Ana memijat pelipisnya pelan, lengannya terasa perih dan pegal. Dia melihat sekeliling rumah, Alfatar sejak tadi pagi belum juga datang. Entah apa yang dikerjakan pria itu, Ana tidak tau. Dia tidak pernah mau mengurusi pria itu. Ana sangat terluka karena kelakuan Alfatar, semenjak menikah dengannya, Ana menderita.
"Aku pulang," ucap Alfatar membuat Ana membulatkan matanya. Dia bergerak mundur dan menutup pintu kamar lalu menguncinya. Dia takut Alfatar akan bertindak lebih jauh dan menjadi garang.
"BUKA PINTUNYA ANA!" teriak Alfatar menggedor pintu kamar Ana. Gadis itu semakin takut, dia mencari jalan keluar, satu-satunya hanya ada jendela di kamar ini. Sayangnya ada tralis besi yang terpasang kuat. Ana lalu mencoba membuka tralis besi itu dengan obeng. Dia lalu keluar lewat jendela. Bentakan Alfatar sudah tidak sanggup lagi Ana dengar, dia sudah muak dengan semua itu. Saatnya dia benar-benar pergi dari kehidupan Alfatar.
Memang orang tuanya selalu melihat Alfatar orang yang baik, namun tidak dengan Ana. Dia sungguh monster kejam yang menghancurkan hidupnya. Ana berlari tanpa alas kaki, tak peduli kakinya yang melepuh karena panas aspal, yang terpenting dia pergi jauh. Sejauh mungkin dari Alfatar.
Ana duduk di halte, menunggu bus datang, entah kemana dia pergi, yang terpenting dia ingin bebas dari Alfatar.