24°C
Tepat jam sudah menunjukkan pukul 19:00 WIB. Hari ini adalah hari Kamis, dan entah angin dari mana membuat Ana yakin akan terjadi sesuatu untuk malam ini, karena suasana antara dirinya dan Alfatar kini jauh berbeda. Tak seperti kemarin-kemarin yang tampak biasa, namun hari ini Ana dapat melihat langsung dari sorot mata Alfatar.
Tidak ada yang membuka suara, sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing Alfatar sibuk dengan handphonenya sesekali dia mengumpat entah dia sedang melihat atau membaca apa, yang Ana tidak ketahui.
Ingin sekali bertanya, namun nanti akan menimbulkan suasana berbeda. Ana semenjak menginjakkan kaki di rumah ini, dirinya memang merasa tidak aman namun apa pun yang terjadi dia akan tetap di sini bukan? Lalu di mana dia akan pergi? Selain dari rumah ini satu-satunya tempat dia berteduh dan meratapi tangisnya.
***
Satu hal yang Arion pikirkan untuk saat ini adalah Ana, entah sejak awal mereka bertemu membuat Arion bertanya-tanya tentang siapa, di mana gadis itu tinggal bahkan dia sudah mencoba mencari tau keberadaan gadis itu namun nihil, yang selalu muncul hanya sebuah kabar bahwa gadis yang tengah dia cari itu sudah menikah.
Arion tak percaya akan hal itu, karena dia yakin itu semua tak benar. Sebentar? Kenapa dirinya begitu yakin akan hal itu? Bahkan Ana dan dirinya tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas orang yang saling menolong.
"Kenapa sih?" tanya Natasya sambil menyimpan beberapa berkas yang dia bawa.
"Hm, kau tau gadis yang pernah aku tolong-"
"Dia udah nikah?" Sontak jawaban itu membuat Arion menoleh.
"Bagaimana kau tahu?"
"Jangan pura-pura tidak mengenal diriku, Arion. Kita sudah lama kenal bukan? Apakah kepercayaanmu kepadaku sudah berkurang? Aku ini seorang wanita. Bisa merasakan jika pria sedang jatuh cinta," ledek Natasya.
"Jika kau hanya ingin mengejakku, mending kau keluar saja dari ruanganku."
"Please lah, gadis di dunia ini banyak. Siapa nama gadis itu? An-"
"Ana." Arion menimpali.
"Nah itu, banyak yang lebih dari dia. Aku yakin banyak yang mau denganmu kau ini kaya, pemilik perusahaan besar, apa lagi? Hem kau juga tampan," puji Natasya.
"Jangan-jangan kau yang suka denganku?"
"Amit-amit jabang bayi, tapi enggak apa-apa sih. Aku udah anggap kamu sebagai sodara aku sendiri, udah seperti abang aku sendiri. Satu-satunya tempat aku berteduh ya di kamu," ujar Natasya.
Memang benar, Natasya adalah gadis yang ditolong oleh Arion saat di mana gadis ini menangis di trotoar jalanan dengan tas yang dia peluk. Mengingat hal itu Arion ingin tertawa sekaligus kasian melihat kondisi Natasya saat itu, keluarganya benar-benar hancur.
Karena Arion penolong yang baik hati, dia menawarkan sesuatu kepada Natasya contohnya bekerja di perusahaan miliknya. Dengan jaminan rumah juga, walau rumahnya tak terlalu besar tapi Natasya sudah sangat bersyukur sejak saat itu susah senang dia selalu membaginya dengan Arion. Bahkan sebuah kepercayaan juga sudah diberikan separuh untuk Natasya.
Baik dalam perusahaan maupun urusan curhat-curhatan. "Lagian si Ana itu, nemu dia di mana deh?" tanya Natasya mulai membuka topik kembali.
"Hm, dia aku temukan di stasiun. Dia pingsan," ujar Arion.
"Lalu?"
"Lalu apa? Aku membawa dia ke rumah sakit, dan menyuruhnya untuk tinggal di apartemenku. Setelah perbincangan yang menurutku sulit dipercaya," ujar Arion.
"Hah? Maksudnya?"
"Enggak ada. Yang ingin aku tau sekarang. Dia benar-benar sudah menikah?" tanya Arion.
"Arion, apakah kau benar-benar jatuh cinta dengan dia? Jangan sampai kau menjadi perusak rumah tangga orang," nasehat Natasya.
"Enggak bakal. Aku hanya ingin kepastian."
"Kepastian yang berakhir akan membuat kamu sakit hati? Begitu?" tanya Natasya tepat sasaran membuat Arion menghela napasnya pelan.
Benar, dia hanya mencari penyakit jika benar-benar ingin mencari tau informasi tersebut. Yang terburuknya adalah ketika benar adanya Ana sudah menikah, namun dengan siapa? Kenapa Arion tidak diundang. Ah mengingat itu, memangnya dia siapa? Bukan siapa-siapa.
"Udahlah, move on dong. Jangan kayak gini."
"Baru ketemu udah taro rasa aja, makanya lihat-lihat dulu seluk beluknya baru jatuh cinta."
"Hm."
***
Terdengar suara kebisingan dari luar membuat Inaya merasakan ada terjadi sesuatu di dalam. Untuk akhir-akhir ini dia sering mendengar kegaduhan dan teriakan seorang gadis yang dia yakini adalah Ana—tetangganya yang sedang berselisih pendapat atau hal lainnya bersama suaminya itu.
Jika Inaya liat, memang Alfatar itu orangnya kasar dan juga emosional seperti apa yang dikatakan oleh Ana kepadanya, walau sedikit dari penjelasan Ana, Inaya tau gadis itu pasti mendapatkan kekerasan dan juga hal yang tidak baik dari Alfatar.
Melihat dari luar, tepat di balkonnya. Alfatar pergi membawa mobilnya melihat pergerakannya hingga mobil tak lagi nampak di matanya. Inaya bergegas turun dari balkon dan langsung masuk ke dalam rumah Alfatar.
"Na, kenapa Na? Dia kasar lagi sama kamu?" tanya Inaya kaget saat melihat Ana tersungkur di lantai dengan beberapa luka lebam di bagian tangan dan badan-badannya. Sungguh ini sudah menjadi KDRT.
"Astagfirullah, ini udah parah, Na. Kita harus lapor polisi dengan tuntutan KDRT. Jangan diam aja, Ana. Kamu harus lakuin sesuatu," ujar Inaya yang hanya mendapatkan respon tangis dari Ana.
Inaya membawa Ana duduk di sofa, dan mengambilkannya segelas air. "Udah pergi, Inay. Kalau Alfatar datang bisa habis urusannya, kamu bakal terlibat," ujar Ana.
Inaya menggelengkan kepalanya. "Enggak, Na. Aku enggak bisa liat kamu kayak gini, kita ke dokter aja ya?" tanya Inaya dibalas gelengan kepala Ana.
"Jangan, udah aku enggak apa-apa kamu mending pulang. Kalau Alfatar sampai tau kamu di sini bakal berabe," ujar Ana mendorong-dorong tubuh Inaya pergi.
Inaya bersikeras. "No! Apa-apaan, jangan gini Ana. Setelah melihat keadaan lo yang kayak gini aku sangat prihatin, Alfatar benar-benar kejam."
Ana kembali menangis, dia menyandarkan kepalanya di bahu Inaya. Inaya mengusap pelan punggung Ana. "Yang sabar ya, aku bakal lakuin sesuatu yang bisa buat kamu lepas dari Alfatar," ujar Inaya.
"Aku bingung, aku capek ... bahkan kedua orang tua aku aja udah enggak percaya sama aku," ujar Ana terisak.
"Mereka bukan enggak percaya, mereka hanya berusaha berpikir positif tentang Alfatar, mungkin karena mereka sudah percaya dengan pria kasar itu," ujar Inaya.
Sekali lagi, benar apa adanya itu memang benar semuanya benar. Kedua orang tuanya seperti di hipnotis dengan sikap manis Alfatar apalagi soal janji, kenapa Ana harus dihadapkan oleh orang seperti Alfatar?