Ana menatap ke arah sekitar sambil menunggu Arion memesan beberapa makanan untuk makan siang mereka. Ana dapat melihat Arion dari jarak lumayan jauh, pria yang baik dan tampan. Saat dirinya tengah sibuk menatap Arion dari jauh dirinya langsung teringat akan ayah dan ibunya, di mana mereka sekarang?
"Nih makanannya," ujar Arion lalu duduk. Ana yang tak bergeming hanya terdiam membuat Arion bingung sendiri.
"Kenapa? Ana ...." Ana menoleh.
"Eh, maaf ya, Pak."
Arion mengangguk. "Kamu makan dulu, jangan pikirin hal-hal yang buat kamu stress dulu soalnya kata dokter kamu lelah dan banyak pikiran," ujar Arion.
Ana mengangguk kecil.
Tengah asyik makan, Ana rasanya tidak berselera karena di mana sekarang dirinya? Di Jakarta! Ana bahkan tidak memikirkan apa yang akan dilakukan ke depannya saat di sini, bahkan dia tidak tau apa, di mana, dan bagaimana keadaan ibu dan ayahnya sekarang.
Arion dapat melihat raut wajah cemas dari Ana. "Kamu enggak ada tempat tinggal kan?" tanya Arion.
Ana mendongak. "Iya, saya baru aja sampai ke sini. Keluarga saya juga enggak ada di sekitar sini," ujar Ana.
"Emangnya kenapa kamu bisa sampai ke sini? Apa tujuan kamu ke sini?" tanya Arion lagi.
Ana menghela napasnya, jujur dia ingin mengutuk dirinya yang asal-asalan ke sini bahkan tanpa uang sepeser pun. "Gara-gara surat aneh itu, dia yang membawa saya sampai ke sini."
"Surat aneh?"
Ana mengangguk mantap. "Saat saya mengajar anak-anak mengaji, saya menemukan sebuah surat yang isinya tentang keberadaan ibu dan ayah saya. Saat itu saya sempat melihat seorang lelaki memakai hoodie hitam dan masker hitam sedang menatap saya dari jauh."
"Dan saya merasa orang itulah yang memberikan surat itu, saya mengikutinya hingga sampai ke sini. Namun saya kehilangan jejaknya saat saya tak sadarkan diri," jelas Ana.
Sejujurnya cerita ini sedikit lucu, dan sedikit seperti film-film atau sinetron di televisi. "Jadi langkah selanjutnya kamu mau ngapain?"
"Saya enggak tau pasti, karena ... untuk pulang kembali saja saya sudah tidak punya uang," ujar Ana.
"Bagaimana kalau kamu tinggal sementara di apartemen milik saya?" tawar Arion.
Ana masih berpikir, sedikit raganya masih merasa ragu dengan Arion. Bisa saja dia adalah salah satu orang dari komplotan yang mencuri ibu dan ayahnya?
"Tenang saja, saya orang baik kok. Tulus bantuin kamu," ujarnya.
Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ta-tapi, bapak sudah banyak bantu saya," tolak Ana.
"Enggak apa-apalah, lagian kalau kamu enggak nerima tawaran saya. Kamu akan tinggal di mana?" tanya Arion sambil menaikkan sebelah alisnya.
Ana tersenyum kecil, benar juga. Di mana di akan pergi? Secara Jakarta ini luas sebelumnya dia berpikir akan tidur di kolom jembatan! Ah kasian sekali.
Ana menerima tawaran tersebut, semoga saja dirinya bernasib beruntung untuk saat ini dan berharap kalau Arion adalah orang yang benar-benar baik dan tulus untuk menolongnya tanpa sembarang sebab dan alasan.
Arion menghentikan mobilnya di sebuah apartemen yang sangat luas dan mewah. Ana merasa takjub menatap bangunan yang sengat besar ini, jujur dia belum pernah tinggal di tempat yang seperti ini. Dia akan menjadi perempuan norak jika berada di antara orang-orang di dalamnya.
"Wauh, besar banget. Ini yang namanya apartemen?" tanya Ana.
Arion tertawa dengan pertanyaan Ana. "Iya, ini namanya apartemen. Yasudah ayo masuk," ajak Arion.
Ana mengekor Arion dari belakang, sepanjang jalan dia terus menatap di ujung, samping kanan dan kiri, atas, bawah dan seisinya.
Dan sampailah mereka di apartemen milik Arion, Arion memberitahukan pin dan menjelaskan seisi apartemennya ini. "Kamu bisa tinggal di sini kapan saja, enggak ada yang ngelarang," ujar Arion.
"Makasih banyak, Pak. Saya enggak tau harus mau membalas semua ini dengan apa, saya hanya bisa berterima kasih saja."
"Haha, sudahlah yang penting kamu nyaman di sini, kamu ada handphone?" tanya Arion.
Ana mengeluarkan handphone, handphone yang hanya bisa digunakan untuk menelfon dengan versi yang sangat lama. Arion menghela napasnya pelan. "Ini, aku cuman punya handphone kayak gini pak," ujarnya dengan kikuk.
"Enggak apa-apa." Arion mengambil handphone tersebut dan menyimpan nomornya.
"Saya sudah menyimpan nomor saya di sini, kalau ada apa-apa langsung telfon aja. Dan kalau butuh apa-apa, kamu bisa minta sama pelayan di sini," ujar Arion.
Ana mengangguk paham, setelah semua selesai Arion kembali ke kantor perusahaannya. Ana sekarang berada di apartemen sendirian.
"Baru teh, saya dapat orang sebaik dia. Dan ini semuanya udah lebih dari kata cukup bagi saya, ruangan ini bahkan lebih bagus dari rumah saya sendiri," monolog Ana.
Gadis desa itu terus saja memuji bagian-bagian dari apartemen di sini, sambil melihat-lihat beberapa benda dan ruangan di sini. Sangat lengkap, bahkan toilet pun ada.
Suara bel berbunyi, Ana terkejut seketika dirinya panik dia dengan segala keberaniannya membuka pintu apartemen tersebut.
"Halo dengan mbak Raihana?" tanya seorang pria yang memakai seragam yang entah, Ana tidak ketahui.
"Iya, dengan saya. Kenapa?"
"Ini ada paket, silahkan tanda tangan di sini." Kurir itu menunjukkan tempat di mana Ana harus bertanda tangan. Setelah menerima barang tersebut, kurir itu pun langsung pergi meninggalkan apartemen Arion.
Ana kembali menutup pintu apartemen itu, dan membuka paket tersebut. "Ini apa ya? Kok buat aku?" tanyanya bingung.
"Di sini ternyata canggih banget ya. Bisa mesen dan dibawain sampai ke tempat tujuan," ujar Ana.
Dia membukanya dan mendapati beberapa pakaian yang menurutnya tidak pas dan tidak cocok untuk dirinya. "Baju? Masha Allah, ini cantik sekali. Pasti mahal," ujarnya.
"Tapi, ini enggak cocok untuk diriku." Melihat beberapa celana jeans, dan baju yang memang sedikit pendek.
"Hem, simpan aja deh. Aku ambil jilbabnya aja," ujar Ana.
Adzan mulai berkumandang, namun Ana tidak mendapatkan mukena di dalam apartemen ini. Karena tidak mendapatkan alat sholat di sini, Ana memutuskan untuk ke mesjid terdekat dengan menanya-nanya orang sekitar.
***
Paginya, Arion datang dengan membawa beberapa makanan untuk Ana, saat dirinya membuka pintu apartemen. Beberapa barang-barangnya tersusun sangat rapih, dia celingak-celinguk dan mendapati Ana yang sedang membersihkan jendela di ujung sana.
"Eh, bapak." Ana baru saja menyadari kalau Arion datang.
Arion menatap Ana dengan lekat membuat gadis itu menunduk. "Kenapa bapak natap saya seperti itu?" tanya Ana dengan canggungnya.
"Em, itu kenapa baju yang saya kirimin enggak dipakai? Enggak suka?" tanya Arion lalu menyimpan makanan itu di atas meja.
Ana menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak gitu, Pak. Tapi saya enggak nyaman pake pakaian itu, saya lebih nyaman dengan penampilan saya yang seperti ini," ujarnya.
Arion menatap Ana dari atas hingga bawah, gadis dengan gamis panjang dan jilbab segiempat yang dimodeli tersendiri oleh Ana. Arion mengakui kalau Ana memang cantik dan lebih cocok memakai pakaian seperti ini.