Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Ana sudah membersihkan tubuhnya dan juga beberapa barang-barangnya. Dia berinisiatif untuk pulang ke rumah, untuk memberitahukan semua apa yang terjadi kepada orang tuanya. Ana mengoles sedikit bedak dan juga lipbam di bibirnya.
"Na?" Ana menoleh.
"Iya, Sya? Kenapa?"
"Kamu ditunggu sama Arion di ruangan," ujar Natasya.
"Hah? Buat apa?" tanya Ana bingung.
Natasya mengangkat bahunya tidak tahu. "Entah aku juga tidak tau, tapi cepatlah. Dia sudah menunggumu."
"Eh, bentar. Aku enggak tau di mana ruangannya."
"Aku akan mengantarmu."
Di sepanjang koridor, Ana terus menoleh ke kanan dan kiri beberapa orang menyapanya entah mereka kenal dari mana. Ana hanya membalas sapaan mereka, toh untuk saling menghargai saja. Mereka sampai di ruangan Arion. "Masuk aja," ujar Natasya.
Ana sedikit takut.
"Masuk aja, Ana. Arion enggak ngegigit orang."
Ana terkekeh. Dia membuka ruangan tersebut, matanya langsung tertuju kepada Arion yang sibuk dengan laptop di depannya. Merasakan kehadiran Ana, Arion langsung memberhentikan aktivitasnya.
"Hei, sini duduk." Ana mengangguk-angguk.
"Kenapa, Pak? Manggil saya?" tanya Ana.
"Iya. Gimana ke depannya kamu ingin apa? Dan soal Alfatar?" tanya Arion.
Ana terdiam sejenak. "Boleh antar saya ke rumah saya di Surabaya?" tanyanya hati-hati.
Arion terdiam, lalu dia mengangguk dan tersenyum. "Boleh, kita berangkat?"
"Hari ini, aku mau ngomong sama orang tuaku dulu soal kejadian ini agar tidak ada yang salah paham tentang Alfatar atau aku," jelasnya.
"Yasudah, nanti kita siapkan tiket. Kamu bersiap, sejam kemudian kita akan berangkat." Secepat itu, Ana merasa sangat senang dia tak perlu menunggu terlalu lama.
"Terimakasih, pak."
Arion mengangguk. Ana keluar dari ruangan, kata Arion ada sebuah taman di belakang sini dia bisa pergi ke sana jika bosan. Dia sana juga aman, jadi Ana bisa pergi tanpa rasa takut akan Alfatar datang tiba-tiba dan menyuruhnya untuk pulang.
***
"Halo! Ada apa, nak? Ana mana?"
“Halo bu, Ana kabur dari rumah. Dan saya tidak tau dia di mana sekarang.”
"Apa?!" Rina menjatuhkan handphonenya, tentunya mengundang pertanyaan di benak Darto.
"Ada apa ibu?" tanya Darto.
"Ana, Ana kabur dari Alfatar. Dia sekarang entah di mana, pantas saja ibu gelisah dari kemarin-kemarin," ujar Rina.
"Tenanglah. Pasti Alfatar akan mencari Ana dengan segera."
Sejam setelah itu, Ana dan Arion sampai di Surabaya Ana dengan cepat langsung masuk ke rumahnya tanpa salam atau ucapan apa pun. Dirinya langsung memeluk ibunya erat dan tangisnya seketika pecah.
Darto melihat seseorang bersama Ana. "Saya Arion, om, tante."
Darto mengajak Arion untuk duduk dan bercerita apa yang terjadi sedangkan Rina sekarang sedang menenangkan Ana yang sedari tadi menangis tersedu-sedu. "Kenapa, Nak? Kata Alfatar kamu pergi dari rumah? Ada masalah apa to nduk? Alfatar itu suami kamu, jangan kayak gini nduk."
Ana terisak, masih dalam keadaan yang sama. "An—ana, Ana udah enggak mau sama dia, bu." Ana mengusap air matanya.
"Kamu ngomong apa sih, nduk? Jangan main-main sama pernikahan. Alfatar orangnya baik kenapa kamu tidak mau dengan dia? Dan siapa laki-laki yang bersama kamu itu?"
"Jangan coba-coba selingkuh, nduk. Ibu tidak pernah mengajarkan kamu melakukan kemaksiatan seperti itu," ujar Rina.
Ana menggeleng dengan cepat. "Ana enggak selingkuh bu, Ana memang pergi dari rumah. Karena Alfatar jahat sama Ana."
"Dia sering mukulin Ana."
"Sering marah-marah sama Ana."
"Dia juga enggak pernah suka kalau Ana pake hijab, dia itu jahat Bu! Ana udah enggak sanggup tinggal sama dia."
Plak!
"Ngomong opo to? Jangan menjelek-jelekkan suami kamu seperti itu, nduk. Dosa, nak! Dosa."
"Tapi ini beneran, ibu!" Ana semakin menangis apalagi tamparan yang diberikan ibunya.
"Ibu enggak percaya sama Ana?" Suaranya bergetar hebat.
"Gimana ibu bisa percaya to nduk? Alfatar orang yang baik, dia mau menikahi kamu, dia mau memberikan pekerjaan untuk kamu, dia mau nerima kamu, dan kamu sekarang ngomong seperti itu? Dan itu di luar. Kamu pergi sama dia? Kenapa? Alfatar mana?" tanya Rina memegang kedua pundak Ana.
"Hiks .... Ana enggak boong ibu, itu Arion di depan orang yang bantuin Ana. Dia baik dan selalu membantu Ana," ujar Ana.
"Astagfirullah Ana, kamu sudah punya suami. Kenapa masih dekat-dekat dengan dia? Apa jangan-jangan dia selingkuhan kamu?"
"Astagfirullah ibu! Ibu nuduh Ana berbuat seperti itu? Arion itu hanya orang baik yang nolongin Ana ibu, Ana enggak tau harus minta tolong sama siapa lagi untuk lepas dari Alfatar, lelaki kejam dan suka main tangan sama Ana," ujar Ana dengan tangisnya yang pecah.
Mendengar perdebatan itu membuat Darto langsung berlari masuk. "Ada apa to? Kalau ada masalah diomongin baik-baik jangan pakai emosi."
"Dia pak, astagfirullah dia bilang Alfatar jahat. To, darimana nya?" tanya Rina heran.
"Beneran, Pak. Ana enggak boong." Ana terus bersikeras, sampai kedua orang tuanya percaya bahwa Ana berkata sejujurnya.
"Kenapa kamu bilang Alfatar jahat, Nak?" tanya Darto sambil memegang pundak Ana.
Ana langsung masuk ke dalam pelukan bapaknya. "Dia kasar sama Ana, Pak. Dia suka main tangan, marah-marah enggak jelas, dan selalu ngalarang Ana ngelakuin apa yang Ana suka. Dia egois." Suara Ana semakin lirih.
"Loh bisa gitu, Nak? Alfatar bukannya anak baik?"
Ana menggeleng. "Ana juga gak tau pak, tapi dia kasar. Ana gak tau harus ngapain sekarang, Ana bingung."
"Bicara baik-baik sama dia, Nak. Bagaimana pun dia adalah suami kamu," bujuk Darto.
Ana menggeleng lalu mengusap air matanya. "Ana enggak mau, Pak. Dia itu pembunuh, dia ...." Ana merasakan sesak di dadanya mengingat saat malam itu dirinya benar-benar diperlakukan semena-mena sebelum Inaya tewas, saat Inaya dibawa pergi sepulang Alfatar.
Ana diperlukan sangat kasar, bahkan dipaksa melakukan apa yang Ana tidak inginkan, Ana lupa malam itu terjadi apa. Ana tak ingin mengingatnya.
"Ana, berbaiklah. Jangan sampai rumah tangga kamu hancur hanya karena hal ini sayang," ujar Rina kembali melembut, dia mengusap kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
"Ana gabisa ibu, anak udah capek. Jangan paksa Ana seperti Alfatar memaksa Ana malam itu, yang dia lakukan ke Ana itu penyakit."
"Lalu kamu mau apa sekarang?" tanya Darto.
Ana terdiam, dia bingung ingin apa. Dia hanya ingin pengakuan dari orang tuanya mengenai apa yang Ana cerita, berharap kalau dia sudah bercerita bapak dan ibunya akan paham dan mendukung Ana menjauhi Alfatar. Namun, berbanding terbalik dengan harapan yang Ana inginkan. "Ana ingin berpisah dengan Alfatar."