? Seharusnya ini ada kembaliannya, lha wong cuma 40 ribu lo mbak tiketnya, mending mbak jual dulu saja.”
Calo itu mencoba untuk menyuruh Ana menjual emasnya, karena gelang ini mungkin harganya melebihi dari tiket bus.
Tapi gadis itu menggeleng, dia sudah tidak punya waktu lagi, dia takut jika terlambat menemui orang yang mengancamnya.
“Sudah, enggak papa pak, bapak ambil saja simpan dulu kembaliannya pak, ini saya penting harus ke Jakarta sekarang.”
Bapak calo itu akhirnya mengangguk dan memberikan Ana selembar tiket bus dan mengantarnya naik masuk ke dalam bus.
“Mbak, hati-hati lo mbak kalau ke kota, banyak copet di sana,” ucap bapak calo
Ana mengangguk dan tersenyum berterimakasih lalu naik ke dalam bus.