Alfatar mengangguk pelan. "Hm, ternyata kau sedang mencari orang tuamu? Bukan karena penasaran dengan pria bertudung hoodie ini?" tanya Alfatar berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya tidak mau basa basi dengan orang seperti kamu, tolong jawab pertanyaan saya. Di mana kedua orang tua saya?" Terdengar penegasan di kalimat akhir yang Ana ucapkan.
"Kenapa kamu bertanya kepada saya? Dia jelas-jelas orang tua kamu."
"Tapi insting saya merasa bahwa kamu dalang dari semua ini!"
"Jangan asal menuduh saya seperti itu kalau tidak ada bukti, saya bisa saja menuntut kamu dengan laporan menuduh seorang tanpa bukti. Walaupun kamu salah satu orang yang dekat dengan saya," jelas Alfatar.
"Terlalu berbelit-belit." Ana memutuskan untuk pergi meninggalkan Alfatar.
"Saya bisa membantu kamu untuk mencari keberadaan ibu dan ayah kamu."
Sontak penawaran itu membuat Ana berhenti. "Bagaimana?"
Kalau dikatakan orang yang mudah percaya, Ana adalah orangnya. Dia memang sangat mudah mengambil keputusan jika merasa dirinya akan aman, apalagi berkaitan dengan kedua orang tuanya tanpa memikirkan dampak a, b, c atau d, dia pasti akan mengiyakannya.
Dengan percakapan yang singkat, di sinilah mereka sekarang di sebuah rumah minimalis milik Alfatar. Awalnya Ana menolak namun Alfatar mengatakan bahwa dirinya harus mengambil suatu barang yang sangat penting untuk menemukan orang tua Ana. "Saya tunggu di luar saja." Ana memasang wajah datarnya.
Alfatar mengangguk sambil menaikkan sebelah alisnya. Ana menghela napasnya pelan, sangat menyesal karena dirinya tidak mengambil handphone yang diberikan oleh Arion dan uang yang tidak dia ambil di atas meja apartemen milik Arion.
Handphonenya juga hilang saat dirinya lupa menyimpannya di mana.
Berakhir seperti ini.
Karena jengah di luar, Ana berusaha mengintip dari luar namun sepertinya tidak ada Alfatar di balik sana. Dirinya melangkahkan kakinya masuk, namun dia menghentikannya lagi. "Huft, jangan sampai aku masuk perangkap yang dibuat oleh Alfatar mending aku pergi dari sini." Ana yang baru saja berbalik langsung merasakan lengan atasnya serasa tertusuk jarum suntik.
Matanya serasa berat dan tubuhnya tiba-tiba linglung dan terjatuh.
***
Matanya terbuka dengan cahaya yang masuk membuatnya menetralisirkan cahaya masuk ke dalamnya. Dia berusaha bangun namun tubuhnya serasa kaku dengan mulut yang terasa sangat beku. Dia menatap sekeliling dirinya benar-benar disekap. Bahkan untuk bersuara saja dirinya tidak bisa, mulutnya ditutup oleh kain yang cukup tebal tangan yang diikat dengan tali tambang.
Ana menggerak-gerakkan tangannya yang berkait di belakang berusaha untuk melepaskannya tali tersebut namun nyatanya dirinya hanya melukai tangannya.
"Aku sesak," batinnya.
Alfatar merasakan suara gesekan dari sebuah kamar kosong membuat senyumnya sumringah. "Kamu udah bangun, beby?" Ana merasa jijik dipanggil seperti itu terlihat dari matanya yang susah memerah ingin menangis dan berteriak untuk dilepaskan.
Alfatar datang dan mengelus pucuk kepala Ana. "Jangan memberontak, liat deh. Tangan kamu udah luka nih," ujar Alfatar mengelus tangan Ana.
Ana rasanya ingin menepis dan menampar pria yang ada di sampingnya ini, serasa jiwa-jiwa ingin membunuhnya tiba-tiba datang. Alfatar beralih ke ikatan yang ada di bagian mulut Ana, Alfatar melepaskannya.
Ana akhirnya bisa bernapas dengan lega. "Kamu mau apa hah?!" bentakan langsung datang dari mulut Ana saat dia sudah mengambil napas yang cukup.
"Eh-eh, kasar banget enggak sesuai dengan wajahnya yang begitu polos dan cantik." Ana merasa ingin muntah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alfatar, kenapa dirinya bisa sebodoh ini percaya dengan surat, dan terlebih bodohnya dia percaya bahwa Alfatar akan menolongnya.
"Kau pembohong! Penjahat! Penipu!"
"Eh? Tidak ada siapa-siapa yang menipu kamu, hanya saja kamu belum tau maksud dari, dan kenapa aku membawa kamu ke sini."
"Satu lagi, pembohong? Aku enggak berbohong wanita cantik! Aku hanya ingin satu hal," ujar Alfatar.
"Apa yang kau inginkan?!"
"Aku hanya ingin kasih tau kalau, ibu dan ayah kamu itu baik-baik saja. Jadi kamu tenang saja di sini," ujar Alfatar.
Ana menggeleng. "Aku enggak bakal mau percaya dengan orang seperti kamu lagi!"
"Hm, sepertinya selain polos kamu juga ternyata keras kepala ya, hm?"
Ana berdecak. "Lepasin!"
Alfatar tertawa, dia bangkit dan pergi meninggalkan Ana di dalam kamar kosong dan menguncinya. Ana mengutuk dirinya yang benar-benar bodoh! "Kamu bodoh, Ana!" monolognya.
"Sekarang aku harus bagaimana? Ibu, bapak ... tolongin Ana." Nada suara yang mulai bergetar karena takut sekaligus ingin menangis terdengar dari bibirnya.
***
"Loh, handphone Ana kok enggak aktif ya, Pak?" Rina sedari tadi khawatir karena anaknya sama sekali tak mengangkat telfon darinya.
"Astagfirullah, bapak lupa. Tadi Arion SMS dia bilang kalau Ana ada urusan sebentar sama Alfatar kemungkinan besar sih, Ana enggak pulang."
"Loh? Terus bapak izinin?" tanya Rina.
"Iya, soalnya itu untuk pekerjaan Ana."
Nurina berusaha untuk tidak khawatir mengenai anaknya, berusaha berpikir positif. "Ibu tenang saja, lagian Alfatar itu anak yang baik bukan?" tanya Darto.
"Iya sih, Pak. Cuman gimana ya ...."
"Udah, mending ibu bikinin bapak kopi. Ana lagi enggak di rumah, bapak rindu kopi buatan ibu." Rina tersenyum dan mengangguk.
***
Surabaya, Indonesia, pukul enam pagi. Suara kicauan burung terdengar sangat indah ditambah udara yang sangat segar membuat siapa saja menghirupnya akan merasa tenang.
Darto dan Rina kembali melakukan pekerjaannya seperti biasa, dengan semangat doa dan usaha di setiap kegiatan yang mereka lakukan berbeda dengan Ana sekarang yang sekarang sedang lemas tanpa tenaga.
Alfatar tidak tega, namun ini demi agar keinginannya tercapai dia menghela napasnya pelan dan berjalan dengan membawa nampan berisikan nasi yang sudah dipenuhi oleh lauk dengan s**u ditambah dengan air putih. "15 menit untuk makan saya hanya akan melepas ikatan tangan kamu. Di sini penjagaannya sangat ketat jangan harap ingin kabur dari sini."
Alfatar menyimpannya dan melepas ikatan di tangan Ana. Dengan pergerakan minimal, Ana mengambil segelas air putih dan meneguknya habis, dirinya serasa dehidrasi berada di sini. Mungkin karena dirinya sudah terbiasa berada di desa, sudah terbiasa minum teratur 7 liter dalam sehari.
Alfatar memandangi wajah Ana yang sibuk dengan makan makanan yang dia bawa tadi. Dia lalu menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak boleh tertipu dengan wajah polos Ana.
Selesai dengan aktivitas makannya, dua pria berbadan kekar datang dan langsung mengikat tangan Ana kembali. Ana tidak bisa melawan tubuh mereka yang sangat besar dan kekar yang ada Ana yang akan mati jika berani berbuat yang aneh-aneh.
Ana memejamkan matanya sembari berdoa agar seorang pahlawan datang dan menolong dirinya di sini, menolongnya dari seorang penjahat berhati dingin dan tidak punya perasaan seperti Alfatar! Ana rasanya ingin berteriak minta tolong.