Ana berlari keluar dari rumah membawa beberapa barang penting seperti handphone, uang dan juga beberapa roti untuk dia makan selama mencari tempat aman untuk dirinya. Berhasil, dirinya berhasil memasukkan obat tidur ke dalam minuman milik Alfatar bahkan untuk makanan yang dia siapkan, mungkin butuh waktu lama untuk Alfatar tertidur.
Sumpah, Ana benar-benar nekat dan berani seperti ini karena dia yakin dia bisa keluar dari masalah, penyakit seperti Alfatar itu. Entah dia berjalan dan ingin kemana sebelum dirinya benar-benar jauh dari rumahnya, Ana melirik dari jauh rumah Inaya. Orang satu-satunya yang Ana ceritakan soal masalahnya di rumah.
Setidaknya ada sedikit kebebasan, bagi Ana. Karena di saat Alfatar kerja dia bisa keluar kemanapun. Namun, untuk saat ini dia benar-benar ingin lari dan pergi dari kehidupan Alfatar dirinya tak yakin bisa, namun kali ini berhasil.
Brukh! Karena terlalu sibuk berlari, Ana tersungkur membuat luka berdarah di kakinya. "Aww!" ringisnya merasakan pedih di kakinya, ini adalah malam yang sangat Ana tunggu-tunggu. Namun entah kemana dia akan pergi.
Dia melirik handphone sudah menunjukkan pukul 9 malam, Ana mencoba mencari-cari orang yang ada di sekitar sini bertanya soal di mana kantor milik Arion, Ana hanya bisa meminta tolong kepada Arion saja. Seandainya Inaya masih ada, Ana akan meminta tolong kepada gadis itu.
***
"Bapak tau orang ini?" tanya Ana sambil memperlihatkan foto yang dia ambil dari Google, kebetulan foto Arion ada di sana dicap sebagai salah satu pemilik perusahaan besar.
Namun nihil, orang-orang sekitaran sini tidak ada yang tahu. Ana mencoba lagi-lagi dan lagi, dan berinisiatif untuk mencari kantor itu secara langsung. "Pak, saya mau ojek," ujar Ana.
"Mau kemana, neng?" tanya tukang ojek tersebut.
"Saya mau ke kantor Arion Corp, di jalan Mawar Indah perumahan Khatulistiwa," ujar Ana.
"Wah itu jauh mbak," ujar mas ojeknya.
"Enggak apa-apa, Pak. Nanti saya bayar kok," ujar Ana.
Mas ojeknya pun mengangguk, Ana naik dan terus berdoa kepada Allah agar benar-benar bisa sampai kepada Arion. Setidaknya setelah dia menemukan Arion, pria itu bisa menjadi pelindungnya dari Alfatar. Tak peduli jika memang Ana istri dari Alfatar, Ana tak mau kembali kepada pria b***t itu.
Setelah 40 menit perjalanan, Ana bertanya, "Masih jauh, Pak?"
"Dikit lagi, mbak. Di perempatan sana kita sudah masuk ke bagian yang mbak minta," ujarnya dibalas anggukan oleh Ana.
Hingga tiba di sana, memang benar. Di sini hanya ada bangunan-bangunan elit saja, bahkan Ana malu untuk datang dengan keadaan seperti ini, tapi bodoamat soal rasa malunya dia harus bisa ketemu dengan Arion apa pun.
Ana memberikan selembar uang biru. "Terimakasih, Pak."
"Kebanyakan ini mah," ujarnya.
"Enggak apa-apa, Pak."
Setelah didesak diberikan, Ana langsung mencari keberadaan tersebut dan berakhir dia sampai di sebuah gedung kantor dengan nama yang cukup besar, dan benar ini nama perusahaan milik Arion. Ana merasa lega, perutnya terasa sangat lapar kakinya berdarah dan tubuhnya terasa lemas ini sudah jam 12 malam. Ana duduk di bagian teras tersebut menikmati roti yang sempat dia bawa.
"Alhamdulillah," gumamnya.
Ana menatap handphonenya, Ana mengusap wajahnya pelan dia masih merasakan perih di kakinya walau bisa ditahan sebentar.
Pagi mulai datang, Ana tidur seharian di luar kantor tersebut badannya benar-benar sakit, dia tak bisa bergerak, dia hanya bisa bersandar. Satu bayangan membuat dirinya tersadar seseorang ada di depannya. Dia mendongak, sayangnya semuanya menjadi gelap.
***
Ana merasa lebih nyaman dari biasanya, dia membuka matanya dan entah ini ada di mana. Ana mengedarkan pandangannya ke sana kemari, dan melihat pakaiannya juga sudah berganti Ana ingin mengingat kembali apa yang terjadi namun kepalanya langsung menjadi pusing. "Ah ...."
"Tenang, kamu di sini Ana." Suara itu, suara yang sangat familiar membuat Ana menoleh.
Arion dengan wajah khasnya, Ana tersenyum bahagia. Saking bahagianya, dia langsung menangis haru, ingin sekali dia menceritakan semuanya, semua tentang hari-harinya yang sangat keras dan butuh tenaga ini.
"Ana, kamu kenapa?" tanya Arion.
Ana menunduk, dia masih merasakan sakit di punggungnya karena pukulan dari Alfatar dan lebihnya lagi dia tidur semalaman di luar kantor Arion.
"Kenapa kamu tidur di luar sana? Kenapa kamu tidak mencoba menghubungiku atau mencari satpam di sana? Atau hal lainnya Ana? Kamu bisa sakit tidur di situ," ujar Arion.
Melihat ekspresi Ana yang seperti itu, Arion memutuskan untuk mengelus kepala Ana. "Ada apa? Kenapa kamu bisa di sini?" Suara itu kini berubah kembali menjadi lembut.
"Dia, dia jahat." Terdengar suara yang bergetar itu membuat Arion mengepalkan
"Tenang sekarang kamu aman di sini." Arion dapat merasakan ada yang aneh dan tentunya, mengekang Ana.
"Kamu istirahat, ini ruang medis di kantor ini. Kalau kamu butuh apa-apa langsung pencet bel," ujar Arion.
"Maaf-maaf, aku sering merepotkanmu."
"Aku akan selalu membantumu jika kamu perlu bantuanku," ujarnya dengan senyum khasnya membuat Ana menjadi hangat.
Natasya datang membawa bubur. "Permisi," ujarnya dengan wajah tengil andalannya.
"Jangan berdua, entar ada syaiton! Btw any busway, kamu udah enggak apa-apa?" tanya Natasya basa basi kepada Ana.
Ana tersenyum, dan mengangguk. Natasya mengisyaratkan untuk Arion pergi dari ruangan ini. Natasya beralih kepada Ana menatap gadis lesu, dengan wajah putih bersih. Pantas saja Arion menyukai gadis ini, dilihat saja sudah baik.
"Ana ya?" tanya Natasya.
"Iya. Kamu?"
"Aku Natasya, sahabat Arion."
Ana tersenyum.
"Kamu makan deh, kata dokter kamu juga jarang makan ya?" tanya Natasya. Ana tidak menjawab.
"Okei kalau enggak mau jawab engga apa-apa, tapi boleh aku bertanya lagi? Kamu kenapa dan bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya Natasya kepo.
"Ada masalah," gumamnya.
"Parah? Saat aku mengganti bajumu, aku melihat beberapa luka di bagian punggung, lengan, kaki dan lehermu." Natasya sedikit mengecilkan suaranya.
Ana menunduk dan menghela napasnya pelan dia tak bisa berkata apa-apa, entah kenapa dirinya sulit mengatakan bahwa dia perlakukan semau-maunya oleh suaminya sendiri.
"Kamu, diKDRT?" tanya Natasya hati-hati. Ana mengangguk dan menatap ke arah Natasya wajahnya mulai berubah, dia ingin menangis dan berkeluh kesah. Tapi entah kepada siapa, bahkan Ibunya saja jika ditelfon sulit sekali. Apalagi ayahnya.
Natasya mengusap pundak Ana, dan tersenyum. "Kamu aman di sini, jangan takut ya?"
Ana mengangguk, Natasya memeluk Ana seolah menyalurkan sedikit kekuatan untuk gadis ini. "Maaf kalau aku sering merepotkanmu, dan Arion."
"Hey sudahlah, kami juga senang bisa membantu dirimu." Natasya tersenyum.