Hal yang paling membuat Ana bingung hingga saat ini, salah apa dia? Kenapa Alfatar sampai lelaki itu berniat seperti ini. Ana mengingat jaman masa SMA, dia ingat bagaimana Alfatar bersikap baik saat masih sekolah, dia menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandi sebuah mall. Dia lusuh, kakinya pun tak menggunakan sepatu. Akibar berlari dari kejaran Alfatar, membuat kakinya terluka, Ana sangat bingung harus kemana dia pergi, orang tuanya saja tidak memperhatikan dia dan lebih mempercayai Alfatar. Ana menangis pelan, menahan isakan tangisnya.
Seorang penjaga yang membersihkan toilet menunduk, menatap Ana dari bawah ke atas. Dia melihat Ana seperti perempuan yang kehilangan arah. Dia menutup pintu kamar mandi dan berjongkok menatap Ana yang duduk di bawah wastafel.
"Mbak, permisi mbak kenapa ya?"
Ana masih berusaha menahan isak tangisnya, dia mendongak, perempuan berseragam biru menatapnya dengan tatapan iba sekaligus bingung. Ana menggeleng dan mengusap air matanya. Penjaga toilet itu memberikan tissue kepada Ana.
"Mbak kalau ada masalah, bisa cerita sama saya."
Ana mengambil tissue yang diberikan, mengusap air mata dan ingusnya, wajahnya sangat berantakan saat ini, dia terluka sekaligus kecewa kepada Alfatar, namun dia tak tau kepada siapa harus mencurahkan isi hatinya.
"Makasih mbak," ucap Ana gemetar, dia masih takut jika Alfatar mengejarnya lagi.