Arion bangun dari tidurnya saat aroma bawang goreng masuk ke dalam hidungnya, begitu tercium nikmat dan membuat dia tersenyum sendiri. Arion segera turun dari ranjang dan berjalan menuju dapur. Dia menggunakan kausnya kembali lalu membuka pintu, di sana Ana sudah berkutat di dapur, sesekali Ana mengusap keringatnya. Arion lalu menyalakan ac ruangan agar Ana tidak lagi kepanasan. Pemandangan yang indah dan membuat Arion tersenyum sendiri, dia ikut bahagia melihat Ana yang sangat suka memasak.
“Hai, kamu sudah bangun?” tanya Arion pada Ana yang sibuk membuat nasi goreng. Tangan Ana begitu terampil dan cekatan dalam memasak. Apalagi di kota sering dia melihat restauran, dia menjadi ingin belajar memasak.
“Sudah Mas,” ucap Ana tersenyum, entah kenapa dia sangat ingin memanggil Arion dengan sebutan ‘Mas’
Rasanya menjadi lebih dekat dan akrab dengan Arion, diam-diam Ana menelusuri setiap lekuk wajah Arion, begitu tampan dan memukau. Wajah Arion perpaduan orang asing. Meski begitu masih terlihat wajah asli Indonesianya. Ana terpaku menatap wajah Arion, apalagi yang khas baru bangun tidur, dia terlihat sangat tampan dan memikat. Arion membuat Ana menghentikan aktivitasnya.
“Nasinya enggak gosong? Kenapa malah melihati aku?” tanya Arion yang sukses membuat Ana gelagapan gugup. Arion berjalan menghampirinya, dia mengambil bubuk kopi dan menyeduhnya.
“Kamu mau juga?” tanya Arion kepada Ana. Gadis itu menggeleng, dia tidak suka meminum kopi meski dulu di desa sering sekali membuatkan kopi untuk bapak dan ibunya yang sedang mengelola sawah. Jujur saja mencium aroma kopi mengingatkan Ana kepada orang tuanya, jika diingat lagi, sudah sangat lama Ana tidak bertemu dengan orang tuanya. Dia merindukan bapak ibunya, namun Ana merasa takut dan marah seolah ayah dan ibunya dulu ‘menjual’ dia kepada Alfatar. Kini dia menderita, tidak ada satupun orang tuanya yang menanyakan kabarnya. Keduanya seolah hanya silau dengan harta. Ana pun meratapi kesenderian dan sengsara, bukan hal yang mudah bagi dia untuk bisa bertahan dengan kehamilannya saat ini. Berulang kali dia merasa lelah dan ingin marah, namun semua tertutupi karena adanya Arion. Setidaknya dia memiliki satu orang di dunia ini yang sangat peduli padanya. Sungguh, dia mencintai Arion. Lelaki yang begitu tulus dan baik padanya. Dia tidak mau sampai suatu saat Arion tau perasaannya dan malah menghancurkan semua ini.
“Nah, sudah jadi. Ayo kita sarapan,” ucap Ana meletakkan nasi goreng di piring. Di sampingnya ada dua nugget dan ayam goreng. Arion tidak biasanya sarapan nasi goreng, dia terbiasa makan garlic bread atau hanya secangkir kopi. Kali ini pertama kali dalam hidupnya dia mencoba untuk sarapan dengan nasi goreng.
“Sounds delicious, kamu pintar memasak ya,” ucap Arion. Tidak hanya masakan Ana saja yang enak, tapi Ana juga bisa melakukan peletakan makanan dengan indah. Arion sangat suka sekali dengan masakan Ana yang begitu nikmat. Dia menikmati di setiap suapan. Baru kali ini Arion memakan nasi goreng seenak ini, Atau mungkin ini karena rasa cinta? Semuanya jadi terasa lebih nikmat.
Arion memakan perlahan begitu menikmati setiap sendoknya, Ana menatap Arion dengan senang, dia begitu bahagia jika Arion menikmati masakan buatannya.
“Nasi goreng kamu benar-benar enak. Bagaimana kalau kamu tinggal di sini dengan syarat setiap hari membuatkan aku sepiring nasi goreng?” ucap Arion tiba-tiba. Dia sendiri mengucapkan tanpa sadar kalimat yang dia lontarkan. Begitu saja tanpa dia pikir.
“Benar apa boleh begitu? Aku merasa tidak enak jika harus terus menumpang. Aku janji akan segera pindah setelah menemukan tempat tinggal,” ucap Ana menggarung tengkuknya yang tidak gatal. Dia sangat tidak enak tinggal dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
“Boleh, tapi janji ya, buatkan aku nasi goreng setiap hari.”
Ana mengangguk senang mendengar permintaan Arion. Bukan hal yang sulit baginya memasak nasi goreng, Arion sangat senang jika Ana mau tinggal dengannya. Dia merasa memiliki banyak waktu dengan Ana nantinya. Dia begitu bahagia. Dia sangat senang Ana mau tinggal bersamanya. Entah kenapa dia merasa tidak lagi akan kesepian jika ada Ana di sampingnya. Arion lalu menyalakan ponselnya dan membaca berita harian. Ada banyak sekali berita tentang saham hari ini, kepalanya semakin pusing, perekonomian Indonesia sedang tidak stabil. Dia tidak mau mengambil risiko, sudah pasti dia akan bekerja semaksimal mungkin untuk mengambil keputusan yang terbaik.
“Ana, apa rencanamu hari ini? Mau berjalan-jalan atau tetap di rumah?” tanya Arion sembari menopang dagunya.
Seusai makan, Arion membantu Ana mencuci piring, awalnya Ana mencegahnya, namun Arion akhirnya tetap membantunya. Kini mereka berdua mencuci piring bersama.
“Entahlah, aku masih takut untuk keluar. Mungkin aku tetap di rumah, boleh kan jika aku meminjam buku bisnismu?” tanya Ana. Tentu saja Arion memperbolehkan Ana meminjam bukunya, bahkan jika Ana mau, Arion akan membelikannya buku lainnya. Dia sangat senang niat belajar Ana yang sangat tinggi. Apalagi saat Ana serius belajar, dia terlihat cantik dan menggemaskan. Arion sangat suka melihatnya. Bagi Arion, Ana gadis yang sangat berbeda, dia sangat kuat bahkan dalam masa kehamilannya dia berusaha menutupi rasa lelah dan moodynya. Arion tau jika Ana merasa lelah dan kesakitan. Saat kulit mereka tanpa sengaja bersentuhan, Arion bisa merasakan tubuh Ana yang lebih dingin.
“Nanti setelah aku pulang kerja, aku bawakan kamu s**u untuk ibu hamil ya, besok baru kita ke dokter, aku akan mengambil cuti,” ucap Arion tersenyum. Ana mengangguk senang dengan ucapan Arion. Lelaki di sampingnya begitu perhatian dan baik. Semakin Arion baik kepadanya, semakin tumbuh harapan dalam hati Ana. Sekeras mungkin Anamenepis perasaannya yang tidak menentu. Dia tidak boleh jatuh cinta begitu saja kepada Arion. Ana takut dia akan tenggelam pada harapannya sendiri, sedangkan yang sebenarnya, Arion mungkin saja tidak memiliki perasaan kepadanya.
“Wah, terimakasih Arion, aku sangat berhutang budi banyak kepadamu, terima kasih telah membantuku sampai sejauh ini. Bahkan jika tidak ada dirimu, aku tidak tau harus mengadu kepada siapa,” ucap Ana tersenyum begitu manis sampai membuat jantung Arion berdegup kencang.
Ada satu hal yang mengganjal di hati Arion, apakah dia akan sanggup jika berdekatan tanpa status begini kepada Ana? Dia sangat bahagia hidup dengan Ana, apalagi saat dia mendengar Ana yang begitu lancar membaca lantunan ayat suci Al Quran. Suaranya begitu merdu dan menggetarkan hati Arion, membawa ke laut kedamaian dan menepis perasaan yang ragu dalam hatinya. Arion sangat bahagia hidup bersama dengan Ana. Sayangnya, dia masih bingung apakah Ana mau hidup berdua dengannya. Dia tidak mengerti harus bagaimana untuk menahan perasaan sebesar ini.