Ana mengembuskan napasnya pelan. Dia membuka pintunya yang sejak tadi diketuk oleh Ibunya, namun gadis itu sama sekali tidak berniat membukanya, karena dia tau, Ibunya akan membahas soal apa.
"Kenapa, Bu?"
Rina mengulas senyum kecil di wajahnya. "Kamu udah makan? Kita makan malam sama-sama, yuk. Udah berapa lama nih? Emang enggak rindu sama masakan ibu?" tanya Rina.
Ana perlahan menerbitkan senyumnya.
Dan di sinilah mereka berada di ruang makan, yang sudah di kelilingi oleh Ana dan kedua orang taunya. Sedikit terasa canggung untuk Ana apalagi dia mengetahui bahwa Alfatar sudah memberitahu kedua orang taunya tentang lamaran itu.
Darto meneguk segelas air. "Ana, gimana dengan lamaran Alfatar? Kamu mau kan?"
Ana mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. "Hem ...."
"Kami berdua setuju dengan lamaran itu, Nak. Alfatar orang yang baik sama seperti Ayahnya, dia juga sudah punya penghasilan sendiri? Padahal usia kalian enggak beda jauh," jelas Darto tentunya membuat Ana mendengus pelan.
Benar-benar Alfatar membuat dirinya semakin kesal saja. "Iya, Pak. Ana siap."
"Kamu yakin? Bisa tinggal jauh sama kami? Setelah kamu menikah, Alfatar dan kamu akan ke Jakarta."
Ana sedikit terkejut, pasalnya dia sudah meminta Alfatar untuk tetap berada di Surabaya. Ternyata permintaannya yang satu ini tidak dituruti oleh Alfatar, mau tidak mau Ana memang harus mengambil resiko sesuai dengan ucapannya dahulu.
Ana mengangguk sebagai final percakapan mereka malam ini.
***
Dan tepat hari yang dinanti oleh kedua orang tua Ana terlaksana dengan baik, walau di sepanjang acara dia tak melihat anaknya tersenyum hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi sama sekali. Dan Ana tau kedua orang tuanya memperhatikan dirinya dengan baik, Ana bahkan berangan bahwa orang tuanya tiba-tiba memberhentikan acara pernikahan tadi.
Ternyata tidak. Alhasil dia sudah menjadi istri sah dari Alfatar, orang yang beralasan Ana benci karena sikapnya yang kasar dan terlalu memaksa kehendaknya.
Usai acara, Ana sudah mempersiapkan baju-baju yang akan dia bawa ke Jakarta. "Mau ngapain?" tanya Alfatar melihat Ana sibuk mondar-mandir mencari sesuatu.
"Beresin barang-barang buat dibawa ke Jakarta," ucapnya sedikit cuek.
"Ngapain? Enggak usah. Simpan saja baju-baju mu di sini, di rumah baru kita sudah tersedia baju-baju yang cocok untukmu." Setelah mengucapkan itu Alfatar pergi meninggalkan Ana yang masih terdiam di dalam kamar.
Dia menghela napasnya. "Aku bawa dua atau tiga aja deh, buat persiapan." Ana berpikir aneh-aneh tentang Alfatar yang notabenenya adalah suaminya, sekarang dan mungkin untuk selamanya? Ah sulit bagi Ana untuk menerima hal itu.
"Kalian naik apa ke sana?" tanya Rina.
"Awalnya mau naik mobil, Bu. Cuman aku rasa itu kelamaan. Soalnya waktu ke sini udah naik mobil butuh waktu sekitar 10 jam, jadi kita akan naik pesawat," ujar Alfatar selang setelah itu Ana datang.
"Kalian berangkat sekarang?" tanya Rina lagi.
Alfatar mengangguk. "Iya bu, soalnya pesawat sebentar lagi akan berangkat."
***
Selama perjalanan 2 jam lebih menaiki pesawat mereka berdua kini tiba di rumah yang luas, bukan di rumah awal di mana Ana disekap. Baguslah, dia sedikit trauma dengan rumah tersebut bukan apa-apa di sana sudah terlalu sering menjadi tempat Ana menangis, berteriak dan berkeluh kesah.
"Masuk." Ana tersentak lalu dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah tersebut. Terdengar suara pintu yang ditutup sekaligus dikunci, Ana merasakan aura yang sedikit berbeda.
Dirinya benar-benar merasa tidak aman di sini.
"Ngapain di sana? Masuk ke kamar. Ganti baju," pinta Alfatar.
Ana sering terkejut saat Alfatar mengeluarkan beberapa kata yang seperti petir yang menyambar Ana, layaknya tidak aman berada di kawasan pria itu. "Iya," cicitnya.
Ana mendudukkan dirinya di kasur, dia menghela napasnya pelan. Dia berjalan menuju lemari dan membukanya, dia mengambil beberapa baju dan melihatnya.
"Gimana cocok buat kamu?" tanya Alfatar.
'Bodoh!' ingin sekali Ana mengatakan itu kepada Alfatar, melihat baju-baju yang kurang bahan seperti ini yang tentunya tidak cocok untuk Ana. Dia merasa geli jika menggunakan baju seperti itu.
Ana menyimpan kembali baju tersebut dan mengambil tasnya, tak menghiraukan Alfatar yang sedang melihat gerak geriknya. "Hm, baju udah disiapin. Ngapain bawa baju lagi?" tanya Alfatar mendekat kepada Ana.
Gadis itu sontak mundur beberapa langkah dengan baju di tangannya. Alfatar merampas baju tersebut, dan menarik-narik hingga robek. "Kalau saya bilang, patuhi! Saya suami kamu bukan?" tanya Alfatar sambil memegang dagu Ana.
Gadis itu menepis tangan Alfatar. "Kamu tau kan? Saya lebih nyaman memakai baju yang sering saya gunakan. Seharusnya kam—"
"Diam! Ganti bajumu sesuai dengan baju yang ada di sana." Final, Alfatar mengambil baju yang Ana bawa dan mengguntingnya tepat di depan mata Ana.
"Pria gila!" pekik Ana melihat Alfatar dengan tatapan tidak suka.
"Diam di situ." Alfatar menunjuk Ana dengan gunting tersebut, tentunya memberikan efek takut kepada gadis lembut itu.
***
Ana dengan berat hati, memakai baju yang sama sekali tidak cocok dengannya. Untung saja ada celana yang panjang berwarna hitam dan tak terlalu ketat, dengan baju yang sama sekali tidak ada yang lengan panjang. Ingin rasanya Ana berteriak kepada Alfatar, kalau seorang suami itu harus paham akan kesukaan istri.
Bukan hanya istri yang harus paham, dan patuh dengan perintah suami. "Kalau di rumah enggak usah pakai hijab, bukannya saya sudah muhrim dengan kamu?" tanya Alfatar.
Ana mendengus kesal, ada apa dengan Alfatar tiba-tiba menjadi seorang yang sama sekali tak Ana mengerti. Kemana Alfatar yang dulu Ana kenal? Di mana Alfatar yang sempat menjadi teman main semasa kecil Ana?
"Lagi ngelamun apa? Duduk sini." Alfatar menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya. Ana berjalan perlahan, dia mendudukkan tubuhnya di samping Alfatar.
"Diam aja enggak ada yang mau diomongin?" Tangan Alfatar yang ingin menyentuh kepala Ana langsung ditepis. Siapa lagi kalau bukan Ana yang menepisnya.
"Hm? Ini malam pertama kita, kamu tidak ingin main?" tanya Alfatar dengan nada menggoda.
Bukan menggoda bagi Ana, tapi sangat menjijikan padahal Alfatar sudah menjadi suaminya. Ana merasa mual di samping Alfatar, suaminya? Bahkan Ana tidak ingin mengakui Alfatar sebagai suaminya.
"Aku lagi datang bulan," jawabnya cuek.
"Bohong, padahal tadi di kamar mand—"
Plak!
Ana menampar Alfatar, pria itu meringis kesakitan lalu perlahan dirinya tertawa. "Kenapa? Aku punya hak darimu, karena aku suamimu."
"Diam!" bentak Ana.
"Kenapa? Jangan main-main sama aku, Na. Aku bisa berbuat apa saja denganmu apalagi di rumah ini," ujar Alfatar.
Ana seketika membeku, dirinya langsung berdiri namun tangannya ditahan oleh Alfatar, gadis itu ditarik hingga posisinya berada di pangkuan Alfatar.