***
Arion bergegas pergi dari rumahnya namun suara adiknya membuat dirinya terusik, siapa lagi kalau bukan adik sepupunya yang baru saja datang. Katanya dia akan di sini selama dia lulus kuliah di UI sungguh, Arion mendapatkan beban baru tapi ini juga menjadi hal baik karena kegelisahannya soal Ana akan berkurang karena banyaknya ocehan dari adiknya itu. Bayangkan, saja jika pagi-pagi buta sudah disuruh untuk bangun. Ah menyebalkan.
"Kak! Bangun cepetan! Gila ya, gue punya abang tapi tukang ngebo. Hidup lo enak banget kaya gak pernah susah!" teriak Debora kepada kakak sepupunya itu. Tampan, kaya, mapan. Tiga kata itu menggambarkan Arion, perfect man yang diincar oleh semua wanita di seluruh penjuru dunia. Sayangnya ... dia jomblo.
"Apasih? Berisik lo ah!" Arion mengibaskan tangannya dan memeluk guling semakin erat. Kali ini posisinya berubah miring ke kanan.
"Fix, ini orang minta dicabut bulu kakinya."
Debora menggulung lengan baju piamanya, menggoyangkan kaki Arion Dengan semangat empat lima penuh bara api mencabuti bulu kaki Arion. Sayangnya, Axel sudah terlalu mengantuk, pekerjaan kantor plus sesi pemotretan membuat dia lelah. Cabutan bulu kaki hanya terasa geli, malah membuat pulas. Tidak ada cara lain membangunkan Arion selain membangunkan dengan air dingin.
"KAK! Bangun!! Hari ini gue kuliah. Masa lo mau tidur kaya gini sih? Bantuin kek nyiapin apa itu!"
Hari bahagia Debora, hari ini dua hati akan bersatu, eh-eh maksudnya kabar gembira dia akan pergi ke kampus melakukan masa lagi OSPEK sebagai MABA. Debora Axello telah menetapkan dirinya untuk kuliah di sini karena kebetulan di sini ada Arion, sepupu sama kecilnya.
Dia sudah tidak tahan lagi dengan Arion kakaknya sulit sekali dibangunkan. Coba saja dia memiliki anak dan istri, pasti Arion akan lebih rajin melakukan bangun pagi rutin. Sudah menjadi kewajiban Debora sejak kecil membangunkan Arion, semenja mereka kecil memang keduanya sangar dekat. Orang tuanya sudah tidak sanggup membangunkan Arion. Memang beginilah jika Arion sudah tertidur pulas. Tidak ada yang bisa membuat dia terbangun kalau bukan dia bangun sendiri.
"ABANGG! TERIMA INI!" teriak Debora dengan menyiramkan satu gayung air dingin. Arion masih saja tidak bergerak, dia malah mendekur makin keras. Tidak biasanya Arion begini. Biasanya kalau sudah terkena air dia akan bangun. Mungkin karena sangat lelah dan beban pikirannya mengenai perusahaan semakin berat.
"Kak! ASTAGA DRAGON!!"
Debora menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar Arion. Sudah hampir satu jam waktu dan tenaganya terkuras habis membangunkan kakaknya. Dia akhirnya menyerah, masa bodoh jika kakaknya tidak datang dalam acara keluarga nanti setelah dirinya bersiap OSPEK. Asisten rumah tangga yang tadinya hendak menyusul Debora ke kamar Axel menghentikan langkahnya di tangga saat melihat Debora memberengut kesal. Dia lalu mengikuti Debora yang kembali turun.
Arion mengerjapkan matanya, dingin. Ini ulah dari Debora, dia sangat nakal bahkan lihatlah ini kasurnya menjadi basah karena air yang Debora tumpahkan padanya. Benar-benar aneh dia itu.
Hari ini benar-benar membuat dirinya capek. Serius, karena ada beberapa hal perlu dia urus baik mengenai keluarganya atau pun soal perusahaan, namun terlintas lagi di otaknya, seorang gadis bernama Raihana yang mampu membuat dirinya terhipnotis bahkan dengan sekali pertemuan saja.
***
Mendengar bahwa, Inaya tewas dibunuh orang tentunya membuat Ana semakin takut dan was-was padahal mereka baru bertemu semalam. Dan berita ini sampai di telinga Ana tepat jam 9 pagi, Ana semakin takut dengan sikap Alfatar yang seperti itu, Ana yakin Alfatar itu bukan orang sehat.
Ana berpikir keras untuk bisa pergi dari rumah ini apa pun caranya, Ana tak bisa tinggal bersama dengan pembunuh seperti Alfatar. Dia berusaha memikirkan sebuah cara, namun otaknya seakan tumpul sekarang benar-benar membuatnya tertekan berada di sini.
Ana mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi dari sini, dia mengutuki dirinya yang bodoh! "Percuma, Na! Kalau kamu pergi sama aja, Alfatar akan mencari kamu." Ana kembali duduk di sofa.
Merasa kasian dengan Inaya yang tewas, hanya karena membantu dirinya. Alfatar gila! Sungguh gila, pria itu tidak memiliki perasaan sana sekali. Terlintas sebuah ide, yang cukup aneh untuk dirinya, apa pun dia harus bisa pergi dari rumah ini. Dia keluar sebentar untuk membeli sesuatu, dan untuk malam ini dia akan sedikit berakting manis untuk suaminya yang kejam dan tak memiliki perasaan seperti Alfatar itu.
***
Malam mulai menghampiri, suara mobil sudah terdengar dari telinga Ana. Dan sudah dia yakini bahwa itu adalah Alfatar, dia membuka pintu dan menyambutnya ramah. Untuk saat ini saja, Ana harus menghilangkan rasa takut yang ada di benaknya ini memang sangat sulit untuk dirinya namun dia harus bisa mencoba dan mencoba.
"Mau aku buatin kopi?" Pertanyaan itu justru membuat Alfatar merasa aneh dan menoleh.
Ana menunduk, dirinya tak mau menatap mata seorang pembunuh seperti Alfatar. Sebenarnya Ana tidak tau apakah Alfatar benar-benar membunuh Inaya apa tidak, tapi siapa lagi kalau bukan Alfatar? Yang berurusan dengan Inaya hanya Alfatar saja? Ah sudahlah Ana tak mau memikirkan itu sekarang.
Alfatar mengangguk. "Yaudah, kamu ganti baju dan ke dapur aku udah siapin makan malam," ujar Ana lalu bergegas pergi meninggalkan Alfatar yang termenung sesaat.
Ana tau, Alfatar merasa aneh dengan tingkahnya namun semoga saja misinya melarikan diri ini berhasil. Ana yang sudah selesai membuat kopi, dan Alfatar yang sudah melahap makanan buatan Ana. "Enak, ini yang dibutuhkan suami kalau pulang. Bukannya jadi istri yang penurut, membangkang aja kerjanya," ujar Alfatar mengomeli Ana.
Ana mendengus pelan, hilangkan lah sedikit rasa marah dan kesalmu itu. Ana bahkan ingin menerima Alfatar jika memang pria ini sungguh-sungguh mencintai dirinya bukan karena ingin membuat Ana menderita seperti ini, jujur dirinya sangat capek jika harus berakting menjadi istri yang baik.
Setelah makan malam usai, Ana membawakan kopi kepada Alfatar di ruang tamu yang sibuk dengan laptop di hadapannya. Ana akui, kalau Alfatar memang pekerja keras namun kenapa tiba-tiba pria ini berubah menjadi seorang psikopat ingin sekali dia bertanya, alasannya.
Alfatar menyeduh kopi tersebut sampai habis tentunya mengundang senyum dari Ana, untuk saat ini dirinya harus pandai-pandai dalam mengurusi tingkah dan perilaku kasar dari Alfatar. Sebenarnya dia bisa melawan, ah sudahlah.
Ana melihat ekspresi Alfatar yang mulai lelah dan menguap beberapa kali. "Kalau capek, mending tidur aja dulu. Jangan dipaksakan." Ana menegur, Alfatar mengangguk dia ingin membereskan barang-barangnya namun dicegah oleh Ana.
"Nanti aku yang beresin. Kamu tidur aja," ujar Ana.