Setelah berbincang sedikit lama, Arion memutuskan untuk pulang dahulu, dan kini Ana di apartemen lagi-lagi sendiri. Ana sudah cukup lama di sini dirinya merasa tidak enak terus menerus membebankan Arion akan dirinya yang terus berada di sini.
"Hem, aku nyesal banget bisa sampai ke sini." Ana membereskan tasnya dia menatap ke arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. Ini sudah sangat larut untuk dirinya jika harus pergi dari apartemen ini.
Ana menutup matanya, dia berniat bangun pada jam 5 Subuh setelah dirinya sholat subuh dia akan kembali ke stasiun itu untuk pulang atau mencari hal-hal yang mungkin masih tersisa di sana. Lagian ini juga belum jauh hari di mana dirinya pergi dari stasiun itu.
***
Setelah menunaikan kewajibannya, Ana pun dengan cepat bergegas pergi dari apartemen milik Arion dengan meninggalkan sebuah surat berisikan tulisan tangan Ana yang mengatakan bahwa dirinya akan pergi, kembali pulang ke rumahnya, dia sudah cukup lama di sini.
Dan tentunya ucapan terimakasih, dan maaf karena Ana tak sempat memberitahu hal ini secara langsung, karena di pikiran Ana pasti Arion akan menolak dan tetap menahan dirinya di sini melihat kondisi Ana yang memang seperti ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, dia sudah berada di sini dan stasiun sama sekali tidak serame dulu. Mungkin karena masih sangat pagi jadi dirinya menjadi orang ke sepuluh atau beberapa orang di antaranya.
Ana duduk di salah satu tempat duduk, dia menatap lurus ke depan sampai dia jengah dan kepalanya memutar 90 derajat tiba di mana matanya menangkap seorang lelaki yang sama, lelaki dengan pakaian yang sama. Karena merasakan firasat yang buruk akhirnya Ana memutuskan untuk menjauh dari tempat tersebut.
Dia ingin mencari telefon umum di sini, namun hasilnya nihil. Di sini sama sekali tidak ada telfon umum hingga satu benda pipih disodorkan membuat Ana menoleh.
"Butuh ini?" tanya lelaki yang tadinya Ana sangat hindari. Napasnya tiba-tiba tersengal, dia menahan kedipan matanya.
"Tidak, maaf." Dengan sopan Ana menolak.
"Permisi, saya mau pergi dulu." Ana langsung berlari meninggalkan orang yang bertudung hoodie itu.
Ana menghela napasnya saat dirinya sudah jauh dari orang tersebut. Namun, hal itu tentunya tak membuat orang yang mengincar Ana pergi begitu saja, dia tetap berjalan menuju Ana. Dengan langkah cepat Ana berusaha menjauhi orang tersebut.
Tubuhnya menabrak seseorang, mulutnya tiba-tiba disumpal oleh kain membuat dirinya kesusahan untuk bernapas hingga penglihatannya linglung dan sampai di titik dia pingsan.
***
Arion mencoba menelfon Ana namun handphone mati, terakhir dia menemukan sebuah surat pemberian Ana. Yang Arion yakini adalah dia sekarang berpikir negatif di mana Ana dalam bahaya.
Entah kenapa, hatinya seperti mengatakan hal tersebut. "Ana, kamu di mana sih?" tanyanya.
Arion kini berada di sebuah stasiun namun dia tak melihat Ana di sini. Dirinya juga sudah bertanya kepada orang-orang sekitar namun mereka menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu sama-sama tidak melihat gadis yang Arion cari.
Di sisi lain, Ana yang kini perlahan sadar matanya mulai terbuka dan menetralisirkan cahaya masuk ke matanya. "Aduh, aku di mana?" tanyanya dengan tangan yang memegang kepala bagian kiri.
"Kamu di rumah aku," ujarnya.
"Alfatar?" Mata Ana membulat sempurna.
"Bagaimana bisa kamu di sini? Apa yang kamu mau dariku?" tanya Ana dengan posisi sudah duduk.
Alfatar tersenyum dan tertawa hambar. "Kamu mending istirahat dulu, siapkan energimu untuk hari-hari ke depannya," ujar Alfatar lalu pergi meninggalkan Ana yang terdiam.
Ana menggenggam selimut itu dengan erat, dadanya mulai sesak dan tangisnya serasa ingin pecah. Dirinya sangat takut, entah sejak kapan Alfatar jadi seperti ini mungkin sejak di mana dirinya menolak cinta Alfatar.
Ana sungguh takut. "Ana, semuanya akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu berdoa dan memikirkan cara gimana caranya kamu kabur dari Alfatar," gumamnya.
Di sisi lain, Arion kini berada di apartemennya, aroma khas dari Ana masih tersimpan di sofa ini. Sungguh, entah apa yang terjadi pada Arion mungkin dirinya jatuh hati kepada Ana? Mungkin saja.
"Sehari aja, dia udah buat aku jatuh hati." Arion tersenyum.
Namun perlahan senyum itu pudar diganti dengan raut wajah datar tanpa ekspresi, memikirkan kembali Ana sekarang berada di mana dan bagaimana kabarnya. Ana bahkan tidak membawa uang sepeserpun dari sini, Arion merasa menyesal tidak memberikan Ana uang sebelum dirinya pergi dari apartemen ini.
Bukan tidak ingin, tapi Arion dapat melihat sikap Ana yang memang sangat-sangat tertutup dan tak suka menerima hal-hal secara langsung. Bahkan untuk tinggal di sini saja, Arion menawarkan beberapa kali.
***
Alfatar berada di sebuah ruangan kerjanya, dia memutar kursinya saat kedua anak buahnya memanggil dirinya. "Ada apa?"
"Gadis itu meminta alat sholat."
Alfatar tertawa. "Miris sekali, bahkan keadaannya sudah seperti ini masih memikirkan untuk beribadah?" gerutu Alfatar.
"Kalian ambil saja di lemari, aku sudah menyiapkan semuanya. Berikan kepadanya, dan beritahu kepada dirinya bahwa semua ini tidak ada yang gratis," ujar Alfatar.
Kedua anak buahnya mengangguk paham.
"Semuanya enggak ada yang gratis, Na. Tapi aku enggak sekejam apa yang kamu pikirkan," ujar Alfatar lalu membuka laptopnya dan mengetikkan beberapa hal di sana.
***
Malam telah tiba, tepatnya pukul 8 malam di mana Ana sekarang merasakan kedinginan karena dirinya tak lagi di sebuah kamar, melainkan di sebuah ruangan tanpa apa pun. Hanya ada sebuah kasur kecil dan juga bantal tanpa selimut.
Alfatar masuk ke dalamnya, dia melihat Ana yang diam tanpa suara sama sekali. "Sedang apa kamu?" tanya Alfatar.
"Aku enggak main-main, Al. Di mana ibu dan ayahku?" tanya Ana.
"Mereka? Kenapa kamu bertanya itu kepadaku?"
"Ini." Ana melempar sebuah kertas, yang sempat dia dapat saat dirinya mengajar mengaji dan terakhir dia melihat seorang pria dengan penampilan yang sangat mirip dengan Alfatar sekarang.
"Ini apa?"
"Kamu yang memberikan itu kepadaku! Kamu kan yang menyimpan itu di saku baju aku?" tanya Ana memastikan.
Alfatar menggelengkan kepalanya pelan, gadis ini ternyata sangat polos bahkan polosnya sudah membuat Alfatar nekat melakukan hal ini. "Dasar gadis polos."
Ana mendengus kesal, Alfatar seringkali mengejek dirinya polos dan bodoh. Namun, Ana tak marah akan hal itu karena itu memang jati dirinya yang sesungguhnya. Dia benar-benar polos dan sering berbicara langsung tentang apa yang dia alami atau apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku hanya ingin tau, di mana orang tuaku? Aku ke sini karena aku mencurigai seorang lelaki bertudung hoodie yang pergi menuju stasiun yang sekarang aku yakini adalah dirimu!" ujar Ana.