“Terminal Jakarta, yo siapa yang turun?” ucap kernet bus.
Ana mengerjapkan matanya, bangun dari tidurnya, tubuhnya sangat lemas, sejak kemarin malam dia belum makan apapun, hari sangat gelap, sekitar pukul sepuluh malam.
Dengan berjalan tertatih, Ana turun dan celingukan di terminal Jakarta yang sangat ramai, dia lalu duduk di ruang tunggu dan menatap sekeliling, dia sudah jauh dari rumahnya, bodohnya dia mengikuti ancaman surat itu, sampai di sini dia baru menyadari bagaimana jika surat itu hanyalah keisengan belaka? Dia sangat lemas dan tak berdaya, lambungnya sangat perih dan matanya berkunang-kunang. Seorang laki-laki duduk di sampingnya, laki-laki itu menggunakan masker hitam dan jaket hitam.
“Sendirian mbak?” tanya lelaki itu, sayangnya Ana sangat lemas dan dia tiba-tiba pusing, pandangannya seketika menjadi gelap. Terakhir kali dia merasa tubuhnya melayang, seseorang mengangkatnya, samar-samar dia bisa melihat lelaki yang tadi duduk di sampingnya yang membawanya. Ana hanya bisa berdoa dalam hati untuk selamat.
Lelaki itu membawa Ana ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat, dia sangat kasihan dengan kondisi Ana. Meski dia belum mengenal siapa Ana, tapi lelaki itu mencoba untuk menyelamatkan nyawa Ana, tadinya dia ingin menemui seseorang untuk di terminal.
“Dok, bagaimana?” tanya lelaki yang menolong Ana.
“Tenang saja mas, enggak papa, hanya sepertinya kekurangan cairan, besok pagi boleh pulang.”
Dokter keluar dan lelaki itu menunggu di samping Ana, dia melihat Ana sangat kasihan, entah gadis ini dari mana dan dengan siapa tapi tiba-tiba ambruk di sampingnya. Hanphone lelaki itu berdering, memaksanya mengangkat telponnya.
“Ya Halo Tif?” ucapnya kepada sekertarisnya.
“Ini sudah tengah malam, beri aku waktu istirahat, besok sepertinya aku akan mengambil libur, tolong alihkan analisa trading besok kepada Natasya.”
“Baik pak,” jawab Tiffani sekertaris lelaki itu.
Ana melenguh dan sadar dari pingsannya, matanya terasa berat untuk terbuka, di hadapannya saat ini yang dia lihat lelaki tampan dengan sedikit jambang tipis menghiasi wajahnya, hidungnya yang mancung dan alisnya yang tebal. Tampan dan berwibawa. Ana sampai tak berkedip memandangnya, untung saja lelaki ini fokus kepada layar handphonenya memperhatikan gerakan grafik saham.
“Maaf, saya dimana?” tanya Ana.
“Oh, Halo, kamu sudah sadar? Saya Arion. Tadi anda pingsan di terminal.” Arion lalu mengambil air mineral dan memberikan kepada Ana.
“Kata dokter kamu dehidrasi dan kekuran asupan makanan. Jadi butuh istirahat sebentar, besok pagi kamu boleh pulang.”
Ana membulatkan matanya dan melihat ruangan sekitar, dia benar berada di rumah sakit sekarang, hanya satu yang dia pikirkan, bagaimana cara dia membayar seluruh biaya rumah sakit.
“Ah, pak. Begini biaya rumah sakitnya berapa ya?” tanya Ana.
“Oh tidak perlu, sudah sama saya saja biayanya.” Arion tersenyum ramah.
“Aduh, maaf pak saya merasa tidak enak, apalagi bapak di sini sampai tengah malam begini, enggak papa Pak saya ditinggal sendiri, nanti ditunggu sama istri anaknya.”
Arion tertawa saat mendengar ‘anak istrinya’ padahal dia seorang single man yang fokus mengejar kesuksesan karirnya, Arion seorang pengusaha trading, dia pemilik sekuritas terbesar di Indonesia, dia masih muda tapi ilmunya sudah selangit.
Dia sejak SMA hidup mandiri, orang tuanya meninggal saat kecelakaan pesawat menuju London, mau tak mau dia harus bisa hidup mandiri dan mempertahankan pendidikannya. Tapi Arion memiliki wasiat kaya tujuh turunan, dia tidak pernah khawatir dengan masalah uang, tapi dia juga pintar mengolah bisnis peninggalan ayahnya.
“Saya masih single, dan saya juga hidup sendiri.”
Ana mengangguk mengerti dan tersenyum canggung. Dia lalu menerima air mineral pemberian Arion dan meneguknya hingga habis, entah kapan dia terakhir meminum air mineral, tapi rasanya sangat kering dan haus tenggorokannya.
“Pelan-pelan minumnya,” ucap Arion.
“Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Arion. Dia mengambil bungkusan roti di dalam nakas. Membukanya dan memberikan kepada Ana.
“Terimakasih, nama saya Ana, Pak.” Ana menerima roti dari Arion, dia sangat melahapnya. Bagaimana tidak, dia belum makan beberapa hari yang lalu.
“Rumah kamu dimana? Besok biar saya antar pulang.” Arion tersenyum ramah menawarkan Ana pulang, entah kenapa melihat penampilan Ana terlihat seperti bukan orang dari kota. Dan lagi dia seperti linglung tak tau arah.
“Astaghfirullah, bapak dan ibu saya!” pekik Ana. Dia baru ingat harus menemui seseorang entah siapa dalam surat itu, harusnya dia tidak di rumah sakit, dia harusnya menunggu di terminal. Ana hendak melepas infusnya namun dicegah oleh Arion.
“Tenang, tenang dulu, coba ceritakan ada apa sebenarnya?”
Ana menceritakan bagaimana ia mendapatkan surat misterius itu dan bapak ibunya benar-benar tidak ada di rumah, dia juga telah digosipkan warga bahwa dia tengah hamil, dia lelah berada di desa dan bingung harus mencari bapak dan ibunya kemana, dia memilih mengikuti surat itu, tidak ada petunjuk yang jelas siapa nama pengirimnya, hanya kalimat ancaman di dalam surat itu. Ana memberikan surat itu kepada Arion dan lelaki tampan itu tertawa.
“Ini bukan cuma surat iseng biasa? Jaman sekarang banyak banget surat yang ngancam begini tapi kenyataannya hanya tipuan belaka.”
“Tapi Pak, Ayah sama Ibu saya beneran hilang, mereka enggak pulang di kampung.”
Arion terdiam dan berpikir sejenak, dia mencoba membaca setiap tulisan, dia melihat Ana, rasanya dia kasihan kepada gadis yang baru saja dia temui, dia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua di saat masih remaja, apalagi dia masih baru lulus SMA.
“Kamu tenang dulu, nanti subuh kita cari bapak dan ibu kamu, kalau memang enggak ada, kita cari di terminal orang yang janjian sama kamu. Kamu tenang saja ya, saya yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa, jangan khawatir Ana, semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu istirahat dulu.”
Ana mengangguk mengerti dan menghabiskan rotinya, dia lalu merebahkan diri dan mencoba menutup matanya, diam-diam Ana memperhatikan Arion yang sibuk memainkan handphonenya.
Entah apa yang dia baca, Ana tidak tau, tapi wajahnya terlihat sangat serius. Setidaknya saat ini Ana merasa lebih tenang karena ada orang yang mau membantunya disaat kesulitan. Jika saja tidak ada Arion, Ana tidak tau kemana dia harus meminta bantuan, dia tak tau kemana perginya bapak dan ibunya. Yang dia harapkan semoga tidak terjadi sesuatu.
“Kenapa kamu melihat saya sebegitunya?” tanya Arion tersenyum, dia tau daritadi Ana melihatnya.
“A-ah, ma-maaf Pak, saya cuma heran kok ada ya orang baik yang mau menolong saya. Padahal bapak belum mengenal siapa saya.”
“Bukannya sesama manusia harus tolong-menolong? Apa saya salah?” tanya Arion.
“Tidak Pak, hanya saja saya tidak tau caranya berterimakasih bagaimana, saya ini hanya anak petani yang tidak punya apa-apa, untuk naik bis saja saya harus menjual gelang emas saya. Saya juga enggak punya jaminan apapun.”
“Kamu yang tenang, saya akan membantu kamu sebisa saya, kamu jangan terlalu percaya kepada orang, kamu harus mulai waspada, belum tentu kebaikan itu akan berakhir pada sesuatu yang baik.”