Sebuah deringan telfon terdengar nyaring di telinga Nurina membuatnya menoleh. "Halo?"
"Ini aku Alfatar, bu."
Nurina mengembangkan senyumnya. "Oh nak Alfatar, gimana dengan Ana? Ibu telfon tapi handphonenya enggak aktif."
Hening beberapa saat. Rina mengernyit. "Halo? Alfatar?"
"Iya bu, Ana baik-baik aja. Alftar nelfon karena mau kasih tau suatu hal."
***
Ana mengembuskan napasnya pelan, dia melirik kembali pintu yang enggan terbuka jika seseorang membukanya. Sedikit tersentak saat pintunya terbuka menampakkan Alfatar yang datang membawa bungkusan yang sudah Ana ketahui adalah makanan untuknya.
"Bagaimana untuk dua hari ini? Apakah ada perkembangan soal ucapanku dahulu?" tanya Alfatar.
Ana berdecak lirih. "Ucapan yang mana?"
"Jangan pura-pura b**o. Aku tau kamu pintar."
Ana yang jengah langsung terdiam.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin membuka mulut lagi, cuman mungkin kamu akan lebih lama kesiksa di sini?" Alfatar tertawa.
"I mean, kamu bakal lebih lama tinggal denganku dalam status teman saja."
Ana bergidik ngeri mendengar itu. Alfatar menyimpan makanan tersebut dan pergi meninggalkan Ana yang masih terdiam termenung menimbang kembali ucapan Alfatar tentang dia harus menikah dengan pria itu.
Najis tujuh turunan jika dia pikir-pikir kembali. Karena menurutnya, Alfatar bukan orang yang sehat jiwa yang tega membiarkan gadis seperti Ana dikurung, diikat seperti ini.
Klek, pintu kembali terbuka dengan Alfatar yang memasang wajah tengil. "Aku lupa kalau tangan kamu belum dibuka ikatannya."
Pria itu mendekat, bisa Ana rasakan bau parfum yang semenjak 2 hari ini masuk ke indra penciumannya. Alfatar mengusap pucuk kepala Ana. "Pertimbangkan lagi ya, takutnya kamu beneran jatuh cinta sama aku. Dan menyesal udah nolak aku mentah-mentah kayak gini." Pria itu pergi.
Ana mulai merasakan panas di matanya, pipinya semuanya terasa melelahkan. Bahkan ibu dan bapaknya saja tidak tau bahwa Ana sekarang tersiksa, tersiksa oleh orang yang sangat mereka percaya. Alfatar, orang yang memang sudah dipercayai oleh kedua orang tua Ana.
Untuk selalu menjaga, menolong Ana di keadaan susah dan senang. Walau sudah banyak sekali hal-hal yang sudah mereka lalui, Ana merasa hampa seketika melihat perubahan Alfatar yang begitu drastis padanya. "Ibu, bapak tolongin Ana ...." Bibirnya mulai bergetar gadis itu mengigit bibir bawahnya agar tangisnya tertahan.
Gadis itu termenung sesaat hingga ada satu hal terlintas di pikirannya.
***
Malam yang kembali tiba, tepat di Jakarta pukul 20.00 Ana terus menerus membulatkan tekadnya untuk mengatakan bahwasanya dirinya harus benar-benar matang memikirkan apa yang akan dia katakan, dan resiko apa yang akan dia tanggung ke depannya.
"Alfatar ...." Pria itu menoleh dengan senyum khasnya.
Ana merasa dirinya akan muntah melihat senyum yang menurutnya sangat menjijikkan. "Aku udah punya keputusan untuk hal ini."
"Really? Udah dipikirin matang-matang?" Alfatar sudah tentu tahu kalau Ana akan menyetujui permintaannya, sepertinya gadis di depannya ini sudah lelah dalam situasi ini.
"Aku mau menikah denganmu."
Alfatar tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi aku punya syarat."
"Apa?"
"Minta restu kedua orangtuaku, dan aku ingin kita tinggal di Surabaya, bukan di Jakarta." Ana sedikit menekan kalimat tadi.
Alfatar mengangguk-angguk setuju dengan hal itu. "Tapi bukannya bagus kalau kita tinggal di Jak—"
"Enggak! Aku maunya di Surabaya, tepatnya sekota dengan orang tuaku."
"Eh-eh, santai. Sepertinya hal itu akan aku pertimbangankan kembali. Karena ada sebuah penawaran yang cukup menarik untuk kita berdua," ujarnya melerai. Ana hanya bisa pasrah mengajak psikopat berdebat seperti menguji nyali, dan tantangan hidup.
Heh? Ana sedikit terlintas di dalam pikirannya kalau Alfatar benar-benar psikopat, alasan kenapa Ana memikirkan hal itu karena siksaan yang Ana terima dari pria kotor di depannya ini. Lari? Bahkan Ana tak bisa keluar dari ruangan ini, ingin buang air saja di dalam ruangan ini tersedia toilet.
Ana benar-benar dalam situasi yang sulit.
Malam yang cukup panjang untuk Ana bersiap pulang, bukan hanya membawa dirinya namun bersama dengan Alfatar pria b******n yang hanya bisa bermain kasar dengan Ana.
Keduanya sekarang berada di sebuah mobil milik Alfatar, Ana merasa enggan menoleh menatap Alfatar yang sudah tepat berada di sampingnya. Menempuh waktu cukup lama keduanya sampai di Surabaya.
Bisa Ana hirup udara yang sangat dia rindukan ini matanya mulai berair dengan cepat mengusapnya dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Alfatar yang sedang berjalan di belakangnya tak memperdulikan gadis itu berlari meninggalkan, toh? Ana sebentar lagi akan menikah dengannya.
"ANA! IBU KANGEN BANGET SAMA KAMU, NAK!" seru wanita yang diyakini adalah ibu Ana. Ana menenggelamkan kepalanya di pelukan ibunya, rasanya dia tak ingin kembali ke Jakarta apalagi sebagai istri dari Alfatar. Ana benar-benar tidak sudi.
Namun ini sudah menjadi kesepakatan dirinya harus bertanggung jawab sama apa yang sudah menjadi keputusannya. "Loh nduk? Kenapa nangis?" tanya Rina mengusap-usap punggung Ana.
"Ana ... kangen." Suara yang bergetar sedikit membuat Rina merasakan ada yang aneh, namun dia berusaha untuk berpikir positif saja.
"Oh kangen, emang enggak seneng di Jakarta? Gimana dengan Alfatar di mana dia?" tanya Rina perlahan membuat Ana semakin murung saja.
"Dia, dia ada di depan mungkin ngobrol sama Bapak."
"Oh yaudah, kamu istirahat gih. Ibu mau buatin minum buat mereka. Ibu liat muka kamu kayak lesu gitu, enggak ada apa-apa to, Nak?" tanya Rina dengan raut wajah khawatir.
Ana sedikit menghangat dengan pertanyaan itu, ingin rasanya Ana berkeluh kesah dan mengeluarkan semua unek-uneknya tentang Alfatar. "Enggak apa-apa, Bu."
"BU!"
Ana menoleh mendengarkan panggilan dari bapaknya. "Ana ke kamar dulu, Bu." Gadis itu pergi, Rina melihat punggung kecil itu sampai memasuki kamar hingga tak terlihat.
***
"Saya di sini bermaksud untuk meminta restu ibu dan bapak," ujar Alfatar membuat mereka menoleh saling bertatapan.
"Saya ingin melamar anak bapak dan ibu," ujar Alfatar.
"Eh-eh, kamu bukannya pernah satu SMA sama Ana?" Pertanyaan itu membuat Alfatar mengangguk mengiyakan.
"Berarti kalian sama-sama umurnya? Kamu udah punya penghasilan?"
Alfatar lagi-lagi mengangguk. "Saya punya bisnis di Jakarta, kafe yang cukup besar di sana. Kebetulan saya yang mengelolanya jadi itu sudah menjadi penghasilan saya. Rumah juga sudah tersedia di sana," jelasnya.
Darto sedikit menarik sudut bibirnya dan menatap Rina istrinya yang masih sibuk termenung di dalam diamnya. Menurutnya anaknya masih sangat mudah to, rasanya Rina masih sangat berat melepaskan putrinya apalagi Ana sampai tinggal di luar kota. "Kalian bakal tinggal di luar Kota?" tanya Rina.
Alfatar terdiam, dan perlahan mengangguk.
Usai sudah berbincang cukup lama, Darto dan Rina sudah memutuskan untuk merestui keduanya, jadi untuk hal-hal ke depannya mereka akan membahas apakah Ana benar-benar setuju untuk menikah dengan Alfatar atau tidak.