Arion sedari tadi tidak berhenti tersenyum entah kenapa, mungkin karena dia dan Ana kembali bertemu? Kenapa perasaan Arion menjadi tak karuan seperti ini. Dia bangkit dan membereskan beberapa berkas dan pergi meninggalkan ruangannya. Kini langkahnya menuju ruang medis, dia membukanya melihat Ana yang sibuk dengan buku yang dia baca.
"Ngapain?" Pertanyaan itu membuat Ana menoleh.
"Eh, ini lagi baca buku dari Natasya."
"Oh, udah baikan?"
Ana mengangguk matanya tak lepas dari buku yang sedang dia baca. "Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Arion.
Ana menghela napasnya pelan, sepertinya dia harus benar-benar mengatakan ini. Bukannya memang harus ya? Alasan Ana ke sini juga ingin meminta bantuan Arion. "Kalau belum mau cerita, enggak apa-apa. Cerita kalau udah siap," ujar Arion.
Alasan kenapa Ana sangat percaya dengan Arion, pria yang pengertian, berwibawa dan lembut tentunya sikap lembutnya itu tak terlepas dari wajahnya yang sangat cool dan tampan. "Boleh aku cerita sekarang?" tanya Ana.
Arion mengangguk.
Pintu terbuka. "Pak, ada meeting mendadak."
Arion menoleh ke arah Ana. "Yasudah pak, engga apa-apa. Nanti kita bahas lain kali aja," ujar Ana.
"Yaudah nanti aku kembali." Ana mengangguk.
Dia menatap hingga punggung tegak itu hilang dari ruangan medis. Dirinya kembali termenung memikirkan dampak ke depannya akan seperti apa dan bagaimana dirinya. Ana merasa bersalah sekaligus takut jika saja, dirinya tiba-tiba dicari oleh Alfatar dan memaksanya untuk kembali pulang? Ah sungguh! Ana tidak ingin jika hal itu sampai terjadi, semoga saja tidak—itu satu-satunya harapan dan doa Ana sekarang.
***
Setelah berpikir beberapa jam, dia memutuskan untuk benar-benar berpisah dengan Alfatar. Dengan pikir panjang, Ana akan pergi esok hari bertemu dengan orang tuanya dan memberitahu semuanya, dan biarkan semuanya ini berjalan seperti dulu. Ana rindu situasi yang dulu, situasi di mana dirinya aman dan damai tinggal di Surabaya.
Ternyata memang kebahagiaan tak selamanya berpihak pada kita, adanya kesedihan membuat kita sadar bahwa kita butuh Allah sebagai tempat berkeluh kesah dan meminta tolong. Ana mengusap perutnya yang terasa sakit, mungkin karena efek dirinya kelamaaan makan dan juga tidur di luar ruangan semalaman.
"Gimana kalau kita jalan-jalan dulu?" tanya Arion.
"Kayaknya kamu bosan ya?" tanyanya lagi. Ana mengangguk pelan, tapi tubuhnya sedang tidak fit.
"Aku bosan, cuman tubuhku lemas," keluh Ana.
"Udah makan?"
Ana mengangguk. "Yaudah kamu tidur aja dulu, di sini seharian sampai kamu benar-benar pulih dan sembuh," ujar Arion.
Ana mengangguk dan tersenyum. Ana sangat senang bisa bertemu dengan sosok seperti Arion, baik dan pengertian. Bukan seperti Alfatar bukan bermaksud ingin membanding-bandingkan, namun kenyataannya memang seperti itu. Ana menyipakkan selimutnya dan berjalan ke arah jendela.
Bisa di lihat dari sini jalanan yang macet, dan udara yang panas. Banyak sekali orang-orang di luar sana yang butuh makan, seperti anak-anak yang mengemis, mengamen dan juga mewarnai tubuhnya menjadi warna silver. Sungguh, Ana harus banyak-banyak bersyukur akan nikmat yang sudah dia terima, untuk cobaan dan ujian dalam hidupnya semua orang pasti juga pernah merasakan hal tersebut.
Di sisi lain, Nurina merasa sangat gelisah entah sejak kapan hal ini terjadi, bahkan tidur saja tidak nyenyak. "Pak, emak rindu sama si Ana," keluh Rina.
Darto menatap istrinya. "Bapak juga kok, lagian to dia pasti sedang sibuk atau membantu Alfatar mengelola kafe mereka buktinya dia sering mengirimkan kita uang setiap bulan," ujar Darto.
"Iya sih, kapan dia akan jalan-jalan ke sini lagi? Anak-anak mengaji sudah banyak yang bertanya itu." Rina tertawa, melihat anak-anak yang sering datang ke rumahnya dan bertanya Ana di mana bahkan Rina sudah sering kali memberitahu bahwa Ana sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
Tetapi tetap saja mereka bertanya-tanya berulang kali, sampai Rina capek sendiri untuk menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sama. Dia meneguk segelas air. "Bapak istirahat dulu to, ini udah sore."
"Iya, nanggung ini," ujarnya.
Rina menghirup udara segar, biasanya sore hari Ana datang membawa pisang goreng kesukaannya, menunggu mereka sampai pulang setelah mengajar anak-anak membaca Al Qur'an. Banyak kenangan dia dan Ana, Rina hanya bisa mengenangnya jika dia rindu pada Ana, karena tidak bisa saling menghubungi, selalu saja Alfatar yang mengangkatnya dan mengatakan bahwa Ana sedang sibuk lah inilah, jadi Rina memaklumi saja.
Malam pun telah tiba, matahari sudah berganti menjadi bulan. Ana sudah terlelap dalam tidurnya, namun tiba-tiba dirinya terbangun karena mimpi Alfatar akan datang menemuinya. Ana takut sekali.
***
Arion mengambil beberapa buku di kamar Arion dia sempat melihat sebuah lukisan seorang wanita berhijab yang menurutnya sangat cantik. Senyumnya terukir merasakan bahwa Arion sedang menyukai wanita yang berbeda agama dengan dirinya?
Ah kakak sepupunya itu memang sangat konyol, eh salah cinta memang konyol. Datang begitu saja tanpa melihat siapa yang akan mereka jadikan satu. Debora memilih acuh dan pergi meninggalkan kamar Arion.
"Ngapain ke kamar gue?" tanya Arion.
"Ngagetin aja lo!" kesal Debora.
"Hm."
"Ambil buku doang astaga, lo sensitif amat sama sepupu sendiri juga. Jangan gitu entar lo kena karma," ujar Debora.
"Bacot." Arion memilih masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dia menatap ke arah langit-langit sambil memikirkan apa yang dilakukan oleh Ana? Mungkin gadis itu sedang tidur? Atau ... ah! Arion kenapa jadi bucin dan selalu memikirkan Ana? Gadis itu memiliki kekuatan yang bisa membuat Arion jatuh cinta.
DOR! DOR!
"ABANG!! Keluar oy!"
Arion menutup matanya dan menghela napas pelan. "Apa?" Dia membuka pintu.
"Bagi uang, gue mau beli martabak manis."
"Astaga." Arion rasanya ingin marah dan ingin mengusir sepupunya ini. Dia membuka dompet dan memberikan beberapa uang kepada Debora, dan kembali menutup pintu.
"MAKASIH!" teriak yang sangat besar.
Arion memilih untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Sampai dia lupa, bahwa seharusnya dia kembali bertanya kepada Ana, sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan Alfatar, dan kenapa mereka bisa sampai menikah ... Arion sempat gagal dalam cintanya mendengar Ana sudah menikah. Rasanya perjuangan yang baru saja dia susun langsung rubuh seketika.
Namun, karena Arion benar-benar sudah jatuh cinta dengan gadis itu. Dia sampai membantunya lagi tanpa memikirkan dampak ke depannya akan seperti apa.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dua keluar dari kamar mandi. Mengatur suhu AC dan memakai pakaiannya, Arion duduk di kursi kerjanya. Melihat lukisan yang sempat dia buat. "Ana, beautiful girl." Dia tersenyum.