Pagi harinya Ana terus menghindar Alfatar sejak semalam dirinya yang dipaksa untuk bermain, padahal Ana belum siap untuk hal itu. Dirinya tak mau, bukan belum siap! Ana rasanya ingin menangis dan terus berdoa agar seseorang datang menolongnya dari Alfatar yang kasar dan sering bermain tangan kepadanya.
Ana benar-benar tak abis pikir bahkan isi di dalam lemarinya itu bukan baju yang umum Ana gunakan setiap harinya, semuanya hanya ada rok pendek sepaha, dengan baju daster? Yang bahkan panjangnya sampai di atas lutut. Ana sama sekali tidak menyukai pakaian seperti itu.
"Kenapa, Na?" Tiba-tiba Alfatar datang dan mengelus kepala Ana.
Ana yang ingin menepisnya, malah tangannya yang ditahan. "Na, kenapa sih?"
"Aku-aku, aku enggak suka pakaian itu."
"Kamu enggak suka? Kirain suka banget, tapi enggak apa-apa. Selagi aku suka, kamu pakai aja."
"Sialan!" batin Ana mengumpat dirinya ingin sekali berteriak tepat di telinga lelaki itu dan berkata bahwa dirinya tidak mau dan tidak sudi menjadi istrinya.
Ana beranjak pergi meninggalkan Alfatar, Ana mengambil tas dan juga dompetnya tentunya mengundang tanya dari Alfatar. "Mau ngapain?"
"Beli bahan makanan."
"Enggak usah, pokoknya kamu di rumah aja. Enggak boleh pergi-pergi makanan, dan lain-lain akan disiapkan," ujar Alfatar.
Ana mendengus pelan. "Mau beli baju, baju yang ada di lemari enggak cocok sama aku," ucapnya jujur.
"Kenapa?"
"Kamu gila apa gimana? Kamu sendiri tau gimana aku dan bagaimana sikap aku dan cara hidup aku." Ana berusaha untuk mengontrol emosinya yang sekarang sedang meluap-luap.
Karena tak ada jawaban dirinya langsung berjalan keluar kamar, namun pergerakannya ditahan oleh Alfatar dengan tangan dicekal dengan erat membuat Ana meringis kesakitan. "Lepasin, Al. Ini sakit!" ujar Ana.
"Kalau udah disiapin ya tinggal dipakai, enggak usah ada penolakan. Di rumah ini hanya ada aku dan kamu, kenapa harus malu mengenakan baju seperti itu?"
"Tap—."
Plak//
Satu tamparan mendarat di pipi Ana. "Kalau saya bilang tidak ada penolakan berarti tidak ada, selagi kamu berada di rumah ini kamu harus mematuhi semua aturan yang saya sebutkan."
"Ganti bajumu! Dan lupakan soal dirimu yang akan pergi membeli baju," bentak Alfatar lalu keluar dari kamar dan menutupnya dengan keras. Ana dapat mendengar suara pintu yang dikunci.
Ana duduk memelas turun ke lantai, sekarang posisinya; kakinya ditekuk dan menenggelamkan kepalanya di tekukan kakinya. Pipinya masih terasa panas karena tamparan yang diberikan oleh Alfatar.
Bukan untuk pertama kalinya, bahkan Ana juga sudah didorong ke tembok hingga tubuhnya terbentur keras saat dirinya menolak untuk melakukan hal kotor bersama orang menjijikan seperti Alfatar.
Ana dengan sisa tenaganya berjalan menuju lemari mencari baju yang paling pass untuk dirinya, mustahil di sini hanya ada celana pendek dan terakhir dirinya mengambil celana panjang yang sekarang dia kenakan. Baju ini sama sekali tidak cocok untuk anak berhijab seperti Ana. "Sial banget nikah sama dia," cicit Ana.
"Maafin Ana ya Allah, bukan Ana enggak bersyukur atas takdir yang engkau berikan. Namun ini seperti cobaan yang sangat-sangat menyakitkan bagi hamba," gumamnya.
***
Makan malam, Alfatar membuka pintu tersebut melihat Ana yang masih dengan pakaian yang sama, benar-benar keras kepala. Mungkin harus dipaksa? Baru gadis itu akan bergerak dan menuruti kemauan Alfatar. "Bangun, Na ... kamu enggak ganti baju?" Alfatar berbisik tepat di telinga Ana membuatnya terusik.
"Atau mau aku yang gantiin?" tanyanya sontak Ana langsung terbangun dan langsung menjauhkan dirinya dari Alfatar.
"Gimana? Mau apa enggak?" tanya Alfatar.
Ana menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa enggak ganti baju?"
"Sampai berapa kali harus bertanya yang bahkan jawabannya sudah kamu ketahui? Aku tidak nyaman mengenakan pakaian yang ada di dalam sana!" Ana menunjuk lemari tersebut.
Alfatar tertawa dan menggeleng pelan melihat tingkah Ana yang menurutnya lucu, lucu untuk disiksa. Alfatar langsung membuka lemari tersebut dan mengambil beberapa pakaian. Baju berwarna hitam dengan panjang lengannya sampai siku; celana pendek berwarna pastel pink dengan panjang selutut. "Pakai. Itu adalah pakaian yang cocok buat kamu kan?"
"Kalau enggak, itu adalah pilihan terakhir. Jangan ngebantah. Lagian kenapa sih, mau nutupin rambut kamu yang cantik itu di depan suami kamu sendiri?" tanya Alfatar.
Ana dengan pergerakan lambat mengambil baju tersebut. Alfatar yang melihat itu merasa jengah langsung menarik tangan Ana, membawa gadis itu ke dalam kamar mandi. Melepas hijabnya secara paksa hanya itu Alfatar tidak bisa melakukan lebih dari itu karena Ana memeluk dirinya yang sedang menangis.
Alfatar mengambil gayung dan langsung menyiram Ana hingga gadis itu basah kuyup. "Lama kamu, lama!" Alfatar melempar gayung itu dan keluar dari kamar mandi.
Ana masih terus menangis, isakannya mengisi suara di dalam kamar mandi. Dia mengusap air matanya, dan menutup pintu kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ana dengan langkah ragu masuk keluar dari kamar mandi. Dia melirik ke sana kemari namun Alfatar tidak ada, bersyukur. Ana benar-benar depresi berada di lingkungan Alfatar, pria gila! Ana mengambil baju tersebut dan memakainya, dia mengambil mukenanya agar tetap bisa menutup auratnya.
Dia enggan menampilkan auratnya di depan Alfatar, yang diyakini adalah suaminya. Suami paksa yang menikah karena sebuah sebab dan alasan. "Kasar, enggak ada attitude," gumam Ana sambil membereskan tempat tidurnya.
Klek, pintu terbuka langsung mengundang rasa terkejut dan takut dari Ana. "Mau apa?" tanya Ana dingin.
"Kenapa masih pak—"
"Udahlah, Al. Kalau kamu mau dihormati sebagai seorang suami, kamu juga harus menghormati aku sebagai seorang istri. Apa susahnya kita saling memahami antara kebutuhan," ujar Ana.
"Aku enggak pernah ngelarang kamu pake baju ini itu, apa dan sebagainya. Kenapa kamu malah ngelarang aku pake hijab? Memakai hijab itu kewajiban seorang perempuan," ujar Ana.
"Hm, aku tahu. Tapi aku suamimu, kita sudah muhrim, terus enggak ada lagi alasan kenapa kamu harus nutup auratmu itu," ujar Alfatar.
"Ini semua hanya formalitas! Kita enggak ada rasa apa-apa, jadi aku harap kamu ngerti sama keadaan aku."
Alfatar mendekat, Ana mulai merasa takut. Tangannya mencekam selimut dengan erat napasnya naik turun tak karuan. Seberusaha mungkin dia terlihat biasa namun gagal, Alfatar mendekatkan dirinya.
"Stop!" bentak Ana.
Alfatar tersenyum evil. Sungguh menakutkan bagi Ana. "Buatin aku makan malam dong, sayang." Ana merasa jijik. Kapan dia akan terlepas dari semua ini! Dunia tidak adil mempertemukan dirinya dengan lelaki b***t seperti Alfatar.
"Buat sendiri."
"Oh, kewajiban seorang istri adalah melayani suaminya. Kamu tidak ingin melayani suamimu yang baru pulang ini?" tanya Alfatar.
"Nanti gantinya, kita main malam ini," lanjutnya.
Ana menggeleng sebagai penolakan. "Aku buatin! Tapi jangan macam-macam sama aku!" ujar Ana ketakutan.